BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Cinta Kan Membawamu


__ADS_3

Seperti wedang ronde yang menghangatkan tubuh. Cinta mereka pun juga menghangatkan dinginnya angin malam.


"Gimana perutmu Put, enakan abis minum ronde.?" Tanya Bayu yang sedang membuka bungkusan nasi banting. Entah mengapa hawa dingin membuat cacing dalam perut bayu semain aktif.


"Ummm, lumayan Yu." Kata Putri dengan satu suap wedang ronde.


"Kamu makan lagi.?" Imbuh Putri.


"Hehe, hawanya dingin, jadi gampang laper." Ujar Bayu dengan satu sendok nasinya yang siap disantap.


"Makan yang banyak, inget kesehatanmu." Kata Gadis manis di samping Bayu.


"Iya kesayangan." Ujar Bayu.


Angin bertiup lirih, langit cerah dengan barisan pasukan bintang, bulan sabit yang menawan, lampu minyak dengan cahaya remang yang terpasang di tiang gerobak, dan sorot tajam lampu jalanan membuat kedua pasangan kekasih itu berselimut suasana syahdu.


...Tak berapa lama....


Bayu melihat layar HPnya. "Ayo pulang, udah jam segini.?"


"Aslinya pengen terus sama kamu. Ayo kemana lagi gitu." Ujar Putri sembari menoleh ke arah Bayu.


"Masih ada hari esok." Bayu berkata dengan mengusap ubun ubun Putri. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Bayu selalu mengusap ubun ubun kekasihya sebagai tanda sayang.


Bayu beranjak dari duduknya dan mengeluarkan dompetnya.


"Berapa Pak To.?" Tanya Bayu pada Penjual ronde itu yang sedang mndengarkan pagelaran wayang melalui siaran radio.


"Ronde dua, nasi dua, tahu lima, kerupuk dua." Imbub Bayu sambil mengeluarkan uang dari dompernya.


"Dua puluh tuju Yu." Ucap Pak To.


"Ini Pak To, trimakasi." Bayu berkata dengan menyodorkan uang pas.


"Monggo Pak To. Trimakasi." Pamit Putri yang mulai meninggalkan bangku yang ia duduki tadi.


"Iya Yu. Nduk. Sama sama." Ujar Pak To kemudian kembali fokus pada radionya.


Sunyinya malam semakin terasa, walau masih ada beberapa kendaraan yang terlihat masih berlalu lalang.


Bayu dan Putri sudah berada di atas motor.

__ADS_1


"Ngrengggg." Suara motor Bayu ketika digas.


Masih seprti tadi, jaket Bayu digunakan Putri untuk menutupi sebagian pahanya. Pengakuan Putri, minidress itu diberikan oleh mantannya dulu, dan Putri baru memakainya sekali ini saja. Walau memang Putri terlihat anggun, tapi minidres itu membuat Gadis manis itu tak nyaman.


Putri masih memeluk Bayu dengan erat. Hanya ada suara kendaraan Bayu dan rasa cinta yang berpesta pora di antara mereka.


Tak Butuh waktu lama. Bayu dan Putri sampai di kontraan Putri.


"Kamu mau langsung pulang.?" Tanya Putri yang sudah turun dari motor Bayu dan melepaskan helemnya.


"Ya iyalah, masak mau nginep." Canda Bayu dengan mesin motor yang sudah mati.


"Ya ngak papa, coba aku izin dulu ke Bu Kos." Timpal Putri.


"Heh. Gendeng, mana mungkin di izinin."


"Yaaaaa siapa tau, namanya juga usaha." Kata Putri yang meletakan helemnya di lantai teras.


"Wes wes aku pulang dulu, dari pada tambah ngaco." Bayu yang akan menyalakan mesin motornya.


Putri menghampiri Bayu, Bayu agak merasa heran saat Putri semakin mendekat dan kemudian melepaskan helem Pemuda itu.


Tangan kiri Putri menyentuh pipi Bayu.


Kali ini Bayu langsung merespon dengan menjukurkan Lid*hnya ke dalam mulut Putri. Dan tangan kiri Bayu mendarat di tengkuk Putri.


Bulan sabit dan jutaan bintang menjadi saksi, betapa naturalnya kedua insan manusia itu bercumbu. Sedangan angin kencang bertugas mengoyang dedaunan agar mengeluarkan suara berisik, hingga kecupan demi kecupan itu tetap menjadi rahasia.


Kali ini Bayu tak membawa nafsu dalam setiap kecupannya, yang ia tegaskan adalah menikmati detik demi detik cinta yang tersalurkan oleh ujung bibir Putri.


"Emmmhhh. Aku sayang kamu." Kata Bayu ketika bibir itu selesai melakukan tugasnya.


"Aku juga sayang kamu Bayu, tetaplah bersamaku, selamanya. Aku mohon." Kata Putri sambil menempelkan keningnya ke kening Bayu.


