BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Setelah Badai


__ADS_3

Keluarga kecil itupun selesai menyantap makan malam.


Ibu di kamar menemani Raka tidur. Sedangkan Bapak masih di dapur dengan menghisap rokoknya. Bayu juga di dapur sedang membuat teh hangat.


"Kalau hujannya ngak berhenti bisa bisa sawah banjir." Kata Bapak sambil melihat langit langit rumah.


"Ya semoga aja banjirnya cepat surut Pak." Kata Bayu sambil mengaduk tehnya.


"Ya semoga aja Yu." Jawab Bapak.


Bapak selesai menghabiskan satu batang rokoknya, dan segera pergi ke kamar untuk tidur. Besok pagi pasti penduduk desa banyak yang ke sawah untuk melihat tanaman padi mereka, termasuk Bapak juga.


Bayu dengan segelas teh hangat duduk di kursi dapur, sambil merenung dia memikirkan banyak hal.


"Kalau sawah bapak terendam banjir, terpaksa harus panen awal. Pasti bakal rugi nanti." Ucap bayu dalam hati.


Bayu menenggak teh hangatnya sedikit demi sedikit sampai habis. Pemuda yang berselimut sarung itu segera beranjak dari duduknya dan bersiap untuk tidur.


Di gelarnya alas tikar di depan TV. Dengan Bantal yang diambil dari kamarnya Bayu bersiap untuk tidur.


Hujan masih saja turun, tetapi tak se heboh tadi. Paling tidak suara petir dan badai yang mengamuk sudah hilang.


Di ujung gerbang mimpinya ia sekilas teringat Laras. Tapi kantuk yang menghampirinya sudah sangat kronis. Tak berapa lama Bayu pun tertidur.


Pagi hari


Hawa dingin menusuk tulang, bahkan fajar belum memperlihatkan batang hidungnya, tapi Bayu sudah bangun dari mimpinya.


Segera dia merapikan tempat tidurnya dan menuju ke dapur untuk cuci muka.


Ibu menyiapkan sarapan di dapur. Di atas meja dapur terlihat satu gelas teh panas, satu gelas kopi dan satu gelas kopi yang hampir habis.


"Bapak sudah pergi ya Buk.?" Tanya Bayu.


"Iya Yu, mau lihat kondisi sawah katanya." Jawab Ibu sambil membumbui mie rebus instan buatannya.


Kemudian Bayu mengambil kopinya dan menuju ke halaman rumah.


Terlihat sinar mentari redup mengintip di balik horizon, embun tipis terlihat samar, tanah basah dan genangan air menjadi pemandangan wajib di pagi ini.


"Dinginnnnnn" kata Bayu dalam hati.


Terlihat orang orang berlalu lalang, mungkin satu tujuan mereka untuk mengecek tanaman padi mereka.


Bayu menghabisaka gelas kopinya dan segera masuk rumah. Karena pagi ini begitu dingin hingga menusuk tulang, Bayu memutuskan untuk tidak mandi.


Bau mie rebus buatan Ibu sungguh mengoda, dan Bayu memutuskan sarapan dulu.

__ADS_1


Selesai sarapan Bayu kembali cuci muka dengan sabun dan gosok gigi sekalian. Setelah berganti baju Bayu segera menyusul Bapak di sawahnya.


Sepeda kumbang jadi andalannya, jalan becek berlumpur menyulitakn roda roda sepedanya mencengkram tanah, beruntung bayu cukup mahir mengendalikan sepedanya hingga dia tidak tergelincir.


Pemandangan yang sangat beda di hadapan bayu pagi ini. Biasanya sawah sawah membentang luas, tapi sekarang seperti lautan. Ujung tanaman padi pun tak terlihat. Beruntung jalan desah lebih tinggi dari lahan sawah.


Bayu sampai di sawah Bapaknya.


"Mau ngak mau kalau tiga hari ngak ada tanda tanda surut, terpakasa harus panen awal." Kata Pak Slamet.


"Ya gimana lagi Pak Slamet, dari pada tambah rugi kan, walaupun sebenarnya kita masih merugi dengan cara panen awal." Kata seseorang di samping Bapak.


Bayu melihat lahan sawah Bapaknya. Memang terlihat Cukup parah, padahal pada waktu dekat sudah siap panen.


Cuaca ahir ahir ini memang hujan lebat, tapi baru hari kemaren hujan sangat lebat disertai badai yang sangat lama.


Satu hari berlalu sawah masih terendam banjir


Dua hari berlalu banjir mulai surut tapi ketinggain air masih merendam batang padi.


