
"Hmmm, belum punya Bu De."kata Bayu ketika ditanya tentang pasangan.
"Paling nanti jodohmu di sini kayak Pak De mu," kata Bu De.
"Mungkin Bayu masih nyari nyari yang pass Dek," celetuk Pak De kepada Bu De.
"Ah ngak Pak De, juma masih belum kepikiran aja buat urusan itu." Jawab Bayu tapi tak seperti kenyataanya.
"Oiya, kabar Bapak, Ibukmu sama Raka bagaimana.?" Tanya Pak De.
"Alhamdulillah baik Pak De." Kata Bayu.
"Terahir kita ke kampung nya Slamet pas Bayu kelas 6 kayaknya, Raka Baru mau masuk SD. Iya Dek ya.?" Tanya Pak De pada istrinya.
"Iya Mas pas Raka mau masuk SD, Uswah juga pas masih bayi" Kata Bu De.
"Itupun pertama dan terahir aku ke sana Mas, mau kesana lagi tapi yo ngak pernah jadi jadi." Imbuh Bu De.
"Iya Dek, aku sendiri kalau kesana masih sungkan," kata Pak De.
Flashback.
"Arippppppp keluar Rippppp..!!!!!" Kata salah satu warga di depan rumah Slamet.
"Bakarrrrr aja bakarrrrr, bakarrr, bakarr." Suara gerombolan warga yang marah sambil membawa obor api dan pentungan.
"Tunggu jangan main hakim sendiri. Tenang dulu para warga." Kata Pak Kades yang menjabat saat itu.
Di dalam rumah.
"Rip Arip, tobat Rip !!!!. Ibuk sama Bapak sudah ngak ada, bukanya tobat malah menjadi jadi kamu." Kata Pak Slamet.
"Bukan aku Met, sumpah. Aku ngak ikut ikutan nyolong sapi itu." Kata Pak Arip panik.
"Ya terus warga ngapin dateng ke sini kalau ngak karena kelakuan kamu.!!!" Pak Slamet berkata dengan amarah.
"Makanya kamu udah di kasi tau berhenti bergaul dengan supri dan gerombolannya itu, lagian mereka juga orang luar kampung, kok masih aja kamu ikutin." Imbuh Pak Slamet akan membuka pintu.
"Met jangan Met. Jangan dibuka pintunya." Kata Pak Arip.
__ADS_1
"Terus, kamu mau rumah ini dibakar warga.?? Kamu ngak mikirin ada istri sama anakku juga ketakutan di kamar !!!!!!." Kata Pak Slamet.
Pak Arip hanya bisa pasrah sambil sembunyi di balik badan Pak Slamet muda.
"Bawa sini Arip.. biar kami cincang" kata salah satu warga.
"Tenang warga tenang." Kata Pak kades.
"Maaf para warga, andai kakak saya ada salah. Tapi berdasarkan keterangan kakak saya, dia tidak ikut aksi pencurian sapi itu." Kata Pak Slamet muda berusaha menenangkan warga.
"Ngak mungkin Met, gara gara dia suka masukin orang luar desa ke sini jadi gerombolanya makin senaknya sendiri." Kata warga sambil mengacungkan celurit ke arah Pak Arip.
"Tenang para warga," kata Pak Kades pada warganya.
"Jadi gini Met, emang barang bukti pencurian ngak ada pada Kakakmu, tapi semenjak Kakakmua bawa bawa masuk orang luar Desa, ada aja kejadian seperti ayam hilang, jagung hilang, sepeda hilang bahkan pernah kambing dan sekarang sapi ya g hilang." Kata Pak Kades Pada selamet.
"Saya juga tidak mau menuduh, tapi kakakmu dan gerombolanya pernah kepergok warga nyuri ayam, namun warga itu milih ikhlas. Tapi tidak untuk sekarang Met, para warga sudah jengah." Imbuh Pak Kades.
"Iya Pak Kades, saya mohon maaf sebesar besarnya atas perbuatan Kakak saya. Bila ada yang dirugikan akan saya ganti rugi." Jawab Pak Slamet.
"Kami ngak butuh ganti rugi, kami butuh kepala Arip," kata salah satu warga semakin menambah ngeri malam itu.
"Jadi gini aja Met, kami tau kamu ngak ada hubungannya, dan ada istrimu sama anakkmu juga di dalam pasti sedang ketakutan. Jadi Saya punya usul, bagaimana kalau Arip pergi dari Desa ini. Jujur saya sudah tidak sanggup lagi menahan amarah warga, saya takut hal hal yang tidak di inginkan akan terjadi." Imbuh Pak Kades.
"Baik Pak Kades, saya bicarakan dulu sama Kakak saya, beri kami waktu satu mingguan, selama satu minggu itu saya jaminannya kalau Mas Arip ngak akan macem macem lagi." Kata Pak Slamet muda.
