BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Berkelana Malam


__ADS_3

Malam kian pekat, taburan bintang terlihat meriah saat Bayu melihat keluar cendela kaca, tapi tak ada yang lebih indah, selain wajah polos Putri yang tertidur di bahunya.


"Batu." Batin Bayu saat melewati tugu selamat datang Kota Batu.


Dengan laju bus yang mulai halus, Bayu merasakan kantuknya lagi, mata dengan alis tebal itu mulai terpejam.


"Sampai mana Pak Supir.?" Tanya Putri.


"Ahh, owh sampai Batu." Ucap Bayu dengan kantuk yang teramat sangat.


Wajah Bayu terheran setelah melirik ke arah Putri.


"Masak iya Putri mengigau." Kata Bayu dalam hati.


Bayu terus memperhatikan Putri dengan lirikannya.


"Cantik cantk ngigau." Ucap Bayu lirih.


Kembali Bayu memejamkan matanya dengan bersandar di kepala Putri.


Beberapa menit kemudian.


"Yu bangun Yu, udah mau sampek." Tepukan pelan Ita di pundak Bayu.


"Ah, mau sampek. Oke oke." Bayu dengan keadaan setengah sadar.


Sekuat tenaga Bayu menjaga kesadarannya.


"Put, bangun. Udah mau sampek." Kata Bayu dengan mengusap kepala Putri pelan.


Perlahan Putri mulai tersadar dari tidur cantiknya.


Teman teman Bayu sudah Mulai bersiap untuk turun dari bus.


"Hooooaaammmmm. Udah sampek Bay.?" Kata Putri menguap sambil mengusap matanya.


"Iya, ayo siap siap."


"Hmmm."


Putri dengan kesadaran yang mulai terkumpul mulai merapikan jaket parkanya, melipat dan memasukan dalam tas carrier miliknya.


Mata Bayu masih memancarkan rasa kantuk.


"Kamu ngak tidur Bay." Ujar Putri sambil kerapikan dan mengikat rambutnya ke belakang.


"Tidur kok, juma sebentar." Bayu yang ikut merapikan Rambutnya yang gondrong dan mengikatnya.


Bus memasuki terminal Arjosari Malang.


Beberapa penumpang sudah ada yang berdiri untuk bersiap turun.


Bayu merenggangkan badannya yang terasa kaku karena harus jadi sandaran Putri untuk tidur.


"Maaf Bay." Ucap Putri.


"Aaa, maaf.? Kenapa."


"Kamu pasti ngak tidur gara gara aku."


Bayu terheran dengan pernyataan Putri, dan menghentikan perenganganya.


"Nanti aku ceritain, yang jelas bukan karena kamu Put." Ujar Bayu dengan tawa yang tertahan mengingat kejadian tadi.


Bus berhenti, satu persatu penumpang turun termasuk rombongan Bayu. Hawa dingin langsung nyengat menusuk tulang mereka ketika melangkahkan kaki keluar dari pintu bus.


"Dingin buanget, ngak kayak di Surabaya." Celetuk Nanang.


Kemudian rombongan itu menuju ke ruang tunggu penumpang.


"Tunggu sebentar, aku cariin angkot." Ujar Petruk kemudain berlalu menyusuri lorong terminal.


Semua terlihat bersemangat di malam yang dingin itu, kecuali Bayu yang sedari tadi terus menguap duduk di samping Putri.


"Hadap sana Bay." Titah Putri agar Bayu membelakanginya.


"Aaa, mau ngapain.?" Tanya Bayu keheranan.

__ADS_1


"Udah.... nurut aja."


Bayu kemudian membelakangi Putri. Sejurus kemudian jari jemari Putri mulai memijat bahu Bayu.


"Pasti kamu pegel pegel dan gak bisa tidur gara gara aku tidur di bahumu."


"Emmmmm. Ngak Putri." Ucap Bayu sambil menikmati pijatan jari jemari Putri.


"Terus.?"


"Tadi, gara gara bisnya lewat jalan perbukitan, belak belok di tikungan tajam dan kanan kiri jurang, ya aku takut. Hehe."


"Uummm."


"Nanti pulangnya lewat sana lagi.?" Tanya Bayu yang menikmati pijatan Putri.


