
Darman terlihat masih tergeletak dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Sepertinya Darman tidak terluka, karena pukulan Bayu sama sekali tidak mengenai wajahnya.
Mungkin Darman sedang bersedih karena membuat Bayu marah, dan selama pertemanan mereka Baru kali ini Bayu marah besar pada dirinya.
Atau mungkin disisi lain Darman merasa lega, karena tidak lagi menutupi rahasia tentang Laras pada Bayu. yang membuat Darman terus bersalah pada sahabatnya itu.
Bayu segera memakai bajunya dan meninggalkan Darman.
Digowesnya sepeda kumbang hitam itu dengan membawa rasa emosi yang teramat sangat dalam.
Bayu merasa binggung, siapa yang harus dia benci. Mungkin dia harus membenci Darman, Laras, atau dirinya sendiri.
"Apa mungkin yang dikatakan Darmam benar, andai benar semua ini menjadi masuk akal." Bayu berkata dalam hati.
"Apa ini alasan Laras selalu bersedih saat kita bertemu, dan dia selalu minta maaf padaku" imbuh Bayu dalam hati.
Bayu menggowes sepedanya dengan termenung.
Kemudian Bayu menggelengkan kepalanya.
"Ngak, ngak mungkin. Darman hanya salah liat saja, ngak mungkin perempuan baik baik seperti Laras melakukan hal seperti itu." Bayu masih berkata dalam hati.
"Kata katamu memang ngak bisa di maafkan Darman, mentang mentang kamu sekarang sudah sama Fitri dan mengatakan hal hal yang tidak benar tentang Laras." Imbu bayu dalam hati.
Seprtinya Bayu sedang dibutakan oleh cinta, dan dirasuki rasa iri pada Darman.
Emosi yang sungguh berbahaya sedang dipelihara Bayu. yang mungkin bisa menghancurkan hatinya dari dalam.
Hari berganti. Minggu berlalu. Kedua sahabat itu sama sekali tidak bertegur sapa.
Walau terkadang Darman berkunjung ke rumah Bayu, tapi Bayu engan menemuinya. Sepertinya musim kemarau yang panas dan kering ini juga mempengaruhi hati Bayu.
Suatu hari dikala tanaman jangung mulai meninggi, dan kuncup buah jagung mulai terlihat, udara panas terik bahkan awan tak terlihat menggumpal.
"Assalamualaikum." Raka salam saat memasuki rumah setelah pulang sekolah.
"Waalaikumsalam." jawab Bayu dan Ibu yang sedang di dapur.
"Mas Bayu. aku liat mobil mau parkir tadi di depan rumah Pak Kades." Kata Raka pada Bayu sambil mengambil air minum.
"Masak..? Paling kamu bohong lagi." ucap Bayu tidak percaya.
"Suwerrrrr Mas, kalau ngak percaya liat sendiri sana" kata Raka.
"Mobilnya Pak Kades paling" kata Bayu masih tidak percaya.
"Bukan mas. mobil Pak Kades kan item, ini mobilnya putih bagus."kata Raka meyakinkan Bayu.
"Awas kamu bohong." bayu berkata.
Kemudaian Bayu pergi dengan sepeda kumbangnya menuju rumah Pak Kades.
Di perjalanan.
__ADS_1
"Kalau kata kata Raka benar kemungkinan itu Laras." Kata Bayu dalam hati.
Bayu mengowes sepedaya sangat kencang.
Benar saja. Saat rumah Pak Kades mulai terlihat, disana ada Laras sedang mengambil suatu barang di kursi depan penumpang. Seperti biasa Laras terlihat sangat cantik, dengan dress selutut, jaket berbahan jeans serta rambut Laras yang mulai memanjang dibiarkan terurai.
Mobil itu parkir membelakangi rumah Laras.
Bayu menghampiri Laras hingga wanita cantik itu terlihat kaget.
"Ngapain kamu disini Yu.?" Tanya laras kebingungan sambil menatap bayu.
"Lho kok ngapain to, ya aku kangen kamu lah." Jawab Bayu.
"Lebih baik kamu pergi Yu, aku mohon.!" kata Laras.
"Oooo diusir ceritaya, okeeee." Bayu berkata degan nada bercanda.
Tiba tiba dari dalam rumah Laras keluar seorang Laki Laki.
"Mana barang yang dibawa masuk lagi sayang.?" Kata Laki Laki yang keluar dari rumah Laras.
"Sayang.??" Bayu dalam hati sambil menatap Laki Laki itu.
Laki Laki itu mengambil sebuah kotak di belakang mobil yang terbuka terus menghampiri Laras.
