
Sore berlalu, malam menjelang, pagi pun datang. Matahari masih tersipu malu, cahaya redupnya masih belum membara.
Bayu memulai aktifitasnya setelah bermimpi panjang.
Karena masa panen jagung kering yang ada di ladang Bapak Bayu sudah dekat, keluarga petani itu mulai sibuk di ladang lagi.
Biasanya saat kurang lebih 95 hari setelah tanam, batang batang di atas buah jagung akan di pangkas, agar nutrisi terserap sempurna pada buah jagung dan sinar matahari bisa langsung mengenai buah jagung.
"Greng ngeng ngeng ngeng"
Suara motor Bapak
Terlihat Ibu dan Bapak akan pergi ke ladang.
"Bayu. Bapak sama Ibu ke ladang duluan, itu sarapan sudah ada di atas meja buat kamu sama Raka ya, kalau Raka sudah berangkat sekolah kamu kunci pintunya lalu ke ladang." Ibu berkata sambil menyiapkan alat alat berladang.
Sedangkan Bapak sedang mengecek kondisi motornya. Motor Bapak Bayu hanyalah motor bebek tua, jangankan surat surat plat motornya saja sudah hilang ntah kemana.
Andai Bapak Bayu ada keperluan ke kota biasanya meminjam motor pada tetangga atau Darman.
"Iya buk nanti Bayu segera menyusul." jawab Bayu.
Bayu sebenarnya bukan anak pemalas, hanya saja ahir ahir ini Bayu merasa bosan dengan aktifitasnya.
"Yawes Ibu berangkat, Assalamualaikum." Kata Ibu sambil keluar pintu.
"Waalaikumsalam." jawab Bayu.
Bayu segera mencuci muka. Sedangkan di kamar mandi terdegar Raka sedang mandi.
Bayu membuka tudung saji. Terlihat ada 2 piring mie instan goreg dengan toping telur ceplok.
"Mas Bayu, tungguin aku sampai berangkat sekolah ya.?" Raka berkata sambil melewati Bayu yang sedang makan.
"Heehmmm" jawab Bayu sambil makan mie instanya.
Bayu makan sambil memikirkan Laras. Jelas pemuda yang sedang kasmaran itu sangat rindu, tapi Bayu tak tau bagaimana cara mengajak Laras jalan jalan.
Sebenarnya Pak Kades dan Ibu Laras tak mengetahui hubungan Bayu dan Laras, yang mereka tau Bayu dan Laras hanya teman bahkan mungkin sahabat sedari kecil, begitupun Bapak Bayu. Tapi Ibu Bayu sadar bahwa anaknya menyimpan benih benih cinta untuk Laras.
"Mie goreng telorrrrrrr, mantap" kata Raka yang tiba tiba duduk di sebelah Bayu.
mereka duduk dan makan bersama.
"Sekolahmu gimana Dek.?" Bayu basa basi.
"Ya gitu Mas, Mas yo pernah sekolah kan. Ya gitu wes rasanya" jawab Raka polos.
"Enak jadi bocah, gak banyak beban pikiran" Bayu berkata dalam hati.
"Mas, katanya mbak Laras dateng lho" kata Raka.
"Udah tau" jawab Bayu singkat.
__ADS_1
"Oooo kirain belum tau" Raka berbicara sambil menyantap telur ceploknya.
"Cepet makannya, Mas mau ke ladang nuyusul Bapak" Bayu berkata sambi menuju tempat cuci piring.
"Heeeeemmmemmm" jawab Raka yamg buru buru menghabiskan sarapannya.
Kemudian
"Crekkk"
Suara Bayu mengunci pintu.
Raka sudah menaiki sepedanya dan segera berangkat.
"Mas, aku berangkat, Assalamualaikum" Raka berkata sambil siap mengowes sepedahya.
"Ya ati ati, Waalaikumsalam" Bayu menjawab sembari menaruh kunci rumah di ventilasi atas pintu.
Bayu bersiap berangkat ke ladang, tapi sebelumnya Bayu ingin lewat ke rumah Laras dulu, siapa tau wanita idamannya itu sedang menyapu di depan rumah seperti biasa.
Sepeda kumbang hitam itupun melaju seiring perputaran roda. Bayu menikmati sejuknya udara, angin membelai mesra, dan embun menari berirama.
Tak terasa rumah Laras mulai terlihat, tapi tak ada tanda tanda Laras menyapu di depan. Bayu memelankan laju sepedanya sembari mengamati rumah Laras.
