
...Malam pun datang....
Setelah Bayu mempersiapkan air minum dan teh untuk Ibunya di kamar, Bayupun pergi ke kamar Raka yang sebenarnya kamar dia dulu.
Terlihat Bapak tidur di depan TV.
Saat masuk kamar, terlihat Raka yang tidur dan memenuhi semua kasurnya. Bayu terpaksa tidur di bawah dengan beralaskan tikar.
...Saat Bayu rebahan....
"Rasanya nyaman bisa tidur di rumah dan satu atap dengan keluarga sendiri, walau hanya beralaskan tikar." Ucap Bayu dalam hati.
Bayu pun memejamkan matanya. Dan mimpi perlaham menyeretnya dalam alam hayalan.
...Pagi saat matahari belum terbit....
Bayu terbangun, terlihat jam menunjukan pukul 5 pagi. Sepertinya Bayu sudah terbiasa bangun saat matahari belum menampakan suryanya.
Dirapikan tikar dan bantalnya. Kemudian Bayu meuju kamar mandi untuk cuci muka.
Bapak terlihat membuat air panas di dapur dan sepertinya selesai sholat.
"Udah Bangun Yu.?" Tanya Bapak.
"Kebiasaan pak, kalau di Surabaya jam segini sudah nganter Bu De pergi ke pasar." Kata Bayu sambil mengambil gelas untuk membuat teh.
"Gimana keluarganya Mas Arip, sehat semua.?" Tanya Bapak yang duduk di kursi.
"Iya Pak sehat, anaknya Pak Arip ternyata seumuran sama Raka." Kata Bayu sambil menunggu air mendidih di depan kompor.
"Anaknya yang pertama kan perempuan. Dulu pernah di ajak ke sini pas masih kecil. Raka aja baru mau sekolah dulu." kata Bapak.
"Ya untung Pak Demu sudah berubah sekarang, sudah berkeluarga. Padahal dulu sekali Bapak sempet khawatir sama Pak Demu itu, mau jadi apa dia nanti kalau sikapnya terus terusan kayak brandalan." Imbuh Bapak sambil mengambil bubuk kopi di etalase.
"Kalau dulu Bayu ngak tau Pak De Arip seperti apa. Tapi selama Bayu di sana Pak Arip orangnya Baik kok Pak, sabar juga." Kata Bayu sambil menuangkan Gula dan teh celup ke dalam gelas besar.
"Iya Yu, Bapak sendiri aja juga ngak nyangka. Ya kapan kapan Bapak pengen mampir ke rumahnya Pak Arip di Surabaya." Kata Bapak sambil menuangkan air panas di cangkir kopinya.
"Semoga cepet kesampean," ucap Bayu sambil menunggu giliran menuangkan air panas ke gelas tehnya.
Kemudian Bapak membawa kopinya ke depan rumah, sambil memanaskan mesin motornya.
__ADS_1
Sedangan Bayu membawa gelas tehnya ke kamar Ibu. Ibu masih tertidur, dan Bayu mengambil gelas air dan gelas teh semalam. Menukarnya dengan teh yang Baru.
Cahaya matahari mulai bersinar, setelah Bayu mencuci gelas, dia iseng pergi ke belakang rumah.
Disana ada kandang kambing dan ayam. Terlihat beberapa kambing yang masih kecil, sepertinya baru lahir beberapa minggu lalu. Dan ayam yang tak terhitung jumlahnya.
"Syukur lah. sepertinya tidak ada masalah dengan ternak Bapak." Ucap Bayu dalam hati.
Biasanya, untuk urusan mencari pakan ternak atau membeli pakan ayam sudah menjadi tugas Bayu. Tapi sepertinya selama Bayu tidak di rumah Raka bisa mengerjakan tugas itu dengan Baik.
Lama Bayu berada di belakang rumah membersihkan kandang ternak, hingga tanpa terasa matahari mulai meninggi.
"Udah jam berapa ini.? Kira kira Ibu mau dibeliin sarapan apa pagi ini.?" Tanya Bayu dalam hati.
Setelah membersihkan Badanya, Bayu menghampiri Ibu di kamar.
Terlihat Ibu sudah bangun dan bersandar di kasur.
"Ibu mau di beliin sarapan apa.?" Tanya Bayu sambil menghampiri Ibu.
"Apa aja Le." Jawab Ibu.
