
Gelap perlahan memudar. Langit perlahan terang kebiruan. Sejuknya udara perlahan menghilang. Dan Bayu perlahan bangun dari kenyataan.
"Di taruh sini Bu De,?" Tanya Bayu sambil menaruh belanjaan di tas obrok sebelah kanan.
"Iya Yu." Jawab Bu De sambil menaruh belanjaan juga di tas obrok sebelah kiri.
"Mau kemana lagi Bu De.?" Tanya Bayu lagi, sambil menyalakan mesin motor.
"Brummmmmm"
Suara mesin motor matik.
"Pulang kita Yu, tapi nanti mampir di dagang nasi depan gang sebentar." Kata Bu De.
Bayu menaiki motor dan Bu De naik di goncengan beralas tas obrok. Kemudian Bayu pun menarik tuas gas dan melaju dengan arahan Bu De lagi.
Suasana jalan perkotaan mulai ramai. Walau sepertinya belum pukul 6 pagi.
Orang orang berangkat kerja berlalu lalang dengan sibuknya. Dan anak sekolah berangkat dengan semangatnya.
Beberapa menit kemudian.
Bayu berhenti di dagang nasi depan gang.
"Kamu mau apa Yu.?" Tanya Bu De sambil turun dari motor.
"Apa aja Bu De." Bayu menjawab.
"Nasi bungkus empat Mbak Sum, nasi putih dua nasi kuning dua." Kata Bu De pada penjual.
"Dianter siapa Bu Nur,? Kayak bukan tukang ojek sini.?" Tanya Mbak Sum penjual nasi sambil menyiapkan pesanan Bu De.
"Ngawur aja, ponakanya Pak Arip itu. Baru dateng kemarin dari kampung." Kata Bu Nur.
"Owalahhh, maaf Bu. Tak pikir tukang ojek." Kata Mbak Sum tersipu malu.
Bayu yang mendengar percakapn itupun hanya bisa senyum di atas motor.
Kemudian Bu De membayar nasi itu. Dan kembali menaiki motor menuju pulang.
Gang masih terlihat sepi, bahkan toko kelontong dekat rumah pun masih tutup.
Bayu sampai di rumah dan memarkirkan motornya di tanah kosong samping rumah.
Terlihat Pak De sedang menyembelih ayam.
"Woooo sama Bayu to Dek.?" Tanya Pak De pada istrinya.
"Iya Mas, minta tolong dianter Bayu, biar tau pasar juga." Kata Bu De.
"Maaf ya Bayu, ngerepotin." Kata Pak De sambil mencuci tangan.
"Ngak repot kok Pak De, besok besok biar Bayu aja yang nganter Bu De ke pasar lagi." Kata Bayu dengan menenteng belanjaan ke dalam rumah lewat pintu samping.
"Yawes ayo sarapan Dulu." Kata Bu De masuk rumah menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"Uswah Uswah....." Bu De memanggil anaknya.
"Iya Buk." Terdengar suara Uswah di kamar mandi.
"Cepet mandinya nak, abis itu sarapan." Kata Bu De.
Bu De kemudian menyiapkan bahan bahan untuk jualan nanti malam.
"Sarapan duluan aja Bayu," kata Bu De.
Kemudian Bayu membuka salah satu bungkusan nasi di atas meja dan memakannya sambil melihat TV.
Uswah terlihat keluar kamar mandi dan masuk kamar.
Tak berapa lama.
Uswan keluar kamar dengan memakai seragam. Kemudian gadis dengan seragam SMP itu mengambil bungkusan sarapannya dan makan di ruang tamu.
Teihat Pak De sedang membersihkan bulu bulu ayam di luar rumah. Sedangkan Bu De terlihat menyiapkan bumbu bumbu di dapur.
"Ternyata Bu De dan Pak De sudah sibuk dari pagi." Kata Bayu dalam hati.
Dipikiran Bayu, karena dagangan Pak De hanya buka saat sore hingga malam, pagi hari mungkin bisa dipakai untuk bersantai.
Pikiran Bayu salah. Ternyata menyiapkan dagangan juga butuh proses.
"Uswahhhh Uswahhhhh..." Suara teman teman Uswah memanggil dari depan rumah.
"Tunggu....." Terdengar suara Uswah di ruang tamu.
