
...***********...
...Kurasa senyumanmu terbuat dari gulali, karena terasa manis saat aku membayangkanya....
...***********...
Bayu kembali menyusuri lorong gang sambil memperhatikan HPnya.
"Putri belum WA juga. Lebih baik aku menemuinya nanti." Batin Bayu.
Sesampainya di rumah Pak Arip.
Bayu masuk rumah dari pintu samping, terlihat Pak De Arip yang akan memperbaiki kandang ayam dan Bu De Nur yang sedang mencuci perabotan.
"Bayu, apa kamu ngak pengen lebih serius sama Putri.?" Tanya Pak Arip sambil membuka kotak perkakas.
"Iya Yu, Ibukmu iku kayak sudah cocok sekali sama Mbak Putri." Imbuh Bu De Nur.
"Pengennya gitu Pak De, Bu De. Tapi Bayu kan belum bertemu dengan keluarganya Putri. Ya pelan pelan dulu ae wes. Setidaknya Bayu sudah memperkenalkan Putri sama Pak De, Bu De, Bapak, dan Ibuk." Kata Bayu sambil mencuci kaki dan tangan di selang pancuran.
"Oiyo bener iku, menikah itu tidak hanya menyatukan kedua insan manusia, tapi juga menyatukan kedua keluarga." Pak De Arip berkata dengan tatapan ke arah Bayu.
"Ngih Pak De, semòga dilancarkan saja. Yawes Bayu masuk dulu, Bu De, Pak De."ujar Bayu kemudian menuntun langkah kakinya melewati pintu.
"Iyo Le." Ucap Pak De Arip.
Bayu langung menuju ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Rasanya badanku capek semua, mungkin agak maleman nanti aku akan ke kontrakan Putri." Batin Bayu saat matanya mulai terpejam.
Pemuda gondrong itu larut dalam lelahnya, raganya hanya pasrah dibelenggu sang kasur, dengan imajinasi yang semakin liar menerkam, Bayupun masuk ke dunia mimpinya.
Tak berapa lama setelah matahari terbenam.
Mata Bayu langung terbelalak kaget, dia merasa tertidur begitu lama, hingga lupa harus menemui Putri malam ini.
"Jam, Jam berapa ini.? Berapa lama aku tertidur.?" Kata Bayu dalam hati yang langsung meraih HPnya dengan panik.
"Baru jam delapan. Tapi......." Batin Bayu setelah melihat layar HPnya. Namun tak ada pesan WA yang masuk dari Putri.
Pemuda itu langung beranjak dari tidurnya. raganya masih terasa lelah, tapi karena suatu hal dia memaksa sukmanya untuk segera kembali. langkahnya terasa berat, dengan handuk yang tertenteng di pundaknya, Bayu segera memasuki kamar mandi.
Tak berapa lama, setelah Bayu selesai mandi.
__ADS_1
Pemuda yang sedang kasmaran itu masih merapikan pakaiannya di depan cermin.
...Kilas Balik siang tadi....
"Biasanya kalau Fitri lagi ngambek, aku ajak jalan aja." Ujar Darman.
"Jalan jalan tok, kayaknya gak bakal mempan." Kata Bayu sambil memperhatikan sahabatnya.
"Kalau masih ngambek, ajak makan ae wes. Apa makanan favorit Putri.? Itu tempat yang harus kamu tuju. Kalau Fitri, cara itu paling ampuh buat ngilangin ngambeknya." Kata Darman sambil menghisap sebatang rokok.
"Emmmmm, terus kalau masih ngak mempan. pie hayo.?" Tanya Bayu.
"Opo yo.......... aaaaaa!!!. Ajak belanja aja. Shoping shoping ngono. Wes cara paling ampuh buat ngilangin ngambeknya wanita." Ucap Darman dengan ide briliannya.
"Oooo yowes nanti tak coba e. Tapi kalau seandainya Putri ngak mau di ajak keluar gimana, atau ngak mau nemuin aku.?" Tanya Bayu lagi.
"Ya... iku deritamu." Ujar Darman.
"Jawabanmu ngak memper blas.." Kata Bayu.
Kilas Balik berahir. Kembali ke saat Bayu merapikan Pakaianya.
"Okelah. Apa salahya di coba." Ujar Bayu di depan cermin.
"Bu De, Bayu keluar dulu. Assalamualaikum." Ujar Bayu pamit sambil mencium punggung tangan Bu De Nur.
"Iya Yu, Ati ati. Waalaikumsalam." Kata Bu De.
