
Bayu mengayuh sepedanya menuju rumah, tapi dalam pikirannya masih menyimpan sejuta tanya, tentang perasaan Laras dan tangisannya juga.
Hari itu sangat terik, matahari seperti engan meredupkan sinarnya, Bayu ingin segera sampai rumah dan menenangkan pikiranya.
Sesampainya di rumah. Bayu memakirkan sepedanya di teras.
"Assalamualaikum." Bayu mengucap salam sambil memasuki rumah.
"Waalaikumsalam" suara Ibu terdengar dari depan TV.
"Makan dulu Bayu.?" Imbuh Ibu sambil melihat anak pertamanya akan memasuki kamar.
"Nanti aja Buk. Bayu capek" jawab Bayu sambil memasuki kamar.
Di dalam kamar. Bayu melepas bajunya yang masih tercium bau parfum Laras.
Setelah mengantung bajunya dan membuka jendela, Bayu segera berbaring di kasurnya.
"Ada apa dengan kamu laras,?" dalam hati Bayu.
Bayu memejamkan matanya, tanpa terasa lelap menghampirinya.
Setelah beberapa lama.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Bayu di ketuk.
"Bayu bangun Le, udah sore." terdengar suara ibu memanggil Bayu dari balik pintu.
pemuda yang masih setengah sadar itu membuka matanya. Hal yang pertama dia ingat adalah tangisan Laras sambil memeluknya.
Tak berapa lama Bayu bangun dan membuka pintu kamarnya.
Betapa kagetnya bayu melihat di ruang tengah sudah ada Darman yang sedang makan.
"Makan Yu, sambel pete mantap." Darman menawarkan makanan sambil melanjutkan makannya.
Sudah hal biasa Darman berkunjung ke rumah Bayu dan makan di sana, karena persahabatan sedari kecil yang membuat mereka seperti saudara tapi tak sedarah.
Sejatinya Bayu juga sering berkunjung ke rumah Darman, tapi dewasa ini Bayu jadi sungkan karena Darman mempunyai adik gadis di rumahnya sekarang.
"Bener bener kayak setan kamu Dar, tiba tiba muncul langsung makan" Bayu menghampiri Darman dan berjongkok berusaha mengambil tahu di piring darman.
"Enak aja.!!" Darman menyentil tangan bayu.
"Ambil sendiri ke belakang sana." imbuh Darman.
"Pelit kamu Dar." Jawab Bayu sambil menuju ke belakang rumah.
__ADS_1
Bayu membasuh muka kemudian ke dapur untuk mengambil makanannya, kebetulan ibu sedang memasak sambel petai makanan kesukaan Bayu dan Darman juga.
Kemudain Bayu menuju ke ruang tengah tempat Darman juga sedang makan.
"Gimana Yu.?" Darman bertanya singkat sambil melahap petainya.
"Gimana apanya.?" Bayu bertanya balik sambil akan duduk.
"Kamu pasti udah ke rumah Laras kan.?" Darman bertanya menatap Bayu dan menaikan kedua alisnya dua kali.
"Apa kamu abis gini. Um um um um." kata Darman sambil mempraktekan dengan tangan yang seakan akan sedang berciuman.
"Boro boro Dar" jawab Bayu singkat.
Darman terlihat tidak mempercayai perkataan Bayu "ah masak....?"
Mereka berdua masih menikmati makanan masing masing sambil mengobrol.
"dibilangin kok. malah dia bilang maaf maaf lah, andai kita tak berjodoh lah. kemudian Laras sempet nangis, bingung aku Dar jadinya. Menurutmu Laras kenapa ya.?" Bayu bertanya dengan polosnya.
Dari cerita Bayu, Darman seperti tau Laras sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi Darman sepertinya engan mengutarakan pendapat sebenarnya.
"Ya mungkin kangen kamu Bayu.terlalu lama jauh dari kamu" jawab Darman agar sahabatnya itu tidak terlalu khawatir.
Darman sebenarnya pemuda yang cerdas, tanggung jawab yang besar membuat dia menjadi pemuda yang selalu ingin belajar dan gampang bergaul dengan orang lain. Karena itu darman bisa sedikit membaca perasaan orang lain.
Dan Bayu pemuda polos yang apa adanya, bukanya tidak mau bergaul, hanya saja Bayu seakan menikmati hidup di zona nyamannya. Tapi dia orang yang tak pernah berfikir dua kali untuk membantu orang lain.
