
Bayu menenangkan hati dan pikiranya. Setelah dia cuci muka kemudian segera kembali ke stand Pak Arip.
Saat akan sampai di stand, Bayu menarik nafas panjang beberapa kali dan kemudian membantu Adit merapikan stand dagangan Pak Arip yang sudah mulai tutup.
Tak terlihat Laras dan pacarnya, mungkin sudah pulang dari tadi.
"Maaf lama Dit, antri." Alasan Bayu pada Adit.
"Iya gakpapa Yu, emang hari ini pelanggan lagi ramai." Jawab Adit.
Tak ada yang menyadari apa yang Bayu pendam. Rasa perih yang teramat sangat itu pintar bersembunyi di balik relung hati.
Setelah selesai beres beres dan mereka bersiap untuk pulang.
Adit sekarang tinggal di rumah Novi. Jadi Bayu dan Adit sudah pasti pulang pergi bersama.
Ketika mereka selesai menaruh gerobak dagang dan segera menuju rumah.
"Ayo Yu. Pengen cepet cepet pulang aku, bener bener capek hari ini." Kata Adit sambil menunggu Bayu menaiki motornya.
"Anu Dit, anter aku dari jalan raya aja ya. Aku mau cari jamu, badanku rasanye pegel pegel." Kata Bayu.
"Tumben, kmau nyari jamu ngak ajak ajak aku. Yaudah ayo naik." Kata Adit.
Bayu kemudian naik di goncengan motor Adit, dan mereka pun melaju.
"Ya aku bukannya ngak mau ngajak, tapi kamu kan di tunggu Novi di rumah. Lagian katamu kan lagi program" kata Bayu.
"Iya wes, ya kapan kapan aku temenin, tapi izin nyonya dulu." Ucap Adit sambil memperhatikan jalan.
"Siap Bos." Jawab Bayu singkat
Tak berapa lama setelah mereka sampai di depan dagang jamu.
"Makasi Dit." Kata Bayu sambil turun dati motor.
"Iya Yu, jangan pulang malem malem." Kata Adit kemudian berlalu dengan sepeda motornya.
Tentu itu hanya alasan Bayu, kenyataanya dia sama sekali tidak masuk ke kedai jamu.
Bayu berjalan menelusuri jalanan kota.
Mungkin dia hanya ingin menenangkan hati dan pikiranya, tapi Bayu tak tau bagaimana caranya agar perih dalam hatinya menghilang.
Lama Bayu berjalan dia sampai dibatas flyover. Dia berdiri sejenak sambil menatap jutaan lampu lampu kota.
"Tutttt tuttttt, jugujugggg jugujugggg jugujuggg."
Suara kereta api lewat tepat di bawah Bayu.
__ADS_1
Kedua tangan Bayu memegang besi pinggiran flyover.
"Ini semua bohong kan.?? Tidak mungkin Laras yang ku kenal berubah seperti itu. Tapi mau disangkal seperti apapun itu jelas jelas Laras, dan ucapan itu nyata keluar dari mulutnya." Kata Bayu dalam hati.
Kilas balik pun terlihat dalam benak Bayu.
Ia teringat ketika saat kecil dengan Laras, bermain bersama. Tertawa bersama. Hingga mereka tumbuh dewasa dan menumbuhkan benih benih cinta diantara mereka.
Bayu teringat akan janji mereka yang tak akan pernah terpisah. Akan saling menyayangi hingga kapanpun. Namun semua itu sirna tak tersisa lagi.
Tanpa sadar air mata Bayu menetes di tengah dinginya malam dan lirih angin berhembus, pemuda patah hati itupun benar benar hancur lebur.
"Hey, menjauh dari pinggir pagar." Suara Laki Laki terdengar di belakang Bayu.
"Angakt tangan.!!!!" Kata Laki Laki itu.
Bayu berbalik, ternyata para Polisi yang sedang patroli malam.
Salah satu polisi mengeledah Bayu.
Bayu mengusap air matanya, dan salah satu Polisi sadar bahwa bayu bersedih dan tidak sedang berniat jahat.
Kemudian Polisi itu meminta agar anak buahnya meninggalkan dia dan Bayu sendirian.
"Sedang apa kau malam malam begini di atas jembatan.?" Tanya Polisi itu.
