
"Aku sudah mengatakan semuanya, aku tak berharap balasan cinta darimu Bayu, hanya saja aku belum terbiasa melihatmu bersama Putri." Ujar Ita sembari memperhatikan kucing yang lewat di pekarangan rumah.
"Bila seperti itu, kamu ngak bisa mendiamkan Putri terus.! Dia tak tau apa apa tentang perasaanmu padaku, yang Putri tau kamu sangat membencinya karena dia menampar kamu imbas dirimu terus mengatakan hal buruk tentang aku." Kata Bayu dengan tatapan tajam ke Ita.
"Aku tau, aku salah tapi aku bingung Bayu.! Di satu sisi aku senang ahirnya Putri mendapat laki laki idamannya tanpa harus gonta ganti pasangan lagi. Tapi di sisi lain hatiku belum menerima bahwa laki laki itu kamu." Kata Ita dengan tenang.
Bayu sempat merasa GR karena ternyata banyak yang menyukai dirinya. Apa lagi salah satu wanita itu adalah Ita, cewek tomboy yang tidak gampang luluh oleh laki laki.
"Tapi kamu sadar kan posisinya, aku pacar sahabatmu. Mau bagaimanapun aku juga tak mampu berbagi hati. Dan ~~~" kata Bayu berusaha menjelaskan tentang keadaan mereka sskarang.
"Iya aku sadar, makanya aku berusaha menenangkan hatiku dulu, berusaha melepas semua rindu untukmu melenyapkan cinta ini tapi tak semudah yang aku pikirkan." Kata Ita.
"Suatu saat akan ada seseorang yang tulus mencintai kamu, akan ada laki laki yang menerima semua kelemahanmu dan bisa membuat tenang hatimu. Aku percaya, karena pada awalnya aku orang yang pesimis setelah hubunganku dengan seseorang di masa laluku hancur. Yang kamu butuhkan hanya mengikuti garis waktu yang ditulis semesta." Kata Bayu dengan menatap Ita yang sedikit merenung.
"Kamu ingin tau mengapa aku punya hati dan jiwa sekeras ini.?" Tanya Ita dengan tatapan ke arah Bayu.
"Ya aku juga penasaran, bagaimana wanita secantik Ita tidak bisa bersikap seperti layaknya wanita feminim lainya, pasti semua mempunyai alasan." Ucap Bayu dalam hati.
"Ya tentu saja." Kata Bayu sambil mengangguk.
"Ceritanya akan sangat panjang bila harus aku runut dari awal. Singkatnya, Aku dulu hidup bahagia dengan keluarga sederhana seperti keluarga lainya, banyak tawa canda kalimat mesra, aku pikir hidupku sangat sempurna di masa itu. Kemudian saat aku SD Ibuku mengandung adikku, dan datangnya calon pangeran muda membuat suasana keluargaku semakin harmonis. tapi naas saat adikku yang berkelamin laki laki itu lahir, dokter menyatakan bahwa dia meninggal. Semenjak saat itu keluargaku tak harmonis lagi. Ibu dan Ayah sering cekcok gara gara Ibu tak menjaga kandungannya dengan hati hati, tapi dewasa ini aku paham, bahwa bukan salah Ibu, melainkan sudah takdir semesta. Hingga ahirnya mereka bercerai. Aku mau tak mau ikut Ibu, karena ayah berencana untuk keluar negri menjadi TKI. tapi setelah itu aku selalu jadi target kemarahan Ibuku sendiri, ntah karena dendam pada ayah atau memang dia mulai tak waras, cambuk sabuk dan pukulan rotan sudah biasa menjadi makanan sehari hari bagiku." Cerita Ita dengan mata berkaca kaca.
"Kemudian Ibu menikah lagi dengan laki laki brengsek itu. Ibu yang hanya seorang pelayan warung makan di pasar pasti sangat bahagia karena akan ada seseorang yang mendampingi dan menghidupinya lagi. Tapi tidak denganku, Ibu semakin mengabaikanku dan lebih membela laki laki itu. Hingga Aku sangat terbiasa harus tersenyum di balik tangisanku. Bahkan aku sering berbohong pada guru saat menanyakan tentang luka lukaku bekas sabetan rotan atau cambuk sambuk yang ku bilang itu karena kesalahanku sendiri." Ita masih bercerita.
