
Percakapan yang hangat antara kedua sahabat, banyak hal yang diungkapkan banyak hal yang diceritakan, termasuk mengenang masa masa kecil mereka yang tak pernah bimbang oleh beban kehidupan.
Matahari mulai merendah, seakan ia akan tunduk olah sang malam.
"Mau sore Dar. Balik yok.?" Bayu berkata pada Darman.
"Okelah," Darman menjawab singkat sambil berdiri dan mencari kunci motor di kantongnya.
Brummm mmmmmmm
Bunyi suara motor Darman meraung raung.
kedua sahabat itupun naik sepeda motor, seperti biasa Darman mengonceng Bayu, kemudian merekapun menuju arah pulang,
Banyak hal terungkap dan banyak hal tersampaikan, hal yang selama ini menyiksa dalam batin membuat sesak di dada.
Bahkan Bayu pun tiada mengira, bahwa Darman mempunyai permasalahan yang begitu dalam, baik tentang cinta ataupun tentang beban yang sedang ditopangnya.
Kira kira butuh 45 menit dari alun alun kota menuju desa mereka.
Roda terus berputar mesin terus meraung, tanpa terasa mereka sudah memasuki desa.
Pemandangan beralih dari keramaian kota dan bangunan bangunan pertokoan yang padat menjadi ladang persawahan dan pegunungan yang menjulang dari kejauhan.
Di suatu jalan dengan pemandanga kanan kiri ladang persawahaan.
Tiba tiba Darman melaju dengan kencangnya.
"Pelan Dar. Kamu bawa anak orang bukan bawa karung beras, emang mau kemana kamu buru buru.?" Bayu bercanda dalam tanya
Darman tidak memjawab, dia hanya terdiam.
Kini darman kembali melaju pelan. Sepertinya karena ada motor di depannya.
Kini kedua motor itupun bejalan beriringan.
Bayu penasaran melihat kendaraan motor di sebelahnya, karena dari tadi darman seperti memang tidak ingin menyalipnya.
"Dari mana kalian sore sore gini?" Suara perempuan dari boncengan motor sebelah mereka.
"Biasa cari cewek." Jawab Darman singkat.
Bayu menatap keheranan, ia seperti kenal akan sosok wanita itu.
Butuh beberapa detik untuk bayu sadar.
"LARAS" ucap Bayu.
Ternyata itu Laras, sedang mengendarai ojek menuju rumahnya.
"Ooo cari cewek." Jawab Laras.
"Eh ngak ngak, mana ada cari cewek." Bayu berkata.
"Kamu Laras kan.?" Bayu kembali bertanya seakan tidak yakin.
Memamg penampilan laras sedikit berdeda.
Kali ini laras memotong rambutnya sebahu. Degan makeup tipis, jaket hoodie celana jeans panjang dan sepatu sneakers putih. Penampilan Laras bukan seperti gadis desa lagi yang Bayu kenal.
"Ya iyalah Bayu bin slamet" Laras menjawab.
__ADS_1
Tak terasa mata bayu berkaca kaca. Penantian selama ini terbayar lunas. Walau penampilanya berubah itu tetap laras, laras yang dulu.
"Rumah depan pak yang ada pohon mangganya." laras berkata pada tukang ojek.
Ahirnya motor tukang ojek yang dikendarai laras berhenti. Tapi Bayu dan Darman tetap berlalu. Bayu terus memandangi Laras kemudian kembang desa itu melambaikan tangannya ke arah Bayu.
"Laras dar,, Laras" Bayu berkata pada Darman kegirangan.
"Iya yu iya. Wes puas kamu sekarang, lega.?" Darman berkata pada Bayu sabil memikirkan suatu hal.
"Laras kok beda ya sekarang Yu ?,semenjak kuliah Di Surabaya penampilanya lebih ke kota kotaan" Darman tiba tiba nyeletuk.
"Iya Dar, tapi dia masih Laras yang dulu kok." sahut Bayu.
"Ya bukannya aku mau punya pikiran buruk. Mungkin di sana dia gaul sama anak anak kota, jadi penampilanya ikut berubah." Darman berkata
"Ya gak papa dlDar kalau penampilanya ikut ke kota kotaan, yang penting Laras masih inget kita" Bayu sumringah.
"Ya kita tau Laras bukan orang yang sombong, walau dia anak Pak Kades tapi dia ngak pilih pilih temen. Mungkin memang perasaanku saja Laras memang beriubah" Darman mengutarakan pendapatnya.
