
Ardi mengusap naik turun bagian sensitif Atiqah yang masih terhalang bungkus terakhirnya. Atiqah melenguh. Tangan Ardi berpindah ke bagian perut, mengusap memutar membuat Atiqah kegelian.
"Emm...ja-ngan!" Atiqah menggelengkan kepalanya saat Ardi menurunkan tepian underware miliknya.
"Udah kepalang basah Yang. Aku pengen" Ardi melanjutkan menguluum puncak dada kekasihnya itu. Reflek, Atiqah meremas bagian belakang kepala Ardi.
"Ahh...Ar-di..." Ardi menggerakan jarinya maju mundur lalu membungkam bibir Atiqah dengan ciuman brutalnya.
Atiqah merasakan sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. Sampai terasa ada sesuatu yang membuncah dan ingin dilepaskannya. Atiqah menaikkan pinggulnya dan bergerak mengikuti irama tangan Ardi.
"Kamu udah ******* Yang" Ardi merasakan bagian yang berkedut. Atiqah lemas sedangkan Ardi buru-buru melepaskan celananya, berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Samar-samar Atiqah mendengar suara Ardi yang sedang mendesah menyebut namanya. Atiqah tersenyum malu, menutup wajahnya.
"Kenapa senyum-senyum?" Ardi baru saja selesai dari kegiatannya tadi.
"Astaga Ardi" kembali menutup wajahnya. Ardi hanya mengenakan celananya.
"Apa sih? gak usah ditutupin gitu. Liat aja" Ardi menarik tangan Atiqah. Atiqah tidak mau mengangkat kepalanya. Hanya kaki mulus Ardi yang ia lihat. "Liat sini" menarik dagu dan Atiqah melihat jelas bagian kelelakian Ardi yang tertutup celana.
"Kamu gila Ardi! pakai celananya! Kakek juga orangtua kamu pasti udah ada dibawah. Lihat! penampilanku yang tadi, kamu rusak. Ya ampun...aku gak bisa ikut, maaf Ardi aku gak jadi dateng. Aku berantakan begini" Atiqah mengomel didepan cermin yang menempel panjang di tembok kamar hotel.
"Kalo kamu gak jadi dateng, aku juga. Kalo gitu kita lanjutin lagi aja" memeluk Atiqah dari belakang sambil meremas dada dan menciumi Atiqah.
"Ah...Ardi cukup. Jangan mu-lai la-gi. Aku gak bisa" Atiqah menahan gempuran rasa dalam dirinya. Ia tidak mau kebablasan. "O-ke o-ke a-ku i-kut" Ardi menyunggingkan senyumnya.
"Tapi aku mau ini dulu" memutar tubuh Atiqah, kembali membenamkan lidahnya pada puncak dada. Sedangkan satu tangannya membimbing tangan Atiqah untuk mengusap kelelakiannya.
Sepuluh menit berlalu. Atiqah menggerai rambutnya lalu merapihkan make upnya dengan bedak dan lipstik yang ia bawa di dalam tas.
"Enak kan Yang...nanti kita ulang lagi, mau gak?" Atiqah mendelikkan matanya sambil memukul bahu Ardi dengan tas.
Ardi tertawa. "Tapi kamu suka Yang. Wajah kamu tadi keenakan. Coba bayangin gimana kalo itu aku yang keluar masuk. Kamu bakal minta lagi" bisikan mesum itu mampu membuat Atiqah merinding. "Kenapa diem aja? kamu gak nolak, berarti kamu mau? oke, aku langsung ambil kesimpulan kalo kamu mau"
__ADS_1
"Ih...apaan sih Ardi" memukul bahu Ardi berkali kali sampai dentingan lift berbunyi. Mereka telah sampai di lantai dasar. Bergandengan tangan menuju restoran.
Sesuai dengan ucapan Atiqah, keluarga Ardi sudah menunggu. Subroto, Sigit, Anne, kakak dan kakak ipar Ardi.
"Maaf Eyang...Ardi terlambat" Atiqah tersenyum menganggukan kepalanya pada keluarga Ardi.
"Ndak papa...Eyang juga baru datang. Duduk..duduk" Ardi menarik kursi untuk Atiqah. Sigit dan Anne tidak membalas sapaan kekasih putranya. Begitu juga dengan kakak ipar Ardi. Hanya kakak Ardi, Melda yang memberikan senyuman ramahnya.
"Oh...jadi ini pacar kamu?" ucap Melda pada Ardi, adiknya.
"Iya kak, ini pacarku...Atiqah" Ardi memegang tangan kiri Atiqah. Anne mencibir.
"Aku Atiqah kak, salam kenal" Atiqah tersenyum canggung.
"Hai Atiqah...aku Melda. Ini suamiku Rian" Melda dengan ramah memperkenalkan diri dan juga suaminya. Tapi Rian hanya tersenyum terpaksa.
"Wes...wes. Perkenalannya sampai disini saja, eyang sudah lapar" Subroto menginterupsi perkenalan singkat antara Atiqah dan Melda.
