
Rasanya hujan sudah lama turun, tapi Ia tak kunjung menghentikan derasnya tetes air yang jatuh menghujam bumi.
LAPPPPPPP... DUWARRRR.....
Suara petir yang menyambar dari kejauhan, jelas suasana ini tak asik lagi.
Bayu beranjak dari tempat duduknya dan masuk meninggalkan halaman rumahnya.
"Aduh Le, petir.!!! jangan di luar rumah." Kata Ibu yang barusan kaget mendengar suara petir.
"Iya Buk, ini Bayu sudah masuk." Jawab Bayu sambil menaruh gelas kopinya di meja makan.
"Bapakmu belum pulang ya Le.?" Tanya Ibu sedikit khawatir.
"Belum Bu, mungkin nunggu hujan berhenti." Jawab Bayu yang juga terlihat khawatir sambil melihat keluar jendela dapur.
Tak ada tanda tanda hujan akan berhenti, rasanya angin juga bergabung dalam pesta hujan.
Gluduukkkkk..... gludukkkkk... gludukkk......
Gemuruh guntur terdengar.
Ibu yang sedang menggoreng tempe itu terlihat khawatir.
"Apa Bayu nyari Bapak aja ya Bu.?" Bayu berkata pada Ibunya.
"Jangan Le, bahaya.!!! Udah kamu di rumah aja." Ibu berkata dengan penekanan.
Ibu sudah menyiapkan nasi, sambal dan tahu terong tempe dan telur goreng.
Kemudian.
Sudah lewat senja, tapi Bapak belum juga pulang. Bayu yang setelah mandi pun enggan untuk mengambil hidangan di meja, karena dia masih kepikiran Bapak. Sedangakn Ibu sedang di kamar Raka, menyuapi raka agar mau makan dan mimum obat.
Sudah 2 jam berlalu tapi hujan belum juga ada ada tanda untuk reda.
Ibu sedang memasak air dengan sisa bara kayu bakar. Sedangkan Bayu duduk di kursi dapur dengan berselimut sarung.
"Bapakmu belum pulang juga ya Le.?" Ibu semakin cemas.
"Ya mungkin masih berteduh Bu." Jawab Bayu.
DUWARRRRRRRRRRRRR
Suara petir yang sangat keras.
Tanpa sengaja Ibu menjatuhkan gayung untuk mengisi air panas ke tremos.
"IBUUUUUUUUUKKKK." Suara raka terdengar dari kamar Bayu.
Raka tiba tiba berlari ke dapur dan memeluk Ibunya.
Firasat Ibu dan Bayu tiba tiba tidak enak.
"Buk, Bayu cari Bapak dulu ya.?" Bayu langsung meraih sepeda kumbangnya dan akan menuntunya ke luar rumah.
__ADS_1
Saat Bayu akan keluar rumah terdengar suara motor Bapak berhenti di halaman.
"Assalamualaikum." Bapak masuk rumah dengan basah kuyub.
"Waalaikumsalam.. Owalah Pakkkkk, kemana aja.? ngak cepet cepet pulang hujan badai begini." Kata Ibu sambil terlihat lega.
"Berteduh buk di warung Pak Somat, tapi hujan ngak reda reda juga ya ahirnya Bapak terobos aja hujannya." Kata Bapak sambil menggigil akan menuju kamar mandi.
"Makanya kalau sudah mendung cepet pulang." Kali ini Ibu terlihat jengkel tapi dibalik kejengkelannya Ibu juga sangat lega.
Ibu menuangkan air panas bekas rebusan sisa bara api tadi ke dalam bak plastik untuk Bapak mandi.
"Iya Bu maaf, jangan marah marah. Malu sama anak yang sudah perjaka semua." Bapak berkata sambil mengangkat bak plastik ke kamar mandi.
Kemudian.
Kelegaan mewarnai keluarga itu. Setelah Bapak mandi mereka makan Bersama di dapur, sedangkan Raka masih duduk di samping pintu dapur menuju ruang utama sambil makan tahu goreng dan membaca buku pelajarannya.
Kondisi dapur yang bocor di berbagai sisi itu tidak melunturkan kehangatan keluarga Bayu saat itu.
"Bapak jadi inget pas Bayu lahir dulu." Kata Bapak sambil makan.
Ibu tersenyum tipis, seperti sedang mengenang masa dulu.
"Emangnya kenapa Pak pas Bayu lahir dulu.?" Tanya Bayu.
"Ya cuacanya mirip seperti ini, lagi badai besar dan angin kencang." Kata Bapak.
