
Tugas pun tuntas, beberapa belanjaan diletakan Bayu di box belakang motor seperti tas kurir.
"Sudah mulai terang." Batin Bayu sembari memandang ke arah lagit yang mulai menunjukan warna kebiru biruan.
...Kemudian....
Helem Bayu telah terpakai, mesin motor menyala, gas siap diputar.
"Ngrenggggg." Bunyi motor Bayu dengan roda yang mulai berputar di jalanan tanah keras.
Jalanan kota Surabaya mulai ramai. Dari siswa dengan seragam abu abunya, pegawai kantor dengan dasi rapinya dan pegawai pabrik dengan memikirkan angsuran bulanannya Semua merayap di jalanan yang padat itu.
^^^Setengah jam kemudian.^^^
Bayu sampai di rumah Pak Arip.
"Maaf Pak De, agak lama." Ujar Bayu setelah turun dari motor dan meletakkan helemnya.
"Gakpapa Yu, memang belanjaanya agak banyak. Wong kemaren kan libur." Kata Pak Arip gang sedang mengasah pisau untuk menyembelih ayam.
"Petookk petok petok." Suara ayam nyaring ketika Bayu mengangkatnya dari dalam box.
Setelah Bayu melepaskan ikatan dari kaki ayam kampung itu, si unggas masuk kandang bersama beberapa kawanya untuk menunggu giliran disembelih esok hari.
Kemudian pemuda gondrong dengan rambut terikat itu masuk rumah.
Aktifitas seperti biasa dari Bayu. Membantu Pak De Arip dan Bu De Nur untuk mempersiapkan bahan bahan dagangan nanti malam.
...Saat siang....
"Huuuhhh tujuhhhh.... delapaannnnn." Erang Bayu yang sedang terlentang sambil mengangkat barbell di tempat gym.
Sejujurnya Bayu berolahraga selama ini dengan motivasi untuk membuat Laras menyesal. Dengan merubah penampilanya mungkin saja Laras bisa kembali pada dirinya. Tapi jelas semua itu tak akan pernah terjadi, karena Laras telah menikahi laki laki lain. Walaupun demikian, hal hal yang dilakukan secara konsisten pasti membuahkan hasil yang manis juga. Bayu kini memiliki badan yang atletis layaknya atlit sepak bola.
Bayu kemudian duduk setelah selesai menyelesaikan set latihan barbelnya.
"Gggrrrrrrrtt." Suara getar HP Bayu.
Dengan keringat yang masih bercucuran dia meraih HP di saku celananya.
"Putri." Batin Bayu.
Kemudian Bayu mengangkat HP itu.
"Halo, ada apa Put.?" Tanya Bayu sambil mengenggam Handphone di telingganya.
"Kamu di mana.?" Suara Putri terdengar di balik telefon.
"Lagi olahraga."
"Aku di rumah Pak Arip ini. Cepet Pulang."
"Ooo, iya iya, ini udah selesai."
__ADS_1
"Yawes, aku tunggu."
"Sip." Kemudian Bayu mematikan sambungan telefon itu.
Hubungan Putri dan Bayu memang sedikit aneh, terkadang mereka terlihat sangat romantis, terkadang terlihat seperti pertemanan biasa malah terkadang seperti Tom and Jerry dengan Bayu selalu jadi korban cubitan Putri.
Bayu kemudian beranjak keluar dari Pintu Gym dan menuju motornya dan segera Pulang.
...15 menit kemudian....
Bayu sampai di rumah Pak Arip dan memarkirkan kuda besinya di samping rumah. Terlihat motor Putri di depan.
Bayu masuk melalui pintu samping. Bu De Nur sepertinya sedang keluar, dan Pak De Arip sepertinya sedang istirahat.
Pemuda dengan kaos basah penuh keringat itu kemudian menuju ruang tamu.
"Dari tadi Put.?" Tanya Bayu setelah melihat kekasihnya itu duduk bersama Uswah, anak Pak Arip.
"Dari kemaren, yowes cepet mandi dulu. Udah di tunggu anak anak ini." Kata Putri.
Sepetinya Putri sedang membantu Uswah mengerjakan pekerjaan rumahnya. Mungkin hari ini para Guru di Sekolah Uswah sedang rapat, hingga anak perempuan Pak Arip itu belajar di rumah.
"Iya iya, sek tunggu." Ujar Bayu kemudain berbalik badan dan menuju kamarnya.
