BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Berlalu Dihadapan Bayu


__ADS_3

Pak Kades masih sibuk dengan kertas kertas di mejanya.


"Maaf ya Nak Bayu, sedikit berantakan." Kata Pak Kades sambil menata kertas kertas itu kembali.


"Ibuk sama Raka sehat Yu.?" Imbuh Pak Kades.


"sehat Pak, alhamdulillah." Jawab Bayu.


"Sebentar lagi kan sudah mulai musim hujan, pasti penduduk desa akan sibuk kembali ke sawah, apa lagi keluargamu Yu, biasanya Bapakmu kan ngurus ladangnya sendiri sama kamu sama Ibukmu" kata Pak Kades sambil memasukan kertas kertas itu ke dalam map.


"Iya Pak, tapi Raka sudah bisa mulai bantu bantu juga di ladang" jawab Bayu.


"Iya Yu, semoga banyak pemuda pemuda desa yang mau ngurus ladang kayak kamu sama temenmu Darman itu, masih mau kerja di sawah. Sedangkan pemuda pemuda lain pada merantau ke kota untuk nyari kerja." Curhatan Pak Kades yang semakin sedikitnya minat pemuda dibidang pertanian.


"Iya Pak, mungkin kalau merantau beda pendapatnya, bisa setiap bulan. Sedangkan kalau di ladang harus nunggu panen dulu, belum resiko resiko gagal panen atau harga yang anjlok" Bayu mulai bisa mengobrol lepas dengan Pak Kades.


"Ayo Yu.?" Suara Laras terdengar dari belakang bayu.


Bayu menoleh dan melihat Laras.


Laras degan sepatu sneakers putih, celana jogger abu abu, kaos putih berjaket bahan jeans, serta rambut yang terurai sebahu membuat Bayu benar benar terpana.


"Bayuuuu, ayo." Ucap Laras sekali lagi.


"Ehh iya." kata Bayu setelah bengong sesaat.


dan kemudian pemuda yang terkagum oleh pesona Laras itu beranjak dari tempat duduknya.


"Buk, Pak. Laras berangkat ya.?" Laras berkata sambil mencium tangan Ibuk dan Bapaknya.


"Iya nduk ati ati di jalan, jangan lupa telfon Bapakmu kalau sampai.?" Ibu Laras berkata.


"Iya Buk." Jawab Laras singkat.


"Saya anter Laras dulu Buk Kades, Pak Kades." Bayu sambil mencium tangan Ibuk dan Bapak Laras.


"Iya Yu, ati ati ya. Tolong tunggin Laras sampai naik bis ya, gak papa kan maaf ngerepotin lagi?" Kata Pak Kades


"Iya Pak Kades, saya ngak merasa repot sama sekali." Jawab Bayu.


Mereka berdua pun keluar pintu rumah.


"Laras berangkat, Assalamualaikum." Laras berkata.


"Assalamualaikum Buk, Bak." Ucap Bayu


"Waalaikumsalam," Ibu dan Pak Kades menjawab salam.

__ADS_1


Kemudian Bayu mengangkat koper Laras. Menaruhnya di depan jok motor. Bayu memakai helemnya, dan Laras juga memakai helem yang diberikan Bayu.


Mereka berdua pun siap berangkat.


Ngrenggggg nggeggggg.


Suara motor yang dibawa Bayu mulai melaju.


Laras terlihat melambai ke arah orang tuanya sembari berlalu.


Diperjalanan.


Bayu terdiam sepanjang perjalanan sampai keluar desa. Dia terlihat fokus di jalan. entah lidahnya membeku atau memang dia merasa canggung lagi karena melihat kecantikan wanita pujaanya itu.


Hingga saat akan sampai perkotaan.


Laras melingkarkan tangannya ke pinggang Bayu, jantung Bayu merasa berdebar. Kemudian Laras menopangkan dagunya di pundak kiri Bayu.


Tak ada sepatah katapun diantara mereka. Seakan mereka menikmati suasana itu. hiruk pikuk warga tak mereka hiraukan lagi. bahkan deru suara mesin kendaraan tak menganggu kemesraan dua sejoli itu.


jelas dibenak Bayu semua itu tak ingin cepat berlalu. bahkan andai bisa Bayu ingin kemesraan itu berlangsung selamanya.


Saat akan sampai terminal.


Bayu iseng menggeser spionya ke arah wajah Laras. Dan yang Bayu lihat Laras seperti sedang menangis. Laras menyadari bahwa Bayu memperhatikannya dari spion, segera Laras mengusap air matanya, kemudian gadis cantik itu tersenyum ke arah Bayu.


