BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Keadaan Genting


__ADS_3

Setidaknya Bayu masih bersyukur bisa mengantar Laras untuk kembali ke Surabaya. Tidak seperti tahun lalu, yang bahkan Bayu pun tak mampu melambai pada Laras.


Perjalanan begitu membosankan, tanpa sadar Bayu sudah melewati gapura Desa Sehat Mulia.


Di jalan sunyi itu Bayu masih termenung, pikiranya masih rumit dengan tanda tanya, dan tanpa terasa kekhawatiran menghampirinya.


Sesampainya di rumah Darman. Ketika cahaya mentari mulai meredup.


"Assalamualaikum, Darman" bayu mengucapkan salam di depan rumah Darman.


"Waalaikumsalam, eh kamu Bayu, gimana gimana sudah nganter Larasnya.?" tanya Darman sambil berjalan menghampiri Bayu.


"Kalau aku sudah ada di depanmu gini artinya ya sudah aku nganter Larasnya" jawab Bayu sambil mengembalikan kuci motor Darman.


"Biasa aja juragan," jawab Darman sambil menerima kunci motor.


"Kenapa kamu murung Yu, bukannya seneng habis nganter Laras" imbuh Darman sambil memperhatikan Bayu.


"Gak papa Dar." jawab Bayu singkat sambil menghampiri sepeda kumbang kesayanganya di ruang tamu Darman.


"Yawes kalau kamu ngak mau cerita, tapi seandainya kamu pengen cerita, aku siap dengerin." jawab Darman sambil memperhatikan Bayu dan mengikuti pemuda yang terlihat murung itu ke depan rumah.


"Wetssss ada bungkusan." Darman menemukan bungkusan plastik di motornya.


"Oiya Dar, pentol bakar buat kamu" jawab Bayu sambil menaiki sepeda kumbangnya.


"Terima kasih juragan Bayu" jawab Darman sambil mengambil bungkusan itu.


"Sama sama Dar, aku yang terima kasih sama kamu." Ucap Bayu.


dan Imbuh Bayu sambil mulai mengowes sepedanya. "Duluan Dar Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam yu, ATI ATI." Ucap Darman sedikit kencang karena Bayu sudah berlalu.


Bayu menyusuri jalanan desa dengan pemandangan ladang jagung.


Sesampainya Bayu di rumah, ia langsung mandi kemudian mengobati lelah raga dan batinnya.


Tik tik tik tik.


Tetes hujan mulai mengetuk atap rumah Bayu, seakan sang hujan paham kesedihan pemuda desa itu. ini adalah hujan pertama di penghujung kemarau yang panjang.


Hari berganti, Bulan berlalu. Ladang jagung menjadi ladang padi, para warga desa sibuk kembali.


Walau musim terus berganti, gelisah Bayu tak kunjung terobati.


"Bayu nanti tolong mampir ke apotik beli obat penurun panas sekalian ya.?" suara Ibuk dari dapur sedang menyiapkan bubur.


"Iya buk. Assalamualaikum." Jawab Bayu sambil menuju pintu keluar.


"Waalaikumsalam. Ati ati le." Ibu menyahuti bayu.


Sudah 3 hari Raka sakit demam. Ibu berharap itu demam biasa, tapi seandainya besok tidak kunjung membaik Ibu berencana membawa Raka ke dokter.


Bayu segera pergi ke sawah, dan segera membantu Bapaknya mencabuti gulma rumput rumput liar.


Dukdukdukkkdukkkkduk


Suara traktor Darman.


"BAYUUUU" Darman berteriak pada sahabatnya itu.

__ADS_1


Bayu melambaikan tangan dan menghampiri Darman yang tengah berhenti.


"Apa Dar.?" Tanya Bayu sambil berjalan beberapa langkah lagi menuju Darman.


"Adekmu sakit apa,? Kata Riski dia ngak masuk sekolah 3 hari ini.?" Darman bertanya.


"Ngak tau Dar, udah 3 hari demam, susah makan, mual mual keliatan lemes." Jawab Bayu.


"Yawes bawa ke Rumah Sakit aja Yu, takut kenapa napa. Nanti tak anter pake pickupku." Darman menambahkan.


"Iya Dar rencana kalau besok belum sembuh juga mau dibawa ke dokter. Tapi ~~~." Bayu belum menyelesaikan kata katanya.


"Wes ngak usah tapi tapian, kalau ngak ada uang, pakai uangku aja dulu, jangan sungkan." Darman berkata pada Bayu.


Jelas Bayu menolak pertolongan Darman itu, sebenarnya memang biaya jadi kendala, karena uang Bapak sudah buat modal sawahnya, dan ada tabungan untuk hari hari sedangkan lainya masih disimpan di koperasi.


Sebenarnya Bayu masih punya tabungan, tabungan untuk pergi ke Surabaya menemui Laras. Tapi karena ini mendesak ahirnya Bayu memakai tabungan itu.


Setelah obrolan itu Darman pun pergi.


Bayu baru ingat membeli obat penurun panas untuk Raka, Kemudian bayu segera ke apotik desa sebelah.


