BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Berganti Musim


__ADS_3

Bila, kamu datang dengan senyuman


Aku akan berlari memelukmu erat


Mematahkan jarum jam


Agar selamanya kau kudekap


Bila, kau datang dengan sejuta tanya


Aku akan menyambutmu hangat


Menghampirimu dan meyakinkanmu


Bahwa cintaku masih ada dan nyata


Bila, kau datang dengan linang air mata


Aku akan mengusap kesedihan di pipimu


Menggenggam tanganmu seraya bertanya


Apakah ini ujung jalan kita.?


Apapun itu aku tak sanggup.


Menanti jawaban dari teka teki semesta.


Bayu tak tau lagi bagaimana menyampaikan kerinduannya. Kecuali dengan pena dan secarik kertas.


Kerinduan yang mendalam membuat Bayu gelisah, kabar yang tak kunjung datang membuat Bayu gundah.


Tapi kepercayaan yang menjadi penopang sejuta langkah. Dan kekuatan doa disetiap sujut satu arah, membuat Bayu yakin bahwa tangkai mawar ini tak kan pernah patah.


Satu purnama berlalu dua purnama berlalu satu musim terlewati, langit tak lagi besedih awan tak lagi menggumpal. Hanya dedaunan yang bosan untuk berfotosintesis, memilih gugur dan mati.


Hampir satu tahun Bayu menunggu kabar kepulangan Laras.


Ladang padi berubah jadi jangung. Tanah basah berubah jadi tandus. Harusnya Laras kembali, membawa rindu yang Bayu titipkan pada Sang Angin.


Kemudian.


Bayu mulai punya kebiasaan setiap sore menunggu di pinggir jalan tepat sebelah ladang Bapaknya, tempat dimana Bayu dan Laras dulu bercakap cakap mesra. Mungkin Bayu hanya ingin mengenang suasana saat itu.


Hari demi hari Bayu melakukan itu, terkadang juga sambil mengairi ladang bapaknya dengan pompa penyedot air bertenaga bensin. Karena sudah 3 bulan tidak lagi turun hujan dan sudah 1 bulan terahir sungai irigasi di Desa Sehat mulia mengering.

__ADS_1


Darman sedikit khawatir dengan sahabatnya itu. Di suatu hari saat jatwal bayu mengairi ladang lagi, Darman berusaha menemui Bayu di ladang.


dukdukdukdukkuk


suara pompa air yang dinyalakan Bayu.


Air kemudain mengalir menggenangi ladang jagung.


Bayu kemudian menunggu lagi di bawah pohon mangga sepeti biasa.


"Woe Yu." Darman menepuk pudak Bayu dari belakang.


"Hee asem kamu Dar. Kaget aku." Bayu menjawab dengan terkaget.


"Kapan kamu dateng Dar, kayak setan aja tiba tiba ada" imbuh Bayu.


"Ya kamu itu yang ngelamun. Sampek aku dateng kamu ngak tau" Darman berkata sambil duduk di akar pohon mangga itu.


"Tumben Dar. Ngak ada proyekan kamu ya sampe bisa main main ke sini ?" Bayu bertanya.


"Proyekan apa Yu. Musim kemarau gini bisa apa, paling juma nunggu jagung panen baru ada kegiatan" Darman berkata sambil iseng melempar krikil krikil ke ladang.


"Iya e Dar. Kayaknya ngerantau enak paling, sperti Joko, Agus, Pras dan Yoga" Bayu berkata sambil menatap pompa airnya.


"Bilang aja kamu pengen ke Surabaya buat ketemu Laras" Darman berkata.


"Iya iya yang kasmaran. Ngomong ngomong temen temen kita di kota gimana ya kabarnya Yu.?" Darman bertanya


"Ya gak tau aku Dar. Semoga mereka baik baik saja di tanah rantau" Bayu menjawab.


"Kamu ahir ahir ini sering ngongkrong di sini, nunggu Laras pulang kamu.?" Darman bertanya.


"Iya Dar. Harusnya dia sudah pulang, paling ngak kalau dia libur panjang pasti pulang kan.?" Bayu meminta pendapat darman.


"Ya harusnya gitu" Darman menjawab sambil terus melempar lempar krikil.


"Kuliah itu liburnya kapan ya Dar.?" Bayu bertanya dengan tatapan kosong.


"Ya mana tau aku Yu. Kita ini kan anak desa, sekolah sampai SMA aja untung untungan, disini yang kuliah kan baru Laras aja" Darman menjawab sambil menepuk pundak Bayu.


