
Putri menempelkan telapak tangannya ke dada Bayu.
"Apa yang membuatmu gelisah dan berdebar seperti ini Yu.?" Tanya Putri.
"Aku ngak tau lagi harus ngomong apa ke kamu." Jawab Bayu kemudian berjalan ke tanah lapang belakang stand.
Putri mengikuti Bayu, sedangkan Ita sudah tidak ada di tempat dia duduk tadi.
Tiba tiba Putri memeluk Bayu dari belakang.
"Aku sayang kamu Bayu. Sejujurnya, aku ingin sekali marah ke kamu. Tapi.... mendengar perkataan Kak Laras tadi aku jadi paham bahwa kamu sedang terluka." Ucap Putri.
Bayu melepaskan pelukan Putri dan berbalik.
"Aku juga sayang kamu Putri. Maaf, aku merahasiakan ini semua. Aku juga ngak menyangka akan bertemu Laras dengan kondisi seperti ini, jadi akan aku jelaskan semuanya sekarang." Bayu berkata sambil menggenggam tangan Putri.
Bayu pun mulai bercerita. "Dulu, aku dan Laras memang pasangan kekasih, kami menjalin semua perasaan itu saat Di Desa sedari kita kecil hingga remaja. Tapi, setelah tamat sekolah SMA, kita menempuh jalan masing masing. Laras ke sini dan kuliah aku tetap di desa. Mungkin, saat itu aku benar benar merasakan rindu bagai racun yang menyiksa. Kemudian, Laras sesekali pulang, tapi sikapnya berubah seperti bukan Laras yang biasanya. Lambat laun waktu berganti hingga suatu saat aku melihat Laras pulang dan di antar Boy yang mengaku calon suaminya."
"Cih." Ucap Putri.
"Kenapa.?" Tanya Bayu heran melihat raut muka Putri yang seakan muak.
Putri sejenak terdiam.
"Aku mohon kamu jangan membenci Kak Laras.!" Kata Putri yang membuat Bayu terheran hingga mengeturkan dahinya.
"Tapi mengapa, aku kira kamu akan membencinya juga." Ujar Bayu.
"Bukan Kak Laras yang aku benci, Tapi Boy. Sebenarnya ini rahasia, bahkan Ita dan Astri pun tak mengetahuinya. Tapi aku minta kamu menenagkan dirimu dulu sebelum aku cerita." Kata Putri.
"Oke...... ada apa sebenarya.?."kata Bayu.
Putri duduk bersila beralaskan rerumputan. Demikian juga dengan Bayu dengan berselimut suasana matahari yang akan tenggelam.
"Awal aku kuliah di sini, Boy berusaha mendekatiku. Jujur aku sempat terpesona dan aku juga belum tau perihal Kak Laras yang menjadi pacarnya. Mungkin saat itu juga aku sedang Down, pikiranku kalut karena belum lama ditinggal Ibu. aku terjebak dalam dekapan Boy, ntah mengapa aku ngak bisa lepas dari jerat asmaranya, mungkin karena Boy memberikan aku perhatian yang membuat aku luluh. Hingga di suatu waktu." Putri sejenak terdiam.
"Suatu waktu.?" Tanya Bayu sambil memandang Putri yang tertunduk.
__ADS_1
"Aku dan Boy berada di sebuah kamar hotel. Di hari itu iblis benar benar merasukiku hingga aku mengikuti apapun perkataanya. Saat itu Boy pergi ke toilet dan aku duduk di kasur. Aku membuka HP dan iseng membuka galeriku, aku melihat foto Ibu. saat itu juga aku seakan tersadar, apa yang akan aku lakukan ini salah dan Ibu di sana pasti tidak akan menyukainya. Seketika itu juga aku pergi keluar dari hotel itu meninggalkan Boy." Putri bercerita sesingkat mungkin, karena kenangan saat itu masih membawa rasa trauma.
Tangan Bayu kemudian mengepal. Wajahnya mengisyaratkan amarah yang sangat dalam pada Boy. Tapi, Putri kemudian mengenggengam tangan Bayu yang sekeras batu itu. Sembari memandang Bayu, Putri mengeleng, seakan ia tak setuju apa rencana yang ada di kepala Bayu.
"Apa aku bilang tadi Yu. tenangkan dirimu." Ujar Putri.
Bayu menarik nafas panjang.
"Maaf, aku terbawa emosi." Kata Bayu sembari memandang Putri.
