
...**************...
Larut,
Dengan secangkir kopi di genggamanku,
Aku bertekuk lutut dihadapan malam,
Dan bercerita pada bulan dan bintang,
Tentang cantiknya kamu siang tadi,
Lentiknya matamu saat menyapa mentari,
Aku tak pernah bosan,
Mengulang kilasan waktu bersamamu,
Hingga gelas kopiku menjadi ringan,
Aku tersadar,
Tak akan habis dongengku,
Hanya untuk menceritakan setiap inci senyumanmu.
Wahai sang pujaan.
...**************...
Bayu sesekali memperhatikan kekasihnya, gadis yang terlihat sangat lapar itu makan dengan lahap bakan tanpa memperdulikan pemuda di sampingnya. Bayu mengambil satu lembar tisu di hadapnya, berusaha menghapus noda di sudut bibir Putri.
Putri sedikit mengelak. "Mau ngapain.?"
"Itu ada sambal di bibirmu." Ujar Bayu.
Putri dengan cepat menjukurkan lidahnya di setiap sudut bibirnya.
"Hihh jorok.!" Kata Bayu sambil mengusap tisu di sekitar bibir Putri.
Putri tersenyum.
"Akhirnya. Senyumu berkembang lagi." Batin Bayu.
Mereka pun melanjutkan makan.
...Tak berapa lama....
Hidangan mereka pun lenyap bersisa tulang. Putri mengusap usap perutnya.
"Berapa bulan Buk.?" Canda Bayu.
Putri hanya diam sambil menahan senyumnya.
"Kenyang.?" Tanya Bayu.
"Seneng.?" Imbuh Bayu.
Putri kembali diam.
"Abis ini kita nonton, mau.?" Tanya Bayu.
__ADS_1
"Hmmmmmmm. Boleh lah." Ujar Putri kemudian meminum jeruk hangat di sebuah gelas kaca.
"Tunggu, nasiku biar turun." Imbuh Putri dengan menegakan badanya.
"Iya, aku bayar dulu sebentar." Kata Banyu beranjak dari duduknya dan segera menuju ke singgasana Mbak Zul.
"Berapa Mbak Zul.?" Tanya Bayu di depan etalase kaca berisi tumpukan bebek ungkep.
"Enam puluh ribu Mas e." Kata Mbak Zul sambil mempersiapkan pesanan pelanggan lain.
"Mau kemana to.? Kok pada rapi semua.?" Tanya Mbak Zul yang menerima uang 100 ribuan Bayu.
"Ngak kemana mana Mbak e. Niatnya memang mau mau makan disini." Ujar Bayu sambil menunggu kembalian.
"Owalah, mumpung masih sore, ya jalan jalan dulu ke Mall atau kemana gitu. duh liat kalian berdua ini, jadi inget pas aku masih muda dulu." Ujar Mbak Zul yang memberikan uang kembalian Bayu dan melihat Putri menghampiri Kekasihnya.
"Emang Mbak Zul pernah Muda.?" Canda Putri yang baru datang.
"Yo pernah to Mbak Putri, aku dulu waktu muda ngak kalah seksi seperti sampean. Cowokku banyak lagi dulu. Ya gara gara mbrojol anak lima badanku jadi oleng kayak gini." Kata Mbak Zul yang meladeni candaan Putri.
"Hahahaa. Yawes aku pamit dulu, makasi Mbak Zul." Ucap Putri setelah terpingkal mendengar cerita pedagang nasi bebek itu.
"Mari Mbak e." Kata Bayu pamit.
"Iya sama sama. Ati ati Le, Nduk." Jawab Mbak Zul.
Dengan Malam berpayung jutaan bintang, Bayu dan Putri keluar dari warung bebek sederhana itu.
"Jadi ke Mall.?" Tanya Bayu.
"Jadi lah." Kata Putri singkat.
Bayu hanya tersenyum, karena kekasihnya sudah bersikap seperti biasa lagi.
Pemuda pemudi yang dimabuk asmara itu mengendarai mesin beroda dua. Menyusuri jalanan kota dengan segudang hinggar bingarnya. Ada hati yang dipasrahkan di antara mereka, hingga terpancar kasih yang menorehkan senyum ceria.
...Kemudian....
Di suatu parkiran basement Mall.
Putri melihat ke sekitar, setiap inci sudut tempat yang ia pijak terus diamati oleh gadis cantik itu.
"Sengaja ya.?" Tanya Putri.
Bayu terlihat keheranan dengan pernyataan Putri. Bahkan ia sejenak terdiam saat melepas helemnya.
"Maksutnya.?" Tanya Bayu yang sedang melepas helem dan meletakkanya di spion motor.
"Gak usah pura pura." Ujar Putri.