"Sudah jangan dipikirin nanti pasti pulang kok Laras" kata Darman menyemangati Bayu.


Bayu melipat kedua tangannya di atas kedua lututnya, dan menopangkan dagunya di atas lipatan tangan. Seakan Bayu sudah pasrah saja.


"Apa laras punya pacar ya di sana Dar.?" pikiran buruk mulai merasuki Bayu.

__ADS_1


"Yu kamu tau aku teman baikmu, kamu tau aku juga selalu berbicara jujur dan apa adanya sama kamu. Dan kalau kamu tanya apa laras punya pacar lagi atau tidak,? Aku akan jawab kemungkinan iya. Maaf kalau kata kataku bikin kamu tersinggung tapi aku ngak mau kamu menerima kenyataan buruk belakangan, lebih baik kamu mempersiapkan hatimu aja Yu." Darman berusaha menasehati Bayu.


"Trimakasi Dar. Kamu memang teman yang tidak pernah pura pura di depan aku" Bayu berkata sambil merenung.


"Aku tidak menyuruhmu melupakan Laras, hanya saja kamu harus terbiasa hidup tanpa dia, aku bicara begini agar kamu bisa kuat dan tegar andai Laras kembali tapi bukan membawa cinta buat kamu" Darman berusaha menegarkan Bayu.


Hangatnya mentari sore tak lagi dirasakan Bayu, justu air mata yang berusaha mendorong ketegaran pemuda itu.


"Yawes Yu aku pulang dulu. Besok sore ke rumah ku, kita jalan jalan ke kota cari angin" Darman menepuk pundak Bayu dua kali dan kemudian pulang dengan sepeda motornya,


Darman tau Bayu sangat ingin sendiri, tapi Darman hanya khawatir terjadi apa apa dengan sahabatnya itu.


Tak berapa lama Darman pergi Bayu terisak, tetes demi tetes air matanya membasahi pipi, dia mengigit bibirnya berusaha tak menangis, tapi apa daya air mata yang lama terbendung itu tak mau berhenti.


Bayu tak setegar itu, dia juga manusia biasa, anak polos yang lahir dari cinta semesta. Sebenarnya hatinya rapuh tapi dia tak pernah menunjukannya pada siapapun.


lumayan lama Bayu merenung dan menangis.


kemudian dia berdiri, di hapusnya air mata dengan kedua tangganya, dan dia segera cuci muka dengan air yang keluar dari pompa.


Bayu membereskan pompa airnya, mengangkatnya ke atas motor Bapakya. diikatnya pompa itu agar tak jatuh, Bayu naik ke atas motor, menarik nafas panjang kemudian dia berangkat pulang.


di perjalanan Bayu mulai berfikir apa dia harus pergi ke Surabaya juga, tapi dia tak yakin tabungannya cukup dan apa alasan dia akan ke Surabaya.


Sesampainya di rumah.


Bayu segera menurunkan pompa dari motor. disimpanya pompa itu di samping pintu dapur, Bayu kemudian masuk dan langsung mandi. pemuda itu berusaha bersikap wajar, ia tak ingin siapapun tau bahwa dia baru saja menangis.


setelah Bayu mandi dia ke dapur, dibukanya tudung saji, hanya ada sisa masakan tadi pagi sedikit nasi, sayur lodeh dan tahu goreng. kemudian bayu makan.


"Yu kamu lagi makan,? Ibuk baru mau masak buat makan malam" Ibu berkata sambil mempersiapkan alat masaknya.


"ngak papa Buk, ini aja masih enak kok" Bayu menjawab.


Ibunya sadar suara bayu sedikit bergetar.


"kamu lagi sakit to le.?" Ibu mendekati bayu dan memeriksa kening anak pertamanya itu.


"ngak kok Bu" jawab Bayu singkat sambil terus makan.


firasat Ibu tidak pernah salah, Ibu tau bahwa Bayu baru saja menangis, tapi Ibu memilih tidak mempertanyakannya.


"yasudah. habis ini kamu istirahat di kamar, nanti Ibu bawain jahe anget, mungkin kamu kecapekkan gara gara cuaca panas ahir ahir ini" Ibu berkata sambil mempersiapkan wedang jahe untuk Bayu.


setelah makan Bayu pergi ke kamarnya, dia rebahan berusaha untuk tidak memikirkan tentang kegelisaahnya.

__ADS_1


dan tak berapa lama tanpa sadar Bayu tertidur.



__ADS_2