Saat Bayu, Darman, Pras, Yuda, Joko dan Agus kelas 6 SD. Mereka bermain di sungai besar sebelah desa.
Byurr..... byurrr..... byurrr......
Mereka satu persatu melompat dari tebing sungai..
"Dalem ngak..?" tanya Darman yang belum melompat.
"Ngak dalem kok yang pinggir pinggir sini" jawab Pras.
"Mandi di tempat biasanya aja yuk... Kayaknya dalam air di sini..." Darman berkata lagi karena tidak berani melompat.
"Tempat biasanya kan ngak bisa loncat tinggi, ngak seru Dar..." imbuh Joko.
"Yasudah ke tempat lainya aja, kasian darman." jawab Bayu.
"Iyawes ketempat lain tapi kamu loncat dulu ya dar, cobain aja sekali siapa tau ketagihan serunya" Yuda menambahkan.
"Oke kalian minggir sebentar aku mau loncat, tapi bener kan ngak dalam.?" Darman bertanya sekali lagi.
"Ngak ini kaki kita bisa nyentuh dasarnya kok" jawab Agus.
__ADS_1
Sungai yang mereka pakai untuk bermain memiliki lebar sekitar 7 meter, di samping kiri kanan banyak tebing dan dikelilingi hutan bambu. dari penampakannya memang tidak terlalu dalam tapi mereka tidak tau bahwa sungai itu mempunyai arus bawah yang kuat karena tidak jauh dari sana ada tebing dasar sungai.
"Awassssssss..." Darman berteriak dan melompat.
Byurrrrrrrr..
Darman ahirnya melompat.
"Ngak dalam kan.?" Tanya Joko.
"Iya ternyata ngak dalam" jawab Darman.
Tapi naas. Darman melompat terlalu ketengah, hingga dia perlahan terseret arus bawah.
"Ehh kakiku ngak napak ini. Bayuuu... Prasss..." Darman panik karena mulai terbawa arus.
"Darman Darman !! " kata Agus sambil menunjuk nunjuk darman.
"Bayuuu~" Darman panik hingga timbul tenggelam di air.
Bayu segera menghampiri darman. Dari mereka Bayu memang yang paling jago berenang.
Bayu menyelam karena darman sudah mulai tenggelam, hingga Bayu bisa meraih tanggan Darman dan menariknya ke atas, tapi Darman yang terlalu panik malah hampir membuat mereka tenggelam.
Kedua bocah itu berusaha untuk menuju ke tepian sungai,
" tenang Dar tenang~~~~" Bayu mulai timbul tenggelam lagi karena darman berpegangan pada kepala bayu dan mulai menarik nariknya.
Dengan sisa tenaga Bayu, Bayu berusaha menarik Darman ketepian. Beruntung kaki bayu mulai bisa menapak dasar sungai, darman juga sudah bisa menapakkan kakinya di dasar sungai.
Bayu dan Darman berusaha berjalan ke pinggiran sungai. Dengan nafas terengah engah mereka kemudian merangkak dan sampai di pinggir sungai.
"Haaahh hahhh.... makasi haaa.... ya Yu"Darman terlentang di samping Bayu.
Bayu yang duduk di samping Darman sambil terengah engah juga hanya bisa memberi tanda jempol. Kemudain Bayu juga terlentang di samping darman.
Tak lama setelah itu ada warga warga desa yang di panggil teman teman yang lain datang menolong mereka.
Setelah kejadian itu Darman sangat respect kepada Bayu karena sudah menyelamatkan nyawanya.
Masa kini.
"Oiya Yu. Seandainya kamu besok mau ngajak Laras jalan jalan, pakai motorku aja. Tak isiin bensin full nanti buat kamu jalan jalan keliling kota sama Laras." Darman berkata agar Bayu merasa senang.
"Bener ya Dar, awas bohong.?" Bayu menjawab dengan nada mengancam.
"Bener juragan, suwer" kata Darman sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah Bayu.
Bayu mulai membayangkan betapa menyengangkannya jalan jalan dengan Laras, tapi sejenak bayangan itu lenyap, karena Bayu teringat ekspetasinya kemarin yang jauh dari kenyataan saat bertemu dengan Laras.
__ADS_1