
Sesampainya Bayu di toilet umum.
"Currrrr." Suara pancuran yang dibuat Bayu.
"Ngak seharusnya aku hanyut dalam kenangan masa lalu, lagian aku udah ada Putri. Putri adalah yang paling terbaik saat ini, jauh lebih baik dibanding Laras." Kata Bayu dalam hati sambil berkonsentrasi.
...Kemudian....
Tak berapa lama setelah Bayu keluar dari toilet.
Sambil berjalan Bayu memperbaiki ikatan Rambutnya dan menuju stand pentol bakar Putri.
"Apakah aku akan bertemu Laras hari ini.?" Gumam Bayu dalam hati lagi.
Kesadaran Bayu seperti memiliki dua sisi yang sedang bertempur saat ini.
Di satu sisi Bayu berusaha melupakan Laras dan ingin menghapus semua kenangan tentang mantan kekasihnya itu serta fokus pada hubungannya pada Putri.
Di sisi lain Bayu ingin bertemu dengan Laras, karena mungkin ini kesempatan Bayu bertemu dengan wanita yang pernah menghancurkan hatinya itu untuk yang terahir kalinya.
Langkah kaki dengan sejuta keraguan itupun sampai di stand pentol bakar Putri.
"Eh buset, rame." Kata Bayu setelah melihat banyak pelanggan antri di stand Putri dari kejauhan.
Dengan langkah kilat Bayu bergegas langsung menuju ke tempat bakaran pentol. Disana sudah ada Nanang bergumul dengan bara api.
"Kok tiba tiba rame Nang.?" Tanya Bayu sambil mebolak balikan tusukan pentol di atas bara api.
"Ya ngak tau, Putri pakai dukun paling." Jawab Nanang bercanda.
Terlihat Putri sibuk membagi setiap tusuk pentol bakar pesanan pelanggan, Astri membungkusnya, Ita menghafal para pelanggan dan pesanannya agar tidak tertukar.
Siapa sangka mereka bisa berkerja sama, karena sejujurnya Bayu merasa pesimis dengan stand pentol bakar ini.
...Beberapa saat kemudian....
Matahari belum ingin tenggelam, stand pentol bakar Putri berangsur lengang pelanggan.
Terlihat Bayu dan Putri masih melayani pelanggan terahir dari rombongan tadi, Astri dan Nanang pergi membeli makanan sedangkan Ita sedang duduk di belakang.
"Untung pentolnya kita bagi Yu." Kata Putri pada Bayu.
"Ya untung aja masih ada separuh di kontrakan." Jawab Bayu sambil membolak balikan pentol bakar di atas bara api.
"Pikirku yang laku juma separo ini, terus yang di kontrakan bisa di makan bareng bareng deh, hehe." Ucap putri sambil tersenyum manja pada Bayu.
"Ya mau gimana lagi, kalau yang di etalase abis yang di kontrakan diambil aja bawa ke sini." Kata Bayu sembari menyerahkan pentol yang selesai di bakar pada Putri.
"Oke bossss." Jawab Putri.
Pentol bakar yang telah dimasukan dalam plastik dan dibumbui saus itupun diserahkan pada sang pelanggan.
Bayu kembali ke bakaran untuk menambahkan arang agar bara apinya tetap menyala.
Sedangkan Putri sibuk menghitung keuntungan sejauh ini.
"Wah bener ada pentol bakar." Ucap pelanggan wanita yang baru datang.
__ADS_1
"Silahkan kak Laras." Ucap Putri ramah.
Bayu sedikit tersentak.
"Kak Laras...? Suara wanita Itu memang ngak asing di telingaku, apa benar dia Laras.!!!! " Kata Bayu dalam hati.
Bayu masih membelakangi Putri dan sibuk dengan bakaranya.
"Jadi inget kampung halaman. Hmmm bakarin 20 tusuk ya." Ucap pelanggan wanita itu sembari menyodorkan uang 20 ribuan pada Putri.
"Oke kak, di tunggu ya." Ujar Putri menerima uang itu kemudian menyiapkan tusukan pentol di suatu wadah.
Kemudian Putri berbalik menghampiri Bayu.
"We Bayu malah ngelamun. Ini bakarin." Kata Putri sambil membawa wadah berisi tusukan pentol.
"Ooh iya iya." Kata Bayu singkat.
Pandangan pelanggan wanita itu langsung tertuju ke arah Bayu setelah Bayu berkata tadi.
Lama wanita itu memperhatikan Bayu dari belakang.
"Bayu, benar itu kamu Yu.?" Ucap Wanita itu.
Bayu yang di panggil mau tak mau menoleh.
Dan benar saja, itu memang Laras. Laras yang dulu membuat Bayu mabuk kepayang hingga jauh tinggi terbang, tapi itu juga Laras yang menghempaskan Bayu dengan teramat keras hingga menimbulkan beberapa gores luka dalam.
"Hay Ras." Ucap Bayu singkat kemudain menyudahi pandangannya ke Laras serta fokus dengan bakaran pentolnya lagi.
Putri terheran heran. Kebingungan seperti menari nari di sela sela sel otaknya.
"Iya, dia temen aku." Kata Bayu.
