
Malam itu. Bayu tak henti hentinya memikirkan Laras, tak sabar segera ingin bertemu dan bercengkrama, bercanda, bercerita tentang masing masing mereka selama terpisah jauh ini. Bayu membayangkan pasti akan sangat menyenangkan.
Bayu berusaha untuk tidur agar esok segera menemui Laras, tapi mata yang terpejam lama tak kunjung memasuki dunia mimpi.
Detik demi detik, Suara jam dinding terus mengusik.
Bayu kemudian duduk di pinggiran ranjang tidurnya, meraih segelas air dan meminumnya. Bayu melihat buku catatan yang berisi puisi puisi untuk laras.
Bayu beralih di meja belajarnya. Dibukanya lembaran kosong pada buku, dan pena mengerjakan tugasnya.
Untukmu laras
Aku gelisah malam ini tak kunjung bertemu mimpi,
Isi kepalaku seakan berpesta pora hingga tak ada lagi ruang sunyi,
Mungkin karena rinduku teramat dalam,
Hingga mataku tak mampu terpejam,
Aku teringat senyumanmu di kala senja,
Indah bagai mentari yang sedang bertahta,
Bahkan bibirku tak mampu berkata kata,
Melihatmu begitu anggun dengan pipi merah merona,
Aku tak sabar untuk duduk di sampingmu,
Mendengarkan cerita seru tentang dirimu,
Mendengar betapa kuatnya kamu menahan rindu,
Mendengar kamu bertanya apakah aku juga rindu kamu.
Laras, Aku akan selalu mencintaimu walau kita dalam bayang bayang kata semoga.
Bayu menutup bukunya, dan merasakan kantuk yang teramat sangat. Segera dia berbaring dan terpejam. Tak menunggu waktu lama sang mimpi datang menjemputnya.
Pagi hari
Bayu membuka mata bangun dari tidurnya. Tentu satu hal yang dia ingat segera bertemu Laras.
Bayu melompat dari ranjangnya, mengambil anduknya dan segera ke kamar mandi.
Tapi sial, Raka sedang mandi.
"Rakaaa cepet Raka" Bayu berteriak
"Hemmmmm" Raka menjawab sambil sikat gigi.
Kemudian Bayu menimba air di sumur untuk memenuhi bak kamar mandi.
"Rakaaaa" Bayu kembali berteriak
Byurrrr byurr byurrr
Suara Raka mengayung air
"Iya Mas, sabarrrrr" Raka ikut berteriak
Ibu yang mendengar segera kebelakang dengan membawa peralatan dapur yang kotor untuk mencucinya.
"Ada apa to ini anak Ibuk pagi pagi udah teriak teriak.?" Ibu menegur kedua anaknya.
Kreek suara pintu kamar mandi dibuka
__ADS_1
Kemudian Raka keluar dari kamar mandi.
"Itu Mas Bayu buk yang mulai." Raka menjawab sambil mengosok kepalnya dengan anduk.
"Udah cepet sana." Bayu berkata sambil nyelonong ke kamar mandi.
kemudian.
Byur byur byur
Suara Bayu mandi dengan terburu buru,
Setelah selesain mandi Bayu langsung ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.
Bagaimanapun Bayu ingin terlihat rapi walau tak ada baju bagus yang bisa dikenakan.
Kini Bayu siap bertemu Laras.
"Buk, bayu keluar dulu." Bayu pamit ke iIbunya
"Mau kemana Le. Kok tumben pagi pagi udah rapi ?" tanya Ibu.
"Ada urusan Buk. Assalamualaikum." Jawab Bayu singkat.
"Waalaikumsalam. Ati ati Le." jawab Ibu.
Segera Bayu mengowes sepeda kumbangnya, wajahnya berbinar binar, di sepanjang jalan Bayu terus tersenyum.
"Tunggu tunggu. Alasan apa nanti sama Pak Kades agar bisa ketemu Laras.?" Bayu berkata dalam hati sambil melambatkan laju sepedanya.
Bayu berfikir keras.
"Assalamualaikum Pak, Larasnya ada, mau tanya tanya tentang kuliah." Bayu berkata sendiri sambil berhayal sedang di depan rumah Laras sedang membuat alasan.
"Oke gass." Bayu berkata dan mengowes sepedanya kencang lagi karena sudah menemukan alasan yang tepat.
Rumah Laras terlihat sepi, Bayu khawatir kalau tidak ada siapapun di rumah.
Bayu memarkirkan sepeda kumbangnya, berjalan ke depan pintu rumah Laras. Bayu bersiap mengetok pintu, tapi dada yang berdebar itu tak mau diajak kompromi.
