
Suara dering ponsel Atiqah berbunyi dari dalam tasnya. Seolah menjadi penyelamat untuk Atiqah dan Ardi agar tidak berbuat lebih. Ardi melepaskan tautan bibirnya.
"Siapa?" tanya Ardi menatap Atiqah yang sedang melihat layar ponselnya yang berkedip.
"Ibu...Aku angkat dulu" Atiqah menaruh telunjuk ke bibirnya, tanda Ardi harus diam.
"Halo bu" jawab Atiqah berusaha menetralkan kegugupannya. Nafasnya masih sedikit terengah dengan ciuman rakus Ardi.
"........" suara bu Asri terdengar dari balik telepon.
"Iya bu, Mba langsung pulang. Ini baru selesai pensinya" hampir saja Atiqah menjerit, sebab Ardi memeluknya erat. Atiqah memicingkan matanya pada Ardi, menyikut perut Ardi.
"........" bu Asri kembali bertanya.
"Ardi? mm...iya, ini mba lagi sama Ardi. Lagi jalan ke parkiran bu" Atiqah melepaskan pelukan Ardi, meraih tas lalu menarik pacarnya itu keluar dari ruang Osis.
"........" titah bu Asri yang langsung mendapatkan kernyitan Atiqah.
"Mampir? makan? memangnya ibu gak capek?" tanya Atiqah lagi, ia masuk ke dalam mobil yang baru saja pintunya dibuka Ardi.
"........" ucapan akhir bu Asri lalu mengakhiri sambungannya.
"Ibu nyuruh kamu mampir trus makan bareng. Ibu udah siapin makanan. Kamu gak papa?" ujar Atiqah seraya memakai seatbelt, menatap ke arah Ardi yang sedang memakai seatbelt juga.
"Gak papa, emang kenapa?" tanya Ardi, tangannya lincah memutar setir. Mobil keluar dari parkiran.
"Gak papa. Tapi- ada yang mau aku tanyain. Bisa kita berhenti di pinggir taman kota?" seketika Ardi melirik Atiqah dan kembali fokus menyetir.
"Soal apa?" tanya Ardi menoleh sebentar pada Atiqah.
"Nanti aja kalo udah sampai" mengusap lembut lengan kekasihnya yang masih fokus menyetir sambil manggut-manggut setuju dengan perkataan Atiqah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib. Dan mereka berdua sudah berada di pinggir taman kota. Cukup ramai karena hari ini hari sabtu, dimana semua orang beramai-ramai keluar rumah untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, teman ataupun pacar.
__ADS_1
Setiap sabtu dan minggu taman kota dibuka sampai pukul 12 malam. Tak ayal membuat banyak pedagang berjejeran menjajakan jualannya. Layaknya pasar malam.
"Apa yang mau ditanyain?" Ardi melepas seatbeltnya, mengubah posisi duduknya menghadap Atiqah.
"Emmm..." Atiqah ragu-ragu untuk menanyakan perihal keluarga besar Danurdara. Tanggannya menggenggam erat sabuk pengaman yang belum ia lepas.
"Kenapa? katanya ada yang mau kamu tanyain ke aku? trus sekarang malah bingung gitu" Ardi mengusap kepala Atiqah. Rambutnya masih diikat.
"Soal nama keluarga dibelakang nama kamu. Kamu cucu keluarga Danurdara, pemilik pabrik dimana bapakku kerja disana. Yang artinya, kamu anak dari bos bapakku yang datang kemarin?"
Deg....jantung Ardi berdebar mendengar perkataan Atiqah soal silsilah keluarganya. Ardi cukup lama diam, lalu mengangguk lemah. "Iya... yang kemarin datang ke rumah sakit, papaku".
"kenapa kamu diem aja? kalian kayak gak saling kenal" satu pertanyaan lainnya terlontar dari bibir Atiqah.
"Terus aku harus gimana?" tanya Ardi. Atiqah melihat sorot mata Ardi yang kesal.
"Apa Papa kamu tau soal hubungan kita?" Ardi mengangguk. "Mati aku..." meremas rambutnya dengan kedua tangan.
"Kok bilang gitu? jangan aneh-aneh ucapan kamu yang" menarik tangan Atiqah yang masih meremas rambut.
"Gak bisa gimana? kita belum ada satu minggu jadian Atiqah. Bisa-bisanya kamu ngomong gitu. Kamu pesimis sama hubungan kita?" ada nada kecewa disana. Ardi yang terang-terangan berseteru dengan orangtuanya untuk mempertahankan Atiqah tapi kekasihnya itu justru ingin memilih menyerah.