"Ya iyalah Bayu. Mau lewat mana lagi.?"


"Mati aku."


Sepertinya hawa dingin malam tak melunturkan semangat mereka.


Astri dan Ita saling bersua foto dengan HP mereka masing masing. Nanang juga sibuk dengan HPnya.


"Ayok, angkotnya di depan." Ujar Petruk yang Baru datang setelah mencari angkot.


Kembali rombongan hora hore itu beranjak dari istirahatnya dan berjalan menyusuri lorong terminal.


"Kok naik angkot, Truk.?" Tanya Ita dengan langkahnya.


"Abis dari sini kita harus ke Pasar Tumpang dulu, setelah dari Pasar Tumpang baru ke Ranu Pani." Jawab Petruk.


"Biasanya kalau dulu bisa nebeng trek trek sayur buat ke Ranu Pani. Tapi sekarang mending naik jeep, demi keamanan." Imbuh Petruk


Tak berapa lama mereka sampai di angkot yang dicarter petruk. Merekapun naik ke angkot satu per satu.


Saat rombongan itu sudah duduk manis, angkot itupun melaju.


Perjalanan yang sunyi, hanya suara mobil angkot yang terdengar meraung raung.


"Mau kemana mas mas dan mbak mbak ini semua.?" Tanya sopir angkot basa basi.


"Ranu kumbolo.? Kok ngak naik sekalian di semeru.?" Tanya Sopir angkot lagi.


"Ya waktunya Pak, mepet. Ini untung dapet cuti kerja. Iseng iseng ke Ranu Kumbolo aja."


"Owalah, sayang banget. Padahal cuaca lagi bagus."


"Gimana lagi Pak, namanya juga nyuri nyuri waktu."


Perjalaanan menyusuri pinggir kota yang sunyi, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. malam masih dengan jutaan bintangnya beruntung awan mendung tak ikut menyapa.


Sekitar satu jam kemudain.


Mereka sampai di Pasar Tumpang. Bayu, Putri, Astri dan Nanang duduk di emperan toko yang telah tutup. Waktu menunjukan pukul jam 11 malam. Tapi jalanan sekitar Pasar masih lumayan ramai.


"Lamanya Petruk dan Ita." Keluh Astri.


"Sabar." Jawab Putri.


Bayu hanya bersandar di tas carrier besarnya sambil memejamkan matanya.


"Kemana aja kamu Truk, Ta.?" Celetuk Astri yang melihat kedua sejoli itu datang dari sebrang jalan.


"Maaf lama, nyari nyari sewa jeep." Ujar Petruk.


"Sini dulu sebentar, kita rapat dadakan. Aku juga bawa nasi goreng buat makan malam." Imbuh Petruk.


Kemudian semua duduk melingkar di emperan toko itu. Tak kecuali Bayu yang sedari tadi curi curi waktu untuk sekedar memejamkan mata.


"Gimana truk.?" Tanya Putri.


"Jadi gini. Sekiranya kita udah tau Gunung Bromo lagi batuk batuk lagi, walaupun itu ngak mempengaruhi jalur pendakian Ranu Kumbolo. Tapi sedikit mempengaruhi wistawan yang mau ke Ranu Kumbolo." Ujar Petruk.


"Terus hubunganya.?" Putri bertanya.


"Masalahnya, kita sewa jeep ini kan satu kali jalan dan PP. Tarif satu kali jalan 600 ribu jadi kalau PP satu juta dua ratus."

__ADS_1


Semua terbelalak, tapi walau begitu mereka sudah mempersiapkan segala kemungkinan, termasuk masalah biaya perjalanan.


"Ini kan sistimnya carter atau sewa. Jadi sebenernya bisa lebih murah lagi andai di mobil itu ada penumpang lain lagi yang ikut join."


"Jadi, penyewa mobil cukup kesulitan nyari penumpang lain karena gunung Bromo yang lagi erupsi." Celetuk Putri.


"Nah, itu. Gimana.? Di terima atau ngak. Kalau jalan ke Ranu Pani besok pagi, semoga sebelum jalan besok ada yang join lagi. Atau kita nginep sehari di sini sambil nunggu penumpang yang join besoknya, biasanya ada aja penumpang lain kalau nunggu satu hari.?" Petruk memberikan dua pilihan.


