
Bayu dan Darman sampai di depan ruang pemeriksaan.
"Raka bagaimana Buk.?" Tanya bayu pada ibunya yang sedang duduk bersedih.
"Masih di dalam, masih diperiksa Dokter yu." Jawab Ibu.
Kemudian Bayu duduk di samping Ibu, sedangkan Darman berjalan sedikit menjauh hanya untuk mencari udara segar.
Tak lama berselang Bapak datang.
"Raka bagaimana Buk,? Raka ngak kenapa kenapa kan.?" Tanya Bapak sedikit panik.
Tapi Bayu yang menjawab Bapak, karena Ibu masih terguncang dan sedikit khawatir. "Kata Dokter diduga Raka kena demam berdarah Pak, tapi ini masih nunggu pemeriksaan lebih lanjut."
Kemudian Bapak juga duduk di samping Bayu.
"Bapak tadi ke koperasi tapi kantornya tutup, bapak lupa ini hari sabtu." Bapak berkata dengan tatapan kosong.
"Bagaimana kita membayar biaya pengobatan Raka.?" Imbuh Bapak.
"Bayu ada uang tabungan Pak, mungkin cukup untuk biaya berobatnya Raka. Bapak jangan terlalu khawatir soal biaya." Bayu berkata.
"Iya Pak, kalau kurang saya ada kok. Yang penting kesembuhannya Raka dulu." Darman menambahkan sambil berdiri di sebelah bapak.
Tak berapa lama.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
Bayu, Bapak, Ibu spontan beranjak dari tempat duduknya.
"Anak saya bagaimana Dok.?" Tanya Ibu.
"Beruntung Ibu membawa anak Ibu ke rumah sakit lebih awal, hingga penyakit demam berdarahnya belum terlalu parah, dan kondisi pasien sudah stabil" ucap Dokter.
"Tapi pasien harus rawat inap dulu, kira kira dua atau tiga hari, bila kondisi pasien terus membaik bisa kembali pulang atau rawat jalan." imbuh Dokter.
"Terima kasih Dokter." Ucap Ibu sambil menangis dan bernafas lega.
"Setelah ini akan ada Suster yang mengantar pasien ke ruang rawat, Bapak bisa ke administrasi dulu kemudian mengambil obat untuk pasien" Dokter berkata.
"Semoga anaknya lekas sembuh ya Buk, Bapak." Imbuh Dokter.
"Iya Dokter, terima kasih." Jawab Bapak
Dokter hanya mengangguk dengan senyum kemudian berjalan berlalu.
Kemudian Raka keluar dengan masih di atas kasur jalan denga infus yang tergantung di sampingnya.
"Ibuk..." Raka berkata dengan lirih
"Iya leee, ibuk di sini" jawab Ibu.
Kemudian Ibu, Raka dan Suster menuju ruang inap.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pulang dulu ya Pak, nanti malam saya usahakan ke sini lagi."
Kata Darman sambil mencium tangan Bapak Bayu.
"Terima kasih nak Darman." Bapak berkata sambil menyelipkan amplopan ke tangan Darman.
"Udah Pak ngak usah, maaf gak bisa nerimanya" ucap Darman di sodorkan amplopan berisi uang.
"Sekedarnya aja ya Darman. Bapak ngerasa ngak enak kalau kamu ngak ngambil" Bapak memaksa Darman.
"Ambil ae wes Dar. Jangan dilolak." Bayu berkata.
"Iya wes, saya terima ya Pak" kata Darman.
"Bapak mau nyusul Ibu dulu ya." Bapak berkata.
Bapak kemudain meninggalkan mereka ber dua.
"Yu, aku yang ngak enak kalau nerima kayak gini dari Bapakmu." Darman berkata pada bayu.
"Wes gakpapa, anggap itu ucapan terimakasih kami Dar," jawab Bayu.
"Yawes aku pulang dulu ya, nanti malam aku kesini nemenin kamu jaga Raka, Siapa tau Bapak sama Ibukmu nanti malem pulang" kata Darman.
"Iya, ati ati di jalan, makasih sekali lagi Dar.?" Bayu berkata pada darman.
Kemudian Darman pergi. Sedangkan Bayu segera ke tempat adminstrasi dan apotek.
