BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Menempuh


__ADS_3

...*************...


Aku.


Di tengah Badai dikelilingi ombak lautan,


Dengan sampan dan dayung kayuku.


Aku tak tau arah,


Aku pasrah,


Karena sapuan angin memaksaku untuk terhempas.


Ku simpan sisa tenaga ini,


Hanya untuk dayungan terahirku.


Saat itulah,


Mercusuarmu menyala,


Menuntunku di tengah badai yang memberontak.


Sisa kesadaranku hanya tertuju kearahmu,


Hampir sampai, tapi dayungku patah terhempas ombak,


Lagi, Sampanku hanyut terseret ganasnya arus.


Melawan takdir berjudi pada nasib,


Akupun terjun di antara ombak yang meronta,


Kesadaranku mulai pudar.


Hingga ahirnya aku terdampar di ujung lembutnya butiran pasir,


Bersama angin semilir,


Pohon kelapa melambai,


Serta hangatnya mentari.


Dan aku sadari, kamulah pantai itu,


Kamulah penuntunku,


Kamulah secerca harapanku,


Dimana aku akan selalu menitipkan rindu,


Yaitu Kamu.


...*************...


Satu minggu kemudian. Di dalam angkutan kota.


Putri dengan mengenakan kaos raglan lengan panjang berwarna biru muda dan misty, celana gunung coklat panjang, sepatu gunung abu pekat.


Gadis itu terlihat cemas dengan kemacetan kota sore itu.


"Bay, macet." Ucap Putri dengan topi bucket hitam.


"Ya mau gimana lagi. Jalan utama Surabaya, arah mau ke bungurasih saat sore hari. ya gini.!" Ujar Bayu dengan mengenakan kaos merah maroon, kemeja lengan panjang yang disingsingkannya sesiku berwarna hijau pudar, dan sepatu gunung coklat tuanya.


"Kasian temen temen nungguin." Kata Putri lagi dengan mendekap tas carrier 25 liter berwarna hijau kombinasi hitam itu.


"Di WA aja, bilang macet, lagian ngapain juga jemput aku. Kan kamu bisa bareng Astri sama Ita duluan." Kata pemuda gondrong dengan rambut terikat itu.


"Ya maksutku kan biar bareng kamu naik motor, eh taunya kamu bawa tas gede." Kata Putri.


"Ya rencanaku gitu, mau berangkat naik motor sambil bawa tas carrier ini." Kata Bayu sambil menepuk tas carrier merah 50 liter di hadapannya.


"Tapi kamu dateng, yo mosok aku gonceng kamu sambil bawa tas gede gini sambil macet macetan lagi. Bayangkan Putri Puspita Sari.!!" Imbuh Bayu.


"Ya maaf, jangan cemberut."


"Hmm."

__ADS_1


"Senyum dong, aku loncat ni dari angkot kalau ngak senyum."


"Hemmmmmmmm" Bayu dengan senyum yang dipaksakan.


"Gitu dong, maksa senyumnya. Kan cakepnya setengah setengah."


"Tinnnn....... majuo cok..... tinnnn." Sentak supir angkot dan klakson yang bersahut sahutan.


Sekitar setengah jam kemudian.


"Suon om." Ujar Bayu yang telah turun bersama Putri dan membayar supir angkot. Angkot itupun kemudian berlalu.


Seketika, sepasang kekasih itu langsung menikmati panas terik serta serbuan polusi. Jejaka dan perawan itu langsung mencangklong tas mereka masing masing di punggung.


"Yuk cepetan Yu." Kata Putri yang akan menyebrangi jalan dan mengandeng Bayu.


Bayu berdiri terpaku dengan gandengan tangan Putri yang tak mampu mengoyahkan pancang kaki Pemuda gondrong itu.


"Mau celaka atau bagaimana.?" Ujar Bayu.


"Lewat JPO." Imbuh Bayu.


"Males e. Lewat jalan aja cepet."


"Cepet ketemu malaikat maut maksutnya, wes nurut, ayo." Bayu berkata sambil menarik gandengan Putri menuju Jembatan Penyebrangan Orang.


