BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Kabar Burung


__ADS_3

"Liat Bay. Bagus ya fotonya." Ucap Putri sembari memperlihatkan cetakan foto hasil photobooth barusan.


Bayu tanpa kata langsung mengandeng Putri menuju Darman.


"Darmanto. Gimana, gimana kabarmu.? Lama ngak ketemu e." Kata Bayu dan menyalami Darman.


"Baik Yu. Kamu gimana kabarnya.? sudah ngandeng cewek aja." Ucap Darman menyambut jabat tangan Bayu.


"Eh iya, kenalin Putri. Calon....." Ujar Bayu sembari memperkenalkan Putri.


"Kenalin Mas, Putri." Jawab Putri sembari menyambut jabat tangan Darman.


"Darmanto, panggil aja Darman. Aku pawangnya Bayu dulu waktu di Desa." Canda Darman sambil jabat tangan dengan Putri.


"Powang pawang, Pawang dengkulmu iku." Seru Bayu.


Bayu juga melihat orang tuanya yang duduk di meja samping meja keluarga Darman.


"Buk e, apa kabar sehat.?" Kata Bayu menyalami dan mencium punggung tangan Ibu Darman.


"Sehat Le. ealah, Bayu anaknya Pak Slamet udah gede gagah begini, sampek pangling ibuk Le lama gak liat kamu yang ngerantau ke kota." Kata Ibu Darman


"Hehe, Buk e bisa aja." Ucap Bayu sedikit GR.


Bayu sudah menganggap Ibu Darman seperti Ibunya sendiri, karena kedekatan Bayu Dan Darman dari semasa mereka kanak kanak.


"Wat, sudah jadi gadis kamu sekarang, gimana.? Udah punya pacar belom.?" Tanya Bayu pada Wati, adik perempuan Darman satu satunya.


"Halah Mas Bayu. Itu liaten Mbak Laras nikah to sama cowok lain." Ucap Wati sambil menyalami Bayu.


"Yowes ben Wat, namanya juga ngak jodoh." Ujar Bayu.


"Pie ki, sekolahmu sama Raka. Nakal ngak kalian.?" Kata Bayu kali ini menyalami Riski, adik laki laki Darman dan teman sebaya Raka adik Bayu.


"Ngak Mas, lancar semua." Kata Riski, remaja yang duduk di kelas 1 SMA.


"Yawes Ki, Wat, Buke, Dar aku mau ke tempat Bapak Ibuk dulu." Kata Bayu pada keluarga Darman.


"Hehh, iki pie pacarmu, masak mau kamu tinggal, tak ambil lho kalau mbok tinggal." Ujar Darman.


"Oiya, lupa aku Dar kalau ngajak Ibu Negara." Kata Bayu sambil menepuk nepuk kepalanya karena hampir saja lupa dengan Putri.


Mungkin karena Bayu terlalu bahagia, setelah sekian lama ahirnya bertemu kembali dengan keluarga sahabatnya, Darman dan akan bertemu orang tuanya hingga dia larut dalam euforia.


Bayu menunggu Putri yang menyalami Ibu Darman beserta adik adiknya. Keadaan jadi sangat canggung bagi Putri.


Setelah selesai menyalami keluarga Darman. Bayu kemudian mengandeng Putri menuju meja keluarganya.


"Pak." Ucap Bayu singkat kemudian salim dan mencium punggung tangan Bapaknya.


"Pie Le, sehat kamu disini.?" Tanya Pak Slamet, Bapak Bayu.


"Sehat Pak, Alhamdulillah." Ujar Bayu.

__ADS_1


Kemudian Bayu beralih menyalami Raka.


"Makasi ya Ka, udah jaga Bapak sama Ibuk saat Mas ngak di rumah." Kata Bayu.


"Iya Mas, Mas Bayu ngak usah terlalu khawatir." Kata Raka pada Kakaknya, Bayu.


Bayu beralih ke hadapan Ibunya. Bayu seketika bersimpuh di hadapan Ibunya yang sedang Duduk.


"Ibuk....." kata Bayu dengan mata berkaca kaca.


Tidak akan ada yang paham perasaan Bayu sebenarnya saat ini, kecuali Ibunya sendiri.


"Gimana kamu Le, sehat to di sini. Gimana keluara Pak De Arip, sehat semua.?" Tanya Ibu Bayu.


"Sehat Buk, Ibuk gimana.? Sehat kan.? Maaf Buk e, Bayu jarang pulang." Kata Bayu sambil masih bersimpuh di hadapan Ibunya.


"Sehat Le, wes jangan khawatir, Raka juga sudah pinter di rumah. Hmmm ngak nyangka e, anak pertama Ibuk sekarang udah gagah dan nganteng." Kata Ibu untuk menghibur Bayu.


Bayu perlahan bangkit dan mengusap matanya yang berkaca kaca.


"Nganu Buk, Bayu mau kenalin Ibuk sama seseorang." Kata Bayu sembari melambai ke arah Putri.


Putri datang menghampiri Bayu dan Ibunya.


"Ini Putri Buk, InsyaAllah, Putri yang nanti akan menjadi mantu Ibuk." Kata Bayu sembari memperkenalkan kekasihnya pada Ibunya.