Sejenak semua berfikir.


"Kalau aku, gas nanti pagi juga gak papa. Toh waktu kita ngak banyak." Ujar Putri.


"Ya setuju." Timpal Bayu.


Nanang dan Astri mengangguk tanda gestur setuju.


"Oke ya. Jadi, ada tidaknya nanti penumpang yang join, kita tetep berangkat nanti pagi." Kata Petruk.


"Okelah yang penting hora hore." Celetuk Bayu sambil membuka bungkusan nasi goreng.


"Jadi sudah boleh makan ini.?" Tanya Astri.


"Udah Astri, dari tadi pun boleh kok." Kata Ita.


"Owalah, kenapa ngak ngomong, aku laper dari tadi." Ujar Astri sambil buru buru membuka bungkusan nasi gorengnya.


"Astri Astri, wes cepet dimakan nasi gorengnya, sebelum kamu pingsan." Kata Ita.


Suasana hangat berselimut hawa dingin. Walaupun hanya makan nasi goreng dengan bersila di teras toko, tetapi terasa nikmat bila menikmatinya bersama sama.


"Truk, kita tidur di mana.? Apa ada penginapan di sekitar sini.?" Tanya Bayu sambil menikmati nasi gorengnya.


"Ummm, tenang, kita tidur dirumahnya supir jeep. Kebetulan deket deket sini, walaupun harus jalan kaki lagi." Jawab Petruk.


"Gratis kan.?" Tanya Nanang


"Iya, kita kan itungannya singgah. Ngak nginep." Ujar Petruk lagi.


Tak berapa lama


Masing masing dari mereka menghabiskan satu bungkus nasi gorengnya, kecuali Astri yang menghabiskan satu setengah bungkus, separuh milik Nanang. Rombongan Putri segera membersihkan tempat rapat darurat mereka. Bagaimanapun mereka harus sopan walaupun di kota orang.


Satu persatu mengendong tas mereka masing masing, kemudian rombongan itu berjalan menuju mobil jeep yang akan mereka sewa esok hari.


"Tunggu Mas Masnya dulu." Ujar Petruk saat baru sampi di samping mobil jeep berwarna orange itu.


Sejurus kemudian pengemudi mobil jeep itu datang.


"Mas, Mbak." Ujar Pria pengemudi mobil itu sambil menjukurkan tangannya.


Satu persatu mereka menyalami Pria pengemudi itu.


"Saya Prapto. Jadi gimana,? Sekarang ke rumah singgah. biar Mas sama Mbak cepet istirahat." Ujar Mas Prapto.


"Boleh Mas." Ujar Bayu.


Kemudian mereka berjalan mengikuti langkah Mas Prapto sang pengemudi mobil jeep.


"Masih belum dapet joinan Mas.?" Tanya Petruk.


"Iya e Mas, agak sepi e. Gara gara Bromo erupsi dikiranya pendakian tutup, selain itu kan kita para pengemudi juga harus bagi bagi penumpang biar merata."


"Owalah, tak kira dulu duluan cari penumpang kayak calo tiket bis." Timpal Bayu.


"Ya ngak Mas, kita juga ada aturan tidak tertulis, biar para pengemudi karasanya sama sama makan. Kecuali kalau sudah bokingan jauh jauh hari."


Perjalanan mereka lumayan jauh menyusuri gang, hampir memakan waktu 10 menit.


Ahirnya mereka sampai di rumah Mas Prapto.


"Anggep rumah sendiri aja Mas Mbak, saya nyari nyari penumpang lagi, semoga aja dapet. Kalau istirahat ada dua kamar sama kasur di ruang tengah, toilet ada di belakang. Besok kita berangkat jam 5 pagi." Ujar Mas Prapto.


"Ngih Mas." Ujar Petruk.


Kemudian Mas Parpto keluar rumah lagi.


"Ahirnya kasur........." Ujar Bayu kemudian rebahan di ruang tengah setelah meletakkan tas besarnya yang berisi tenda.

__ADS_1


Sedangkan para wanita masuk kamar.



__ADS_2