Anne terus berdecak melihat cara makan Atiqah yang tidak terbiasa menggunakan pisau saat mengiris steak.
"Sebentar ya?!" Ardi memotong-motong steak itu menjadi beberapa bagian lalu menyerahkannya lagi pada Atiqah. Subroto tersenyum melihat kegentle-an cucunya.
Meldapun ikut tersenyum sambil menyenggol lengan suaminya agar melihat kelakuan Ardi. "So sweet...ternyata Adikku bisa romantis juga kaya kamu" Melda berbisik pada Rian.
"Hem..." Rian mengangguk-anggukan kepala.
Makan malam keluarga di restoran mewah benar-benar baru pertama kali Atiqah rasakan. Dan sangat tertata rapih juga cantik. Mulai dari makanan pembuka, inti lalu makanan penutup berupa dessert manis. Semua bergaya barat.
Atiqah mendengarkan obrolan Subroto dengan Ardi dan juga Melda. Begitu dekatnya seorang kakek dan cucu-cucunya. Sangat berbeda dengan Sigit dan Anne. Keduanya sesekali melemparkan senyum kecil dan anggukan. Sedangkan Rian enggan menatap Atiqah dan menyahuti ucapan Subroto seperlunya.
"Sudah malam, acara malam ini kita akhiri disini saja. Lain waktu kita makan malam lagi" ucap Subroto menutup acara dinner bersama. "Oh..iya. Liburan kenaikan kelas, ajak Atiqah berlibur ke Jogja" menepuk bahu Ardi lalu pergi meninggalkan restoran. Begitu juga Sigit dan Anne.
"Jogja?" gumam Atiqah.
__ADS_1
"Mau kan?" Atiqah masih berpikir.
"Aku belum pernah liburan keluar kota sendiri. Aku juga gak tau bapak sama ibu kasih ijin atau enggak" Ardi menggenggam tangan Atiqah.
"Nanti aku yang bilang ke orangtua kamu"
"Gandeng aja terus...jangan dilepasin!" Melda menggoda adiknya. Ardi dan Atiqah menoleh ke kiri, mereka baru sadar Melda dan suaminya masih ada disana. "Yaudah, kakak duluan. Anterin anak gadis jangan kemalaman. Nanti kamu dapet bogem mentah dari papanya Atiqah" seloroh Melda, berlalu melambaikan tangannya.
"Kakak kamu ramah banget. Eh...mau kemana?" Ardi sudah membawa Atiqah berbalik arah menuju lift.
"Iya kakak aku emang baik, beda sama Mama Papa. Baju aku masih diatas" lift bergerak naik ke lantai 5.
Pintu kamar kembali tertutup, Ardi mendorong Atiqah sampai membentur tembok. Menghujani ciuman-ciuman di leher.
"Ardi...Ardi. Tunggu!" menahan dada Ardi.
"Apa?" mata Ardi sayu. Ia sudah menahannya saat makan malam tadi. Ardi menyentuh paha Atiqah dan tangan Atiqah ia tarik dan meletakkan diatas miliknya. Membimbing tangan Atiqah mengusap naik dan turun.
"Udah malem, kita harus pulang. Bapak sama ibu pasti udah nunggu aku" Atiqah menggeser tubuhnya dan berjalan mendahului Ardi. Ardi menariknya, memeluknya dari belakang. Memberikan pijatan lembut pada dada kekasihnya. Memilin puncak yang mengetat.
Gempuran ***** yang kian menggrogoti tak mampu Atiqah pendam. Lenguhan itu lolos. Ardi melepaskan gaun putih kekasihnya hingga jatuh ke lantai. Hanya dalaman berwarna hitam yang tersisa.
Ciuman Ardi berpindah pindah. Atiqah menyambutnya dengan balasan yang sama liarnya. Membuka kancing kemeja Ardi dan melepaskan seluruhnya. Tersisa dalaman yang menonjolkan sesuatu.
Ardi mendudukan Atiqah di sofa, menarik satu penutup terakhir dan memuja bagian terkecil kekasihnya itu. Atiqah meremas kepala Ardi yang terus menggelitik dan membuatnya semakin panas. "Ardi...aku aku" kakinya menegang dan Atiqah kembali melepaskan rasa yang tertahan.
"Ini pengalaman pertamaku juga. Kata temen-temen ini sedikit sakit awalnya. Kamu tahan ya?" Atiqah mengangguk pasrah. Ia sama penasarannya, bagaimana rasanya.
Bersambung...
*****
Hokya hokya...goyang dumang yuk 😄😄😄 emang dasar ya, kalo penasaran. pengen coba-coba. Ini cuma sekedar cerita, khayalan, halu. Udah pada gede kan? tiru yang baiknya, yang buruknya jadi pelajaran aja.
__ADS_1
Cuzz lah kasih rate bintang 5 selalu, like, komen juga giftnya.
Makasih sayang sayangnya aku 😘😘😘 ***** basah gak? 😄😄😄