BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Berganti Hari


__ADS_3

Tak berapa lama mereka sampai di pedagang wedang ronde.


"Pak To, ronde dua." Kata Adit pada Pedagang ronde.


"Tumben Dit ngajak temen.?" Kata Pak To dagang ronde.


"Iya Pak To, temen kerja, baru beberapa hari di Surabaya." Kata Adit.


"Owalah. Dari mana Mas.......?" Tanya Pak To sambil meracik wedang ronde.


"Bayu Pak , saya dari Nganjuk." Kata Bayu sambil mengambil tahu goreng di depannya.


"Woooo dari Nganjuk, saya Dari Ngawi. Ya jauhan dikit lah." Kata Pak To sambil menyajikan ronde pesanan Adit dan Bayu.


Di warung itu juga menjual nasi banting, seperti nasi kucing dari Jogja ataupun nasi jinggo di Bali. Bedanya nasi banting hanya berisi nasi, sambal goreng. Mie dan sambal terasi pedas.


"Oiya Dit, kampungmu dimana.?" Kata Bayu.


"Hahahahahaha. Aku ngak punya kampung Yu, adanya Kota. Orang aku asli sini orang tuaku kelahiran sini." Kata Adit sedikit terpingkal mendengar pertanyaan Bayu.


"Oooooo, bisa ya kayak gtu ya.?" Kata Bayu heran.


"Ya Bisa lah Yu. Ya walau disini kelihatanya mahasiswa atau orang kerja kebanyakan dari luar kota, tapi penduduk asli kotanya juga Banyak. Mungkin nanti pas lebaran baru kelihatan yang punya kampung bakal pulang kampung yang ngak punya kampung kayak aku ya tetap di sini." Kata Adit panjang lebar.


Bayu dan Adit mengobrol sambil menikmati nasi banting.


Semilir angin Kota dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang menemani kereka saat itu. Bahkan Perkotaan menolak istirahat saat malam sudah setengah jalan. beda dengan Desa tempat Bayu dilahirkan yang sudah sunyi senyap setelah gelap jatuh.


Tak berapa lama setelah menikmati hidangan dan mengobrol mereka kemudian beranjak untuk pulang.


"Makasi Pak To. Mari." Kata Adit.


"Monggo Pak." Kata Bayu.


"Iya Dit, Yu. Ati ati." Kata Pedagang ronde yang sudah paruh baya itu.


Kemudian dua pemuda itu kembali menaiki motor dan menuju pulang.


Di sebuah lampu merah.


Adit berhenti di samping motor 500cc berwarna merah berbentuk seperti motor yang dipakai Rossi saat balapan.


Suara knalpot motor itu sangat bising, tapi Adit dan Bayu terlihat cuek.


Motor itu dinaiki oleh seorang Laki Laki dan Perempuan. Tanpa Bayu sadari Perempuan di goncengan motor itu memperhatikan Bayu sedari tadi.


Bayu tidak sengaja melihatnya. Tapi hanya sepasang mata yang terlihat karena Perempuan itu memakai helm full face dengan kaca yang terbuka.


Mereka saling memadang. Tapi Bayu segera mengalihkan pendangannya.

__ADS_1


Kemudian lampu menjadi hijau.


Moge itu segera tancap gas meninggalkan Adit dan Bayu.


"Coba aku punya motor kayak gitu." Celetuk Adit sambil menarik tuas gas.


Tapi Bayu hanya diam tidak menanggapi kata kata Adit barusan.


"Woee Yu. Kamu kalau dijalan kebanyakan ngelamun ya.?" Kata Adit.


"Apa Dit. Maaf gak denger gara gara bunyi knalpot motor sebelah tadi." Alasan yang dibuat buat Bayu


"Ooooo." Jawab Adit singkat.


Bayu kembali memikirkan satu hal. Sepetinya Bayu mengenali sepasang mata itu. Tapi Bayu juga tidak yakin.


"Mungkin perasaanku aja." Kata Bayu dalam hati.


Tak berapa lama. Adit dan Bayu sampai di rumah Pak Arip.


"Makasi Dit." Kata Bayu sambil turun dari motor.


"Iya Yu, sama sama. Aku duluan ya." Adit berkata sambil akan menarik tuas gas motornya.


"Sipp, ati ati." Ucap Bayu.


Kemudian Adit segera berlalu dengan sepeda motornya. Sedangakn Bayu masuk rumah dari pintu samping.