Tak berapa lama setelah Bayu selesai mandi dan siap keluar dengan Putri.
"Mbak tinggal ya Uswah." Pamit Putri pada gadis yang masih duduk di nangku SMP itu.
"Iya Mbak Putri, makasi ya sudah di bantu ngerjain PR."
"Iya Mas Bayu."
"Assalamualaiku." Salam Bayu dan Putri.
"Waalaikumsalam." Jawab Uswah yang masih membuka buku pelajarannya.
Uswah memang sudah menganggap Bayu sepeti kakaknya sendiri. Mungkin karena Uswah adalah anak satu satunya Pak De Arip sehingga sosok Bayu terlihat seperti kakak kandung baginya.
Setelah Bayu dan Putri melewati pintu rumah.
"Mau kemana emangnya, kok yang lain sampek nungguin.?" Tanys Bayu heran.
"Rapat paripurna. Wes jangan tanya tanya. Ayo cepet." Kata Putri yang sedang memakai sandalnya.
..."Iya sayangku." Goda Bayu....
Detik beralu menit berganti.
Bayu dan Putri sampai di parkiran rumah susun, basanya bila sudah memarkirkan motornya di sini pasti mereka akan ke warung Bu Tumini.
"Emang kamu belum makan.?" Tanya Bayu pada Putri. Mereka sedang di parkiran sepeda motor di bawah pohon besar dan rindang.
"Belum, makanya rapat di sini aja sambil malan siang." Ujar Putri.
__ADS_1
Terlihat dari kejauhan, Ita, Petruk, Nanang dan Astri duduk di depan warung.
"Tuh udah di tungguin lainya cepet." Kata Putri kemudian mengandeng tangan Bayu menuju arah teman teman mereka.
...Kemudian....
"Maaf ya, Bayu lama." Kata Putri setelah sampai di meja tempat berkumpul teman teman Putri.
"Ya gak papa. Maaf juga kita sudah makan duluan. Hehehe." Ucap Astri polos.
Kemudian Putri duduk di antara Ita dan Astri, sedangkan para laki laki duduk di hadapan para perempuan.
"Oke dimulai ya rapatnya. Langsung aja, jadi kita sepakat jalan jalan ke Ranu Kumbolonya jatuh pada Hari senin depan. Artinya satu minggu dari sekarang. Jadi bagaimana,? Apakah bisa semua.?" Tanya Putri pada teman temannya.
Semua hanya menganguk, kecuali Bayu yang sedang memperhatikan Farhan, anak Bu Tumini. Anak kecil kelas 5 SD itu sedang membuat layangan bersama teman temanya tepat di kursi samping Bayu.
"Bayu.!!!!" Tegur Putri.
"Eh iya iya. Aku oke oke aja." Kata Bayu memandang Putri.
Kemudian lagi Bayu memperhatikan Farhan dan temannya membuat layangan.
"Jadi inget dulu sama Darman, sering bikin layangan bareng." Batin Bayu.
"Mas Bayu tolongin boleh.?" Tanya Bayu pada Farhan.
"Emang Mas bisa.?" Tanya Farhan Balik.
"Ya bisa dong, ginian kecil." Kata Bayu kemudian meraih satu batang kecil kayu bambu dan pisau.
Bayu kemudian menyerut batang bambu itu sambil mendengarkan Putri berbicara.
"Petruk nanti mengatur perjalanannya, karena dia terbiasa naik gunung dan pernah ke semeru. iyo Truk.?" Putri berkata dengan pandangan ke arah Petruk.
"Beres wes Put." jawab Petruk.
"Nang.?" Putri bertanya pada kekasih Astri.
"Oke, aku nanti tak ambil cutiku." Jawab Nanang.
"Yu.? kamu gimana.?" Tanya Putri yang melihat Bayu sedang menyerut batang bambu.
"Aku tak tanya Pak De dulu, bisa ngak aku izin." Jawab Bayu.
"Ya harus bisa. kan ini sudah rencana."
"Ngak bisa gitu. boleh ngaknya kan aku harus tanya sama Pak Deku dulu."
"Ya nanti aku yang minta izin ke Bu De Nur. biar kamu dibolehin ikut."
"Jangan to Put, aku yang ngak enak."
"Ehem..... Kalu pacaran di tempat lain aja ya, ini tempat rapat." Celetuk Ita di tengah perdebatan kedua sejoli itu.
__ADS_1