BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Berangkat


__ADS_3

Tak lama kemudian Bayu sampai rumah.


Disandarkan sepeda kumbang kesayangannya di sebuah pohon dan dia kemudian masuk rumah dengan membawa bungkusan nasi.


"Assalamualaikum." Ucap Bayu salam.


Bayu masuk kamar Ibunya. Tapi Ibunya sedang tidak di kamar.


Kemudian pemuda gondrong itu pergi ke dapur. Ternyata Ibu di sana dengan Raka.


"Tak kira masih di kamar Buk." Ucap Bayu sambil meletakan bungkusan nasi di atas meja.


"Ibu sudah sehat kok Le, ngapain harus di kamar terus." Jawab Ibu.


"Raka tolong ambilkan piring dan sendok." Ucap Ibu pada anak ke duanya yang sedang membuat air panas.


Raka kemudian membawakan piring dan sendok ke atas meja.


"Kamu yang mana Raka,? Nasi tumpang apa nasi pecel.?" Tanya Bayu yang sedang membuka bungkusan nasi dengan karet itu.


"Yang tumpang Mas." Jawab raka sambil menuju kompor tempat dia memasak air panas.


Bayu dan Ibu menyiapkan bungkusan sarapan itu.


"Assalamualaikum." Suara Bapak salam dari ruang tengah.


"Waalaikumsalam." Semua yang di dapur menyahutinya.


"Weeeehhh enakkkk. nasi pecel." Ujar Bapak melihat bungkusan nasi pecel dibuka.


"Ayo sarapan Pak." Ajak Bayu.


"Sebentar, Bapak bersih bersih dulu." Kata Bapak kemudian berlalu ke arah sumur.


Raka sudah selesai membuatkan teh untuk Ibu dan dirinya.


"Untuk Mas mana.?" Tanya Bayu.


"Buat sendiri." Jawab Raka.


"Dasar pelit." Ucap Bayu.


"Sudah jangan mulai berantem, Bayu sama Ibu aja tehnya." Kata Ibu menengahi ketegangan anak mereka.


Sebenarnya Raka dan Bayu sedang bercanda. Tapi Ibu lagi sedikit sensitif karena baru sembuh dari sakit.


Bapak kembali dari sumur.


"Ini Pak." Kata Raka sambil memberikan bagian nasi bungkus untuk Bapaknya.


"Ini beli di depan gapura ya.?" Tanya Bapak.

__ADS_1


"Iya Pak, dimana lagi dagang nasi pecel deket selain di sana." Ucap Bayu.


"Oiya." Kata Bapak singkat sambil duduk di kursi bambu dekat pintu.


Keluarga sederhana itupun sarapan bersama. Sudah lama keluarga Pak Slamet tidak menikmati kebersamaan sepeti itu.


"Bapak dari mana tadi.?" Tanya Bayu sambil melahap sarapannya.


"Biasa Yu, ke rumah Pak Kades terus ke sawah." Jawab Bapak juga sambil melahap sarapanya.


"Kasian Pak Kades lagi sakit. Jadi apa apa Bapak sama Darman yang ngurusin urusanya." Imbuh Bapak.


"Pak Kades sakit.? Pantes Laras pulang. Tapi Darman pasti juga tahu dan sengaja ngak ngasi info ini ke aku. Darman Darman, aku sudah ngak selemah dulu Dar. Ya semoga Pak Kades lekas sehat kembali." Ucap Bayu dalam hati.


"Sebenernya dulu pernah sakit parah, dan di bawa ke Rumah Sakit sampe nginep. tapi kemaren sakit lagi. Pas bareng sama Ibukmu." Cerita Bapak sambil makan.


"Mungkin memang cuacanya pak, orang di Desa ini aja juga banyak yang sakit." Sahut Ibuk.


"Iya memang musimnya paling." Kata Bapak.


"Makanya Yu kamu di Surabaya jaga kesehatan ya.? Jangan sampai terlalu ngerepotin Pak Demu." Ibu berkata pada anak pertamanya itu.


"Iya Buk, Ibuk juga jangan terlalu kepikiran. Bayu pasti jaga diri baik baik." Ucap Bayu pada Ibunya sambil berjalan mengambil air putih.


Mereka menikmati sarapan sambil bercengkrama hangat. Masa masa yang tak akan didapati Bayu lagi saat dia sudah kembali ke Surabaya.


Tapi seperti kata orang bijak. Waktu yang indah pasti akan lekas berlalu.