"Hufft.." Putri berjalan dengan gaya capeknya.


Di atas JPO sangat terlihat betapa sibuknya masyarakat Kota ini, berlalu lalang dengan tujuannya masing masing.


Bayu dan Putri terus berjalan, menuruni JPO hingga masuk ke area terminal.


"Anak anak nunggu di lajur bis ekonomi." Kata Putri yang berjalan di samping Bayu dengan HP di genggamannya.


"Abis ini kamu harus minta maaf sama temen temen lainya, ketua panitia kok telat. Ngak masuk blas.!" Ujar Bayu yang masih gusar karena kemacetan kota tadi hingga membuat teman teman mereka menunggu lama.


"Iya iya, udah dong cemberutnya."


"Mulai sekarang kamu harus nurut sama kata kataku, termasuk saat naik gunung nanti."


"Siap Bos, laksanakan." Kata Putri lantang.


"Sory sory, muacet buanget." Bayu yang Baru datang itu berkata.


"Maaf ya teman teman, macet tadi jadi agak lama kalian nunggunya." Ujar Putri.


"Agak lama.? Gimana gimana, coba bilang lagi Put." Sahut Ita.


"Hehehe, maaf dong, tadi Bayu marah marah, sekarag kamu Ita. Ah males wes tak balik ae." Ujar Putri yang akan Putar kanan.


"Ee e e e e." Ucap semua rentak. Sedangan Bayu menahan lengan Putri.


"Iya wes di maafin, ayo cepet naik bis. Keburu berangkat." Ujar Bayu.


Bus ekonomi di terminal Bungurasih sebenarnya selalu ada, hanya saja ngetemnya yang terlampau lama, sebelum penumpang melebihi separuh kapasitas, biasanya Bis itu tidak akan berangkat. Terminal Bungurasih ini adalah titik awal Bus itu menaikan penumpang.


Kemudian semua rombongan itu masuk Bus satu persatu dari pintu belakang. Di sebelah kiri Bus terdapat kursi dengan kapasitas dua orang, sedangkan di kanan kursi dengan kapasitas tiga orang, mereka duduk di bagian tengan Bus, dengan para Wanita duduk di deretan kursi sebelah kanan sedangkan para Pria di sebelah kiri, Bayu bersama Nanang dan petruk duduk di kursi depan Bayu.


Tak berapa lama Bus itupun berangkat.


Semua terlihat bersemangat dengan perjalanan panjang yang akan mereka lalui.


Saat masuk jalan raya, Bus berhenti sejenak untuk mengambil penumpang.


"Ahirnya bisa duduk bersandar juga." Batin Bayu.


"Gimana Nang kerjaanmu.?" Kata Bayu basa basi pada Nanang di sebelahnya.


"Ya gitu wes Yu. Kamu sendiri.?" Tanya Nanang Balik.


Sejalan dengan percakapan mereka, Bus ekonomi jurusan Surabaya - Jogja itupun melaju memecah kerumitan jalan Ibu Kota Provinsi.


Matahari mulai terjun perlahan. Sore segera usai dengan di gantikan malam.


Perjalanan mereka baru dimulai.


Saat gelap datang.


Mereka sampai di terminal Jombang, setelah turun dari Bus, kali ini mereka akan menaiki Bus lagi menuju Kota Malang. Bus yang akan mereka naiki sekarang berukuran lebih kecil dari pada bus tadi, karena perjalanan kali ini akan melewati jalur pegunungan dengan kanan kiri perbukitan dan jurang.

__ADS_1


Mereka telah berganti Bus dan telah berada di tempat duduk masing masing.


Bus kali ini berisi masing masing dua deret bangku di semua sisi. Mereka ahirnya duduk dengan pasangan masing masing.


"Aku seneng deh Bay." Ujar Putri di samping Bayu dengan suara sedikit berbisik.


"Seneng kenapa.?" Tanya Bayu degan suara rendahnya.


"Seneng, bisa duduk berduaan di samping kamu"


"Emang kamu ngak seneng,? Kok pertanyaanmu malah -seneng kenapa.?-." Imbuh Putri.


"Ya seneng, juma lebih seneng lagi kalau kita jalannya berdua aja." Ujar Bayu.


