BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Semua Percuma


__ADS_3

Di perjalanan pulang dengan diterangi cahaya purnama.


Bayu masih mengowes sepedanya dengan pelan. Dia sampai di jalanan desa, tinggal mengikuti jalur itu ia akan sampai di depan rumahnya.


Pemuda yang sedang hancur itu hanya fokus di jalanan. Bahkan saat dia melewati rumah Laras pun Bayu tak sedikitpun menoleh ataupun melirik.


Tak berapa lama.


Kesabarannya membuahkan hasil, ahirnya Bayu bisa melihat rumahnya meski dengan tenaga yang tersisa.


Sesampainya Bayu di depan rumah, Dia tak ada tenaga lagi untuk menyandarkan sepedanya, diletakkan begitu saja sepedah kumbang hitam itu hingga menyebabkan kebisingan.


BRAAAKKKKK


Suara sepeda Bayu jatuh.


Bayu memasuki rumah dan pergi ke dapur.


"Ibuk...." Bayu memanggil Ibunya lirih.


"Kamu sudah pul~" Ibu tidak menyelesaikan kata katanya setelah melihat kondisi Bayu.


"YA GUSTIIII...... kamu kenapa Bayu.??" Ucap Ibu kaget setelah melihat kondisi Bayu.


Kali ini sangat terlihat jelas kondisi Bayu di bawah sinar lampu.


Dengan kepala memar, tangan kanan bergambar banyak luka gores dan darah kering serta kaki kiri yang terlihat pincang.


Kemudain Bayu duduk di kursi dapur.


"RAKAAAAA RAKAAA..." Ibu berteriak memanggil anak ke duanya sambil segera mendekati Bayu.


"Iya Buk....." jawab Raka sambil berlari dari kamar mandi karena mendengar suara Ibu panik.


Raka sangat kaget melihat kondisi kakaknya itu.


"Mas kenapa Mas..?" Tanya Raka.


"Raka tolong panggilkan Pak Salim sekarang." Ibu berkata pada Raka.


Pak Salim adalah Dukun Urut Di Desa itu.


"Iya Buk." Jawab Raka singkat dan segera pergi dengan sepedanya.


Kemudian Ibu berusaha Membantu Bayu berjalan ke kamarnya.


Bayu sampai di kamar dan dia rebahan.


Ibu kembali ke dapur membuat air panas untuk membasuh badan Bayu.


Bayu membuka kaos yang terlihat sobek dimana mana, membuka celananya dan kemudian memakai kain sarung yang biasanya ia pakai untuk selimut.


Ibu kembali ke kamar Bayu dengan membawa Baskom besar berisi air hangat dan anduk kecil.


Kemudian Bayu duduk dan Ibu membasuh badan anak pertamanya itu.


"Kamu kenapa to Bayu.?" Tanya Ibu.


"Ngak papa Buk, juma jatuh dari sepeda aja." Kata Bayu singkat.


Ibu masih membasuh badan Bayu dengan anduk kecil yang diperas setelah dicelupkan di air hangat.

__ADS_1


Saat Ibu membasuh kaki Bayu.


"Aaaaakkkkkkk duhhhhhhh" Bayu berteriak kesakitan.


"Pasti keseleo kakimu ini Bayuu." Kata Ibu.


"Kamu bagaimana naik sepedanya sampai jatuh kayak gini." Imbuh Ibu sambil menatap Bayu tajam.


Ibu sudah mendengar kabar bahwa Laras diantar pulang naik mobil sama seorang Laki Laki. Ibu menduga pasti ada hubunganya dengan itu.


"Setiap orang pasti pernah kecewa Le. Tapi bukan berarti harus putus asa juga" Petuah Ibu pada Bayu.


Bayu sadar, Ibunya sudah menduga sebab musabab kenapa Dirinya sampai seperti itu.


Pemuda dengan luka hati dan raga itu hanya bisa tertunduk.


Tak berapa lama.


"Bukkk, Pak Salim sudah Datang." Suara Raka dari ruang tengah.


"Assalamualaikum, Bu Slamet." Kata Pak Salim.


"Waalaikumsalam, masuk Pak Salim," kata Ibu mempersilahkan sang Dukun Urut masuk.


"Langsung aja Pak Salim, Bayu lagi di kamar, sebentar saya ambilkan minyak urut sama bikinkan kopi dulu." Kata Ibu.


"Oooo iya iya iya, permisi ya saya masuk." Kata Pak Salim sambil memasuki kamar Bayu.


Sang Dukun Urut memeriksa kondisi Bayu. Memijit satu persatu anggota badanya.