Bayu berharap bertemu Laras, paling tidak melihat Laras walau dari kejauhan.
Tapi selambat apapun Bayu melaju, rasanya waktu yang cepat berlalu. Hingga Bayu melewati rumah Laras, gadis manis berkulit putih itu masih tak terlihat.
Digowesnya dengan laju sepeda kumbang hitam. Bayu segera menuju ladang orang tuanya.
Sesampainya Bayu diladang, terlihat kesibukan bukan hanya di ladang orang tua bayu, tapi juga di ladang ladang lainya.
Bayu melewati hari itu dengan berbakti kepada orang tuanya.
Kemudian.
Matahari meninggi, udara panas mengitari, peluh mambasahi, tapi perjuangan masih belum berhenti.
Siang menjelang sore. Dirasa cukup untuk hari ini, keluarga Bayu pun kembali pulang. Sisa pekerjaan bisa dilanjutkan esok hari.
Rutinitas yang monoton. Tapi itulah yang mencukupi hidup Keluarga Bayu dan beberapa Keluarga lain di Desa Sehat Mulia.
sore berganti malam, malam berganti hari, tapi rutinitas keluarga Bayu masih sama.
pagi ini Ibu memasak nasi goreng untuk sarapan.
Ibu dan Bapak berangkat ke ladang terlebih dahulu, disusul Raka yang berangkat sekolah, tapi Bayu masih belum selesain menghabiskan sarapannya.
Bayu bimbang, ingin menemui Laras tapi tak berani untuk mengetok pintu rumahnya. nasi goreng di piring Bayu sebagai saksi, betapa rindu itu sungguh menyiksa.
setelah mengunci pintu Bayu berangkat ke ladang orang tuanya dengan ditemani tunggangan sepeda kumbang hitamnya. sperti hari kemarin Bayu melewati rumah Laras, dan masih sama seperti hari kemarin, hanya kecewa yang didapat Bayu.
Bayu sejenak berhenti setelah melewati rumah Laras, Bayu memandang ke arah rumah gadis pujaanya itu.
__ADS_1
"*L*aras masih di rumah apa ngak ya.?" Bayu berkata dalam hati.
"besok, yawes besok saja aku ke rumah Laras andai hari ini ngak ketemu dia." imbuh Bayu dalam hati.
Bayu pun kembali mengowes sepedanya. ditemani pagi yang cerah dan perasaanya yang gundah.
kegiatan di ladang masih sama seprti hari hari sebelumnya, hanya saja hari ini mungkin akan selesai memangkas batang jangung. dan untuk daun daunnya bisa dibawa pulang Bayu untuk pakan ternak.
kemudain saat malam.
Bayu gelisah di kamarnya. memandang langit langit kamar dengan tatapa kosong, hanaya Laras yang dia fikirkan.
Bayu beranjak dari tempat tidurnya, menuju meja belajarnya, hanya ada satu cara agar gelisah bayu menghilang, yaitu menuangkan semuanya dalam goresan pena.
dua hari, hanya dua hari aku tak memandangmu,
aku merasa pilu,
sejenak, aku mohon sejak,
jangan palingkan senyumanmu,
aku jauh walau berada di sampingmu,
dan aku lenyap bila tak bertemu denganmu,
sampai kapan, aku tersiksa dengan rindu,?
dia seperti menggerogoti hatiku, mencabik cabik aliran darahku, dan menusuk jantungku,
sejenak, aku mohon sejenak,
hapus rinduku dengan melempar senyum manismu,
aku mohon, walau sejenak.
setelah Bayu menulis, pemuda itu menutup lembaran buku berisi puisi untuk Laras. segera menuju tempat tidur, terpejam dan berharap mimpi menyeretnya menuju dunia imajinasi.
Pagi hari
bayu terbangun, rasanya Bayu sangat malas untuk beranjak dari tempat tidur. padahal matahari sudah mulai meninggi.
"aku ingin bertemu Laras hari ini.,," dalam hati Bayu.
"Assalamualaikum" terdengar sayub sayub suara perempuan sedang salam.
"Waalaikumsalam, masuk Mbak maaf berantakan" Ibu menjawab.
kemudian suara itu tak terdengar lagi, sepertinya Ibu dan tamu perempuannya menuju dapur, dalam pikiran Bayu mungkin tetangga yang sedang berkunjung.
Dan Bayu masih mengumpulkan semangat untuk beranjak dari tempat tidurnya.
__ADS_1