Bayu segera ke kamar mengambil handuknya dan mandi.


Selesai mandi dan ganti baju, Bayu berbaring di tempat tidurnya.


Ada suatu hal yang mengusik pikiran pemuda itu. Tentang sepasang mata perempuan yang memandangnya di lampu merah tadi .


"Apa itu tadi Laras,? tapi rasanya tidak mungkin." Kata Bayu dalam hati sambil terjaga dan melihat langit langit kamar.


"Ngak mungkin, Laras ngak mungkin berkeliaran malam malam begini. Itu imjinasiku saja." Kali ini Bayu berkata dalam hati sambil memejamkan matanya.


Walau mulut Bayu berkata benci pada Laras, jauh dilubuk hatinya Bayu sangat rindu wanita yang menjadi pujaannya dulu.


Detik demi detikpun berlalu. Dengan ribuan bintang yang mengawasi sunyinya malam, Bayu pun terlelap.


Berganti hari.


Pagi, saat fajar masih belum mau mengintip dunia.


Bayu terbangun, dan dilihatnya jam dinding.


"Sudah jam 4 pagi." Kata Bayu.

__ADS_1


Bayu mengumpulakn nyawa sabil duduk.


Tak berapa lama, pemuda yang masih mengantuk itu keluar kamar dan mencuci mukanya di kamar mandi.


Saat Bayu keluar kamar mandi.


"Udah bangun Bayu.?" Tanya Bu De ketika menuju dapur untuk memgecek barang belanjaan.


"Udah Bu De. Kan mau nganter Bu De ke pasar.?" Kata Bayu.


"Oooo iya sudah. Lagin barang yang mau dibeli ngak banyak juga kok." Kata Bu De.


Kemudian Bayu mengambil jaket dan mengeluarkan motor matic Pak De Arip.


Bayu sudah mulai terbiasa dengan kegiatan di rumah Pak De Arip. Sesering mungkin Bayu ingin lebih membantu di rumah itu dan sebisa mungkin Bayu tak ingin merepotkan keluarga Pak De Arip.


dengan cahaya matahari yang belum membelah pagi Bayu pun beragkat ke Pasar dengan Bu De Nur.


walau baru sekali, Bayu masih hafal jalan menuju ke Pasar.


sesampainya di Pasar Bayu mengikuti Bu De. sambil membawakan Barang belanjaan.


karena barang belanjaan yang dibeli tidak terlalu banyak. Bayu dan Bu De hanya sebentar di pasar.


bahkan saat pulang, cahaya matahari masih engan menunjukan pesonanya.


saat meuju pulang, Bu De Nurr seperti biasa mampir di warung nasi Mbak Sum. Tetapi saat itu warung Mbak Sum baru saja akan buka.


"lhoo. tumben pagi sekali Bu Nur." kata Mbak Sum penjual nasi.


"iya Sum. kebetulan belanjaanya ngak banyak jadi bisa cepet pulanganya. ini gimana ini belum buka apa mau tutup.?" tanya Bu Nur sedikit bercanda.


"amin. iya Bu Nur ini sudah mau tutup, orang saya nemu koper isi uang tadi barusan. jadi ngak perlu jualan." timpal Mbak Sum untuk candaan Bu Nur.


"hahahaha. bisa aja sampean ini." kata Bu Nur.


"Bu Nur yang bisa aja. gimana gimana, pesen kayal biasa.?" Tanya Mbak Sum.


"iya kayak biasa, tapi bungkusin dulu aja, aku mau pulang dulu nanti biar Bayu yang ambil. ya Yu, gak papa kan.?" kaat Bu De sambil melihat ke arah Bayu.


"iya Bu De, nanti biar Bayu yang ambil." kata Bayu.


"yawes nanti langsung tak bungkusin, 15 menitan lagi ambil kesini ya nak Bayu." kata Mbak Sum.


Bayu hanya mengangguk sambil sedikit senyum ke arah Pedagang Nasi itu.


kemudian Bu De dan Bayu melanjutkan perjalananya menuju pulang. sesampainya dirumah tenyata keadaan masih sepi.


sepertinya Pak De Arip belum bangun.

__ADS_1


setelah berhenti di saping rumah, Bayu membantu Bu De memasukan barang belanjaan ditemani cahaya redup matahari yang mulai menyinari angkasa.



__ADS_2