
Tugas membuat pentol telah usai. Walau ada beberapa bentuk yang tidak sesuai karena dibuat dengan banyak tangan amatiran tapi buatan Bayu sangat lumayan dengan bentuk yang kebanyakan sama dan bulat.
Sepertinya tangan Bayu memang terlahir untuk menciptakan seni dalam bidang kuliner.
"Buanyak ya ternyata," kata Putri terheran.
"Ya nanti kalau ngak abis kan bisa kita cemil." Ujar Astri.
"Makan aja yang kamu pikir Tri, inget itu timbangan semakin menderita setiap nimbang kamu." Timpal Ita.
"Hakhakhakhak." Suara banyak tawa pecah.
"Biarin, yang penting kan Anangku tetep sayang aku." Ujar Astri dengan bersandar pada bahu Nanang.
Nanang hanya tersenyum malu.
"Ya ya ya, dunia milik berdua."ujar Bayu.
"Udah, yuk beres beres teman temanku yang budiman. Ini pentolnya biarakan dulu meluap sebentar di dalam panci, nanti kita tiriskan terus masuk kulkas deh." Ucap Putri.
Kemudian mereka beberes, tanpa perintah semua orang disana sigap membersihkan ruangan itu, kecuali panci berisi pentol yang masih dimatangkan.
...Kemudian....
Bayu duduk di teras, sedangkan Nanang sudah pulang.
"Kamu liburnya besok kan.?" Tanya Putri sambil menghampiri Bayu dari dalam rumah dengan membawa satu gelas teh hangat.
Bayu memandang Putri yang menaruh teh di meja samping Bayu.
Putri kemudian duduk di sisi lain meja.
"Iya, abis ini aku pulang terus jualan. Tadi pagi izin ngak bantu Pak De Arip pagi ini." Kata Bayu.
"Semoga besok sukses." Ujar Putri.
"Sukses ngak sukses yang penting kita sudah usaha. Seandainya ngak untungpun jangan sedih, rejeki sudah ada yang nakar." Jawab Bayu kemudian mengambil gelas tehnya dengan tangan kanan.
"Sruppppp" Bayu menikmati teh buatan Putri.
Putri menarik nafas panjang.
"Sebenernya aku ngak mikir mau untung atau ngak, hanya saja......" Putri tidak melanjutkan kata katanya.
"Hanya saja.......???" Tanya Bayu
"Kebersamaanku dengan Astri dan Ita mungkin tinggal beberapa bulan lagi, karena sebentar lagi kita akan lulus.." ucap Putri dengan raut wajah sedih.
Bayu meletakan gelas tehnya dengan tangan kiri kemudain mengenggam tangan Putri yang pasrah di atas meja yang sama.
"Semua yang berawal pasti akan berahir Put." Kata Bayu
"Termasuk kita.?" Celetuk Putri.
"Iya termasuk kita. Tapi aku lebih memilih kita terpisah karena menua, saat wajahmu yang keriput masih membuatku jatuh cinta di setiap harinya, dan rambut putihmu yang selalu ku belai di sisa ahir nafas. Dengan di kelilingi anak dan cucu kita, kita akan lukiskan senyum terahir untuk mereka kenang dan mewariskan kisah cinta kita pada generasi selanjutnya." Kata Bayu sembari menatap Putri mesra.
__ADS_1
Mata Putri berkaca kaca memandang Bayu.
"I Love You Bayu." Ucap Putri
"I Love You To Putri." Kata Bayu.
Putri memejamkan matanya dan memajukan wajahnya perlahan. Bayu pun demikian.
"Put....... itu pentolnya giman terus." Teriak Astri berjalan keluar dari dalam rumah menuju teras.
Sontak wajah mereka berdua pun saling menolak bagai kutub magnet yang berlawanan.
"Setan..... kenapa kejadian sepeti ini terulang lagi." Gerutu Bayu dalam hati.
Putri memandang Astri.
"Mukamu merah Put, kenapa.?" Tanya Astri.
Putri memegang pipi pipinya dengan kedua telapak tangannya.
"Ah, ngak kok. Eh iya pentolnya." Ucap Putri dengan beranjak dari duduknya dan buru buru masuk rumah.
"Putri kenapa Yu.?" Tanya Astri.
"Aaaaaaaukkkk." Ucap Bayu singkat.
"Kalian ini memang aneh." Kata Astri kemudian berjalan masuk rumah.
"Kamu itu emang polos Tri, tapi ngertiin dikit lah..... Deh... dasar Astri gemblung." Gerutu Bayu dalam Hati.