"Sepertinya Ibu telah menyelamatkan aku sekali lagi. Setelah kejadian Itu, sikap Boy seperti meremehkan aku. Seakan uang bisa membeli segalanya yang dia inginkan, cowok sialan itu berusaha membeli keperawananku. Tentu aku tidak bodoh. Aku memutuskan pergi tanpa sepatah kata degan cacian yang terus dilontarkan Boy dan geromboalanya. Mulai disanalah aku berusaha menempa kepribadianku dan berusaha mengikhlaskan kepergian Ibu." Kata Putri sambil tersenyum dengan satu tetes air matanya yang gugur.
Bayu mengusap air mata itu.
"Sekarang ada aku, yang akan melindungimu dan menemanimu hingga nafas terahirmu." Ucap Bayu.
Putri mengenggam tangan Bayu yang menempel di pipinya. matanya terpejam karna merasakan hangatnya telapak tangan Bayu.
"Jadi aku mohon sama kamu Yu.?" Ujar Putri.
"Apa Itu.?" Tanya Bayu.
"Semua sangat masuk akal sekarang, mengapa Laras selalu menangis saat kita bertemu dulu Di Desa. Karena itu semua bukan kehendaknya. Dia sadar aku dan dia tak bisa menyatu lagi, semua itu karena Boy yang merenggut kesuciannya. Seandainya aku tau sejak awal. Aku pun tak mengapa bahkan bila dia tak seputih embun lagi. maaf Laras, ternyata memang aku yang salah." Ucap Bayu dalam hati.
"Pasti pikiranmu sekarang berandai andai tentang Kak Laras." Celetuk Putri.
"Eh.. ngak kok." Ucap Bayu.
"Edan, Putri ini sepeti dukun. Tau apa yang ada di pikiranku. Apa mungkin dia juga pakai ilmu penglaris di pentol bakarnya" kata ngelantur Bayu dalam hati.
Putri menggenggam kedua telapak tangan bayu dan meletakkannya di pangkuannya.
"Selain Ibu yang menyelamatkanku dari Boy, kamu juga menyelamatkanku dari Juna yang akan memperkosa ku dulu. Mungkin ini suratan takdir, bahwa kamu dan aku sengaja di pertemukan." Kata Putri.
"Kalau di ingat ingat waktu itu saat pertemuan kita memang ngak masuk di akal. Tapi begitulah ajaibnya takdir. Hehe." Ucap Bayu dengan tawa kecil.
"Apa kamu masih cinta Kak Laras.?" Tanya Putri tiba tiba.
__ADS_1
"Eh, ngak ngak sama sekali kok." Ucap Bayu tegang.
"Sayang, aku ngak suka di bohongi. Dan aku paling ahli dalam melihat gelagat orang yang sedang berbohong." Ujar Putri.
"Emmm ~" belum sempat Bayu menyelesaikan lerkataanya.
"Aku ngak papa kalau kamu masih mencintai Kak Laras, aku juga ngak memaksamu untuk menghapus kenangan tentangnya." Ucap Putri sembari memandang Bayu.
Bayu tak mampu berkata kata lagi. Dalam benaknya, ia sungguh merasa bersyukur pada Semesta karena dipertemukan oleh Putri.
"Aku sayang kamu." Ucap Bayu pada kekasihnya itu.
"Begitupun aku." Jawab Putri.
Bayu merasa menjadi lelaki paling bahagia saat ini. Setidaknya ada beban yang sudah ia letakkan dari pikirannya.
"Aku ingat, saat kita pertama kencan di Mall. Kamu sempat menyebut nama Laras. Apakah dia Kak Laras ini tau ada Laras Laras yang lainya.?" Tanya Putri.
"Sebenarnya kamu mau ngejek aku atau bagaimana." Kata Bayu sambil mengusap ubun ubun Putri.
"Mana mungkin aku seorang pemuda polos dari Desa punya banyak mantan yang bernama Laras." Imbuh Bayu.
"Pemuda polos.?" Tanya Putri dengan penekanan.
"Iya Polos." Ucap Bayu.
"Pemuda polos apa yang mencium bibir wanita hingga mendesah." Ujar Putri dengan senyum tipis.
Wajah Bayu perlahan memerah dan berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah manis Putri.
"Hayo masih ngaku polos." Ucap Putri sambil mencubit perut Bayu.
"Aduh.. ya emang polos kok. Eh, Ayo kita ambil pentol bakar di kontrakkan." Kata Bayu berusaha mengalihkan perhatian.
"Pinter ya caramu mengalihkan perhatian." Ucap Putri.
"Yasudah ayolah, keburu rame lagi bazaarnya." Putri perkata sambil berjalan dan mengandeng Bayu.
__ADS_1