Bayu memarkirkan motornya Laras menunggu Bayu di depan parkiran..


"yuk Ras." Bayu berkata sambil membawa koper Laras


Laras hanya mengangguk.


Sesampinya di tempat tunggu bus.


Bayu berharap bus yang akan dinaiki Laras akan lama datangnya. Laras duduk sedangkan Bayu berdiri di samping Laras sembari melihat lihat ke arah pintu masuk bus.


"Bayu..." Laras berkata.


"Ya, ada apa Ras." Bayu menyahutinya sambil melihat Laras.


"Maaf ya bayu, maaf andai aku ada salah sama kamu." Laras berkata sambil matanya berkaca kaca memandang Bayu.


"Kamu ngak ada sal~~~~" Bayu belum sempat menyelesaikan kata katanya.


"Kamu mau kan maafin aku.?" Laras berkata memotong perkataan Bayu.


"Iya Laras...." Jawab Bayu singkat sambil mengusap kepala wanita cantik di hadapanya itu, walau Bayu tidak paham mengapa Laras terus menerus meminta maaf pada dirinya.

__ADS_1


" trimakasi Bayu, kamu memang laki laki yang sangat baik, dan kamu pantas mendapatkan wanita yang baik juga." Ucap Laras.


Bus yang akan di tumpangi Laras ahirnya tiba.


"Itu sepertinya bis aku, makasi ya udah anter aku Yu." Laras berkata sambil beranjak dari duduknya.


"Iya Laras, hati hati di jalan dan jaga diri Di Surabaya." Bayu berkata sambil ingin bersalaman dengan Laras.


Tanpa disangka Laras langsung memeluk Bayu. Pemuda yang sedang menegarkan dirinya itu sedikit kaget. Kemudian Bayu mengusap rambut laras.


Pelukan itu hanya berlangsung singkat. Tapi Bayu merasa pelukan itu seperti tanda perpisahan.


Laras menarik kopernya dan berlalu menuju bus. Koper Laras ditempatkan di bagasi oleh kernet bus. Sedangkan Laras naik dan duduk di samping cendela.


Terlihat laras tersenyum dan meneteskan air matanya sambil melambaikan tangan ke arah Bayu.


Sedangkan Bayu juga melambai balik ke Laras.


Bus yang di tumpangi Laras pun berangkat dengan menyisakan milyaran tanya. Mungkin karena Bayu pemuda yang sangat polos sehingga belum dapat memahami kepedihan yang dirasakan Laras, yang masih menjadi tanda tanya besar bagi Bayu.


Bayu segera menuju parkiran dan keluar dari terminal dengan motor pinjaman dari Darman.


tentu Bayu tidak melupakan jasa Darman, sehingga Bayu iseng mampir ke alun alun kota hanya untuk membeli pentol bakar kesukaan Darman sebagai tanda terima kasih. karena bila bayu memberinya uang Darman pasti akan sangat menolak.


Sesampainya Di Alun Alun kota.


sambil menunggu abang abang penjual menyiapkan pesanan pentol bakar, Bayu termenung duduk di pinggir trotoar.


dia masih memikirkan Laras, memikirkan kata kata wanita pujaanya tadi.


"ada apa sebenarnya degan kamu Laras..?" Bayu berkata dalam hati.


"semoga aku nanti punya tabungan untuk menemui Laras ke surabaya ." Bayu berkata dalam hati lagi sambil membulatkan tekatnya.


"Mas, pentol bakarnya." abang abang penjual pentol menyodorkan pesanan Bayu.


"iya Mas. trimakasi." jawab bayu sambil membayar pesananya.


kemudian Bayu melanjutkan perjalanya lagi untuk pulang.


perjalanan yang sangat menyedihkan bagi Bayu. ditinggal gadis pujaan dengan menitipkan jutaan bahkan milyaran tanya.


baru sebentar berpisah, rasanya Bayu ingin menemui Laras kembali dan mempertanyakan apa maksut perkataan perkataannya. tapi bubur tetaplah bubur dan tak akan pernah menjadi nasi, Bayu hanya mernunggu kesempatan yang telah berlalu.


sinar mentari redup terlihat di ufuk barat. kesedihan yang dirasakan Bayu layaknya mentari yang akan berpisah dengan celoteh dunia dan hilang ditelan malam. dalam hati Bayu merasa perpisahan dengan laras akan berlansung selamanya, tapi kesadaran Bayu terus menyangkalnya.


__ADS_1


__ADS_2