
Mereka kemudian keluar dari area makam.
Terlihat Novi yang masih sedih walau sudah tidak menangis lagi.
Novi duduk di kursi sebelah parkiran motor sambil menghapus sisa air matanya dengan tisu.
Sedangkan Adit dan Bayu berdiri di sebelahnya.
"Dit, es cendol...." Kata Novi sedikit manja.
Novi bukan wanita yang suka berlarut larut dalam kesedihan.
"Yaudah ayo." Jawab Adit sambil menyambut tangan Novi.
Di sebrang jalan tak jauh dari sana ada warung es cendol sederhana.
Mereka kemudian berjalan ke warung es itu.
Setelah sampai.
"Mas, es tiga." Kata Adit.
Kemudian mereka duduk di kursi plastik yang disediakan warung es itu.
"Gerahnya Hari ini." Kata Novi sambil mengibas ngibaskan jilbabnya.
Adit terus memandangi Novi.
"Kenapa liat liat, naksir.?" Kata Novi pada Adit yang terus memeperhatikan dia sedari tadi.
"Ya jelaslah, mana mungkin aku ngak naksir wanita secantik kamu." Kata Adit merayu Novi.
"Kamu sakit ya Dit, tumben banget kamu muji aku." Kata Novi heran.
"Muji salah, gak muji tambah salah." Kata Adit sambil menatap Novi.
Kemudian Novi melihat Bayu yang hanya diam saja dari tadi.
"Yu, kamu ngak lagi kesambet kan.?" Tanya Novi.
"Ngak lah Nov." Jawab Bayu.
"Esnya Mas." Kata Dagang es cendol sambil menaruh 3 Gelas es pesanan mereka.
__ADS_1
Mereka serentak mengaduk dulu es cendol itu agar gula merahnya tercampur.
"Emmm, Nov. Tadi yang di makam itu Kakak kamu.?" Tanya Bayu sambil terus mengaduk es cendolnya.
"Iya Yu. Namanya Mas Wahyu. Dia meninggal sekitar 3 tahunan yang lalu." Kata Novi sambil sedikit merenung.
"Sebenernya Wahyu temen satu sekolah aku. Juma kita beda jurusan. Dia Di SMKnya Aku Di SMAnya." Kata Adit sambil minum es cendolnya.
"Wahyu meninggal karena suatu kecelakaan saat pulang kerja. Pengemudi mobil mabuk menabraknya." Imbuh Adit.
"Aku yang saat itu pulang dari bantu bantu Pak Arip kaget ketika ada bedera kuning di depan Rumah Novi. Ternyata itu Wahyu." Adit terus bercerita sambil mengaduk ngaduk es cendolnya.
"Sebenernya Aku dan Adit punya firasat buruk beberapa hari sebelum kecelakaan. Aku sering denger Mas Wahyu bilang ke Adit, tolong jaga Novi. tolong buat Novi bahagia." Ucap Novi sambil meniruka kata kata Wahyu.
"Ya saat itu Aku dan Novi masih pacaran main main. Dan ngak paham mengapa Wahyu bicara seperti itu, padahal Dia ngak pernah bener bener setuju hubunganku dan Novi." Adit berkata pada Bayu.
"Kami sungguh kehilangan. Wahyu juga yang mengajakku untuk bantu bantu pak Arip. Karena dia tau kondisi keuangan keluargaku yang kritis karena orang tuaku cerai. Ahirnya aku ikut Pak Arip saat kelas 2 SMA, jadi pagi aku sekolah malamnya aku jualan bantu Pak Arip." Cerita Adit terus berlanjut.
"Iya Yu, sepeninggal Mas Wahyu Hubunganku dan Adit ya sudah, gitu gitu aja. Aku ngak keberatan bila Adit punya pacar lain, bahkan Aditpun juga merasa begitu." Kata Novi.
"Tapi ahirnya kamu dateng Bayu. Ya walau kamu seperti beda usia 2 tahun di bawah Wahyu, tapi sekilas kamu mirip dengan dia. Potongan rambut wahyu juga mirip kamu, sebenrnya dia pengen gondrong tapi ngak pernah keturutan. Karena selesai sekolah dia sudah keterima kerja di salah satu Hotel di daerah pusat kota." Adit bercerita dengan sesekali meminum es cendolnya.
"Itulah mengapa aku ngak ngerasa cemburu saat kamu gonceng Novi pas pulang dari nonton, karena itu juga kebiasaan Wahyu dulu saat selesai jalan jalan ke Mall, Novi langsung pulang dengan Wahyu dan aku pulang sendiri." Adit melanjutkan kecitanya.