Bayu segera memakai sepatu dan segera menaiki motornya. Bayu sudah memiliki motor sendiri, walau hanya motor bekas, setidaknya kendaraan roda dua itu hasil dari jerih payahnya sendiri.
Dengan sepatu abu abu, celana jeans, dan hoodie abu pemberian Putri, Bayu berangkat menuju kontrakan kekasihnya.
Di perjalanan, ada perasaan khawatir dalam benak Bayu, tak biasanya Putri ngambek bahkan sampai tak menghubunginya.
"Putri tetaplah Putri. Walau sikapnya banyak berubah dari saat aku pertama mengenalnya, dia tetaplah gadis manja yang kekanak kanakan." Batin Bayu
Perasaan Bayu campur aduk layaknya semen dan pasir. Sekilas dirinya juga memikirkan Laras, namun kesadarannya berusaha memberontak dan menghapus semua hal tentang mantan kekasihnya itu. sedangkan Putri, jujur Bayu tak terlalu memikirkannya. Karena dalam benak Bayu, Putri mungkin hanya emosi sesaat. Bukankah cemburu adalah tanda cinta?.
Pemuda gondrong dengan rambut yang terikat itupun sampai di kontrakan Putri.
Setelah memarkirkan motor dan melepas helemnya, pemuda yang sedang dag dig duk ser itupun melangkah menuju pintu rumah.
"Assalamualaikum." Salam Bayu di depan pintu yang terbuka setengah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Suara wanita menjawab.
Terlihat Ita menuju ke arah Bayu dari ruang tengah. Tanpa kata gadis tomboy itu langsung mengandeng Bayu menuju kursi yang berada di teras.
"Kamu apain Putri.!!!" Ujar Ita dengan sedikit berbisik.
"Ngak, aku ngak apa apain." Jawab Bayu dengan ekspresi heran.
"Putri dari pulang tadi siang sampai sekarang belum keluar kamar. Di tutup lagi pintunya. Ngak biasa biasanya dia seperti itu. tau.?" Kata Ita dengan sorot mata yang tajam.
Bayu kemudian duduk di salah satu kursi diikuti ita yang duduk di kursi sebelahnya.
"Mungkin memang salahku." Gumam Bayu.
"Salahmu,? Jadi bener Putri kayak gitu gara gara kamu Yu." Tanya Ita lagi.
"Iya, di pernikahan Laras, Laras peluk aku di depan mata Putri. Aku juga ngak tau bakal jadi seperti ini ujung ujungnya." Ujar Bayu.
"Jadi, Putri lihat kamu pelukan sama Kak Laras.? Edan kamu Yu, andai aku di posisi Putri, udah tak tendang kanan kiri kamu di depan orang orang." Ujar Ita dengan sedikit emosi. Walau sebenarnya Ita juga menyukai Bayu, tapi gadis tomboi itu berusaha mengalah demi sahabatnya, Putri.
"Apakah yang aku lakukan itu sungguh kejam, hingga Darman maupun Ita punya pemikiran yang sama, ingin menyiksa aku di depan orang orang.? " Batin Bayu.
Pemuda yang belum lama ini merasakan cinta sejati itu tak menyadari, bahwa cemburu yang berlebihan adalah racun dalam suatu hubungan.
"Yawes, Kamu tunggu sini, aku berusaha panggil Putri. Dan berdoa aja kalau Putri mau nemuin kamu, karena jujur aku ngak pernah liat Putri seperti ini sebelumnya.!!" Ucap Ita sambil beranjak dari duduknya.
Ita pun masuk kembali ke kontrakan, sedangkan Bayu duduk manis ditemani suara jangkrik dan katak yang bersaut sautan.
Pemuda itu menunggu dengan cemas. Tak berapa lama yang ditunggupun ahirnya datang menghampiri Bayu.
"Kenapa.?" Tanya Putri dengan ekspresi yang datar.
Bayu beranjak dari duduknya dan bertatap muka dengan kekasihnya.
"Ayo jalan jalan. Lama rasanya aku dan kamu ngak meluangkan waktu bersama." Kata Bayu dengan cemas, ada sedikit rasa was was andai Putri menolaknya.
"Yaudah tunggu." Ucap Putri kemudian berpaling dan pergi meninggalkan Bayu menuju kedalam kontrakan.
Pemuda itu merasa lega, keringat dingin yang bercucuran itu terbayar lunas.
"Awal yang baik." Batin Bayu.
__ADS_1