"Buk, kenalkan saya Putri." Kata Putri sembil menunduk menyambut salam Ibu Bayu dan mencium punggung tangannya.


"Mbak Putri, cantiknya sampean. Maaf kalau Bayu banyak ngerepotin sampean." Kata Ibu Bayu.


Kemudian Putri juga menyalami Pak Slamet dan Raka, adik Bayu.


"Sini nduk, duduk deket Ibu." Kata Ibu Bayu.


"Ngih Buk." Ujar Putri singkat.


Kemudian Putri duduk di dekat Ibu, sedangkan Bayu duduk di dekat Raka.


Bayu memandang jauh mempelai pengantin, disana terlihat Laras yang sangat cantik dengan baju adat Jawa.


Kemudian Darman datang menghampiri pemuda gondrong itu.


"Yu, ikut aku ambil minum sebentar, masak pacarmu ngak kamu ambilin minum." Kata Darman sambil menepuk punggung Bayu.


"Oiya, ntar ya Put, aku ambil minum dulu." Kata Bayu pamitan pada kekasihnya.


Putri hanya mengangguk dengan ekspresi canggung.


Kemudian Bayu dan Darman berjalan ke arah makanan ringan.


Setelah beberapa jauh dengan kerumunan Darman berbisik pada Bayu. "Anu Yu, kamu udah dengar belum desas desus kabar."


"Kabar opo Dar.?" Tanya Bayu heran.

__ADS_1


"Tapi kamu janji jangan emosi." Ucap Darman lagi sambil berjalan.


"Iya apa, kok sukanya buat penasaran orang." Ujar Bayu mengikuti langkah kaki sahabatnya itu.


Darman berhenti sejenak.


"Anu Yu, kabarnya pernikahan Laras ini terkesan buru buru karena Laras sudah isi." Ungkap Darman yang telah menjadi sahabat Bayu sedari kecil itu.


Bayu sedikit terkaget, tapi di balik itu Bayu juga tidak begitu merasa heran.


"Hus, jangan ngomong yang ngak ngak Dar." Pemuda gondrong itu berusaha menampik perkataan Darman.


Kemudian mereka kembali berjalan.


"Ya aku denger denger aja kabar burung itu, urusan bener atau ngak ya pihak keluarga mereka sendri yang tau." Kata Darman.


Bayu merasa juga ada kejanggalan pada pernikahan Laras dan Boy ini yang terkesan mendadak. Kalau memang mereka berencana menikah jauh jauh hari, harusnya di kampus Putri kabar itu sudah menjadi kehebohan karena mereka adalah Raja dan Ratu kampus.


"Yawes berperasangka baik aja Dar. Pikiramu mesti yang aneh aneh." Ujar Bayu.


Kemudian mereka sampai di bagian makanan ringan.


Bayu mengambil 2 botol minuman ringan dan beberapa kue. Darman mengambil kue, kue, dan kue hingga wadah tempat kue Darman mengunung.


"Woe Darman. Malu maluin, ngambil yang sewajarnya aja." Kata Bayu melihat Darman yang begitu banyak mengambil kue.


"Halah beno wes Yu, mumpung gratis." Ucap Pemuda dengan badan gempal itu.


"Man Darman, nanti perutmu penuh duluan sebelum makan nasi." Ucap Bayu lagi.


"Kayak Baru kenal aku aja kamu Yu Bayu....." Ujar Darman.


Bayu hanya geleng geleng kepala dan berbalik badan untuk kembali ke meja tempat keluarganya berada.


"Yu, perasaanmu sama Laras gimana sebenernya.? Ya walaupun kamu sudah punya pacar baru tapi kayak e kamu ngak semudah itu lupain Laras." Ucap Darman yang berjalan di samping Bayu dengan mengunyah salah satu kue.


"Mungkin hanya Kamu sama Ibukku yang tau perasaanku sebenernya gimana Dar." Kata Bayu sambil menoleh ke arah pelaminan tempat Laras berada.


"Yawes, nasi sudah jadi bubur. Kamu sudah ada Putri, dia juga ngak kalah cantik di banding Laras." Ucap pemuda dengan baju batik itu.


"Iya Dar, ngak tau lagi kalau aku ngak ketemu sama Putri, bisa stres mungkin aku." Ujar Bayu yang sebentar lagi sampai di meja tempat Putri berada.


"Iya, saking stresnya pohon jati kamu tabrak pake sepeda kumbangmu." Sindir Darman tentang kejadian di masa lalu Bayu ketika pemuda desa itu melihat Laras mendua dengan Boy.


"Untung aku bawa air sama kue. Kalau ngak tak piting kamu Dar." Seru Bayu.


"Haha, bercanda Yu." Kata Darman sambil akan duduk di bangkunya.


Bayu kemudian menghampiri Putri.


"Minum dulu Put, ini ada kue juga." Kata Bayu.


"Iya, trimakasi Bayu." Ucap Putri dengan lembut.

__ADS_1


"Rasanya pengen ketawa liat Putri salting seperti ini." Batin Bayu.



__ADS_2