BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Ujung Hari Yang Melelahkan


__ADS_3

...****************...


Aku larut


Semenjak pelangi hinggap di ujung gerimis,


Aku selalu menantimu,


Termenung di balik cendela dengan imajinasi yang mengajakku menari,


Didorong oleh sang angan menuju ke masa depan,


Masa dimana gengamanmu lebih hangat dari ujung musim semi.


Candu


Senyumu memang candu,


Hingga tak ada ruang dari jutaan sel otakku yang tak melukismu,


Mereka serentak menginfasi pikiranku,


Dan membawa sejuta pesan cinta menuju sang ulu hati.


Akankah


Setiap langkahku beriringan dengan jejak untaian gaun indah,


Sampai waktu masih bertahan,


Dengan jarum jam yang masih terus mengoceh pelan ,


Aku akan menunjukan,


Bahwa aku bisa menjadi daun di ujung pohon rimba,


Meski tak seberapa tapi masih leluasa menikmati belaian sinarmu,


Belaian kasih darimu sang rembulan.


...****************...


Sesampainya Bayu dan Putri di kontrakan.


Terlihat mobil pickup Nanang sudah terparkir, laki laki itu terlihat duduk di kursi depan.


Bayu segera turun dari kendaraan roda dua itu setelah Putri turun duluan.


"Mana yang lain Nang.?" Tanya Bayu menghampiri teman pengendali api nya itu.


"Masuk dari tadi, mungkin ketiduran." Ucap Nanag sedikit bercanda dengan raut muka lelah.

__ADS_1


Bayu menyandarkan Bokongnya di kursi sebelah Nanang.


"Bay, makan di sini atau bawa pulang bebekmu ini." Tanya Putri yang akan memasuki pintu.


Bayu sejenak berfikir, rasanya Dia ingin bersama sama putri sebentar saja sebelum Pemuda Gondrong itu pulang. Tapi terlihat Bintang ramai ketus menatapnya, sekaan mengingatkan malam yang semakin larut mengharuskan dia segera pulang.


"Bawa Pulang aja Put, udah malem juga." Ucap Bayu.


"Oke." Kata Putri yang melanjutkan langkahnya.


"Put." Panggil Nanang.


"Iya Nang," Putri kembali berhenti sembari menengok ke arah kekasih Astri itu.


"Tolong panggilin Astri sebentar." Ucap Nanang pada Putri.


"Owhh, oke oke. Tunggu ya." Jawab Putri kemudian benar benar melanjutakan langkahnya masuk kontrakan.


Hanya ada dua pemuda dengan muka masam di depan kontrakan Putri kini.


"Capek nang.?" Tanya Bayu basa basi.


"Ngak juma capek Yu, tapi hancur lebur." Kata Nanang dengan bersandar dan sejenak memejamkan matanya.


"Ah masak, kamu biasa nyopir muterin kota Surabaya dan segala kemacetanya bisa hancur lebur juma karena bakar pentol." Kata Bayu dengan memijat kaki kakinya pelan.


"Nah justru itu, aku ngak merasa capek kalau di dalam mobil terus kesana kemari anter es kristal siang panas terik macet, apa mungkin aku sudah terbiasa dengan profesiku." Kata Nanang


"Kalau aku ampun andai profesiku sama seperti kamu." Kata Nanang dengan memandangi langit yang penuh bintang.


"Namanya setiap orang Nang, punya energinya masing masing." Kata Bayu sedikit nyeleneh karena lelah yang melanda.


Sejenak suasana hening menghinggapi obrolan kedua pemuda itu, hingga Putri datang.


"Nang, maaf banget maaf. Astrinya ketiduran di kamar." Kata Putri yang merasa tidak enak hati.


"Owalah, kudanil ini bisa bisanya." Ucap Nanang dengan bangkit dari duduknya.


"Oyawes Put, aku juga mau pulang dulu." Kata Bayu ikut bangkit dari duduknya.


Nanang langsung menuju ke pintu kemudi mobil pickupnya dengan raut wajah sedikit kesal.


"Nanang marah ya kayaknya." Ucap Putri yang berjalan menghampiri Bayu.


"Ngak kok, dia juma capek aja paling." Kata Bayu berusaha menenangkan kekhawatiran Putri.


"Emmm, iyawes. Ini bebekmu sama Nanang, jangan lupa dimakan sampai rumah." Kata Putri sambil memberikan dua keresekan pada Bayu.


