
Tak ada hati yang tak rapuh, Tentu semua hati pernah merasa sakit dalam takaran yang biasa ataupun mematikan. Tapi cinta selalu bisa mengobatinya, walau terkadang cinta juga penyebab lukanya.
Kedua insan yang lahir dari cinta sang semesta itu telah menghubungkan ikatanya, baik Bayu maupun Putri pernah mempunayi masa masa kelam, tapi bak obat sebagai penyembuh luka, cinta mereka berdua juga sebagai penghilang lara.
"Aku jadi inget pas kita kencan pertama kali." Ujar Putri dengan senyumnya dan mengandeng tangan Bayu.
"Memang apa yang kamu inget.?" Tanya Bayu di samping Putri dengan langkahnya yang beriringan
"Aku dulu kekanak kanakan banget ya, suka pecicilan juga." Ujar Putri.
"Sampek sekarang kali.!" Sahut Bayu.
"Hehe, ya masih sih, sedikit." Kata Putri yang berjalan santai di samping Bayu sambil melihat beberapa stand yang di lewatinya.
"Tapi aku dulu juga gitu, sok gaya padahal norak. Kalau aku inget inget malah malu sendiri." Kata Bayu dengan tatapan memperhatikan Putri.
"Gak nyangkak ya Yu, aku bisa senyaman ini sama kamu."
"Aku juga Put, aku ngak pernah merasakan sebahagia ini."
Sepertinya asmara benar benar merasuki kedua anak cucu Adam itu. Genggaman erat, gandengan tangan, irama langkah beriringan dan senyum yang mereka tebarkan, membuat iri beberapa sorot mata yang tajam.
"Tak ada malam yang lebih indah dari malam ini. Andai bisa, aku ingin menghentikan malam dan berjalan di sampingmu sambil menggengm tanganmu, bagaimanapun caranya agar malam ini tak segera berlalu." Batin Bayu.
Tak berapa lama. Langkah pasti itu membawa mereka di sebuah parkiran basement Mall.
"Pulang kan.?" Tanya Bayu saat menaiki motornya.
"Hmmm. Cari yang anget anget." Ujar Putri yang akan naik di goncengan Bayu dengan helem yang sudah dikenakannya.
Putri menaiki Motor Bayu dengan duduk mengangkang. Bayu yang tersadar pun menoleh.
Sejurus kemudian Bayu melepas jaketnya.
"Lain kali kalau jalan, jangan pake minidres lagi ya. Kan ribet jadinya." Ucap Bayu yang menaruh jaketnya di atas pangkuan Putri untuk menutupi bagian paha kekasihnya.
"Iya, ini juga aku ngak nyaman sebenernya pakai ginian. Abisnya jengkel sama pacarku yang mata keranjang, peluk peluk cewek lain di depan mataku, memangnya aku ini kurang cantik apa.!!!" Ujar Putri sinis.
"Iya maaf, ngak gitu lagi. Tapi secantik cantiknya kamu, tetep kamu yang nomer dua." Kata Bayu dengan helem yang akan di kenakamnya.
"Gitu !!!!! Tengkar lagi aja yuk Bay. Apa kamu kurang puas kita seharian berantem." Ucap Putri dengan emosi.
Bayu tersenyum dan menoleh ke arah Putri kemudian berkata "Kamu tetap yang ke dua. Karena yang pertama tetap Ibukku."
Putri yang cemberut itu kemudian merasa malu dan menahan senyumnya.
"Ichhh Bayuuuuuu, nyebelin." Kata Putri dengan mencubit pinggang Bayu.
"Atahh tahh tah, ampun." Ujar Bayu kesakitan sambil mengenggam tangan Putri itu.
"Sakit Putri.!!" Imbuh Bayu.
__ADS_1
"Salah sendiri nyebelin."
Setelah cubitan itu terlepas, Bayu menarik tangan Putri.
"Sini tanganmu satunya.!!" Kata Bayu.
Putri seakan paham maksut Bayu yang ingin dipeluk. Tanpa pikir panjang, tangan Putri melingkar di tubuh Bayu.
"Kalau mau peluk bilang, jangan pakai drama." Kata Gadis manis di belakang Bayu yang membuat pemuda dengan helem di kepala itu tersenyum.
Kemudian Bayu menyalakan mesin motornya dan melaju.
Keluar dari basement Mall hawa dingin mulai menerjang Bayu. Tanpa jaketnya yang kini di pangkuan Putri, Bayu berusaha menahan dinginnya malam.
Seakan Putri paham akan apa yang Bayu rasakan, Gadis manis itu duduk lebih maju hingga tak ada celah lagi di atara tubuh mereka. Pelukan Putri semakin erat hingga Bayu dapat merasakan hangatnya tubuh Putri.
"Udah lebih anget sayang." Canda Putri.