"Iya, Bayu mantan aku ." Kata Laras.
Bayu dan Laras berkata di waktu yang bersamaan.
Tapi jelas, Putri lebih condong ke perkataan Laras, karena Laras mengaku sebagai mantan Bayu.
"Temen.? Yakin hanya temen. Sebegitu bencinya kah kamu denganku Yu, sehingga kamu tak menganggap aku pernah jadi kekasihmu dulu.?" Tanya Laras.
Bayu terdiam membelakangi Putri dan Laras.
Sedangkan Putri sedikit syok sembari melihat Laras.
"Cukup Laras, jangan diteruskan. Put maafkan aku...., aku tidak jujur duluan padamu tentang ini." Ucap Bayu dalam hati sembari membakar tusukan pentol pesanan Laras.
"Kenapa diem Yu. Apa kamu masih belum Move on dari aku.? Apa kamu belum mendapat penggantiku Yu. Atau kamu sengaja ikut baazar kampus ini agar bisa bertemu denganku.?" Kata Laras.
"Cukup Laras, cukup. Apa salahku padamu sampai sampai kamu berkata seperti ini. Sial....... Andai aku punya keberanian untuk menatapmu dan meluapkan amarahku." Bayu masih berkata dalam hati dengan gelisah.
Bayu kemudian menyerahkan tusukan pentol bakar pada putri, tentu dengan dia sedikit tertunduk.
Putri memandang Bayu sekilas.
Walau Putri sangat ingin menanyakan banyak hal pada Bayu. Tapi dia seperti sadar bahwa kekasihnya itu sedang tertekan.
__ADS_1
Putri menyiapkan pesanan Laras dengan membagi 20 tusuk pentol bakar tadi ke dalam 4 plastik. Dimasukanya 4 plastik pentol bakar itu ke dalam keresek hitam.
Saat pandangan Laras tertuju pada Bayu yang sedang tertekan.
Kedua telapak tangan Putri mengenggam pipi Bayu.
Kemudian.
"Emmmmmccchhhh."
Bibir Putri mengecup bibir Bayu.
Jelas itu bukan ciuman biasa.
Bayu yang tersentak perlahan memejamkan matanya, berusaha menikmati setiap terobosan lidah Putri di dalam bibirnya.
Telapak tangan Putri perlahan melingkar di belakang tengkuk Bayu, sedangkan Bayu perlahan memiringkan wajahnya.
Seprtinya Bayu mulai paham cara kerja ciuman penuh hasrat itu, hingga Putri perlahan juga memejamkan matanya.
"Emmmmhhh." Tanpa sadar Bayu mengerang dengan nada berat.
Bayu sejenak tersentak dan membuka matanya kemudian menyudahi kecupan yang membuat sukmanya bergetar itu.
Putri tersenyum pada Bayu dan kemudain memandang Laras yang seakan tak percaya apa yang terjadi di hadapannya.
Gadis manis dengan pipi merona itu mengambil pesanan pentol bakar dalam keresek hitam itu dan menyerahkannya pada Laras.
"Ini kak pesanannya. Terimakasi dan datang kembali." Ucap Putri dengan ramah seakan tak terjadi apa apa.
Laras yang terbengong telah tersadar dan menerima bungkusan keresek hitam itu.
Kemudian wanita yang pernah singgah di hati Bayu itu meninggalkan stand Putri tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Bayu tak memperhatikan Laras pergi, justru dia sibuk melihat sekitar.
"Gila Putri. Ini tempat ramai, bisa bisanya dia." Ucap Bayu dalam hati.
Dan benar ada sepasang mata yang memperhatiakn Bayu dan Putri sedari tadi. Dia adalah Ita.
Bayu memandang Ita tapi Ita hanya tersenyum pada Bayu.
"Ita. Apa dia lihat yang Barusan terjadi." Imbuh Bayu dalam hati.
Putri memandang Bayu yang kebingungan.
"Kenapa ~~~~" Tanya Putri kemudian melihat apa yang sedari tadi Bayu pandang.
"Ooowh Ita, tenang aja dia pasti paham." Kata Putri.
"Kamu salah Put, kamu yang ngak paham. Ita juga menaruh hati padaku. Aku ngak tau lagi apa yang akan terjadi setelah ini, bisa jadi emosinya meledak dan membeberkan rahasia antara kita. Gawat.....!!!!!! " Kata Bayu dalam hati dengan rasa gelisah.
"Hey. Kenapa kamu gelisah gini ayang." Kata Putri.
"Sebaiknya kamu bersiap menjelaskan apa yang telah terjadi antara kamu dan kak Laras. Mumpung aku masih bisa di ajak bicara." Imbuh Putri.
Pikiran Bayu kalut. Saat ini mungkin dendamnya pada Laras terbalaskan, saat ini juga dia mendapatkan ciuman mesra dari Putri yang seharusnya membuat dia bahagia dan lagi, saat ini juga dia gelisah takut akan emosi Ita memuncak dan membeberkan perasaanya dengan Bayu pada Putri.
__ADS_1
Rasanya saat ini Bayu ingin mengarahkan moncong pistol dan menarik pelatuk tepat di sisi batang otaknya.