
............................
...Aku merindumu sesering daun yang jatuh dikala musim gugur....
............................
Terlihat kondisi Raka sudah membaik, Dia sudah tidak terlihat lemas dan tidak pucat lagi.
Sore berlalu malam pun jatuh.
Ibu dan Bapak tiba setelah petang dengan membawa makanan untuk mereka, dan sebuah tikar beserta bantal untuk menginap.
Bayu termenung di ujung taman depan ruangan Raka, menatap bintang dan menghela nafas sesaat.
Dia berusaha mengosongkan pikirannya, dan fokus dengan jutaan bintang yang terlihat samar. Jelas saat ini bukan waktunya memikirkan Laras, tapi dengan sikap Laras yang aneh beberapa waktu ini Bayu seakan tak bisa memalingkan pikiran tentang gadis cantik itu.
"Woee, ngelamun aja." Darman menepuk pundak Bayu.
Bayu yang kaget spontan melihat Darman.
"Nih pentol bakar." Imbuh Darman sambil memberikan bungkusan plastik berisi pentol bakar.
"Eh, udah di sini aja kamu Dar." Kata Bayu.
"Ya kan tadi siang aku udah janji bakal kesini." Darman berkata sambil duduk di samping sahabatnya itu.
Bayu membuka plastikan dan memakan satu tusuk pentol bakarnya.
"Ehhh lupa aku Yu, belum nemuin Bapak Ibumu di dalem" Darman beranjak dari duduknya dan menuju ke ruangan Raka dirawat.
Bayu masih menikmati jajanannya. Rasanya dia memang tidak lapar bahkan cendrung tidak nafsu makan, tapi pentol bakar Darman memang jadi pelipur laparnya.
Darman keluar dari ruangan dan duduk di samping Bayu lagi.
"Raka udah lumayan sehat Yu, semoga cepet bisa pulang" kata Darman.
"Hmmmm" jawab Bayu sambil mengunyah jajananya.
Darman mengambil satu tusuk pentol bakar dari plastikan yang dipegang Bayu kemudain memakannya.
"Kamu kok kayak ngak seneng gtu Yu,?" kata Darman memeperhatikan Bayu yang pendiam.
Bayu menghela nafas panjang.
"Seneng gak seneng Dar, senengnya keluargaku bisa rekreasi bareng keluar desa, tapi ya ngak di rumah sakit juga." Bayu berkata.
"Alahh bisa aja slamet." Darman keceplosan sambil menutup mulutnya.
Bayu dan Darman biasa saling ejek dengan nama bapak masing masing.
__ADS_1
"Tu, Pak Slamet di dalem." Jawab Bayu ketus.
"Kecplosan yu, heehehehee." Darman berkata sambil senyum senyum.
Bayu masih terlihat murung.
"Udah jangan dipikirin, kalau jodoh ya kamu jadi kalau ngak jodoh ya cari yang lain." Darman nyeletuk, karena dia paham Bayu sedang memikirkan Laras.
"Kesambet setan kamu Dar, tiba tiba ngomong gak jelas ,!!!" Bayu berkata sambil menatap tajam Darman.
"Bayu Bayu..... kamu sama aku kenal sudah lama Yu, aku paham kalau kamu murung gak jelas gini pasti mikirin Laras." Darman berkata penuh penekanan.
"Udahlah Yu, kamu juga punya hak mikirin dirimu sendiri terutama mikirin keluargamu." Imbuh Darman.
"Maksutmu.??." Bayu berkata sambil menatap tajam Darman.
"Yaaa gini maksutku, kamu mikirin Raka dulu, Ibuk kamu yang sedih dari tadi terus Bapakmu yang kebingungan." Kata Darman.
"Kalau itu ngak usah ditanya Dar, aku ya kepikiran keluargaku." Bayu berkata dengaan tatapan tajam yang mulai menghilang.
Sepertinya Darman ingin menyampaikan sesuatu tentang laras, tapi dia tidak sanggup untuk mengatakannya, seakan kalimat yang ingin disampaikan Darman tertahan di ujung lidah, apalagi saat ini bukan waktu yang tepat dengan kondisi keluarga Bayu yang sedang diterpa musibah.
"Bayu, makan dulu. Ayo Darman sekalian." Suara Ibu mengampiri mereka.
"Sambel pete kesukaan kalian." Imbuh Ibu Bayu.
Dan mereka pun masuk ke dalam.