Bayu mendengarkannya dengan rasa Iba.
"Apa aku masi bisa menjalani hidup bila ada di posisi Ita saat itu.? " Ucap Bayu dalam hati.
"Kemudian saat aku SMP, di suatu hari aku berusaha diperkosa oleh Ayah tiriku sendiri. Ntah apa yang ada di otaknya, tapi pada saat itu tak tau mengapa aku seperti mempunyai kekuatan untuk melawan dan kabur darinya saat itu. Aku bahkan sampai lari menuju rumah temanku, karena bila aku bercerita pada Ibukupun dia pasti tidak akan percaya. Singkat cerita, hingga ahirnya aku diasuh oleh nenek dan bibi. Karena Ibu malah membela laki laki bajingan itu. Mungkin karena rasa trauma akan masa lalu aku jadi seperti ini. Aku terbiasa memendam semuanya sendiri bahkan dari saat itu aku tak mengenal rasa cinta lagi." Kata Ita dengan menghela nafas panjang saat ahir cerita.
"Aku ngak tau kamu mempunyai kisah serumit itu." Kata Bayu dengan rasa Iba pada Ita.
__ADS_1
"Ya cukup rumit, tapi kamu ngak perlu mengasihani aku. Aku cukup puas dengan jalan hidupku karena bisa merubah kepribadianku seperti yang sekarang." Ujar Ita.
"Aku bercerita bukan untuk mencari simpatimu, aku hanya ingin kamu tau, aku terbiasa melalui rasa sakit seperti apapun. Dan aku yakin bisa menghadapi rasa sakit hanya karena cintaku bertepuk sebelah tangan." Kata Ita sambil berdiri dan berjalan dengan langkah pelan ke arah pilar depan rumah.
Bayu sontak juga berdiri.
"Sekarang aku siap memaafkan Putri karena menampar aku." Kata Ita.
"Aku juga minta maaf." Ucap Bayu.
"Maaf Untuk apa.?" Ita berkata sambil berbalik dan berjalan menuju arah Bayu.
Bayu berdiri tapi tak mampu memandang Ita yang datang mendekatinya.
"Ya maaf untuk ~" kata kata Bayu terpotong kareana sang gadis tomboy sudah tepat berada di hadapan pemuda gondrong itu.
Tiba tiba Ita memeluk Bayu.
Terdengar tangisan lirih Ita.
"Peluk aku Bayu, untuk sekali ini saja." Ucap Ita dengan lirihnya.
Bayu menuruti Ita dan melingkarkan tangannya di punggung dan pinggang cewek tomboy itu.
Seakan waktu berhenti sejenak, karena tak ada satupun kode alam yang mengganggu mereka. Bahkan saat itu juga tak ada sehelai daun yang berani gugur untuk merusak suasana itu.
Ita saeperti menikmati pelukan hangat Bayu, terlihat senyum lega di balik linang air matanya.
Tak berapa lama.
Ita melepaskan pelukannya, Bayu pun demikian.
__ADS_1
Gadis tomboy itu mundur satu langkah dan berusaha mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Jangan ditahan, menangis itu juga manusiawi." Kata Bayu.
"Udah kok." Ucap Ita.
"Makasi Bayu, mulai sekarang aku bisa mengikhlaskan kamu dengan Putri, dan aku mohon ini jadi rahasia kita ber dua." Ita berkata dengan senyum tipisnya.
"Terimakasi. Tapi aku punya permintaan." Kata Bayu.
"Apa itu.?" Tanya Ita.
"Berbahagialah." Jawab Bayu.
Ita hanya mengangguk.
"Mmmm. Aku boleh kedalem bentar." Ucap Ita.
"Iya. Silahkan." Jawab Bayu singkat.
Kemudian Ita berjalan memasuki Rumah, Bayu masih memperhatikan Ita hingga pintu menghalangi pandangannya.
Bayu kemudian duduk lagi.
Dengan pandangan ke atas ia mengusap kepalanya dengan kedua tanyanya.
"Maaf Put, maaf. Tapi aku akan merahasiakan kejadian ini dari kamu." Ucap Bayu dalam hati.
Bayu tidak ada niat sedikitpun untuk mendua, tapi perasaan Ita dan pelukan itu lebih baik mereka dan semesta saja yang mengetahuinya.
__ADS_1