BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Menyusuri Duniaku


__ADS_3

Bayu sangat bahagia melihat Ibu yang seakan cocok dengan Pilihan Hatinya. Sedangkan Putri masih terlihat canggung, tidak seperti Putri biasanya yang ceriwis.


Para tamu udangan terlihat mulai mengambil hidangan utama resepsi pernikahan Laras yang ditata dengan cara prasmanan.


"Ibuk tunggu di sini ya, Bayu ambilin makan sebentar." Ujar Bayu beranjak dari duduknya.


"Bay, aku ikut." Kata Putri.


Bayu hanya menganggukan kepalanya.


Sedangkan Raka dan Bapak sudah terlihat antri duluan.


Bayu berjalan menuju ke antrian sambil mengandeng kekasihnya.


"Tangan kamu keringetan.?" Ujar Bayu.


"Ternyata gini rasanya ngobrol sama calon mertua." Kata Putri sambil mengengam erat tangan Bayu.


Pemuda gondrong itu hanya tersenyum pada Putri.


"Kenapa senyum senyum.!! Ngeledek ya." Seru gadis manis dengan rambut terurai itu.


"Ngak sayang, justru aku lagi seneng kamu bisa akrab dengan Ibuk." Kata Bayu.


"Woe, rame rame gini soyang sayangan." Celetuk Darman di belakang pasangan sejoli yang sedang dimabuk kepayang.


"Nah ini, kalau berduaan biasanya yang ketiga setan." Ujar Bayu.


"Setan yang sama yang mengagalkan kamu pas mau ciuman sama Laras dulu." Ucap Darman tanpa saringan.


Bayu seketika melotot pada sahabatnya itu.


"Kurang asem Darman, kalau ngomong mesti ngak pernah diolah dulu." Batin Bayu.


Putri langsung memandang Darman, sedangan Darman spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Pasti muwesra ya Bayu sama Laras ciumannya, iya Mas Darman.?" Tanya Laras dengan tatapan tajam menghujam ke arah Bayu.


"Nganu Mbak Putri. ngak jadi kok ciumanya pas aku kebetulan lewat." Kata Darman.


"Nah itu bener kata Darman, ngak jadi ciuman." Ujar Bayu berusaha menenangkan kekasihnya itu.


"Tapi ngak tau juga, di lanjut ngak ciumannya pas aku udah lewat jauh" Imbuh Darman yang melempar kayu bakar ke dalam bara api.


"Temen kampret se kampret kampret e yo awakmu iki Man Darman." Batin Bayu dengan tatapan tajam ke Darman.


"Tapi Bayu paling yo ngak bakal ngaku ke sampean Mbak Putri, seandainya dia beneran jadi ciuman sama Laras." Kata Darman Lagi yang menuangkan bensin dalam kayu yang terbakar bara api.


"SETANNNNNN!!!!!." Gerutu Bayu dalam hati.

__ADS_1


"Ngakk ngak kok, sumpah ngak jadi ciuman suwer demi apapun." Kata Bayu kikuk di hadapan Putri yang menatap Bayu tajam dan siap menerkam.


"Man Darmanto, masih pengen slamet ngak kamu pas pulang nanti." Ujar Bayu pada sahabatnya dengan tatapan mengancam.


"Lho, wong aku nanti pulang sama Pak Slamet kok." Celetuk Darman lagi.


Bayu menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajam seakan ingin membungkam mulut Darman yang selalu bocor.


Tapi sebelum itu terjadi Putri duluan yang mencubit pinggang Bayu.


"Ngaku sayangku, yang jujur, jadi ciuman atau ngak..!!!!" Ujar Putri.


"Aduh duh duhh. Jujur sayang ngak jadi, serius demi apapun." Kata Bayu yang kesakitan.


Darman sepertinya mulai kasihan pada sahabatnya Itu.


"Nganu Mbak Putri, bener ngak jadi kok. Serius aku saksinya." Kata Darman.


"Iya Mas Darman, aku tau kok Bayu jujur, juma aku pengen menyalurkan perasaanku yang tegang ini karena bertemu calon mertua." Ucap Putri dan melepas cubitan dari pinggang kekasihnya.


"Oooo, yawes di lanjut lagi cubit Bayunya, biar tegangnya ilang dan perasaan lebih plong." Kata Darman pada kekasih Bayu.


"Plang plong Mbahmu kiper iku. perutku ini bisa bisa bolong." Gerutu Bayu dengan tangan yang terus mengusap usap bekas cubitan Putri.


Sepertinya Putri sudah mulai akrab dengan Darman, awal yang bagus bagi Bayu untuk memperkenalkan dunianya pada Putri.