"Iya, makasi sayangku." Kata Bayu menerima dua bungkusan keresek itu.


"Cup." Satu kecupan mendarat di pipi Bayu.

__ADS_1


"Aku sayang kamu. " Ucap Putri lirih.


Dengan senyum Bayu menjawab. "Aku mencitaimu."


Kemudian pemuda gondrong itu segera memakai sepatunya dan masuk ke pintu penumpang mobil pickup Nanang.


"Brummm." Suara mesin mobil pickup Nanang meraung raung memecah keheningan malam.


Ahirnya kedua pemuda itu berangkat meninggalkan kontrakan Putri dengan menyisakan rindu untuk masing masing pasangan mereka.


Dijalan yang sangat lengang hanya bunyi raungan mesin mobil pickup Nanang.


Tibalah Bayu di tempat teman PKLnya untuk mengembalikan etalase alumunium. tak berapa lama mereka di sana, karena dua pemuda itu melanjutakan perjalanannya lagi untuk pulang.


Perjalanan sangat sepi dan sunyi, ntah karena hawa malam ini di Surabaya atau mood Nanang yang hancur oleh siap Astri yang meninggalkannya pergi tidur tanpa pamitan.


"Udah Nang, janga dipikirin. Mungin Astri bener bener lelah." Ucap Bayu berusaha menenagkan emosi temannya itu.


"Ngak kok Yu. Ya jengel pasti ada tapi..... sudahlah. Aku mikirnya juga gitu mungkin dia lelah." Kata Nanang dengan kosentrasinya menuju jalanan.


Tak berapa lama mereka sampai di depan gang tempat Nanang menjemput Bayu tadi siang. Bayu lekas turu dari mobil pickup Nanang.


"Makasih Nang. Ati ati di jalan." Ucap Bayu sembari memberikan salam tos pada Nanang.


"Okesip." Jawab Nanang singkat dan menyambut salam tos dari Bayu.


Kemudian kekasih Astri itu pergi meningalkan Lokasi dengan mobil pickupnya.


Bayu melangakah menyusri gang dengan membawa satu keresekan bebek goreng dari Putri tadi.


"Malam yang bikin lelah jiwa dan raga." Ucap Bayu dalam hati dengan hawa dingin menyelimutinya.


Sampai Bayu di rumah Pak De Arip, rumah yang beberapa bulan ini dijadikan tempat bernaung sementara Bayu selama di kota Surabaya.


"Assalamualaikum." Salam Bayu ketika memasuki rumah dari pintu samping.


Tak ada sahutan. Mungkin Pak Arip sekluarga sudah tidur semua,


Bayu segera meletakkan kresekan bebek yang dia bawa di meja, sedangan Pemuda Gondrong itu segera mandi, membasuh dirinya dengan air suci, karena yang menghampiri bukan hanya lelah tapi juga rasa yang tak boleh tercurah hingga terjadilah kedua insan saling mendesah dan harus segera diguyur dinginya air malam agar tidak semakin gerah.


Selesai mandi Bayu segera menyantap bebek goreng purnama pemberian Kekasih Hatinya itu, Selesai mengisi perutnya, pemuda gondrong dengan rambut masih basah itu rebahan di kasur. Tatapanya kosong menuju arah langit langit.


"Hari yang gila." Ucap Bayu dalam hati.


memang. hari ini benar benar gila bagi Bayu, dimulai dengan terpesonanya Bayu oleh kecantikan Putri, pertemuanya dengan Laras, pembalasan dendamnya dengan Laras yang dia kira akan setimpal, hingga terkuaknya rahasia tentang Boy dan Laras yang membuat dia justru merasa bersalah. Dan tentunya kenikmatan yang Putri dan Bayu lakukan.


"Laras, kepingan masalalu dengan sebagian kecil kenagannya tertancap di hatiku. Aku sangat ingin melupakanmu tapi tidak seperti ini caranya. Bukan karena aku tak bahagia dengan Putri, justru karena aku sangat bahagia dengan Putri tapi aku tau jauh di lubuk hatimu, kamu sebenarnya tak bahagia. Itulah yang membuatku memendam rasa berasalah yang teramat sangat." Gumam Bayu dalam hati.


Sepertinya cinta pertama memang susah untuk dimusnahkan. Bahkan kenagannya masih terus terngiang ngiag di pikiran Bayu hingga menyusup ke dalam hati.


__ADS_1


__ADS_2