"Yawes tak cariin nasi pecel aja ya di warung depan gapura Desa.?" Tanya Bayu.
Kemudian Bayu keluar kamar dan mengambil dompetnya di kamar Raka, Raka terlihat masih tidur.
Kemudian Bayu menuntun sepeda kumbangnya keluar Rumah. Tidak terlihat Bapak di depan rumah, mungkin sedang ke sawah untuk membuka saluran irigasi ke sawahnya.
Bayu berangkat dengan sepeda kumbangnya untuk mencari sarapan.
Walau matahari mulai meninggi tapi suasana desa Bayu masih sangat dingin dengan embun tipis.
Lama Bayu tidak mengowes sepedanya saat pagi hari di Desa.
Tak berapa lama Bayu baru tersadar, jalan itu membawanya menuju depan rumah Pak Kades.
Satu tahun yang lalu Bayu pasti akan sangat bahagia melewati jalanan itu, tapi tidak untuk kali ini, Justru rasa sakit dalam hati yang menghujam seperti tertusuk belati.
Bayu menambah kecepatan laju sepedanya. Berharap segera melewati rumah Pak Kades yang sudah mulai terlihat.
Tapi, terlihat seorang yang sedang menyapu di depan rumah Pak Kades.
__ADS_1
"Laras." Ucap Bayu dalam hati setelah tersadar siapa Wanita yang sedang menyapu di depan rumah Pak Kades.
Bayu semakin cepat mengowes sepedanya. Kenangan akan hal buruk tentang Laras membuat hatinya terasa sakit.
"Krocak krocak krocak" suara sepeda Bayu mengebut melewati jalanan yang tidak rata.
Terlihat Laras menoleh ke arah Bayu. Tatapan Laras seperti tidak menyangka bertemu Bayu di depan rumahnya lagi.
Tapi pandangan Bayu fokus ke jalanan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Laras, begitupun Laras yang melanjutkan menyapu halamannya tanpa lagi melihat ke arah Bayu.
Kemudian semuanya berlalu tanpa senyum yang membekas dan diiikuti hati yang membeku keras.
Sepertinya hubungan diantara mereka memang tidak bisa diselamatkan lagi. Yang hancur tidak bisa dirangkai lagi, yang layu tidak bisa di siram lagi. Semuanya lenyap tanpa bekas.
"Kenapa ada Laras.? " Tanya Bayu dalam hati.
"Ahhhhh, ngapain aku repot repot memikirkan hal itu. Sudahlah Bayu, jangan jadi manusia yang bodoh, selalu memikirkan hal hal yang percuma." Kata Bayu pada dirinya sendiri.
...Tak berapa lama....
Bayu sampai di dagang nasi pecel. Setelah menyandarkan sepedanya kemudian Bayu masuk ke warung itu.
"Buk, nasi pecelnya empat." Kata Bayu pada pedagang nasi.
"Dikasi sambel tumpang atau pecel aja semua." Tanya Dagang itu.
"Eh, yang dua pecel aja yang 2 dikasi sambel tumpang." Jawab Bayu sambil duduk.
Kemudian pedagang nasi itu menyiapkan pesanan Bayu.
Bayu menunggu sambil mengambil beberapa lauk seperti ote ote, tahu isi ataupun tempe gembus goreng.
Setelah pesanan Bayu siap dan membayar, Bayu kemudian mengowes sepedanya lagi menuju pulang.
Bayu bimbang. ingin tidak lewat rumah Pak Kades lagi, tapi jalan memutarnya sunggu jauh. Tapi bila Bayu lewat depan rumah Pak Kades lagi dia bisa bisa bertemu Laras.
"Sudahlah, daripada Ibu menunggu lama. Lagian Laras juga bukan siapa siapaku lagi, mungkin dia juga sudah masuk rumah." Kata Bayu dalam hati sambil mengowes sepedanya.
Ahirnya Bayu lewat jalanan depan rumah Pak Kades lagi. tapi kali ini tidak terlihat Laras.
Bayu sedikit merenung akan kenangannya dengan Laras di lokasi itu. dimana dia sering bersenda gurau bila bertemu Laras pagi pagi saat mengantar Raka sekolah dulu.
__ADS_1
"Itu hanya kenangan masa lalu, sekarang semuanya jadi hambar." Kata Bayu dalam hati kemudian berlalu.