Uswah kemudian kedapur, menaruh piring kotornya, mencuci tangan kemudian mencium tangan Ibu dan Bapaknya, tidak lupa juga Pak De memberikan uang saku pada Uswah.
Uswah mengambil tas dari kamarnya.
"Uswah berangkat. Assalamualaikum" ucap Uswah sambil menaiki sepedanya di samping rumah menuju sekolah bersama teman temannya.
"Waalaikumsalam." Jawab Bu De, Pak De dan Bayu.
Bayu selesai makan, setelah memcuci piring kotornya Bayu menghampiri Pak De.
"Biar Bayu aja Pak De yang nyabut bulu ayamnya." Kata Bayu.
"Ooo yawes, tolong ya Yu." Kata Pak De.
Bayu membantu pak De dan Bu De di pagi hari itu. Mulai dari mencabut bulu bulu ayam, mengupas dan memblender bumbu, juga mecuci beras serta lain lainnya.
Sepertinya Bu De juga tidak sungkan mengajari Bayu mengolah bumbu bumbu untuk dagangan Pak De nanti malam.
Dagangan Pak De memang terkenal laris dan enak. Mitos sering mengatakan, jikalau dagangan laris pasti ada penglarisnya dalam bentuk mahluk astral.
Tapi dalam pengamatan Bayu, dagangan Pak De enak dan laris bukan karena hal hal mistis, tapi karena bahan bahan yang dipakai Pak De memang berkualitas.
Bahkan Pak De menyembelih ayam sendiri agar cita rasa gurih kuah kaldunya benar benar terasa.
Matahari mulai meninggi. Hawa sejuk berubah menjadi panas hingga membuat Bayu kegerahan.
__ADS_1
Bu De selesai menyiapkan bumbu dan kuah kaldu.
"Mandi duluan aja Bayu." Kata Bu De.
"Ini udah selesai masaknya, tinggal nanti sore lanjut masak mie kering lagi dan bikin bahan bahan tambahan." Imbuh Bu De.
"Iya Bu De, nanti Bayu bantu lagi." Kata Bayu.
"Udah ngak usah, kamu istirahat aja nanti siang, buat bantu Pak De jualan nanti malam." Kata Bu De.
"Ooo yasudah, Bayu permisi dulu Bu De" kata Bayu.
Saat Bayu akan mandi, dia teringat tidak punya peralatan untuk mandi termasuk sikat gigi.
Bayu mengambil uangnya di dalam tas dan segera pergi ke warung kelontong dekat rumah.
"Mau kemana Yu." Kata Pak De yang sedang bersantai di depan rumah.
"Mau ke warung Pak De, beli peralatan mandi." Kata Bayu.
Kemudian, Bayu sampi di warung.
"Permisi, beli........" kata Bayu.
"Ya...... sebentar." Jawab suara Perempuan dari dalam rumah.
"Beli apa.?" Penjual itupun keluar.
"Beli sikat gigi sama sabun dan sampo yang saset juga." Kata Bayu.
Penjual mengambil pesanan Bayu dan menaruhnya dalam kantong keresek.
"Ini mas, 15 ribu." Kata penjual.
Bayu memberikannya uang pas.
"Makasi Mbak." Kata Bayu.
"Ya, sama sama." Penjual itu menjawab.
Bayu kemudian berlalu. Tapi penjual itu masih sedikit heran, mungkin dia Baru pertama kali melihat Bayu belanja di warungnya.
"Udah Yu.?" Tanya Pak De masih bersantai di depan rumah.
"Udah Pak De." Jawab Bayu kemudian memasuki rumah.
Bayu kemudian segera mandi. Di Rumah Pak De kamar mandi sudah menggunakan keran tidak seperti di rumah Bayu yang masih menimba sumur.
Selesai mandi Bayu rebahan di kamar. Sesaat dia berfikir.
"Pertama kalinya aku bangun pagi tanpa mengingat Laras." Kata Bayu dalam hati.
"Apa pada ahirnya aku akan melupakan Laras.?" Imbuh Bayu dalam hati.
Di satu sisi Bayu bahagia karena sudah bisa melupakan Laras, tapi di sisi lain Bayu masih tidak rela bila harus kehilangan gadis pujaanya dulu.
__ADS_1
Dan Bayu kini hanya bisa membenci untuk mencintai Laras.