BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Panen Raya


__ADS_3

Hari demi hari Bayu lewati, sepertinya Bayu mulai terbiasa jauh dari Laras, bukan untuk melupakannya tetapi Bayu lebih fokus untuk menabung lagi agar bisa mengunjungi Laras di Surabaya.


Bulan terus berlalu, tanaman padi mulai meninggi, sejauh mata memandang Desa Sehat Mulia seperti hamparan karpet hijau terbentang luas, tapi karena takdir semesta tanaman padi tak akan selamanya berwarna hijau.


Hampir berganti musim. hujan tak lagi sering mengunjungi, hijaunya tanaman padi berubah kecoklatan dan butir butir padi mulai bergantungan.


Kemudian.


Panen raya. warga Desa Sehat Mulia sangat bersyukur ahirnya mereka menuai kesabaran, setelah dihantam badai hingga mengundang gelisah, kali ini semesta memberi hadiah dengan panen yang melimpah.


Di lahan Keluarga Bayu


Terlihat di kejauhan Bapak, Bayu dan dua orang buruh tani sedang memanen padi dengan sabit, Ibu sedang merontokan butir butir padi dengan seorang buruh tani, Raka juga di sana walau dia hanya bertugas memutar pedal mesin perontok padi manual milik Keluarga Bayu, sedangkan dua orang lagi bertugas memasukan gabah ke karung.


"Istrihata dulu Bayu." Bapak berkata sambil menegakan badan dan memegangi pinggangnya.


Pak Slamet memang semakin menua, tapi tenaganya masih prima dibanding orang orang seusianya.


Bayu menjawab dengan nafasnya yang terengah engah "huuhhh tanggung Pak, sebentatar lagi aja."


"Yasudah, bapak duluan ya.?" Bapak berkata sambil membopong padi padi yang telah dipanen ke mesin perontok padi.


Bayu masih meneruskan pekerjaanya. Panas terik tak melunturkan semangat Bayu , dengan topi capil sebagai pelindung dari murka Matahari, pemuda yang terlihat lelah itu masih berkerja dengan sabitnya.


Tak berapa lama.


bayu menyudahi pekerjaanya. Dia mengangkut hasil sabitan padi dan dibopong di bahu kanannya ke tempat mesin perontok padi.


"Ibu sama Bapak kemana Dek ?" Tanya Bayu sambil mendekati Raka.


"Pulang Mas, ambil makan siang katanya." Jawab raka sambil bermain air di saluran irigasi.


Setelah meletakkan hasil sabitan padi, Bayu membersihkan kotoran kotoran dari sekujur kaki dan tangannya.


Tak berapa lama.


Ibu dan bapak datang dengan membawa sepanci sayur lodeh yang ada dipangkuan Ibu, dan sebakul nasi beserta lauk, sambal, peralatan makan dari plastik beserta segalon air minum yang diletakkan di gerobak kecil dan ditarik dengan motor Bapak.


Dibawah pohon mangga dengan beralas terpal.


Keluarga Bayu dan para Buruh Tani makan bersama.


Para buruh tani berasal dari luar desa tempat Bayu tinggal, dikarenakan Buruh Tani di desa Bayu sudah punya lahan garapan sendiri sendiri dari sang pemilik sawah.


Dan juga Bu Slamet sudah kenal dengan para Buruh Tani yang dia pekerjakan sekarang, karena sering membantu keluarga Bayu saat panen raya seperti saat ini.

__ADS_1


setengah hari sudah mereka bekerja dan lahan kurang dari satu hektar itu hampir selesai dipanen.


Disaat suasana makan bersama.


"Bayu sudah jadi perjaka sekarang, ngak lama lagi bakal mantu Bu Slamet." Celetuk Buruh Tani perempuan 1.


"Ah belum Bu, masih lama kok, calonnya saja belum ada" jawab Ibu bayu.


"Yasudah sama anakku aja bagaimana.?" Canda Buruh Tani laki laki 1.


"Yo gak mau aku, lha anakmu aja udah punya dua anak." Celetuk Pak Slamet.


"Lha iya orang Bayu aja perjaka kok mau dikasi janda." Timpal buruh tani perempuan 2.