"Hehe, ketahuan ya." Kata Bayu degan senyum nyengirnya.
Mereka berdiri tepat di atas tempat dimana Bayu menembak Putri beberapa bulan lalu. Ya mungkin hanya perkataan iseng namun siapa sangka hubungan mereka bisa sejauh ini.
"Ayok jalan." Kata Bayu dengan sedikit merentangan tangan kanannya ke arah Putri.
Gadis manis itu menyambut tangan Bayu dan mulai berjalan beriringan menuju pintu masuk Mall.
Bayu melirik gandengan tangan Putri.
"Sepertinya Putri sudah ngak ngambek lagi." Batin Bayu.
__ADS_1
Merekapun berjaan menyusuri lantai Mall yang terlihat kinclong itu, langkah demi langkah mereka lalui sambil bergandengan. Beberapa kali sorot mata tajam mengarah ke arah pasangan sejoli itu, seakan semua pasang mata itu iri akan romansa yang Bayu dan Putri pamerkan.
Bayu sepertinya ingin melakukan kilas balik perjalanan kencan pertama mereka dulu. Saat dimana Bayu seperti memiliki kehiduapan ke dua setelah beberapa musim dirinya menoreh luka karena Laras.
...Sampai di lobi bioskop....
Bayu melihat lihat jatwal film yang disajikan malam ini.
"Hmmm, nonton film horor aja, kalau Putri ketakutan, mau gak mau dia peluk aku nanti." Batin Bayu dengan senyum mesumnya.
"Hey, ngapain kamu senyum senyum.?" Tanya Putri pada kekasihnya.
"Eh, gak kok... mmmm nonton ini aja ya.?" Tanya Bayu dengan menunjuk poster film Insidious 3
"Hmmmmmm." Gumam Putri sambil memperhatikan poster yang ditunjuk Bayu.
"Yausah yang lain aja. Kamu kan penakut." Kata Bayu seperti menyindir.
"Aku, penakut.? Oke liat ini aja. Awas kalau kamu nanti jerit jerit kayak cewek.!!" Ucap Putri gusar mendengar kata kata Bayu.
"Oke, tunggu sini, aku beli tiketnya dulu." Titah Bayu kemudian berjalan menuju tempat penjualan tiket.
Tak berapa lama setelah Bayu memesan tiket.
Bayu kembali berjalan menuju Putri. Dari kejauhan, pemuda dengan rambut gondrong yang terikat itu memandang Putri kagum.
"Kamu memang cantik Put, beruntungnya aku memiliki kamu." Batin Bayu yang melihat kekasih hatinya itu yang memakai stelan mini dres dan jaket denim.
Langkah Bayu terhenti di hadapan Putri.
"Masih lama filmnya.?" Tanya Putri.
"Emmmm. Sekitar setengah jam lagi." Jawab Bayu sambil memperhatikan kartu tiketnya.
"Cari boba dulu boleh.?" Ucap Putri.
"Owh, ayoklah." Kata Bayu kemudian berjalan sambil terus memperhatikan tiket nontonnya.
Setelah beberapa langkah, Bayu baru sadar tidak ada Putri yang berjalan di sampingnya. Pemuda itu menoleh dan kembali menghampiri Putri.
"Kayak gak bawa pacar aja ya, jalan nyelonong sendiri.!!!?" Gerutu Putri pada Bayu.
"Oiya, aku lupa kalau kamu pacarku, abisnya kamu cantik pake baget sih." Rayu Bayu sambil menjulurkan lengannya.
Putri melingkarkan tangannya di lengan Bayu. Senyum langsung mengembang di bibir mereka berdua.
"Kalau sudah gini, ngambeknya mungkin udah ilang, dasar Putri." Ujar Bayu dalam hati dengan melangkah keluar loby bioskop bersama dengan kekasihnya itu.
Tak berapa lama mereka sampai di stand Boba. Putri mesan sedangkan Bayu duduk menunggu di sebuah kursi. Pandangan Bayu tak pernah lepas dari kekasihnya itu. Dalam benaknya merasa bersyukur kepada Semesta karena mengirimkan Putri sebagai pendampaing hatinya.
Putri datang menghampiri Bayu.
"Sudah.? Minta dong dikit aja." Ujar Bayu.
"Ngak Boleh.!!!!!. Ini Boba aku." Ucap Putri tegas setelah meminum bobanya.
"Ayo ke loby bisokop. Keburu mulai filmnya." Imbuh Putri.
"Yasudah, sambil di abisin Bobanya. Mana boleh bawa minuman ke dalam bioskop." Ujar Bayu.
"Iya iyaaaaa." Kata Putri kemudian meminum Bobanya lagi.
__ADS_1