
Ahirnya Putri dan geng kembali berpeluh keringat, siapa sangka dagangan pentol bakar mereka bakal selaris ini.
Bayu dan Nanang sibuk membakar pentol. Putri, Astri dan Ita sibuk melayani pembeli.
...Kemudian....
Bulan purnama sedang terang terangnya, Putri dan geng mulai bisa sedikit mengatur nafas. Tak diduga pentol bakar mereka hampir ludes dalam beberapa Jam.
Putri duduk di belakang stand dengan Ita. Astri dan Nanang pergi mencari minuman. Tersisa beberapa tusuk pentol bakar di dalam sebuah keresek plastik untuk mereka nikmati sendiri nanti.
Bayu sedang melihat lihat kaos yang dijajakan Petruk di standnya.
"Maaf ya Truk, asap bakaranya jadi kena daganganmu." Ucap Bayu basa basi.
"Ah ngak kok bro. Asapnya kan lari ke belakang." Ucap Petruk.
Bayu kembali melihat lihat kaos yang tergantung berjejer di gantungan alumuniun itu.
Pemuda yang mulai menyukai kaos berwarna hitam setelah bergaul dengan Adit itu mengambil satu kaos bertuliskan nama Band Avenged Sevenfold.
"Wah... mantap, suka A7X juga." Celetuk Petruk.
"Yaaa lebih suka Sheila on 7 sebenernya, tapi beberapa tahun ini aku mulai denger musik musik yang lebih nendang di telinga." Ucap Bayu sembari memperhatikan kaos itu.
"Ini kamu buat sendiri.?" Tanya Bayu.
"Ya ngak juga bro. yang buat penjahit yang nyablon tukang sablon aku juma beli kain sama jual jadi aja." Kata Petruk yang berdiri di samping Bayu.
"Ya itu maksutku, ini hasil dari usahamu." Bayu berkata sambil melihat lihat lagi kaos lainnya.
"Ngomong ngomong berapa satu kaos ini.?" Tanya Bayu.
"Ya kalau buat kamu ganti biaya modal aja 35 ribu. Kalau orang lain aku bisa narik sampai 60 ribu." Ucap Petruk sambil menata gantungan kaos lainnya.
"Jangan dimurah murahin gitu lah, harga wajar aja Truk, nanti ngak untung dirimu." Ucap Bayu sembari menyocokkan kaos di badannya.
"Yaa..... atau ngak kamu beliin Putri juga, jadi 2 kaos aku kasih 50 ribu aja. Sama temen sendiri ngak perlu banyak cari untunglah, lagian aku yang makasi sama kalian. Karena aku ahirnya bisa deket dengan......." Ucap Pertuk dengan menuntun pandangannya menuju ke arah Ita sang pujaan hatinya.
"Bisa aja kamu, ya semoga lancar. Tapi masak Putri suka kaos item item model gini. Ngawor kamu Truk.!" Kata Bayu dengan tawa kecil.
"Lho kamu belum tau, dia juga suka musik musik yang agak keras. Juma aliran dia lebih ke gothic seperti Band Evanescence, Band Epica, nih Epica atau Nightwish. Mana tadi kaos Nightwish.!!!" Kata Petruk sambil menunjukan dan mencari kaos kaos bertuliskan Band kesukaan Putri.
"Pilihin 2 Truk. Aku yang Epica, Bayu kasih yang Avenged." Kata Putri tiba tiba datang.
"Siap juragan." Kata Petruk dengan gestur hormat dan kemudian mencari kaos yang diminta Putri.
"Kenapa kamu ngak bilang suka musik metal juga.?" Tanya Bayu pada kekasihnya.
"Hehe, kamu ngak nanya. Lagain aku takut kamu ilfel, cewek kok suka musik metal.!!" Ucap Putri.
"Ya ngak lah, ngapain ilfil. Malah keren tau cewek suka musik yang keras." Kata Bayu sembari mencari pecahan uang di tas selempangnya untuk membayar kaos Petruk.
__ADS_1
"Nih dua kaos." Petruk berkata dengan memberikan keresekan berisi 2 kaos pesanan Putri.
"Sip, nih uangnya." Kata Putri memberikan uang 100 ribuan pada Petruk.
"Eh Put, ini aja. Balikin uang Putri Truk.!!!" Ucap Bayu sambil menarik selembar uang berwarna merah di dalam dompetnya.
Putri dengan mata melotot memandang Petruk seakan mengancam.
"Maaf Yu, uang yang diterima tidak dapat dikembalikan, kecuali kalau ada kembalian." Ucap Petruk yang akan memberikan kembalian pada Putri.
"Gak usah isi kembalian, ambil aja." Ucap Kekasih Bayu itu.
"Oke bos, makasi. Laris manis Laris Laris......." Kata Petruk sembari mengibas ngibaskan uang Putri tadi ke dagangan kaosnya sebagai ritual penglaris.