"Gak mungkin Dar, gak mungkin...." Bayu berkata sedikit kesal.
"Iya Yu iya maaf. Jangan nyolot ntar tak turunin kamu tengah sawah," Darman berkata sambil sedikit bercanda.
Tiba tiba Bayu sangat menikmati suasana sore itu. Dirasakannya cahaya matahari hangat mendamaikan. Semilir angin menyejukan.
Kedua sahabat itu tiba di depan rumah Bayu. Bayu turun dari motor dan melepas helemya.
"Eh Yu....." Darman ingin mengatakan sesuatu.
"Apa Dar.?" Bayu bertanya keheranan karena Darman tidak menyelesaikan ucapannya.
"Gak jadi wes." Darman ingin memberi nasehat ke bayu, tapi karena suasana hati Bayu sedang berbunga bunga, Darman mengurungkan niatnya.
"Oke sama sama boss. Aku balik dulu" Darman berkata sambil menghidupkan motornya.
Kemudian Darman menuju pulang sedangkan Bayu masuk ke rumah.
"Assalamualaikum." Bayu salam memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, udah pulang Le. Darman mana.?" Ibu berkata
"Sudah pergi Buk, barusan langsung pulang" Bayu menjawab.
Kemudian Bayu mengambil anduk dan segera mandi.
Di kamar mandi terdengar Bayu bernyanyi dan bersiul. Sepertinya Bayu sangat bahagia akan kedatangan laras.
"Ke rumah laras nanti apa besok ya.?" Bayu berkata dalam hati.
Sepertinya pemuda yang kasmaran itu sangat bahagia sampai sampai dia mandi sangat lama dan sangat bersih.
Bayu kemudian keluar dari kamar mandi dan menuju dapur. Disana ada Ibu yang sedang menanak nasi.
"Masak apa buk.?" Bayu bertanya.
"Masak nasi aja Le, kan sayur dan lauk tadi pagi masih." Ibu menjawab.
"Kok kamu kaya lagi bahagia gitu..?" Imbuh Ibu.
"Ah biasa aja Buk. Bayu setiap hari kan gini." Bayu mejawab.
__ADS_1
Kemudian Bayu meuju kamar. Dia rebahan sejenak di sana. Membayangkan pertemuannya dengan Laras nanti.
Tak berapa lama, kemudain Bayu beranjak dan duduk di meja belajarnya.
*pulang
kamau mungkin tak pernah tau
bagaimana rasanya melewati purnama tanpamu
termenung di balik cendela
berkata pada rembulan seperti orang tak berakal
tapi itulah perwujudan rindu
dimana kamu terlalu jauh ku gapai
tapi begitu nyata di imajainasiku
tak sekalipun ku lalui malam tanpa mendoakanu
dan menyambut pagi tanpa menyebutkan namamu
tapi satu hal yang aku yakini
kamu akan datang kembali padaku
pulang kembali ke pelukanku*
seperti biasa. Bayu menuangkannya dengan pena dan kertas.
Bayu termenung, membayangkan senyum Laras sore tadi. senyum yang tak pernah Bayu lihat walau musim silih berganti.
tok tok tok
suara ketukan pintu
"Mas ayo makan Mas. nasinya sudah matang" suara Raka di balik pintu.
"iya Dek" Bayu berkata sambil menuju keluar kamar.
"kenapa Mas senyum senyum gak jelas" Raka heran dengan tingkah kakaknya itu.
"mau tau aja," jawab Bayu singkat.
kemudian mereka kedapur bersama untuk makan.
hari menjelang petang itu serasa begitu istimewa bagi Bayu, yang ada dalam pikiranya hanya Laras dan bagaimana cara dia bertemu Laras besok.
Bayu harus memikirkan alasan yang bagus pada Pak Kades. agar Bayu dapat bercakap cakap dengan Laras.
"dimakan Le jangan melamun." Ibu menegur Bayu yang tak segera menghabiskan makanannya.
"Mas Bayu tadi senyum senyum sendiri keluar kamar Buk, kaya orang ngak waras" Raka menambahkan.
"hus Raka ngak boleh ngomong gitu" kali ini Ibuk menegur Raka.
"kapokkkk.." ejek Bayu pada Raka.
"udah... cepet makannya keburu magrib" Ibu berbicara tegas pada kedua anakknya.
__ADS_1
suasana hangat yang lama tak terasa semenjak Bayu ditinggal Laras.