Di dalam ruangan Raka yang sedang dirawat. Bayu, Bapak, Darman makan di tikar samping kasur Raka. sedangkan Ibu duduk di kursi sambil menyuapi Raka nasi dan ayam goreng.
2 hari kemudian.
"Trimakasi ya Dar" kata Bapak Bayu sambil membawa masuk barang barang, bekas menginap di Rumah Sakit.
"Sama sama Pak Slamet." Jawab Darman.
"Makasi Dar," kata Bayu sambil menyodorkan amplopan dari luar cendela penumpang.
"Wetsss, sorry Yu. Kali ini aku ngak mau terima." Jawab Darman dari kursi kemudi.
"Terima aja Dar." Kata Bayu memaksa.
"Ngak mau aku dibayar, emang aku supirmu." Jawab Darman tegas.
"Yawes tak pulang dulu Yu." imbuh Darman.
"Iya wes. Makasi Dar." Bayu berkata lagi.
Darman hanya memberikan tanda jempol dan kemudian berlalu dengan mobil pickupnya. sedangkan Bayu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Darman mana Yu.?" Tanya Ibu.
"Baru aja pulang Buk." Kata Bayu.
"Ealah, ngak ngopi ngopi dulu." Ibuk berkata sambil akan menyiapkan teh hangat untuk Raka.
"Istirahat di kamar Mas aja kamu." Bayu berkata pada Raka.
"Iya Mas." Jawab Raka singkat sambil menuju kamar Bayu.
Bayu sedang duduk di kursi dapur sedang menunggu kopi buatan Ibuk.
"Buk, Bapak ke sawah dulu. Udah 2 harian ngak di tengok." kata bapak sambil berlalu akan keluar rumah.
2 hari ini keluarga bayu menemani Raka di Rumah Sakit. Kadang Bapak pulang dengan Ibu. Itupun hanya untuk menyiapkan makanan dan membawa baju ganti Raka.
"Kopinya di minum dulu Pak.?" Kata Ibu sambil menaruh 2 gelas kopi dimeja. Satu untuk Bayu satu untk Bapak.
"Bayu, tolong antarkan teh ke adekmu." kata Ibu.
Tanpa berkata Bayu langsung mengantar segelas besar teh hangat ke kamarnya tempat Raka beristirahat.
Sesampainya di kamar. Betapa kagetnya Bayu ketika melihat Raka membaca buku puisi puisi untuk Laras.
"Ngapain kamu Dek.?" Tanya Bayu sambil menaruh teh hangat di meja belajarnya.
"Ngak ngapain." Jawab Raka sambil segera menutup buku itu.
"Mas nyuruh kamu istirahat bukan ngacak ngacak bukunya Mas.!" Bayu berkata dengan kesal.
"Siapa yang ngacak ngacak,? Orang itu tadi jatuh bukunya." Jawab Raka dengan nada tak bersalah.
"Yawes cepet tidur sana. Nanti kalau sakit lagi Mas juga yang repot." Kata Bayu dengan nada yang masih kesal.
Kemudian Bayu menaruh bukunya lagi ke meja belajarnya dan akan keluar kamar.
"Cie cie, Mbak Larasku." Raka mengejek Bayu sambil akan rebahan.
Bayu mengabaikan Raka dan segera keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya.
Basanya Bayu akan langsung menjitak kepala Adiknya jika Raka mengejek atau menjaili Bayu. Tapi sekarang, Bayu sedikit berbeda, dia seprti sudah bisa mengendalikan emosinya.
Bayu segera mengambil cangkir kopinya dan menuju ke luar rumah. Bayu duduk di kursi bambu yang sudah lapuk termakan usia. siang hari menjelang sore itu terlihat mendung yang lumayan tebal, mungkin hujan akan mampir sebentar lagi.
Bayu masih duduk dengan pikiran yang kosong sembari menatap jauh sawah yang ada di depan rumahnya, tidak bisa di pungkiri keadaan genting yang menimpa keluarganya ahir ahir ini membuat dia sejenak melupakan Laras.
tetes demi tetes air turun, tak berapa lama ia memanggil rombonganya. suasana sejuk khas bau hujan sejenak menenagkan pikiran Bayu. Dan dengan segelas kopi di sebelahnya terciptalah waktu yang paling sempurna untuk Bayu meletakkan semua bebannya dan menikmati suasana.
__ADS_1