
"Bu, kita pulang aja. Sudah ada nak Ardi yang jaga anak kita. Besok pagi bapak anter ibu kesini" Bondan memegang bahu istrinya yang masih berdiri di samping ranjang putrinya. Asri begitu cemas dengan situasi yang terjadi tadi bisa terulang lagi dan membuat Atiqah kembali panik.
"Iya bu. Mba baik-baik aja. Ibu pulang sama bapak. Istirahat. Jangan buka warung dulu bu --memegang tangan ibunya-- Maafin mba bu, pak. Gara-gara mba warung ibu jadi kotor" matanya berkaca-kaca.
"Enggak. Jangan ngomong gitu mba. Ibu nggak apa-apa. Yang penting sekarang kesehatanmu sama cucu ibu --mengusap rambut Atiqah-- yowes, ibu bapak pulang dulu. Titip anak ibu nak Ardi" Ardi yang sejak tadi diam dan menunggu mertua juga istrinya selesai bicara, mengangguk.
"Ibu sama bapak nggak perlu kuwatir. Masalah ini sudah di urus Papa saya" ucap Ardi. Ia sudah menghubungi Sigit tadi. Kuncian yang Ardi pegang memang sangat ampuh untuk mengendalikan Papanya.
"Oh begitu ... syukurlah. Bapak dan Ibu sudah tenang sekarang" tersenyum lega. Lalu keduanya meninggalkan rumah sakit.
Meski semua berita di media sosial sudah dihapus tapi kabar itu sudah melekat di pikiran banyak orang, termasuk tetangga-tetangganya dirumah. Bondan dan Asri sudah bersiap dengan kemungkinan buruk saat sampai dirumah nanti.
"Kamu mau makan buah?" tanya Ardi.
"Enggak, aku lagi nggak pengen apa-apa. Aku pengen dipeluk aja. Sini ..." Atiqah menepuk sisi ranjangnya setelah bergeser sedikit. Ranjang sempit itu cukup untuk mereka berdua. Ardi memeluknya erat sambil mengecupi puncak kepala.
Atiqah diam, Ardi juga. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai keduanya tertidur dan tidak mendengar suara ketukan pintu dari Guntur.
Subroto dan Guntur sampai di bandara dan langsung menuju rumah sakit.
"Mereka tidur Eyang" ucap Guntur lirih seperti berbisik.
"Ora popo ... tak tunggune (tidak apa-apa ... aku tunggunya)" Subroto berjalan perlahan menggunakan tongkatnya, duduk di sofa.
"Eyang mau saya belikan makanan? Eyang belum sempet makan tadi" Guntur masih berkata lirih.
"Mengko wae Tur. Istirahat disek. Aku sayah tenan (Nanti saja Guntur. Istirahat dulu. Aku capek sekali)" merebahkan punggungnya bersandar. Guntur mengerti, ikut duduk diseberang.
Subroto sama tertidurnya tapi Guntur tetap terjaga. Menatap wajah Atiqah yang mengubah posisi tidurnya miring ke kiri tepat lurus pada pandangannya.
Wajah ayu itu terus dipandanginya. Guntur iba melihat Atiqah yang harus seperti ini. Usianya muda tapi terpaksa mengalami semua.
Saat matanya terus menatap Atiqah, tiba-tiba saja Atiqah membuka matanya. Mereka berdua sama-sama diam saling berpandangan satu sama lain selama beberapa menit.
Guntur menganggukkan kepala sambil tersenyum. Atiqah membalas senyuman itu lalu merubah posisi tidurnya terlentang.
__ADS_1
"Yang ... bangun. Eyang sama mas Guntur udah sampai" menepuk tangan Ardi yang masih memeluknya.
"Hemm ..." Ardi masih enggan membuka mata, menarik Atiqah memeluknya lagi.
"Yang ... ada Eyang sama mas Guntur" ucap Atiqah lagi. Suaranya teredam dada Ardi.
"Biarin aja. Aku masih ngantuk. Semalem kita begadang bikin yang enak-enak" suara Ardi sangat jelas terdengar di dalam kamar itu. Guntur mendengarnya lalu terbatuk-batuk. Ardi tersenyum licik, masih memejamkan mata.
"Ih ... nggak perlu keras-keras gitu ngomongnya" Atiqah mencubit pinggang Ardi.
"Aw ... sakit Yang. Jangan dicubit, maunya di cium. Cium sini" Ardi langsung membuka matanya, menarik dagu Atiqah lalu menciumnya dan meluumat cukup lama. Guntur membuang muka.