"Yasudah, bagaimana para warga sepakat,?" Tanya Pak Kades
"Usirrrr....... Usirrrr....... Usir..... " Kata warga bersahut sahutan.
"Sekarang mohon bubar para warga, karena barang bukti tidak kita temukan disini jadi mohon tenang jangan main hakim sendiri." Kata Pak Kades.
Ahirnya para warga yang bergerombol di depan rumah Pak Slamet telah membubarkan diri.
Setelah Pak Slamet dan Pak Arip masuk rumah.
Pak Salmet beruasaha menenangkan diri dan berbicapa pada Pak Arip.
"Mas, sekali lagi kamu buat onar bukan hanya kamu yang dibakar warga, tapi rumah ini bahkan aku, istri dan anakku juga akan jadi korban. Sekarang kamu punya waktu seminggu buat keluar dari desa ini." Kata Pak Bayu sambil sedih melihat nasib Kakaknya.
__ADS_1
"Aku mau kemana Met,.?" Tanya Pak Arip.
"Maaf Mas, aku lebih mentingin istri dan anakku. Aku sendiri sebenernya sudah ngak sanggup sama kelakuanmu. Kamu itu Kakakku, harusnya kamu yang ngayomi aku ketika Ibuk dan Bapak sudah ngak ada, tapi kamu malah tersesat jauh dari jalan yang benar." Kata Pak Slamet
Pak Arip kemudian duduk, dia pasrah. Terlihat raut penyesalan dalam ekspresinya.
"Iya Met, aku sendiri ngak nyangka bakal kayak gini." Kata Pak Arip.
"Yasudah, besok aku akan coba jual separo bagian warisan sawahku. Anggap aja itu bantuan terahirku, ngak tau nanti uang itu kamu apakan pokok aku sudah ngak peduli lagi sama kamu andai kamu berulah lagi dan kenapa kenapa." Kata Pak Slamet.
Sesungguhnya Pak Arip juga sudah mendapatkan warisa. Hanya saja warisan itu tak tau kemana. Karena hobi Pak Arip yang foya foya judi, mabuk mabukan, dan main perempuan, tanpa terasa uang warisaya habis seketika.
"Wes kamu pulang, tidur. Jangan keluar keluar rumah lagi." Kata Pak Slamet.
Rumah Pak Slamet dan Pak Arip bersebelahan.
Memang khusus dibuat terpisah untuk warisan masing masing, hanya saja rumah Pak Arip sudah dijual paka Pak Slamet, tapi kakaknya itu masih diperbolehkan untuk tinggal di sana.
Beberapa hari kemudain.
Pak slamet menyerahkan uang penjualan sawah ke Pak Arip.
"Udah Mas, aku juma bisa bantu ini, Sekarang terserah kamu. Tolong dipergunakan sebaik baiknya. Dan andai ada waktu sering sering berkunjung ke Desa ini. Bagaimanapun Adikmu masih tinggal di sini." Kapta Pak Slamet padd Kakaknya.
Pak Arip memeluk Pak Slamet erat, kemudian salam pada Adik Iparnya dan mengendong Bayu kecil sejenak dan mencium pipinya.
Kemudian Pak Arip berlalu meninggalkan Desa. Ia meninggalkan Desa bukan karena paksaan warga tapi demi keselamatan keluarga kecil Pak Slamet.
Kembali ke masa kini.
"Terus Aku ke terminal surabaya, disana bingung mau ngapain, ahirnya jadi calo. Setelah itu ketemu Bu Demu masih jualan jamu, terus aku dulu coba usaha nasi campur tapi ngak terlalu laku karena udah banyak saingan. Ahirnya aku sama Bu Demu nikah dan usaha mie jawa. Sampai sekarang." Cerita Pak Arip panjang lebar.
"Iya Yu. Pak Demu ini preman preman tapi pinter masak. Ya aku jadi kepincut sama Pak Demu." Imbuh Bu De.
"Ya soalnya dulu di desa setelah kakek nenekmu meninggal, rumahku sama Bapakmu itu pisah, jadi ya udah biasa masak sendiri apa apa sendiri. Apa lagi kalau pas mabuk dulu sama kawan kawan. Pasti aku kebagian masak makanan buat pendamping minum miras." Pak Arip masih menceritakan masa lalunya.
"Tapi setelah ketemu Bu Demu ini terus nikah, aku berusaha untuk berubah. Bener kata Bapakmu keluarga memang yang paling penting." Imbuh Pak Arip.
"Walau jalan hidup Pak Arip rumit tapi dia bisa dapet jodoh sesimple itu. Sedangkan aku, walau jalan hidup ngk neko neko tapi jodoh juga masih ngambang. Memang semesta suka ngajak bercanda" kata Bayu Dalam Hati.
__ADS_1