Flashback
"Sabar dek tunggu, Mas Arip sedang memanggil Dukun Beranak." Jawab Pak Slamet.
Mas Arip adalah kakak dari Pak Slamet. Terkenal sebagai Preman kampung.
"Ujan badai gini Mas Arip bisa sampai ngak ya, aduh gusti bagaimana ini.??? " Gerutu Pak Slamet muda dalam hati.
Gubrakkkk...
Suara pintu kayu di buka dengan keras.
"Mett, dukun beranaknya dateng.!!!" kata Pak Arip dengan basah kuyub mempersilahkan sang Dukun Beranak masuk.
Pak Slamet memberi anduk pada Sang Dukun beranak untuk mengeringkan tubuhnya sambil membantu persalinan Bu Slamet.
"Tolong bikin air panas dan lap anduk, dan Bapak tolong cari kain bersih dan kain biasa." Kata Dukun Beranak pada Kakak Adik itu.
"Aaaaaaaaaaaggggggg" Suara Bu slamet berteriak...
DUWARRRRRRR WUSSSSSS WUUSSSSSSSS
Suara petir dan badai bersahut sahutan.
"Sedikit lagi Bu, kepalanya sudah kelihatan." Kata Dukun Beranak.
"Iinggggggggggg emmmmmmmmmmm" Bu Slamet mengeden.
__ADS_1
Pak Slamet membawa air panas dan lap dari dapur, dan menyelempangkan kain bersih di pundaknya..
Sedangkan Pak Arip sedang di dapur. Walaupun dia preman sebenarnya dia takut dengan darah.
Tak berapa lama.
"OweeeekkkkkkÄ· oweeeekkkkkk" suara Bayi menggelegar di malam itu.
Anehnya badai perlahan berhenti, hujan menjadi rintik rintik air dan angin yang sedang murka perlahan melaju dengan semilir.
"Alhamdulillah." Dukun Beranak itu mengucap syukur.
"Alhamdulillah.." ucap Pak Slamet muda terlihat lega, karena sah dia telah menjadi Bapak.
Segera Dukun Beranak itu menjepit dan memotong tali pusar, kemudian membersihkan bayi. Sedangkan Pak Slamet Membersihkan ari ari untuk segera menguburkannya dan Pak Arip membantu menggali lubang di depan rumah.
Setelah Bayi bersih dan darah darah dibersihkan dari tempat tidur Bu Slamet, Pak Slamet segera mengadzani Bayi berjenis kelamin laki laki itu.
Kemudian.
Saat kondisi kamar sudah bersih dan Bu Slamet sudah bisa bersandar ia mengendong Bayi tampan itu dan berusaha menyusuinya. Betapa leganya wajah wajah orang orang di sana, termasuk Pak Arip.
sedangkan sang Dukun Beranak sedang di dapur menyiapkan ramuan ramuan untuk Bu Slamet.
"Mau di kasi nama siapa Met anak pertamamu.?" Tanya Pak Arip.
Pak Slamet dan Bu Slamet terdiam karena masih belum menyiapkan nama.
"Bayu." Jawab Dukun Beranak itu datang dan masuk ke kamar dengan segelas jamu.
Sontak Semua orang memandang Dukun Beranak itu.
"Artinya ANGIN, saat Bayi itu lahir angin badai mendadak tenang, itu pertanda alam menyambut tangisan pertama Bayi itu." Kata Dukun Beranak.
Bu Slamet hanya bisa mengangguk.
"Perkasa." Pak Arip spontan berkata.
sontak Pak Slamet memandang Pak Arip tajam.
"Ya to. Biar dia jadi anak yang tangguh seperti badai yang Perkasa. jadi namanya Bayu Perkasa" Imbuh Pak Arip.
"Kamu masih mabuk tuak yo Mas.?" Tanya Pak Slamet.
"Ngawur ae kamu, aku masih kontrol." Jawab Pak Arip.
Kemudian senyum orang orang di sana menghangatkan kamar sederhana itu.
Masa kini.
"Ya gitu ceritanya. sayangnya Dukun Beranak yang bantu kamu lahir dulu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dan meninggalnya pas ikut anaknya tinggal di Jakarta, gitu kabar yang Bapak denger kalau ngak salah." jawab Bapak sambil makan.
keluarga kecil yang penuh kebahagiaan. dan badai malah membuat suasana menjadi hangat bagi keluarga kecil itu, karena seandainya cuaca tidak buruk mungkin Bapak tidak di rumah sekarang. Bayu masih di kamar dan Ibu menonton televisi di ruang tengah dengan Raka.
__ADS_1