"Yaudah duduk dulu kau, jangan sambil berdiri, nanti tiba tiba kau loncat aku juga yang kena." Kata Polisi itu.
Bayu hanya menuruti perintah Pak Polisi.
"Aku tau kau ada masalah, dari gelagatmu tadi seakan kau mau loncat. Tapi percayalah anak muda, setelah kau loncat akan timbul banyak masalah baru." Kata Polisi itu menasehati Bayu.
"Kenalkan dulu, aku Briptu Ucok. Siap namamu.?" Kata Polisi.
"Bayu Pak." Jawab Bayu singkat.
"Aku tak tau apa masalah kau, tapi dari raut wajahmu itu sepertinya masalah asmara. Iya.?" Tanya Polisi itu.
Bayu hanya mengangguk.
"Coba bayangkan, andai dirimu loncat, bayangkan wajah wajah orang yang kau sayang. Apa nak Bayu masih punya orang tua.?" Tanya Polisi itu.
"Iya Pak, masih ada keduanya." Jawab Bayu.
"Nah..... bayangkan wajah sedih orang tuamu, apalagi ibumu yang menangis di liang lahatmu. Bagaimana perasaanmu coba bayangkan?" Tanya Polisi itu.
Bayu hanya terdiam.
"Anak muda. Hidupmu itu masih panjang, satu wanita tumbang cari yang lainya, dan jadilah orang sukses agar orang orang yang mengecewakanmu itu menyesal." Kata kata Petuah Polisi itu untuk Bayu.
__ADS_1
"Permisi Ndan. Ada laporan kecelakaan tak jauh dari sini." Kata salah satu Polisi menghampiri mereka.
"Ayolah, kita meluncur." Kata Briptu Ucok pada anak buahnya.
Kemudain Polisi itu siap siap untuk menuju lokasi kecelakaan.
"Bayu, iya Bayu kan. Ingat kata kataku tadi. dan sekarang kamu segera pulang, rawan malam malam begini sendiri di luar" Kata Polisi itu.
"Iya Pak, trimakasi" Jawab Bayu.
"Bener ya pulang. Aku tak mau besok lihat berita -seorang pemuda tewas loncat dari jalan layang dan badanya hancur digilas kereta-!!!" Kata Polisi itu.
"Iya Pak, saya pulang sekarang" Jawab bayu.
"Yasudah, ati ati, selamat malam." Ucap polisi itu kemudian berlalu dengan sepeda motornya.
Bayu hanya membalas dengan mengangguk.
Mendengar petuah dari Polisi tadi Bayu sedikit termotivasi.
"Padahal aku ngak ada niat mau loncat, tapi yasudahlah, kata kata Pak Polisi tadi ada benarnya." Kata Bayu dalam hati sambil menyusuri jalan.
Bayu lewat jalan pintas pinggir sungai. Karena jalan besar memang rawan tindak kejahatan pada saat malam hari.
Bayu juga melewati lahan kosong yang sangat panjang. Dan di tengah lahan kosong itu terdapat rumah terbengkalai.
Walau begitu Bayu sama sekali tidak takut. karena di desanya dia terbiasa melihat hal hal yang diluar nalar manusia.
"Pantes orang orang bilang disini tempat angker." Kata Bayu dalam hati ketika melewati bangunan rumah yang terbengkalai.
Kemudian.
Bayu sampai di rumah Pak Arip, ia segera mandi dan bersiap untuk tidur.
Saat di kamar dan rebahan.
Bayu masih teringat kata kata Laras tadi.
"Ada hal janggal, kalau memang Laras berniat meninggalkanku, mengapa dia begitu sedih saat bertemu denganku di rumah Pak Kades dulu. Harusnya dia bisa saja menghindariku.?" Tanya Bayu dalam hati.
"Tapi sudahlah, Laras sudah memilih jalannya, dan aku juga akan memilih jalanku sendiri." Kata Bayu dalam hati.
Kata kata setegar itu tak mampu membohongi hati Bayu. Bahwa sebenarnya dia masih mengharapkan Laras.
Tapi kali ini Bayu benar benar bertekat untuk melupakan Laras, gadis yang selalu menjadi pujaanya dulu.
Bayu sekarang memang sudah mulai bisa berfikir dewasa. Bukan seperti Bayu dulu, pemuda cengeng yang hanya bisa pasrah babak belur dihantam rindu.
__ADS_1