"Sama anakku aja Mas bayu." Buruh tani perempuan 3 berkata.


"Anakkmu yang mana mbakyu,? anakmu yang perempuan itu masih SD kelas 3." Kata buruh tani laki laki 2.


"Yawes anakmu itu nanti sama Raka aja. Kalau sudah besar" Bapak menambah meriah percakapan.


Mendengar percakapan mereka, Bayu hanya bisa senyum senyum saja.


Mereka berkumpul makan siang sambil bersenda gurau. Sepertinya suasana hati orang orang di pematang sawah itu sedang bahagia, karena panen kali ini tergolong sangat melimpah.


Biasanya bila panen melimpah seperti ini, para Buruh Tani juga akan kebagian bonus satu karung besar gabah.


"Apa mungkin nanti aku akan menikahi Laras ?" Tanya bayu dalam hati.


Dibenak bayu mulai ada rasa pesimis tentang hubungannya dengan Laras akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius.


Karena bayu sadar dia hanya pemuda desa yang terbiasa bermandi lumpur, sedangkan penampilan laras baru baru ini berubah 180 derajat. Bahkan Laras tidak bisa dikatakan gadis desa lagi.


Walau begitu bayu masih percaya bahwa cintanya dengan Laras masih terikat kuat.


Setelah makan siang, mereka mulai bekerja lagi.


Sebelum sore, padi sudah selesai dipanen. Tinggal memisahkan butir butir gabah dari dahannya.


Saat sore gabah sudah terkumpul, total ada 134 karung gabah dengan berat rata rata 40 kilograman.


Setelah semua alat kerja dibereskan, Bapak menyewa jasa beberapa ojek gabah untuk membawa ke rumah Bapak. Ojek gabah mampu mengangkut 6 sampai 8 karung dalam sekali jalan. Sedangkan karung karung gabah kecil dibawa sendiri dengan gerobak Bapak.


Tentu para Ojek gabah dan Buruh Tani mendapat bonus satu karung gabah diluar upahnya.


Hari mulai sore, sawah yang ramai mulai sunyi. Tapi kemeriahan panen raya belum usai, karena masih banyak lahan petani maupun lahan garapan buruh tani yang belum dipanen.

__ADS_1


Sore berganti malam.


Bayu sekeluarga merasa sangat lelah, tapi dengan hasil panen yang disimpan di gudang belakang kali ini mereka dapat bernafas lega, dan mereka juga berdoa semoga harga gabah tidak anjlok.


Ibu menyiapkan kopi dan teh hangat. Serta memasak makan malam dengan 5 bungkus mie instan yang dimasak jadi satu wajan.


kelelahan tergabar di raut wajah keluarga bayu, sehingga setelah selesai makan keluarga itupun seketika tenggelam dalam lelap.


Bapak seperti biasanya di kamar, Ibu dan Raka di depan televisi, sedangakan Bayu di kamarnya.


hanya suara jangkrik dan semilir angin di malam dingin kali ini.


tengah hari, bayu tiba tiba terbangun dari tidurnya.


"mimpi buruk apa aku barusan," kata bayu dalam hati.


segera dia ke dapur untuk mengambil minum.


setelah bayu kembali ke kamar, ia duduk di meja belajar dan masih merenung tentang mimpinya.


"yang pasti tentang laras, tapi apa mimpinya,? hingga tiba tiba aku punya fitasat buruk." bayu lembali berkata dalam hati sabil berusaha keras mengingat mimpinya.


dibukanya buku kumpulan puisi untuk laras, dia memegang pena dan mencurahkan kegelisahannya.


firasat, aku benci mengatakannya,


ia hanya hadir dalam sekejab,


tapi menghujam batinku dengan tepat.


gelisah, mungin karena gelisah,


tanpa kabarmu aku tak tentu arah,


hingga kesadaranku menggila,


dan rindu yang terus menyiksa.


segera pulang, aku merindukanmu pulang,


dan segera datang, karena aku bosan menatap bintang,


jadi kumohon, segera pulang.


Bayu menutup bukunya, terlihat halaman kosongnya tersisa beberapa lembar. Bayu tak menyangka, puisi kerinduanya hampir menghabiskan halaman dalam buku itu.

__ADS_1



__ADS_2