"Iya Putri. aku janji." Bayu berkata dengan mata yang terpejam, begitupun Putri.


Dan ahirnya seyum itu terlihat saling memandang. Dengan lambaian tangan dari Putri, pemuda gondrong itu pergi melewati gerbang dengan kuda besinya.


Dijalanan raya berpayung lampu kota.


Sekelebat demi sekelebat cahaya lampu kota di lewati, tapi bulan sabit setia mengikuti Bayu tepat di atas ubun ubunnya.

__ADS_1


"Ahirnya, aku benar benar bisa merasakan cinta yang seutuhnya. Tanpa membawa bayang bayang masa lalu ataupun iblis buruk dalam diriku. Tapi, aku telah terpaku oleh janji, dan akupun belum melihat rintangan apa yang akan menghadang di depan. Mmmm semoga semesta selalu membantu menepati janjiku pada Putri." Bayu degan monolognya denagn tuas gas yang terus di putarnya.


Beberapa menit kemudian, Bayu sampi di rumah Pak Arip. Segera pemuda itu memasukan motornya, mengunci pintu, cuci muka membasuh kaki dan segera masuk ke kamar.


Keluarga Pak Arip mungkin sudah terlelap semua, karena hari esok aktifitas akan berjalan seperti biasanya.


Bayu terlentang di kasurnya, saat ia menatap layar HPnya untuk melihat foto kebersamaanya dengan Putri tadi. "Grrrtttttt." Suat getas HP Bayu.


"Selamat tidur kesayangan, terimakasi untuk hari ini." Bunyi pesan WA Putri.


Bayu kemudian mengetik balasan pesan WA Putri." Andai semesta menawarkanku kehidupan kedua dengan menjadikanku raja dengan selir selir cantiknaya, aku pasti akan menolak. Karena tak ada yang lebih indah ataupun menyenangakan untukku saat ini selain berada di sisimu, untuk selamanya." Bayu mengirim pesan Itu.


beberapa detik kemudian. "Grrrtttt." Suara getar HP Bayu menggema lagi.


Putri membalas pesan WA Bayu dengan emoticon gambar k*t*ran m*nusi* dan tulisan "GOMBAL."


Bayu pun tersenyum dan meletakkan HPnya. pemuda itu sengaja tidak membalas, karena dia paham, Putri sudah sangat mengantuk saat ini.


Sepanjang Bayu menatap langit langit kamarnya, justru wajah Putri yang tergambar di sana. Apesnya lagi saat Bayu memejamkan matanya, justru ciuman mesra Putri tadi yang terlintas di imajinasinya.


"Mungkin ini yang dinamakan racun cinta." Batin Bayu.


Dengan raga yang tersmat lelah dihari ini, Bayu terpaksa memejamkan matanya. Sekilas pandangan mundur Bayu muncul. Dimana ia tadi siang bertemu keluarganya, bertemu sahabatnya, bertenu Laras cinta pertamanya, dan pelukan Laras di atas pelaminannya yang membuat hati Bayu sedikit goyah hingga menimbulkan rasa cemburu pada diri Putri.


Tapi dengan itu Bayu juga membuang bebanya selama ini. Beban akan kerinduanya pada Laras, sisa sisa cintanya yang telah kandas, dan air mata Laras yang tak akan Bayu tampung lagi di pundaknya. Semua itu telah Bayu hempaskan di atas pelaminan Laras dengan Boy tadi siang.


Kemudian. Dengan mata yang terpejam, perlahan lahan Bayu memasuki dunia mimpinya.


...Saat subuh, bahkan matahari belum menunjukan batang hidungnya....


Bayu sudah ada di pasar, seperti biasa Bayu membeli bahan bahan untuk jualan Mie jawa Pak Arip nanti malam. Bayu sudah sangat terbiasa belanja di pasar sendirian setelah beberapa Bulan Pemuda itu membantu usaha Pak De Arip.


"Mas Bayu, tak lihat lihat sampean ini banyak berubah lho dari pada pas awal awal sampean kesini." Kata pedangang sayur.


"Ah mosok Buk. Aku yo gini gini ae kok perasaan." Kata Bayu sambil memilih milih sayur kubis.


"Iyo bener, yo tapi sayangnge sampean sudah punya pacar. Kalau ngak kan bisa tak jodohin sama anakku."


"Halah, bisa ae sampean Buk."


Bayu telah menjadi primadona beberapa Ibuk Ibuk pedagang di pasar. Pemuda itu sering di rayu Ibu Ibu pedagang untuk menjadi mantunya, karena Bayu terlihat rajin dan supel, ditambah penampilan Bayu saat ini yang lebih good looking dan atletis, tidak terlihat kucel dan dekil seperti dulu karena sering membantu keluarganya di sawah.

__ADS_1



__ADS_2