
Deru mesin roda dua mengantar Bayu dan Putri menuju tempat bazaar.
Di jalan.
Seperti biasa Bayu mengonceng Putri yang duduk menyamping, sedangkan satu plastik besar pentol tusuk itu kaitkan di bawah stang motor.
Saat lampu merah.
"Awwww." Suara Bayu kesakitan karea cubitan tangan kanan Putri di perut Bayu.
Putri hanya tersenyum dan tersipu.
"Sakit Put.!!!" Ucap Bayu.
Putri tanpa kata dengan senyum merekahnya.
Bayu kembali menarik tuas gasnya saat lampu berubah menjadi hijau kembali.
Dua sejoli yang dimabuk asmara, bersenda gurau di bawah lampu kota, para bintang jadi saksi kemesraan mereka, dan bulan hanya mampu geleng geleng kepala.
Saat di parkiran bazaar.
Bayu turun dari motor dan meletakkan helemnya di kaca spion, begitupun Putri. Bayu berusaha mencari lampu penerangan dan diangkatnya kaos di bagian perutnya.
"We, Putri Puspita Sari. bekas cubitanmu tadi jadi merah." Kata Bayu sembari memperhatikan bekas cubitan Putri.
"Biarain, salah sendiri." Ucap Putri sambil mengambil keresekan pentol tusuknya.
"Salah sendiri.? Emangnya salahku apa.?" Tanya Bayu.
"Salah sendiri bikin aku gemes." Jawab Putri kemudian melangkah sambil mengandeng tangan Bayu.
Pemuda gondrong itu hanya mengikuti arah gandengan Putri sambil mengusap bekas luka di perutnya yang memerah.
"Sini aku bawa." Kata Bayu meminta keresekan berat yang di bawa Putri.
Putri memberikan kresekan pentol tusuk itu. Dengan bergandengan mereka melangkah sejajar.
Tiba si stand mereka.
"Lamanya......... ini liat abis pentol bakarnya." Celetuk Astri melihat Bayu dan Putri datang.
"Macet Tri. Itu pentolnya ditata jangan ngomel ngomel." Ucap Putri sambil menunjuk plastikan pentol tusuk yang baru diletakkan Bayu di atas meja.
"Ya ngomel lah, dari tadi nolak pelangan gara gara kehabisan tau......" kata Astri
Kemudian Astri mulai menata pentol di etalase kaca sedangkan nanang mulai membuat bara api lagi.
"Sudah ada ya kak.?, Aku bungkus ya." Kata salah satu pelanggan menghampiri.
"Aku juga kak. Pedes ya." Pelangan lain ikut nyeletuk.
"Edan. Langsung ada yang dateng." Batin Bayu.
Sepertinya tidak ada yang curiga, akan mengapa Bayu dan Putri begitu lama hanya untuk mengambil stok pentol dagangan mereka.
Bayu kemudian menghampiri Putri yang duduk di belakang dengan Ita. Baru saja Bayu menyandarkan bokongnya.
"Put....... bantuin." Ucap Astri.
__ADS_1
"Tri.... Astri. Hiiihhhh, gak bisa liat orang mau santai.!!!" Gumam Putri.
"Bantuin dulu Put, kasian..." Ucap Bayu.
"Iya sayangku, sebentar ya." Kata Putri kemudian menghampiri Astri.
Saat Ita juga akan berdiri membantu teman teman mereka.
"Ta." Panggil Bayu singkat.
"Iya ada apa.?" Ucap Ita sembari memandang Bayu.
"Maaf." Bayu berkata.
Ita kembali duduk.
"Untuk apa.?." Tanya Ita lagi.
"Ita memang ngak ngerti atau pura pura ngak ngerti.?" Tanya Bayu dalam hati.
"Maaf kalau kamu lihat aku cium Putri tadi." Ucap Bayu sembari memandang Ita.
"Owh itu. Kenapa minta maaf.? Aku ngak ngerasa dirugiin." Jawab Ita tanpa memandang Bayu.
"Iya pokoknya aku minta maaf aja." Kata Bayu.
Sejenak keadaan sunyi di antara Bayu dan Ita.
"Aku sudah memutuskan Yu." Celetuk Ita.
"Memutuskan.?" Tanya Bayu.
"Menungguku.? Bukanya kamu sudah mengikhlaskan aku dengan Putri." Kata Bayu.
"Iya memang pada awalnya, aku ngak akan ganggu kamu atau memperngaruhi Putri lagi. Tapi bila Putri pada ahirnya bukan jodohmu aku siap mengantikan posisinya." Ujar Ita sedikit keceplosan.
"Maksutnya,? tunggu aku agak bingung." Ucap Bayu memandang Ita serius.
"Yaaa...... jodoh ngak ada yang tau Bayu. Ntah nanti pada ahirnya Putri akan bersanding denganmu atau bisa jadi Putri bersanding dengan yang lain." Kata Ita memandang Bayu tajam.
"Aku pasti akan bersanding dengan Putri Ta. Aku yakin.!!!!" Kata Bayu degan nada tinggi.