"Iya iya iya, yang senbelah mana yang paling sakit.?" Tanya Dukun Urut.


Sang Dukun Urut memegang pergelangan kaki kiri Bayu.


"Adddaaahhhh dahhh dahhh" erang Bayu kesakitan


"Iya iya iya, untung juma keselo aja, paling semingguan sudah sembuh nanti" Kata Pak Salim.


"Gimana Pak, Bayu ngak kenapa kenapa kan.?" Ibu datang dengan membawa kopi dan minyak urut.


"Iya iya iya, ngak kenapa kenapa Mas bayunya, juma keseleo aja. Tangannya luka tapi ngak ada tulang yang retak." Kata Pak Salim.


"Tapi ada memar di kepala. Kalau seandainya nanti Mas Bayu mual atau pusing mending diperiksa aja di Puskesmas besok. iya iya iya, semoga luka di kepalanya juma luka biasa." Kata Sang Dukun Urut


"Iya, monggo di lanjut Pak" jawab Ibu kemudian keluar kamar.


Kemudian Pak Salim mulai mengurut badan Bayu.


Bayu hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit.


"Iya iya iya, gimana bisa jatuh Mas Bayu.? Balapan atau bagaimana ini. " tanya pak Salim basa basi.


"Ngak Pak, juma nabrak pohon." jawab Bayu dengan singkat.


"Ataaahhh tahhh tahhhhhh" teriak Bayu kesakitan.


"Sabar ya Mas Bayu, ini penyakitnya." Kata Pak Salim.


"UASEMMMMMMMMMMM" teriak Bayu kencang.


"Iya iya iya. wes tunggu setelah bengkak nanti, dalam beberapa hari bakal sembuh kok Mas Bayu." Kata Sang Sukun Urut pada Bayu.

__ADS_1


Bayu masih menahan sakit.


Kemudian.


Bapak pulang saat Pak Salim selesai mengurut Bayu.


Kemudian Sang Dukun Urut mengobrol dengan Bapak di depan rumah sebelum pulang.


Sedangkan Ibu menyiapkan makanan untuk Bayu.


Bapak masuk kamar Bayu.


"Gimana Le, ngak papa kan.?" Kata Bapak.


"Ngak papa Pak." Jawab Bayu.


"Yawes, Laki Laki itu harus tahan banting, apa lagi namamu PERKASA yang artinya kuat dan tak terkalahkan. Ya to.?" Ucap Bapak yang duduk di kasur Bayu.


"Iya Pak." Bayu menjawab singkat lagi.


"Yawes Bapak ke dapur dulu. Kamu cepet sehat ya.?" Bapak berkata sambil beranjak dari tempat tidur Bayu dan keluar kamar.


"Percuma perkasa tapi kalah sama sakit hati." Bayu berkata dalam hati.


Raka mengantar Mie instan dengan telur dan sayur untuk Kakaknya beserta dengan teh hangat.


"Mas makan dulu Mas." Kata Raka.


"Iya taruh dulu di meja, masih panas." Kata Bayu.


Raka memperhatikan Bayu.


" Mana yang sakit Mas.?" Tanya Raka.


"Itu kaki kiri yang kelihatan bengkak." Jawab Bayu.


Raka yang penasaran mendekati kaki kiri Bayu dan gatal ingin memegangnya.


Saat tangan Raka akan memegang luka di kaki Bayu .


"Kamu pegang tak jitak kamu Raka.!!!!" Kata Bayu tegas.


"Heheheheheheheheeee" Raka tertawa.


"Wes keluar sana, Mas mau istirahat." Kata Bayu lagi.


"Iya iya iya, yawes cepet sembuh Mas." Kata Raka menirukan suara Pak Salim.


Kemudian Raka keluar dari kamar sedangkan Bayu duduk untuk mengambil Mie instan buatan Ibu.


Saat Bayu makan mie instan.


Bayu teringat akan Laras, hanya saja Bayu berusaha mengiklaskan apa yang telah terjadi siang tadi walau sakitnya hati masih sangat perih terasa.


setelah Bayu makan dan minum teh hangat buatan Ibu, pemuda rapuh itu berusaha untuk tidur. tapi sakit sekujur tubuhnya dan perih dalam hatinya tak bisa diajak kompromi.


Bayu bersandar lagi, ia melihat buku puisi untuk laras.


"semua percuma" dalam hati Bayu sambil melihat buku itu.


kemudian dia berfikir sejenak. Berfikir akan meninggalkan kedua orang tuanya dan adik reseknya, termasuk sahabat baiknya Darman, karena Bayu sudah tidak ada muka lagi untuk bertemu Darman.

__ADS_1


__ADS_2