Diperjalanan Bayu terus berfkir, apakah takdir tak memperbolehkan Bayu untuk menemui Laras, gadis pujaanya.


Setelah membeli obat bayu segera kembali ke sawah.


Kemudian.


Dirasa hari sudah mulai terik, Bayu dan Bapak memutuskan segera pulang.


"Beli apa itu Yu.?" Tanya Bapak setelah melihat plastikan di sepeda Bayu.


"Obat buat Raka pak." Jawab Bayu singkat.


Dirumah. Sesaat Bapak dan Bayu sampai.


"Pak Bapak.....!!! " Suara ibu panik.


"Apa Buk apa.?" Bapak jadi ikut panik.


"Raka tambah lemes pak, dari tadi ngak mau makan." Jawab Ibu.


"Bawa ke Rumah Sakit aja Buk. Bayu pinjam pickupnya Darman." Jawab Bayu sambil tergesa gesa menuju rumah Darman.


Bayu mengowes sepedanya sekuat tenaga agar segera sampai rumah Darman.


Sesampainya di ruamh Darman, Bayu melihat traktor yang dikendarai Darman tadi, pertanda bahwa sahabatnya itu ada di rumah.


"Mannnn, Darmann...!!! " Teriak bayu sambil menuju pintu rumah Darman dan menaruh sepedanya sembarangan.


"Apa Yu apa, kok panik...? " Darman yang mendengar suara Bayu tergesa gesa menemuinya.


"Raka Dar, kayaknya harus segera dibawa ke Dokter." Jawab Bayu.


"Yawes tunggu sebentar." Darman masuk rumah dan mengambil tas selempang dan kunci pickupnya.


Setelah Darman mengambi barang barangnya, mereka berdua berangkat ke rumah Bayu.


Ngeeennnggggn nngeengg


Suara mobil pickup Darman memecah kesunyian siang itu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Bayu.


Darman dan Bayu segera turun dan melihat Bapak sudah membopong Raka sedangkan Ibu mengikuti dari belakang.


Bayu segera masuk rumah sebentar untuk mengambil uang tabungannya.


"Ibuk depan sama Raka, Bapak naik motor saja." Kata Bapak sambil meletakkan Raka di kursi penumpang depan.


"Pak, Raka saya bawa ke Rumah Sakit umun sekalian." Ucap Darman.


"Iya Dar. Nanti aku nyusul." Bapak berkata pada Darman.


Bayu segera menaiki bak terbuka di belakang.


Ibu dan Raka di kursi penumpang.


Kemudain mereka pun berangkat.


Di perjalanan Ibu terlihat panik sambil mengusap usap kening anak ke duanya itu.


"Kamu kenapa to Leeee...?" Ibu berkata sambil menangis.


"Raka ngak papa buk, nanti di rumah sakit diobati pasti sembuh." Darman berusaha menenangkan Ibu bayu.


Darman sedikit mengebut. Karena Darman sebenarnya juga khawatir.


Bayu di belakang tidak bisa berkata banyak, sambil terus memperhatikan jalan juga ia terlihat berdoa.


Beruntung perjalanan lancar tidak ada kemacetan menghalangi laju mobil Darman.


Sesampainya di Rumah Sakit.


Darman memarkirkan mobilnya di depan pintu UGD.


Bayu melompat dan segera membopong Raka ke ruang pelayanan UGD.


"Dok Dok tolong adik saya Dok." Bayu sambil merebahkan Raka di kasur dorong.


"Kenapa adiknya Mas.?" Tanya Dokter sambil memeriksa Raka dengan stetoskop.


"Demam 3 harian dok, terus ngak nafsu makan dan lemes" jawab Bayu singkat.


"Suster, bawa pasien ke ruang pemeriksaan." Ucap Dokter pada suster di sebelahnya.


Segera Raka di bawa ke ruang pemeriksaan. Ibu mengikutinya sedangkan Bayu mengikuti Dokter ke mejanya sedangkan Darman pergi memarkirkan mobilnya ke tempat parkir.


"Kemungkinan adik anda terkena demam berdarah, tapi kami harus memeriksa lebih lanjut untuk mengetahui pastinya." Jawab Dokter.


"Dan mas tolong segera ke ruang registrasi." Imbuh Dokter sambil memberi secarik kertas.


"Iya, permisi Dok." Jawab Bayu singkat sambil beranjak dari duduknya dan akan menuju ruang registrasi.


Rumah Sakit yang memiliki banyak lorong itu sempat membuat Bayu bngung. Tapi beruntung Bayu menemukan ruangan yang dituju.


Kemudain, Bayu segera masuk ke ruangan registrasi.


tak berapa lama, setelah keluar dari ruangan Bayu bertemu Darman yang telah selesai memarkir mobil pick upnya.


"Gimana Raka.?" Tanya Darman singkat.


"Kata Dokter kena demam berdarah, dan masih diperiksa." Jawab Bayu sambil berjalan dengan Darman menuju ruang pemeriksaan.

__ADS_1



__ADS_2