Bayu berbalik "apa pulang aja ya." dalam hati Bayu.
Bayu menghela nafas panjang.
"Ayo Bayu ayo , kapan lagi ketemu Laras." Dalam hati Bayu.
Bayu merapikan rambut klimisnya, kemudian dia berbalik dan mengetok pintu rumah Laras.
Tok tok tok
"Assalamualaikum..." Bayu memberi salam
Tok tok tok
Bayu mengetok pintu lagi.
Tok tok tok
Bayu mengetuk pintu kesekian kalinya.
"Mungkin ngak ada orang " Bayu sedikit kecewa.
"Waalaikumsalam." terdengar suara Laras dari dalam rumah.
Seketika jantung Bayu kembali berdebar..
Dibukanya pintu rumah oleh Laras dari dalam.
__ADS_1
"eh Bayu.. masuk Yu," Laras berkata.
"i iya" Bayu menjawab dengan sedikit gugub.
penampilan Laras tidak seperti biasanya saat dia di rumah. kali ini laras menggunakan rok pendek selutut dan kaos ketat biasanya Laras selalu menggunakan rok panjang dan kaos yang longgar.
penampilan Laras membuat Bayu tersipu, hingga malu untuk memandang laras dengan rambut yang pendek sebahu Laras semakin terlihat cantik.
"duduk dulu Yu, mau minum apa.?" Laras mempersilahkan Bayu masuk dan menawarkan minum.
"eee air aja" Bayu menjawab singkat sambil duduk di ruang tamu.
"Air diisi teh celup terus gula.?" Laras bercanda pada Bayu sambil akan menuju dapur.
belum sempat Bayu menjawab
"we Bayu. kalau diajak ngomong itu liat orangnya." Laras terheran dengan sikap Bayu yang salah tingkah.
Bayu memandang Laras. kali ini pemuda dengan rambut klimis itu benar benar tersipu.
"iya air" Bayu berbicara ngaco.
"hahahahahahaha. kamu kenapa Yu, ngak jelas gitu ngomongnya.?" Laras tertawa melihat tingkah Bayu kemudian duduk di samping Bayu
"rambutmu Yu Bayu licin kayak prosotan" imbuh Laras sambil memperhatikan Bayu.
"ngak kok Ras" Bayu menjawab sambil merapikan rambutnya.
Laras kemudian mengacak ngacak rambut Bayu, dan merapikanya dengan tangan.
"eh ras" Bayu kaget.
"gini lho yu nata rambut, jangan terlalu rapi kayak orang culun jadinya kalau rapi rapi" kata Laras sambil duduk di samping Bayu dan merapikan rambut Bayu dengan kedua tangannya.
Bayu semakin salting dan jantungnya terasa berdebar kencang. apa lagi dengan pemandangan gunung kembar Laras yang terlihat menonjol di hadapan Bayu ketika wanita cantik itu merapikan rambutnya.
"Laras, jadi ngambilin air.?" Bayu tiba tiba berkata.
"oiya Yu maaf kelupaan, tunggu bentar ya aku bikinin teh anget aja" Laras menjawab dan berjalan menuju dapur.
"setan alas. wedus gembel. tai kucing asemmmm" Bayu berkata sumpah serapah dalam hati sambil bernafas berat.
sumpah serapah karena benci akan dirinya sendiri yang tak berkutik di hadapan Laras.
kemudian Bayu memegang dadanya, dirasakanya jantungnya berdebar seakan mau copot.
dia tak menyangaka, pertemuan dengan Laras akan sangat mendebarkan seperti ini, jelas jelas ini jauh dari ekspetasinya semalam.
"MANIS APA NGAK YU.?" Laras berterteriak dari dapur.
"MANIS..." jawab Bayu singkat dan keras.
Laras masih menyiapkan teh untuk Bayu di dapur tapi mengapa jantung Bayu yang berdebar tak kunjung mereda.
kemudian Laras kembali dari dapur dengan membawa teh hangat di sebuah gelas untuk Bayu.
"siapa yang manis Yu.?" Laras berkata sambil menaruh teh hangat di meja.
"kamu Ras..., eh tehnya maksutku" Bayu keceplosan karena masih salting.
"jadinya teh apa aku yang manis.?" Laras bertanya sambil menatap Bayu.
"ehhh anu.. ee aku permisi ke belakang sebentar ya Ras" Bayu beranjak dan buru buru ke kamar mandi.
kali ini Bayu mencoba menenangkan diri sejenak di kamar mandi.
__ADS_1