"Oiya Truk, kalau Astri sama Nanang dateng, kamu ikut kumpul sebentar di belakang."
"Ada apa Put.?" Tanya Petruk.
Bayu masih terbengong dengan sifat loyal kekasih hatinya itu.
"Ada deh, ntar tak ceritain." Kata Putri singkat kemudian pergi dari stand Petruk sambil mengandeng Bayu.
"Makasi Truk." Ucap Bayu yang mengikuti langkah Putri.
...Belum beberapa langkah....
"Woe disini ternyata daganganmu." Ucap seorang Pria.
"Wee e e e e e Adit dan Bumil."celetuk Bayu setelah melihat keluarga kecil sahabatnya itu.
"Aku sama Adit sampek muter muter nyariin daganganmu, kirain di depan depan sana." Kata Novi sambil mengusap usap perutnya yang telah membesar itu.
"Hehe, Maaf Nov lupa ngasi tau, lagian kalau bagian depan kios model cafe, kita juma dagang kecil kecilan ya di bagian sini." Kata Bayu dengan ekspersi bahagia karena kedua sahabatnya mengunjungi standnya.
"Owalah, yawes. Emmm aku pesen pentol bakarnya donk. Pengen dari tadi." Ucap Novi.
"Aduh maa~" Kata kata Bayu terpontong karena tangan Putri membungkamnya.
Adit dan Novi terlihat tercengang.
"Dintunggu ya Kak, biar dibakarin Bayu sebentar." Kata Putri kemudian melepaskan bungkaman tanganya dari mulut Bayu.
"Kamu pasti Putri ya, Pacarnya Bayu. Bayu banyak cerita tentang kamu Lho." Kata Novi dengan tatapan ramah ke Putri.
"Ah masa sih Kak, emang cerita apa aja.?" Tanya Putri penasaran.
Bayu mengedip ngedipkan matanya ke Novi sebagai isyarat untuk jangan membongkar ceritanya tentang Putri.
"Hehe nanti aku ceritain." Kata Novi dengan senyum ramah.
"Hebat kamu Yu, belum beberapa lama di Surabaya udah dapet pacar idaman." Kata Adit sambil geleng geleng memandang Putri dari ujung rambut dampai ujung kaki.
__ADS_1
Cubitan Novi mendarat di lengan Adit.
"Aduhh duh duhh." Teriak Adit.
"Mata, mata. Inget mau punya anak jangan ganjen." Kata Novi.
"Siapa yang ganjen sayang, kan juma ngomong aja." Kata Adit sambil mengusap usap bekas cubitan ita di lengannya.
"Maaf ya Put, Adit emang mata keranjang." Kata Novi.
Putri hanya tersenyum bingung melihat situasi saat ini.
"Emm yasudah, Kak Novi duduk dulu ya sambil nunggu pentol bakarnya. Aku cariin kursi sebentar." Kata Putri sambil berjalan ke dalam stand petruk untuk meminjam kursi.
"Makanya Dit di jaga matanya, Kamu juga Nov, mau jadi Ibu jangan suka marah marah." Ucap Bayu seakan menasehati mereka.
Sontak Novi dan Adit menatap Bayu tajam.
"Eh anu aku mau bikin Bara api dulu." Bayu berkata kemudian nyelonong masuk ke dalam stand.
Bayu kembali membuat bara api yang mulai padam.
"Ini Kak, kursinya. Silahkan duduk." Terdengar suara Putri setelah mengambilkan kursi untuk Novi.
"Makasi Put." Kata Novi.
Kemudian Putri kembali ke meja dagangan, mengeluarkan kembali pentol di dalam keresekan yang rencananya untuk mereka nikmati sendiri nanti.
Bayu mendekati Putri sambil berbisik.
"Katanya buat kita bakar sendiri nanti.?" Tanya Bayu dengan nada pelan pada Putri.
"Ngak papa, lagian Kak Novi kayaknya lagi ngidam, kalau Ibu hamil ngidam harus keturutan." Ucap Putri pada kekasihnya.
"Ooo oke oke." Ucap Bayu dengan sedikit mengangguk.
"Besok kalau aku ngidam kamu siap kan nurutin apapun yang aku minta.?" Tanya Putri.
Bayu yang mendengar pernyataan Putri sedikit kaget, siapa sangka Putri sudah berfikir sejauh itu.
Seketika Lelaki gondrong itu memandang kekasih hatinya, membayangkan bila Putri sedang mengandung buah hatinya dan perutnya sebesar perut Novi saat ini.
Senyum Bayu tanpa sadar merekah membayangkan momen indah itu.
"Malah ngelamun.!!!" Celetuk Putri.
"Hehe, ngak sabar lihat perutmu membesar dan sedang mengandung anakku suatu saat nanti." Ujar Bayu.
Senyum tipis terukir di bibir putri, sembari menatap Bayu dan terselip sejuta doa beserta harapanya, Gadis manis itu berkata "Amin......"
__ADS_1