
Bayu hanya ingin rebahan, tapi apa daya lelah dan kantuk yang teramat sangat membuatnya terlelap.
Beberapa jam kemudian.
Bayu terbangun sedikit kaget, dilihatnya jam dinding dan terlihat sudah pukul setengah 3 sore.
Bayu langsung bangun dan keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Terlihat Bu De sedang menyiapkan barang dagangan. Sepertinya Bu De sudah selesai menyiapkan semuanya.
"Maaf Bu De, Bayu ketiduran" kata Bayu setelah cuci muka.
"Kok minta maaf, kan Bu De sendiri yang minta kamu istirahat Bayu." kata Bu De.
"Yaudah kamu mandi duluan, paling sebentar lagi Adit dateng." Imbuh Bu De.
Kemudian Bayu segera mandi dan bersiap untuk membantu Pak De Arip jualan.
Kemudian.
Saat Bayu selesai mandi dan ganti pakaian kemudian dia keluar kamar, terlihat ada Laki Laki yang baru pertama dia lihat.
"Mungkin dia yang dimaksut Bu De, Mas Adit" kata Bayu.
"Eeeee, ponakannya Pak Arip ya. Aku Adit." Kata Laki Laki itu.
"Iya, Bayu." Kata Bayu sambil menyambut jabat tangan Adit.
Adit pemuda seumuran Bayu, tapi sepertinya lebih tua sedikit. Laki Laki berambut gondrong itu sudah sekitar 5 tahunan membantu Pak De Arip.
"Tolong angkat panci itu Yu ke gerobak motor." Kata Adit.
"Iya Mas." Jawab Bayu singkat.
Sepertinya keperluan untuk berjualan sudah di letakkan semua di dalam gerobak barang yang akan ditarik dengan sepeda motor bebek Pak De.
"Yawes Dek, aku berangkat dulu." Kata Pak De Arip pada istrinya.
"Iya mas, ati ati." Kata Bu De.
"Grengggggggggg" suara motor Pak De.
Kemudian Pak De berangkat.
"Ayo Yu, naik." Kata Adit.
Kemudian Bayu naik di goncengan motor adit.
"Ngrenggggggggg" suara motor Adit dinyalakan.
"Buk Nur, berangkat dulu." Kata Adit
"Iya Dit, ati ati. Bayu kamu ajarin ya, jangan dimarah marahin." Kata Bu De.
"Hehe, iya Bu Nur, beress." Kata Adit.
"Mari, Bu De." Kata Bayu singkat.
Kemudian mereka berangkat.
__ADS_1
Tak berapa jauh.
Adit berhenti di depan toko kelontong dekat rumah.
"Bentar Yu ya." Kata Adit.
Bayu tetap duduk di goncengan motor, sedangakn Adit turun untuk beli sesuatu.
"Beliii, Mbak aku mau beli boleh ngak Mbak.?" Kata Adit.
Kemudian terlihat Perempuan yang tadi siang Bayu temui di warung itu.
"Beli apa, rokok lagi?. Beli rokok teros, uang itu ditabung jangan buat beli rokok aja tiap hari." Kata Perempuan itu.
"Kok sewot mbak mbaknya, orang mau beli kan bebas" kata Bayu dalam hati.
"Ealah Vi, ini sudah tak kurang kurangi kok." Kata Adit sambil menyalakan rokok batangannya.
"Itu siapa.?" Tanya Perempuan itu pada Adit smabil memandang Bayu.
"Ooo, ponakanya Pak Arip baru datang dari kampung. Kenapa naksir ya kamu.?" Kata adit pada Perempuan penjaga warung itu.
"Oiya Bayu, ini Novi. Vi ini Bayu." Kata Adit memperkenalkan mereka.
Bayu hanya mengangguk.
Novi biasanya menjaga warung orang tuanya. Gadis manis berkulit sawo matang itu sepertinya sangat akrab dengan Adit.
"Ooo Bayu ponakanya Pak Arip dari kampung. Heh Dit, jangan kamu ajarin aneh aneh ya di sini.!!" Kata Novi pada Adit.
"Ya ngak mungkin lah, dihajar Pak Arip aku. Emang kamu yang suka aku ajarin yang aneh aneh." Kata Adit.
"Yasudah aku berangkat." Kata Adit.
"Ya, kerja yang rajin. Ati ati." Ucap Novi.