"Kenapa gitu. Pasti kamu akan melakukan hal yang tidak tidak padaku." Kata Putri dengan menatap Bayu tajam.


"Mulai mulai, pikiranmu mesti negatif tok sama aku."


"Terus.?"


"Ya kan lebih mmmm gimana ya ngomongnya, lebih privasi gitu wes."


"Oooo, ya besok kapan kapan kita kesana lagi berdua aja."


"Boleh."


Percakapan kedua insan itu memecah dinginnya malam. Seprti biasa, para bintang bertaburan ketika Bayu memandang keluar cendela.


"Dingin.?" Tanya Bayu pada kekasihnya.


"Sedikit." Jawab Putri.


Bayu kemudian membuka resleting tas Putri dan mencari jaket parka milik gadis itu.


"Ini aja di pake selimut." Ujar Bayu ketika menyelimuti Putri dengan jaket parkanya.


"Trimakasi." Kata Putri dengan senyum yang mengembang.


"Aku tidur boleh.?" Imbuh Putri.


"Iya boleh."


"Nyandar di bahumu.?"


"Masak aku harus jawab juga pertanyaanmu itu."


Seketika itu juga Putri melingkarkan tangan Bayu di kepalanya dan kemudian memejamkan matanya dengan kondisi Bus yang mulai melaju.


Putri terpejam dengan belaian lembut tangan Bayu di rambutnya. Perjalanan akan memakan waktu lama, tapi Bayu berharap perjalanan itu berlangsung selama mungkin.


Suara mesin disel Bus itu memecah keheningan malam. Mungkin semua penumpang mulai terlelap sekarang. Bayu tak mampu memejamkan matanya, karena dia tebiasa tidur dalam kondisi yang tenang.


Saat Bayu memperbaiki posisi duduknya ,dia tak sengaja melihat ke arah Ita yang duduk tepat di barisan samping Bayu.


"Sepertinya Ita tadi lihat aku, apa perasaanku aja." Batin Bayu yang memperhatikan mata Ita yang terpejam tepat menghadap Bayu.


Bayu menghela nafas panjang sambil sesekali memejamkan matanya.


Saat sampai di jalur perbukitan, bus melaju berkelok kelok dengan kecepatan tinggi.


"Ini supir niat bunuh penumpangnya atau bagaimana.!!." Batin Bayu melihat ke arah kaca depan Bus yang melaju kencang dengan melewati tikungan tikungan tajam.


Jalur Jombang - Batu memang terkenal karena melewati perbukitan yang curam. Dengan tikungan tajam serta kanan kirinya perbukitan dan jurang. Mungkin bagi penumpang yang belum pernah menaiki bus trayek itu, seketika seperti menaiki suatu wahana di dunia fantasi.


Sepanjang perjalanan Bayu komat kamit berdoa.


"Gusti, saya belum menikah Gusti, belum ngerasin namanya belah duren. Selamatkan hambamu ini sampai tujuan. Amin." Bayu berkata dalam hati.


Hampir satu jam lebih Bayu harus senam jantung, hingga rasa kantuk yang sempat singgah itupun sirna. Kini Bus melaju melewati kota Batu, kota yang terkenal sangat dingin di provinsi Jawa Timur.




**Hay kak, terimakasi masih mengikuti cerita Bayu ini. dan untuk Bab ini serta Bab Bab selanjutnya, Author sisipkan pegalaman perjalanan Author sendiri menuju danau Ranu Kumbolo dengan dibumbui kisah dua sejoli yang lagi kasmaran. semua alur perjalanan ini 100% nyata, jadi untuk kakak semua yang ingin iseng healing ke Ranu Kumbolo bisa sedikit ngintip refrensi Author, karena Author kesananya sekitar 6 - 7 tahun lalu, mungkin akan ada sedikit perbedaan alur jalur perjalanan dan tarif di masa sekarang**.



**Terimakasi** **juga kak, untuk like, komen dan Favnya. 🙏🙏🙏🙏🙏** **Dan semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan berkah yang melimpah. Amin**.

__ADS_1


__ADS_2