Dalam hati Bayu merasa lega adiknya tertolong, tapi tak bisa dipungkiri dalam benak Bayu merasakan kesedihan juga. Karena tabungan yang harusnya dia pakai untuk ke Surabaya menemui Laras kini terpakai untuk pengobatan Raka.
Setelah Bayu selesai mengambil obat, Bayu segera ke ruang inap.
Ruangan yang luas dengan skat hanya dari korden. Di dalam satu ruangan terisi 8 pasien termasuk Raka.
Bayu masuk ke ruagan itu dan mencari keberadaan keluarganya.
Beruntung Ibu tidak menutup kordennya sehingga Bayu bisa menemukan tempat Raka dirawat.
"Buk, ini obatnya Raka." Bayu berkata sambi menaruh obat di meja kecil samping kasur Raka.
"Masih ngerasa sakit badanmu Raka."? Bayu bertanya pada Raka.
"Udah lumayan enak mas."jawab Raka sambil berbaring.
"Yawes cepet tidur, biar cepet sembuh." Kata Bayu sambil meletakkan telapak tangannya ke kening Raka.
"Bayu. Ibu sama Bapak pulang dulu, mau ambil baju ganti buat Raka. Kamu jaga adekmu dulu disini ya.?" Ibu berkata sambil beranjak bangun dari duduknya.
Sedangkan Bapak sudah menunggu di luar ruangan.
"Iya Buk." Jawab Bayu singkat.
"Istirahat ya Le, Ibuk pulang sebentar." Kata Ibu sambil mengusap usap kening Raka.
__ADS_1
"Iya Buk." Jawab Raka singkat.
"Assalamualaikum." Ibu memberi salam.
"Waalalukumsalam." kedua anak Ibu yang tampan menjawabnya.
Beberapa saat setelah Ibu dan Bapak pergi.
"permisi Mas, ini makanan untuk pasien Raka." Terdengar suara Suster di balik korden.
"Iya Mbak." Bayu menjawabnya dan segera mengambil jatah makanan yang tertulis nama Raka di atasnya.
"trimakasih Mbak" Bayu berkata.
"iya, mari." jawab Suster sambil berlalu ke tempat pasien sebelah.
kemudain Bayu membawa masuk makanan itu.
"Makan dulu Dek, abis itu minum obat" kata Bayu.
Raka berusaha bangun dari rebahannya. Dan bersandar di bantal yang ditopang besi pinggiran kasurnya.
Makanan Raka sangat simple, hanya nasi yang terlihat lembek, sayur bening bayam dan wortel, telur rebus dan tahu kukus, beserta buah pisang iris.
"Makan sendiri ya.?" Bayu membuka dan menaruh hidangan itu di pangkuan Raka.
Baru satu sendok Raka memakanya ia sudah tak mau makan lagi.
"Di makan Dek, biar cepet sembuh." Kata Bayu sambil menyiapkan obat yang akan diminum Raka.
"Ngak enak Mas." Jawab Raka.
"Ya karena kamu sakit makanya ngak enak, aslinya juga enak ini." jawab Bayu sambil mencicipi makanan Raka.
Setelah Bayu mencicipi sayur bening dan telur. Ekspresi Bayu berubah seketika.
"Kenapa Mas, ngak enak kan.?" Tanya Raka.
"Hemhemehmmm, iya ngak ada rasanya" jawab Bayu sambil sedikit tersenyum.
"Dibilangin kok." Raka berkata.
"Apa memang begini makanan rumah sakit.?" Bayu dalam hati.
Sebenarnya masakan rumah sakit memang tidak banyak menggunakan garam ataupun penyedap dan lebih mengandalakan cita rasa alami dari bahan makanan itu. Karena nilai gizinya sudah dihitung sesuai kebutuhan pasien.
Tapi memang baru kali ini Bayu menginap di rumah sakit dan menikmati hidangan pasien.
"Yawes di makan dulu ini, besok kalau sudah sembuh Mas beliin ayam bakar." Bayu berkata pada Raka, dan menjanjikannya agar dia mau makan dan minum obat.
"Bener ya Mas.?" Tanya Raka.
"Iya suwer." Jawab Bayu.
__ADS_1
ditengah kerinduanya akan Laras, Bayu menyadari bahwa ada keluarga yang menenangkan batinnya. betapa leganya Bayu ketika mengetahui Raka baik baik saja, dan melihat Ibu tidak bersedih lagi. mungkin bagi Bayu, inilah proses pendewasaan diri.