Kemudian mereka berangkat lagi dengan sepeda motor Adit.
Saat dijalan.
"Cantik ngak Yu cewek tadi.?" Kata Adit spontan.
"Emmmm iya cantik." Kata Bayu.
"Kamu naksir dia.?" Kata Adit lagi.
"Heh, ya ngak lah Mas." Kata Bayu sedikit heran.
"Hemmm apa kamu udah punya pacar Yu.??" Pertanyaan sensitif yang keluar dari mulut Adit
Bayu sejenak terdiam, pertanyaan Adit seketika mengingatkan Bayu akan Laras.
"Wee malah nglamun bocah." Kata Adit
"Ehhh, ngak belum punya Mas." Ucap Bayu.
"Ooooo, Novi tadi itu pacar aku Yu." Kata Adit.
"Pantes, mereka terlihat sangat akrab." Bayu berucap dalam hati.
__ADS_1
"Jangan naksir ya kamu, awas kalau naksir!!" Kata pemuda berambut gondrong itu dengan nada mengancam.
"Ngak Mas, ngak mungkin aku naksir pacarnya Mas Adit." Kata Bayu.
"Hahahahahahaaa. Bercanda Yu. Kamu kalau naksir dia juga ngak papa. Asal kamu bisa buat dia lebih bahagia." Kata Adit pada Bayu.
"Lah Mas Adit kenapa ngomong gitu." Bayu dalam hati.
"Tunggu tunggu. Tolong jangan panggil aku Mas. Kita kan seumuran, panggil nama aja. Keliatan tua aku kamu panggil Mas Mas teros." Kata Adit.
"Ohh iya Dit." Kata Bayu.
Di lampu merah Adit masih melanjutkan ceritanya.
"Aku sama Novi sebenarnya mulai pacaran itu ngak terlalu serius serius banget. Ya juma cari pelampiasan masing masing aja, ehh tapi udah jalan 4 tahunan lebih." Adit sedang bercerita.
Lampu lalu lintas menjadi hijau dan adit melaju lagi.
"Jadi kalau ada cowok yang lebih bisa bahagiain dia dari pada aku, yaa aku bisa ikhlas lepas dia." Kata Adit.
"Tapi ahir ahir ini aku jadi punya pikiran buat nikahin dia, umurku udah nambah terus ibukku udah pengen gendong cucu. tapi aku takut Yu ngak bisa bahagiain Novi," Adit masih berbicara panjang lebar.
"Maaf ya Yu, jadi curhat aku. Hahahahahaha." Imbuh Adit.
"Ngak papa Dit." Jawab Bayu singkat.
Kemudian Adit kembali fokus di jalan dengan tangan kanan terus menarik tuas gas dan rokok di tangan kirinya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di area lapak jualan Pak De Arip.
Tempat jualan Pak De Arip sebenarnya lebih mirip pasar malam. Bila pagi atau siang tempat itu hanya berupa lapangan di area KODAM.
Tapi bila mulai malam digunakan para warga untuk mencari hiburan murah meriah atau mencari barang barang di pasar rakyat.
Banyak stand stand penjual berbagai jenis barang di sana, dan juga banyak stand sentra kuliner.
Adit memarkirkan motornya.
"Ayo Yu ikut aku ambil gerobak." Kata Adit.
Bayu hanya mengikuti arahan Adit.
Mereka mengambil gerobak di salah satu rumah warga di dekat sana, pedagang pedangang lain juga banyak yang menitipkan gerobak di situ. Tentu dengan tambahan uang titip.
Dalam bisnis memang harus menerapkan sistem simbiosis mutualisme.
Kemudian Adit dan Bayu mendorong gerobak ke area stand Pak De Arip.
Dan inilah langkah awal Bayu mencari pundi pundi Rupiah di kota orang.
Adit memang sudah lama membantu Pak Arip dan dia terlihat cekatan, Bayu tentu hanya menunggu perintah perintah dari Adit.
"Yu tolong meja sama bangkunya ditata dan tikarnya di gelar di bagian lesehan." kata Adit mengarahkan Bayu.
Bayu tentu masih sedikit kaku mengerjakan perintah Adit. tapi Bayu dibekali stamina dan kecerdasan yang dia dapat dari berladang di Desa. ahirnya dia bisa mengimbangi perintah perintah dari Adit.
dan malam ini akan jadi malam yang panjang bagi Bayu.
__ADS_1