"Mungkin kalau jalan jalan bakal asik, naik gunung sambil kemah mungkin." Kata Bayi dalam hati sambil membuka HPnya.
"Gunung yang ngak terlalu tinggi tapi pemangangannya bagus." Ucap Bayu dalam hati sambil melihat lihat refrensi di google.
"Ranu kumbolo. Sepetinya keren."
Lama Bayu mencari cari refrensi di google.
"Ahirnya......" Ucap Putri sambil mengahmpiri Bayu.
Bayu memperlihatkan gambar pemandangan Ranu Kumbolo di layar hpnya pada Putri.
Putri kemudian duduk.
"Apa Itu, kok bagus pemandanganya." Ujar Putri sambil fokus melihat layar HP yang dipegang Bayu.
"Ranu Kumbolo. Gimana kita ke sana sama Astri, cowoknya Astri dan Ita.? Kan asik, sambil merayakan kelulusan kalian." Kata Bayu.
Sepertinya burung yang keluar dari sangkar itu tak puas hanya bertengger di gedung bertingkat, kini Bayu ingin menuju alam bebas tapi di daratan yang lebih tinggi.
"Hmmmmm. Ide yang bagus. Yaudah aku masuk dulu ngasi tau yang lainya." Ujar Putri beranjak lagi dari duduknya.
"Eh tunggu Put." Kata Bayu yang juga beranjak dari duduknya.
"Iya.?" Putri berbalik memandang Bayu.
__ADS_1
"Aku sekalian mau pulang, waktunya nyari nafkah." Ucap Bayu.
"Owh, iya ati ati cintaku." Kata Putri.
"Cup......" ciuman mendarat di kening Putri.
"Love you." Kata Bayu sambil menuju motornya.
"Love u to." Ucap Putri.
Bayu menaiki motor.
"Ngrengggg." Suara mesin motor.
"Dahhhh." Kata Bayu melambai kemudian menarik tuas gas motornya.
Gadis manis yang memakai rok panjang dan kaos itupun hanya melambai sambil tersenyum di teras.
...Di perjalanan....
"Semoga besok lancar. Tapi........ besok acara kampusnya Putri, apalah ada kemungkinan aku akan bertemu dengan Laras.? " Tanay Bayu dalam hati.
"Tidak tidak. Mengapa aku harus memikirkan Laras lagi. Aku sudah punya Putri, dia wanita yang lebih baik dari pada Laras, jauh lebih baik.!! " Ucap Bayu dalam hati sambil fokus di jalanan kota.
Ada harapan dalam benak Bayu untuk bertemu dengan Laras, tapi dengan cepat kesadaran Bayu mengelaknya. Lagian Dalamnya hati siapa tau.
Sore itu seperti biasa Bayu membantu Pak De Arip bersiap untuk berangkat dangang. Pak Arip berangkat dahulu sedangakn Adit dan Bayu berangkat belakangan dengan motor masing masing.
...Saat malam....
Lapak Pak Arip lumayan ramai hari ini, bahkan Bayu sampai tidak sempat untuk mengabari Putri, walau Bayu merasa HPnya bergetar tanda ada pesan masuk.
Fokus Bayu terbagi, antara kerja hari ini dan acara esok lagi. Bukan karena dagangan esok akan habis atau tidak, tapi dia memikirkan bagaimana esok bila bertemu dengan Laras.
Hingga saat stand Pak Arip tutup pun Bayu masih dengan kemelut pikiran yang sama.
"Woe Yu, dari tadi kok kelihatan nglamun." tanya Adit sambil merapikan tikar.
"Hehe, ngerti aja kamu Dit aku lagi ada pikiran." Kata Bayu sambil membereskan meja.
"sifatmu itu gampang ditebak, emang mikirin apa kamu.? jangan jangan, Putri hamil duluan ya.?!!!" Ujar Adit.
"Ngawor Adit mulutnya rusak." Kata Bayu.
"Hahahahah." Tawa Adit.
"Ngak Dit, ya besok kan aku ada Bazaar di kampusny Putri, kalau seandainya aku ketemu Laras~~" Kata Bayu.
"Laras lagi, inget Yu, kamu ada Putri. sudahlah, Putri itu jauuuuuhhh lebih baik dari pada Laras.!!!!" Ucap Adit.
"Iya iya Dit, gitu aja ngamuk." Ujar Bayu.
Bayu harus lebih belajar untuk menerima, menerima bahwa Laras hanyalah bagian dari masa lalunya, dan kini Bayu punya Putri bagian dari masa depannya.
__ADS_1