Atiqah menerimanya, mau menolakpun sudah pasti Ardi akan marah.
"Cuma aku yang boleh cium kamu. Awas aja kalau ada yang cium kamu selain aku" Ardi mencubit dagu Atiqah. Atiqah dan Guntur merasa tersindir dengan ucapan Ardi. Mereka pernah berciuman.
"Hah?? enggak ... enggak mungkin" Atiqah terbata, matanya berkedip cepat beberapa kali.
"Kenapa gugup gitu? kamu pernah ciuman sama orang lain?" pertanyaan Ardi membuat Atiqah semakin gugup.
"Saya permisi dulu" Guntur menyela, ia tidak ingin mendengar jawaban Atiqah dan juga rasanya ia butuh oksigen banyak untuk bernafas.
Ardi tak ingin melepaskan tautan bibirnya pada Atiqah. Tangan kanannya menekan belakang kepala Atiqah, membenamkan bibirnya lalu membelitkan lidahnya cukup lama.
Atiqah menepuk bahu Ardi "Aku nggak bisa nafas".
"Maaf Yang. Aku nggak bisa lepas kalau udah cium kamu. Aku pengen Yang" bisik Ardi sambil melirik Subroto yang masih tidur di sofa.
"Jangan aneh-aneh. Ini rumah sakit. Aku nggak mau" Atiqah menghindari Ardi, sedikit memundurkan tubuhnya.
"Hati-hati Yang. Jangan mundur, kamu bisa jatuh" menarik perlahan tubuh Atiqah. "Aku bercanda. Besok aja kalau kita udah pulang ke apartemen" mencubit hidung.
"Dasar!!"
*****
__ADS_1
Dua hari berlalu, Atiqah dan Ardi memilih pulang ke apartemen. Untuk keamanan lebih terjamin dibandingkan dengan rumah orangtuanya. Dan masalah pemberitaan mereka sudah hilang, lenyap atas bantuan Sigit dan juga Subroto.
Sore itu Ardi mendapat telefon dari Kepala Sekolah soal pemotongan masa skorsing menjadi satu minggu. Setelahnya Ardi dapat masuk kembali ke sekolah.
Bel berbunyi, Atiqah sedang memakan buah yang baru saja suaminya kupas.
"Siapa sore-sore gini dateng? kamu ada janji sama orang?" tanya Atiqah lalu memasukkan potongan kecil buah apel.
"Iya, aku ada janji sama orang yang kamu kenal juga" Ardi mengecup kening lalu berjalan ke arah pintu, membukanya dan membawa seseorang itu masuk ke dalam.
Atiqah menegakkan badannya melihat sahabatnya datang. Entah mereka masih sahabat atau bukan.
"Sekarang jawab jujur! atau aku yang bilang ke Atiqah?" ucap Ardi tegas pada Lala.
"Soal apa sebenernya?" Atiqah tidak tahu maksud Ardi mengundang Lala datang ke apartemen.
Lala meremas kedua tangannya sambil terus menunduk.
"Lala!!" bentak Ardi. Lala mendongak, raut wajahnya ketakutan.
"Mm ... aku, aku yang udah bikin kekacauan kemaren" Lala menunduk lagi. Menekan jempol kakinya ke lantai.
"Maksud kamu La?" tanya Atiqah.
"Dia yang udah nyebarin foto-foto kita di mading sekolah, juga di media sosial. Dan aku dapet kabar dari Topan. Dia udah kena hukuman dari sekolah, skorsing" Ardi berkata sambil menunjuk-nunjuk Lala.
"La ..." Atiqah kecewa pada Lala. Sahabatnya dulu sudah berubah. Sangat berubah.
Lala terus diam dan tidak berkata apapun lagi.
"Kamu nggak ngerasa bersalah dan minta maaf ke kami?" tanya Ardi, merangkul Atiqah.
Tidak ada ucapan maaf. Lala pergi dari apartemen dalam diam. Baginya, persahabatan mereka sudah berakhir. Lala tidak menganggap Atiqah sahabatnya lagi. Hanya karena Guntur menyukai dan mencium Atiqah.
"Aku nggak nyangka Lala gitu sama kita" ucap Atiqah menyandarkan kepalanya ke bahu Ardi.
__ADS_1
"Dia memang bukan sahabat yang baik. Baguslah ketauan buruknya sekarang" Ardi mengusap lengan Atiqah.
Bersambung...