"Dan kamu itu kalau di ajak belanja pakaian nurut sama kata kataku, persis seperti Mas Wahyu yang selalu suka barang barang yang aku pilihin buat dia. ngak kayak Adit, rewel aja dipilihin belanjaan." Kata Novi dengan menatap Adit sinis.
"sepertinya Novi sudah ngak sedih lagi." kata Bayu dalam hati.
"Memang kamu ngak bisa gantiin Wahyu, tapi adanya kamu memberi arti lagi buat Aku dan Novi." Kata Adit.
"Ah jangan bilang gitu Dit, kamu berlebihan. Aku hanyalah pemuda Desa yang berusaha merubah hidup di kota. Tapi aku makasi sama kalian. Ternyata aku ketemu orang orang baik seperti kalian. Aku sebenarnya sempet ragu mau ke Surabaya, tapi dengan adanya kalian aku jadi lebih nyaman dan PD sebagai anak desa yang numpang hidup di kota." Jawab Bayu.
"Iya sama sama Yu." Kata Adit sambil menepuk nepuk punggung Bayu.
Mereka masih menikmati es cendol masing masing.
Matahari bersinar sangat terik, lalu lalang kendaraan begitu ramai meninggalkan jejak polusi.
"Oiya Yu. Aku dapet info, hampir aja kelupaan." Kata Adit.
"Info apa Dit.?" Tanya Bayu.
"Kan aku tanya sama Edo temenku yang kuliah di UNESA. Dan dia hanya tau satu aja nama Laras di sana." Kata Adit.
__ADS_1
Bayu mendengar kata kata Adit dengan tegang. Apa itu Laras yang dia kenal atau bukan.
"Kata Edo, Laras yang dia tau adalah kembang kampus, dan dia pacaran sama anak pejabat sini namanya Boy." Kata Adit.
"Tapi kayaknya bukan Laras itu kan.? Kalau pacar anak Pejabat sini pasti dia sangat cantik." Imbuh Adit.
"Tenang aj~" Bayu memotong pembicaraan Adit.
"Iya Itu Dia Dit. Aku ingat Laras pernah ngajak Boy pulang ke Desa. Dan aku kenalan dengan Boy secara Langsung. Boy memang terlihat seperti anak orang kaya, karena dia mengantar Laras dengan mobil mewah waktu itu." Kata kata Bayu mencengangkan Adit.
"Bruuupppppp uhuk." Adit tersedak kaget sambil memuntahkan es cendolnya dan menepuk nepuk dadanya.
Sedangkan Novi tercengang tak percaya.
"Kalau itu bener Laras yang kamu maksut, pasti dia sangat cantik dan seksi sampai sampai jadi kembang kampus." Tanya Adit heran.
Novi mencubit lengan Adit dan berkata. "Kalau cantik dan seksi emang kenapa,?? Kamu penasaran.!!!"
"Aduhh duh duhh ngak ayang, juma penasaran aja." Kata Adit kesakitan.
"Dasar ganjen!!!" Kata Novi masih kesal.
Bayu hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
"Sudah sudah, mau lamaran juga masih berantem aja." Kata Bayu.
"Terus Laras itu seperti gimana orangnya Yu." Tanya Novi penasaran juga.
Adit menatap Novi tajam. Ternyata Novi lebih kepo dari pada Adit.
"Ya seperti yang di katakan Adit tadi. Cantik, seksi, Manis, Baik ~~~~" perkataan Bayu dipotong Novi.
"Stop.... Kalau Dia baik dia ngak akan ninggalin kamu. Jadi jangan bilang dia baik Yu." Kata Novi sedikit kesal.
Yang dikatakan Novi ada benarnya, tapi Bayu masih belum tau alasan Laras berpaling bisa jadi itu juga salah Bayu.
"iya Nov maaf." Kata Bayu singkat.
"Bayu jangan dimarah marahin ayang. kasihan, awas darah tinggi marah marah terus." Kata Adit pada kekasihnya.
"Biar, abisnya aku sebel sama Laras. walau aku ngak kenal dia, tapi dengan fakta bahwa dia pacaran sama anak pejabat dan ninggalin Bayu itu sudah jadi alasan kenapa aku sebel sama Dia. kok tega gitu lho...?" Kata Novi sedikit kesal.
"Sudah sudah, lagian belum tentu itu Laras yang sama. ayo pulang keburu gerah." Kata Bayu menenangkan suasana.
__ADS_1