Setelah sekian lama mengantri, akhirnya mereka selesai mengambil menu makanan bercita rasa timur tengah itu, seperti nasi kebuli dan beberapa olahan lainya yang bahkan bagi Bayu masih sangat asing.


"Buk e. ini nasinya." Ujar Bayu sambil menghidangkan sepiring menu nasi kebuli di hadapan Ibunya.


"Makasi Le. Lha terus nasimu mana.?" Tanya Ibu.


"Bayu sepiring sama Putri buk, takut ngak abis kata Putri kalau makan sendiri." Ujar Bayu pada Ibu.


"Iya Buk, Putri makanya sedikit kok." Ucap Putri yang mulai cair dalam lingkup keluarga Bayu.


Ibu terdiam sejenak, mungkin ada rasa tidak tega bila Bayu dan Putri harus berbagi makanan.


"Dimakan Buk, enak lho nasinya." Ajak Putri karena melihat Ibu Bayu tidak segera memakan hidangannya.


"Iya Mbak Putri, ayo di makan." Ujar Ibu kemudian mulai menyendok hidanganya.


Suasana hangat tersaji di meja itu. Walau hanya sebatas tamu undangan, mereka merasa seperti sedang makan sebagai pengunjung restaurant mewah.


"Putri makan sedikit, pret." Bisik Bayu pada kekasihnya yang sedang makan.


"Duppp." Suara dentuman sepatu Putri menginjak sepatu Bayu dengan keras.


"Auuuhhh." Jerit Bayu yang tertahan.

__ADS_1


"Kenapa kamu Le.?" Tanya Ibu.


"Nganu Buk. Lidah Bayu kegigit." Alasan Bayu untuk menutupi kejailan Putri.


"Minum dulu, makan yang ati ati jangan buru buru." Kata Ibuk.


"Ngih Buk." Ucap Bayu singkat.


Terlepas dari semuanya, raut wajah Bayu terlihat sangat bahagia, karena momen saat ini adalah suatu momen yang sangat ia tunggu tunggu, yaitu memperkenalkan tambatan hatinya pada keluarganya.


Beberapa saat kemudian.


Dari kejauhan, orang orang sudah ada yang naik ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada keluarga dan mempelai pengantin.


"Kayaknya sudah waktunya pulang ini Buk e." Ujar Pak Slamet.


"Iyo e Pak. Yawes kita juga ikut antri buat salaman biar cepet pulang, takut ngak keburu nanti waktu mau ke rumah Mas Arip." Kata Ibu Bayu.


"Yawes ayok." Ucap Pak Slamet sambil beranjak dari duduknya.


Semua keluarga Bayu berdiri diikuti keluarga Darman.


Bayu menatap ke antrian. Sepertinya ada batin yang bergejolak pada hatiya. Inilah saatnya, siap tak siap Bayu harus mengikhlaskan Laras bersanding dengan laki laki lain.


Seketika di dalam barisan, Putri mengenggam tangan Bayu. Bayu yang sempat hanyut dalam lamunan mulai tersadar, Seakan Putri paham apa yang mengganjal dalam hati Bayu.


"Mengapa aku masih berselimut keraguan, sedangkan Putri sudah ada di sampingku." Batin Bayu.


Barisan semakin maju, perlahan Bayu mulai mendekati mempelai.


Ibuk dan Bapak menyalami Pak Kades dan Bu Kades dahulu, sepertinya terjadi percakapan kecil diantara mereka.


Sekarang giliran Bayu menyalami Pak Kades dan Bu Kades.


"Lho Bayu to, owalah pangling aku Yu. gimana kamu sehat.? tambah nganteng gini anak e Slamet." ujar Pak Kades saat bersalaman dengan Bayu.


"Ngih Pak Kades, Sehat. selamat ya Pak atas pernikahan Laras." ujar Bayu


"Iya Yu, trimakasi. lha dirimu sendiri cepet nyusul, sudah ngandeng anak perawan orang gini kok." kata Pak Kades Lagi.


"Ngih Pak, minta doanya saja." sahut Bayu.


Bayu beralih menyalami Bu Kades. sedangkan Ibuk dan Bapak sudah bersalaman dengan Laras.


"Anak pertamanya Pak Slamet sudah berani ngandeng perawan, wah tanda tanda ini." Ujar Bu Kades sambil menyambut jabat salam Bayu.


"Hehe, Bu Kades bisa aja. ngih minta doanya Bu. biar disegerakan." kata Bayu.


"Amin." Ucap Bu Kades singkat.

__ADS_1



__ADS_2