"Ini siapa.?" Tanya Laki Laki itu pada Laras.
"Emmm Ini.... temen aku, Bayu." Jawab Laras pada Laki Laki itu.
Bayu masih bingung dengan situasi saat ini.
"Oooo, halo aku Boy. Salam kenal. Calon suaminya Laras." Kata Boy sambil memberikan tangan kananya untuk bersalaman dengan Bayu.
Bayu menyambut tangan Boy dan menjawab singkat "Bayu".
Kemudian Boy mengambil barang yang ada di tangan Laras.
"Ayo sayang cepet masuk. Cuppp." Kata Boy sambil mencium pelipis kiri Laras di hadapan Bayu.
"Aarrrghhhhh padahal Di Desa. Kenapa bisa panas begini." Gerutu Boy sambil menuju ke dalam rumah Laras.
Bayu hanya bisa terdiam dengan mata yang berkaca kaca.
Pemuda desa itu segera memutar balik sepedanya.
"Tunggu Bayu, aku bisa jelasin, bayuuuu...." Kata Laras sambil menahan Bayu yang akan pergi.
Bayu tanpa kata menapik tangan Laras dan pergi meninggalkan wanita cantik itu.
Laras masih memperhatikan Bayu dari kejauhan, berharap Bayu menoleh kepadanya. Tapi, itu tak akan pernah terjadi, karena hati Bayu sedang hancur sehancur hancurnya.
Bayu mengendarai sepedanya dengan tatapan kosong. Pelan pelan dia menambah kecepatan laju sepedanya.
Kini Bayu sangat kencang mengendarai sepedanya dengan tetes demi tetes air mata keluar membasahi pipinya.
__ADS_1
Bayu melewati jalan desa. Kemudian menuju pinggiran hutan bambu dan masuk ke jejeran hutan jati.
"EEEERRRRRRRRRRRAAAAAAAAAAAAAAAAAGG BANGSAAAAAATTTTTTTTTTTT" teriak Bayu sambil menangis di dalam hutan jati itu sembari terus menggowes sepedanya dengan kencang.
Hutan jati yang penuh dengan guguran daun lebar itu menjadi saksi kepedihan Bayu.
Bayu melaju sangat kencang, tanpa sadar dihadapannya ada akar pohon jati yang menjulang.
Bayu menabrak akar itu dan oleng.
"BRUUUUAAKKKKKKK"
Suara sepeda Bayu menabrak pohon jati.
Bayu terlempar dengan sepedanya. Terguling guling beberapa kali.
Ahirnya Bayu terlentang di samping sepedanya yang stangnya sedikit bengkok.
"HGGRRRRRAAAAAAAAAAAA HRRRRRAAAAAAAA AAAAAAAAAA GRAAAAAAAAAAAAAAA" Teriak bayu sambil menangis.
Ia tumpahkan semua air matanya. Kini bukan hanya tetes demi tetes tapi aliran air mata yang terjun terus menerus.
"Hiikksssss hikssssssss" Bayu menangis sesengukan hingga dia tak mampu berkata kata lagi.
Bayu menutupi wajahnya dengan lengan tangannya.
Tidak ada yang dipikirkan Bayu kecuali menumpahkan semua amarahnya dan air matanya.
Bahkan rasa sakit akibat menabrak pohon jati itu tak dihiraukan lagi.
empat jam berlalu.
Bayu masih dengan posisi yang sama, kini dia berusaha untuk bangkit tapi rasa sakit akibat kecelakaan tadi baru terasa.
terlihat cahaya matahari redup menembus diantara batang batang pohon jati.
Bayu sudah tidak menangis lagi. tapi kesedihan masih terlihat dari wajahnya.
Dia berusaha berdiri.
"aggggghhhhhhh" erang Bayu kesakitan.
dia tidak sadar kaki kirinya terkilir. dan tangan kananya terasa sakit.
dia mampu berdiri tapi dengan tertatih tatih.
"kalau aku mati disini, ngak ada yang nemuin jasatku nanti" pikiran Bayu yang mulai ngelantur.
Bayu seperti tidak kuat berdiri, tapi sekilas ia teringat akan Ibu, Bapak, Raka, dan sahabatnya Darman.
ingatan itu memberi kekuatan padanya.
ahirnya dia bisa berdiri dan menegakkan sepedanya. Beruntung bagi Bayu, walau setelah kecelakaan parah sepedanya masih bisa di gunakan.
hari mulai malam, Bayu tertatih mengendarai sepedanya menuju pulang. dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya dan cahaya purnama yang menerangi jalannya, Bayu berharap agar sampai di rumah segera.
__ADS_1