Di suatu Pagi. Bayu bersiap untuk kembali ke Surabaya karena kondisi Ibunya sudah benar benar sehat dan Bayu merasa tidak enak jika tidak segera membantu Pak Arip dagang lagi.


"Jaga kesehatan ya Le ketika di Surabaya." Ucap Ibu pada Bayu.


"Iya Buk, jangan khawatir ya. Lagain nanti Bayu bakal sering pulang kok." Kata Bayu untuk menenangkan hati Ibunya.


Bayu menunggu Darman. Karena Darman dan Bayu kemarin sudah janjian akan mengantar ke terminal.


Tidak ada hal dramatisir lagi seprti awal saat Bayu akan pergi ke Surabaya. Karena toh Bayu masih merantau di satu provinsi belum merantau sampai ke luar negri.


"Raka, jaga Bapak sama Ibu selama ngak ada Mas di rumah" kata Bayu pada adiknya itu.


"Oke Bos." Ucap Raka sumringah karena sebelumnya mendapat uang saku dari Bayu.


"Treggnenggnengnegggnegg" Suara Motor Darman mendekat.


Darman sampai di depan rumah Bayu dan memarkirkan motornya sejenak.


"Buk," kata Darman sambil mencium tangan Ibu Bayu.


"Hati hati naik motornya ya Dar, jangan ngebut." Ujar Ibu pada Daraman.


"Iya Buk, tenang saja." Jawab Darman.

__ADS_1


"Buk, Bayu berangkat Dulu." Kata Bayu kemudian menciun tangan Ibunya.


"Raka, inget." Kata Bayu dengan tatapan tajam ke adiknya itu.


"Iya Iya Mas, beres beres." Kata Raka kemudian mencium tangan Bayu.


"Assalamualaikum" Bayu dan Darman salam.


"Waalaikumslaam" Jawab Ibu dan Raka.


Kemudian kedua sahabat itupun menaiki sepeda motor dan melaju menuju terminal.


...Di perjalanan....


"Woe Dar." Ucap Bayu.


"Knapa Yu. ada yang ketinggalan.?" Jawab Darman.


"Ngak, aku juma mau tanya, kamu tau kalau Pak Kades lagi sakit.?" Tanya Bayu sambil memperhatikan jalan di depannya.


"Ya taulah Yu. Kan aku sama Bapakmu dapet mandat buat bantu bantu ngurus urusanya Pak Kades." Ujar Darman.


"Terus kamu juga tau, kalau Laras pulang karena Bapaknya sakit." Kata Bayu serius.


"Emmmm nggg." Kata Darman kikuk.


"am em ang eng...... Ya kalau kamu emang tau juga gak papa. mungkin kamu memang sengaja ngak cerita ke aku karena takut aku nanti kayak orang stres ketemu Laras." Ucap Bayu.


"Nah itu..... itu maksutku. Ya aku ngak mau ngasi tau kamu karena takut kamu sakit hati terus nabrakin sepeda ke pohon jati lagi." Kata Darman dengan sedikit menyindir Bayu .


"Sontoloyo, ya ngak mungkin lah Dar. aku udah ngak kayak dulu. udah bosen aku sakit hati sama Laras." Ucap Bayu


"Terus, kamu kok tau Laras pulang.?" Tanya Darman heran.


"Kemaren pagi aku ketemu dia. dia nyapu di halaman rumah seperti biasa, dan aku lewat pas mau beliin sarapan buat Ibuk" Ucap Bayu sambil melihat HPnya, karena seperti ada pesan masuk.


"Terus, kamu berhenti.?" Tanya Darman penasaran.


"Ngapainnnnnnnn........... boro boro berhenti, nyapa aja ngak. Ya aku sudah mulai belajar ikhlas Dar." Ucap Bayu sambil memasukan HPnya lagi ke tas selempang.


"Bagus. kamu semenjak di Surabaya sudah banyak perkembangan Yu. Ya semoga Putri itu jodohmu." Ucap Darman sambil berhenti di sebuah lampu merah.


"Kok tiba tiba ke Putri.?" Ucap Bayu keheranan.


"Ya aku punya feeling kalau kamu sama dia itu cocok." Ujar Darman sambil menarik tuas gas karena lampu berubah menjadi hijau.


"Putri. Ya ngikuti arus aja. biar semesta yang atur. kemarin aku nyoba ngatur jadinya berantakan semua." kata Bayu dalam hati.


"Wets Slamet, malah nglamun." Kata Darman mengagetkan Bayu.


__ADS_1


__ADS_2