Wajah Ita perlahan tertuduk. Seakan ada sesal yang menghampirinya setelah mengatakan hal barusan dengan Bayu.
"Maaf kalau aku berkata dengan nada tinggi." Ucap Bayu menyesali perkataanya.
"Ngak papa Yu, aku yang salah punya pikiran seperti itu sebelum ini. Hmmm ngomomg ngomong kak Laras itu bener mantanmu.?" Tanya Ita.
"Mungkin iya atau mungkin ngak." Jawab Bayu.
"Maksutnya,?" Tanya Ita lagi.
"Aku dan Laras hidup bersama di satu Desa, dari kita kecil hingga dewasa kita selalu bertemu sehingga memunculkan suatu rasa rasa. Aku dan Laras menjalani hubungan itu yaaa gitu aja tanpa ada kata kata jadian atau sepakat untuk pacaran." Cerita Bayu pada Ita.
"Terus Kak Laras kuliah di sini, terus jadi pacar Kak Boy." Celetuk Ita.
"Ya seperti itu singkatnya." Jawab Bayu.
"Ngak heran juga, cewek cantik dan anggun seperti Kak Laras pacaran dengan Kak Boy yang notabene sultan di kampus ini, apa lagi kamu ngak nembak dia, ya bukan salah kak Laras juga kalau dia berpaling." Kata Ita.
__ADS_1
"Kamu hanya ngak tau fakta sebenarnya Ta, dia bukan berpaling, tapi dipaksa untuk berpaling. Suatu saat aku berharap Laras mengatakan yang sejujurnya langsung padaku." Kata Bayu dalam hati.
"Kamu masih cinta Kak Laras.?" Imbuh Ita.
Bayu terdiam tanpa menjawab.
"Itu yang membuat aku menyerah menunggumu." Kata Ita.
Pemuda gondrong itu menatap gadis tomboy dengan rambut sebahu itu.
"Andai hanya Putri aku masih bisa bertahan menunggumu Yu, tapi dengan Kak Laras..... Rasanya aku ngak sanggup. Dari segi apapun aku masih kalah jauh dibanding mereka. Suatu hal yang mungkin membuat kamu bisa menyayangi aku hanyalah kisah kelam masa laluku, itupun berselimut rasa empatimu. Lagian aku tau, jauh di lubk hatimu masih ada sisa cinta untuk Kak Laras." Kata Ita panjang lebar.
Bayu hanya mendegarkan dan terpaku tanpa mampu berkata apapun.
"Apa kamu ada sedikit rasa sayang sama aku Yu.?" Tanya Ita lagi.
"Emmm~~~" Saat Bayu akan menjawab.
"Ngak perlu kamu jawab. Apapun jawabanmu juga ngak akan merubah pendirianku, karena aku akan berusaha mencintai Rahmat." Kata Ita.
"Rahmat.?" Tanya Bayu.
"Owh, maksutku Petruk nama aslinya Rahmat." Kata Ita dengan sedikit senyum.
"Oalah......." Celetuk Bayu.
"Oiya Yu. Apapun yang terjadi tolong bahagiakan Putri. Karena aku tau dia mencintai kamu dengan setulus tulusnya." Ucap Ita.
"Atau hanya perasaanku, sepertinya Ita menyembunyikan suatu hal." Kata Bayu dalam hati.
"Iya pasti Ta. Tenang aja." Kata Bayu.
"Dan andai suatu saat nanti timbul keraguan pada hatimu, datanglah. Aku akan siap ada buat kamu walau hanya sebagai sandaran sesaatmu." Ucap Ita.
"Apa kamu masih ada rasa sayang denganku Ta.?" Tanya Bayu dengan memandang serius gadis tomboy itu.
"Hmmmm yaaaaa sedikit sih." Kata Ita dengan berselimut ragu.
"Kalau gitu aku boleh minta satu permintaan.?" Tanya Bayu lagi.
"Apakah itu.? Asal ngak aneh aneh pasti aku usahain mengabulkannya." Jawab Ita dengan raut wajah bahagia.
"Seperti katamu tadi, Belajarlah mencintai Petruk. Kadang mencintai perlu sedikit paksaan. Bila kamu merasa bahagia dengan dia, teruslah mencintainya." Kata Bayu pada Ita dengan tatapan serius.
"Oke, tapi aku juga punya permintaan." Ujar Ita.
"Boleh, apa itu. Asal juga bukan permintaan yang aneh aneh." Jawab Bayu.
"Percayalah dengan Putri." Kata Ita singkat.
"Itu bukan permintaan Ta, itu hal yang selalu aku lakukan untuk Putri." Kata Bayu dengan tawa kecil.
"Oke jadi udah deal." Kata Ita sambil memberikan salam tos pada Bayu dengan tangan mengepal.
Bayu menyambut salam tos itu dengan kepalan tangan juga.
"Bayu.... Ita..... bantuin.....!!! " Terdengar teriakan Astri dari stand. Sepertinya gadis manja itu sedang kewalahan melayani pembeli.
__ADS_1