Hari ke tiga, ahirnya penduduk desa yang sawahnya terdampak banjir parah memanen padinya. Termasuk sawah keluarga Bayu.


Di siang hari.


"Namanya juga musibah, masih untung ada yang bisa dipanen." Kata Bapak pada Bayu sambil rehat akan makan siang.


Tak berapa lama Ibu datang dengan sepeda sambil membawa rantangan dan mengonceng Raka.


Setelah Ibu memarkirkan sepedanya.


"Makan dulu Pak, Yu.?" Kata Ibu.


Ahirnya keluarga itupun makan siang di pinggir sawah di bawah pohon beralaskan terpal.


Ibu dan Bapak seakan bersikap biasa saja, tapi Bayu seakan sangat sedih tapi Raka seprti belum paham apa yang terjadi.


Mungkin Ibu dan Bapak terbiasa menghadapi situasi seperti ini di masa lalu.


"Katanya di sekitar desa kita mau dibangun bendungan, jadi biar bisa ngontrol banjir dan sumber air juga" kata Bapak bercerita setelah kemarin Bapak mengikuti rapat para warga dan Perangkat desa


"Emang di mana Pak mau dibangunnya.?" Tanya Ibu pada Bapak.


"Ya belum tau Buk, orang masih perencanaan." Kata Bapak.


"Ya semoga cepat di bangunya." Imbuh Bapak sambil makan.


Sayur asem dengan sambal dan tahu telur tempe goreng menjadi santap siang mereka saat ini. Walau sederhana tetapi dinikmati bersama sama keluarga dan di pinggir persawahan terasa sangat istimewa nikmatnya.

__ADS_1


Butuh tiga hari bagi keluarga bayu memanen lahannya. Jelas waktu yang sangat lama, tapi untungnya matahari sangat terik jadi penjemuran gabah bisa maksimal. Setidaknya dengan begitu harga gabahnya tidak terlalu anjlok walau hasil panennya jauh dari perkiraan.


Beberapa minggu berlalu.


Sawah Bapak sudah ditanami dengan bibit baru. Bapak terpaksa menarik uang koperasi untuk tambahan modal, walau ada juga bantuan dari pemkab dan dinas pertanian tapi dirasa memang belum cukup.


Kemudian.


Darman mengajak bayu lagi menerima pekerjaan membajak sawah orang.


Saat menaiki gerobak traktor menuju desa sebelah. Mereka terlihat berbincang bincang.


Dukkkgudukkkkgudukkkk


Suara mesin traktor.


"Lho kamu sempet ke surabaya Dar.?" Tanya Bayu.


"Ya waktu dulu Yu cari onderdil traktor sama cari pupuk murah." Jawab Darman.


"Kamu kok ngak ngajak aku, kamu ketemu Laras.?" Tanya Bayu lagi.


"Aku lupa Yu kamu dulu sibuk apa, pokoknya kamu sibuk sampai aku ngak sempet ngajak kamu." Kata Darman.


"Terus kamu ketemu Laras.?" Bayu mengulangi pertanyaanya lagi.


"Emmmm, yaaa. Ya ngak lah, orang aku ngak ada urusan sama Laras." Darman berkata sambil berfikir keras.


"Oiya ya. Hahahahahahaaa, kok aneh pertanyaanku." Kata Bayu sambil tertawa.


Sikap Darman seperti menyembunyikan sesuatu, tapi Bayu tidak menaruh curiga pada Darman.


Hari terik dilalui kedua sahabat itu dengan bekerja keras, Darman dengan tanggung jawab besarnya sedangakn Bayu dengan harapannya.


Sepertinya Bayu dan Darman sudah terbiasa bekerja sama, sehingga mereka bisa sangat cepat menyelesaikan lahan yang mereka bajak.


hari beranjak sore, matahari melambai di ufuk barat, mengisyaratkan ia akan berpisah sementara.


Darman mengantar Bayu sampai depan rumah dengan gerobak traktornya.


"makasi dar." kata Bayu sambil melompat turun.


"iya sama sama, jangan lupa besok ada obyekan ke Desa Mekar." kata Darman.


"siap juragan." jawab Bayu sambil posisi hormat.


"yowes aku duluan." jawab Darman kemudian berlalu dengan gerobak traktornya.

__ADS_1


Bayu segera memasuki rumah dan mandi, cukup keringat yang bercucuran hari ini, karena masih ada hari esok untuk memeras keringat lagi.


__ADS_2