"Kita beda Ardi. Kamu tau itu. Aku anak seorang buruh. Nama keluarga kamu jadi taruhannya. Aku gak bisa hancurin masa depanmu. Aku bener-bener gak bisa!" Atiqah menyentak sentuhan Ardi di lengannya.
Ardi terpancing emosinya. Menggenggam belakang rambut Atiqah yang di ikat. "Aw..." Atiqah memegangi lengan Ardi. Rasanya pedih digenggam kuat seperti itu.
"Inget Atiqah!!! kita gak bisa putus! Gak akan ada kata putus! kalau kamu bahas ini lagi, terpaksa aku bawa kamu pergi. Atau kamu mau aku hamili sekarang juga?!" tatapan tajam Ardi membekukan Atiqah.
"Kamu gila Ardi!! sadar Ardi! kita masih SMA. Aku belum genap 17 tahun. Lepasin!" Atiqah kembali menepis tangan Ardi yang memegang kedua pipinya dengan satu tangan.
"Persetan!! aku gak peduli kita masih SMA. Kamu milikku Atiqah! dan akan tetap jadi milikku sampai kapanpun!" Ardi langsung ******* bibir Atiqah beringas, sampai-sampai sulit untuk bernafas.
"Please...ja-ngan la-kuin ini Ar-di. Argh...." bibir Ardi sudah mendarat di atas dadanya. Menggigit ujungnya penuh dengan amarah. "Sa-kit...Ahh".
__ADS_1
Jemari Ardi memaksa masuk ke dalam rok pramukanya. Atiqah langsung menggigit lengan Ardi. "Arghh...."
Plak....Atiqah menampar pipi Ardi kuat.
"Sadar kamu Ardi!!" Atiqah menutupi dadanya dengan kemeja batiknya. Ardi benar-benar kasar dan diluar kendali.
"Yang....maafin aku. Aku gak sengaja. A-aku....Arghhh" Ardi bingung, berteriak, meremas rambutnya lalu memukul-mukul setir.
"Cukup...cukup Ardi!! kamu kenapa jadi gini? kamu gak bisa berpikir jernih. Aku takut liat kamu yang berubah. Kamu kayak bukan Ardi" Atiqah beringsut memundurkan duduknya sampai membentur pintu mobil. Ardi berusaha mendekatinya lagi.
"Aku beneran gak sadar nglakuin itu tadi. Maaf...maaf yang. Sayang maafin aku. MAAF!!!" Ardi justru kembali berteriak. Atiqah gemetaran diteriaki seperti itu. Menutup kedua telinganya.
Ardi mengerang, kembali duduk dibelakang kemudi. Menutup matanya, mengusap kasar wajahnya. "ARGHHH.....!!!! ****! bangsat! brengsek! bajingan kamu Ardi" meneriaki dirinya sendiri. Kecewa dengan sikapnya yang diluar kendali.
Atiqah menangis. Semakin takut mendengar Ardi yang baru saja berteriak.
"Please Atiqah...jangan nangis lagi. Aku minta maaf. Aku lepas kendali. Aku gak ngerti kenapa jadi gini. Aku cuma mau kamu, aku gak mau kita pisah Atiqah. Aku cinta banget sama kamu. Kita lewati semua bareng-bareng. Kamu mau kan?"
"Jangan takut! Maafin aku! Aku nyesel Atiqah" mencoba menyeka air mata di pipi kekasihnya itu. Atiqah diam menatap Ardi. "Maafin aku ya?!" Ardi perlahan menarik tubuh Atiqah, memeluknya.
"Maafin aku Atiqah. Aku salah. Aku janji gak akan ulangi kejadian tadi. Aku janji!" Atiqah mengangguk percaya dengan janji Ardi, membalas pelukan kekasihnya erat. "Jangan nangis lagi. Katanya ngajakin aku makan dirumah? nanti gimana kalo bapak, ibu dan adik kamu ngeliat mata sembab kamu ini?" menyeka air mata.
"Kita ke minimarket dulu ya? aku belikan foundation buat nutupin merah-merahnya" Atiqah langsung membuka cermin kecil. Menggigit bibir bawahnya.
"Ya ampun, banyak banget. Aku bisa di mutilasi kalau bapak sama ibu tau" terus melihat bercak merah itu.
"Makanya ayuk ke minimarket" ajak Ardi, memakaikan seatbelt Atiqah. Lalu memakainya sendiri. Mobil kembali melaju ke arah minimarket
Bersambung....
******
Gak kerasa Atiqah udah 20 bab aja. Othor mau ajuin kontrak dulu 😁 semoga cepet. Amin 🤲
__ADS_1
Jangan lupa rate bintang 5, like, komen trus kasih giftnya ya 😘