Bayu hanya tersenyum tanpa kata.
Sejujurnya Bayu sedikit malu dengan sorot mata yang memperhatikan kemesraan mereka, tapi Bayu berusaha bersikap cuek, toh tidak setiap hari juga mereka mesra mesra manja.
Malam bertabur bintang itu menjadi saksi, betapa benih benih cinta sepasang sejoli itu berhamburan di sepanjang jalan raya.
"Bay, cari yang anget anget." Ucap Putri manja.
Laju motor Bayu tak begitu kencang, sehingga perkataan Putri bisa terdengar di gendang telinga Bayu.
"Aduh Put, tak kira kamu bercanda. Plis jangan, kita kan belum sah." Ujar Bayu dengan raut wajah bimbangnya.
"Eh, emang yang kamu maksut anget anget itu apa.?" Tanya Bayu balik yang mulai grogi.
"Ya apa kek, kopi, teh atau minuman mimuman anget lainya."
"Owlaah,... ronde mau.?"
"Iya boleh, lama juga ngak minum wedang ronde."
"Yawes kita cari ronde."
"Hey pemuda mesum, serius kamu tadi sempet mikir kita akan gituan.?" Tanya Putri sambil memeluk Bayu erat.
"Hehe, udah jangan dibahas." Kata Bayu yang ngengir malu.
Kemudian merkea melaju dalam senyap. Seakan Putri ingin terus menikmati memeluk badan kekasihnya yang hanya mengenakan kaos itu.
Laju roda tak akan terhenti hingga menemukan tujuannya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di warung wedang ronde Pak To.
"Ayo turun." Ucap Bayu setelah menurunkan dongkrak motornya di depan warung ronde.
__ADS_1
"Ini wedang ronde ter enak di Surabaya. Kalau malem malem abis jualan aku sering ke sini sama Adit." Imbuh Bayu.
"Oooooooo." Gumam Putri sambil menganguk angukan kepalanya.
Bayu menghampiri gerobak Pak To yang sedang menyajikan ronde pada pelanggan lain.
Warung ronde Pak To sangat sederhana. Hanya berisi gerobak di kelilingi kursi untuk duduk pelanggan, dan terlihat satu tikar lesehan di depan kantor ekspedisi yang telah tutup saat malam.
"Rondenya Pak To." Kata Bayu yang duduk di kursi depan.
"Owalah kamu To Yu. Adit ngak Ikut.?" Ujar laki laki paruh baya dengan uban di setiap helai rambutnya.
"Ngak Pak To, lagi ngak keluar sama Adit." Ujar Bayu dengan mengambil satu tahu goreng di hadapannya.
Bukan hanya ronde, tapi ada teh jahe, jahe anget bahkan ada beberap bungkus nasi banting dan gorengan juga dalam daftar menu warung wedang ronde Pak To.
Putri kemudian menghampiri gerobak Pak To setelah merapikan Rambutnya.
"Eh Mbak e, mana temen temenya kok sendirian.?" Tanya Pak To pada Putri.
"Ngak Ikut Pak De." Jawab Putri.
Bayu sedikit terbengong dan kunyahanya terhenti karena mendengar percakapan antara Putri dan Pak To. Seakan Pak To sangat aktab dengan kekasihnya.
"Owalah, malem malem lho Mbak e, jangan sering sering keluar sendirian." Ujar Pak To sambil menyiapkan wedang ronde Bayu.
"Ngak sendirian Pak De, wong aku sama pacarku." Ucap Putri.
"Lho iyo ta.? Terus mana pacar e kok ngak disuruh duduk sini.?"
"haahahahaha." Suara pingkal tawa Putri.
"Ya ini Pak De, pacarku lagi makan tahu."
"Lho Mas Bayu, sampean pacar e Mbak iki ta.?" Tanya Pak To dengan tangan yang terhenti saat akan menuang air jahe anget.
"Sek sek. Sampena kenal sama Putri to Pak To.?" Tanya Bayu.
"Wooo yo kenal, kan Mbak e ini sama temen temenya sering beli ronde atau nasi di sini."
Putri terlihat duduk di samping Bayu sambil tersenyum puas, seakan berhasil mengerjai Bayu.
"Iki rondene Yu." Ujar Pak To sambil menyajikan satu mangkok kecil wedang ronde.
"Iyo Pak To, terimakasi."
"Kamu teryata sering kesini.?" Tanya Bayu pada Putri.
"Kalau soal kuliner, wes jangan ditanya. Satu Surabaya sudah tak puterin." Ujar Kekasih Bayu.
"Halah, pret opo." Ucap Bayu kemudian menimun sedikit wedang rondenya.
__ADS_1
"Ini Mbak e, rondenya." Kata Pak To sambil menyajikan wedang ronde ke Gadis manis yang duduk di sebelah Bayu.