
Rombongan keluarga Bayu sampai di rumah Pak De Arip.
"Assalamualaikum" keluarga Bayu salam saat akan memasuki Rumah.
"Waalaikumsalam." Jawab sang tuan rumah.
"Moggo monggo, duduk Met. Ayo monggo. masuk." Ucap Pak Arip memepersilahkan keluarga Bayu untuk masuk dan duduk.
Putri juga terlihat keluar dari ruang tengah dan menyalami lagi keluarga Bayu.
"Calon mantumu Met, kapan mau di nikahin ini.?" Ujar Pak Arip
"Ya segera kalau mereka siap." Kata Bapak Bayu dengan senyumnya.
Putri tersipu dengan pernyataan Bapak Bayu sambil berucap. " Amin."
Bayu lega melihat Putri terlihat bahagia, walau sejatinya Putri sedang marah dengan Bayu, gadis manis itu terlihat tidak membawa emosinya di suasana hangat ini.
"Buk, Bapak, Mas. Putri pamit dulu ya. Mau ada kegiatan kampus." Ujar Putri yang masih berdiri di hadapan keluarga Bayu.
Ekspresi Ibu Bayu terlihat sedikit kecewa.
"Iya Mbak Putri, lain kali gantian ya main ke rumah Ibuk di Desa. Mbak Putri mau kan.?" Tanya Ibu Bayu.
"Iya Buk mau. Pasti putri nanti main main ke sana sama Bayu." Ujar Putri.
"Apa nanti kalian dateng ke resepsi pernikahanku aja. Sekalian...." Ujar Darman.
"Lho kamu mau nikah Dar.?" Tanya Bayu dengan ekspresi terkejutnya.
"Yo mau lah, mosok nikah ngak mau." Canda Darman.
"Sontoloyo, terus kapan.? Sama siapa.?" Tanya Bayu lagi.
"Sama Luna Maya......!!! Ya.. sama Fitri to Yu. Orang pacarku dia kok." Kata Darman.
"Tak pikir ganti lagi, kan kamu playboy Kampung." Ujar Bayu yang masih berdiri di samping Putri.
"Iya Mas Darman, nanti aku pasti datang sama Bayu. Kalau gitu Putri Pamit dulu semua. Mari....."Ucap Gadis manis itu sambil sedikit membungkukkan badannya sebagai rasa hormat.
Bayu mengikuti Putri yang berjalan keluar pintu. Ada kelegaan dalam hati Bayu, walau dirinya telah ditinggalkan oleh Laras, setidaknya Bayu masih bersama Putri. Andai Bayu tidak bertemu gadis manis di hadapanya sekarang. Mungkin Bayu sudah menjadi seseorang yang kehilangan arah.
"hati hati di jalan." Kata Bayu yang melihat Putri akan menaiki Motornya.
Setelah Putri menyalakan mesin, sepertinya dia baru tersadar bahwa helemnya berada di kursi teras. Bayu segera mengabilkan helem Putri.
"Tu kan sampai lupa helemmu. Jangan ngelamun kalau di jalan." Ucap Bayu sambil memberikan helem pada Putri.
Putri meraih helem yang ada di genggaman Bayu. Bayu seketika ingin mengelus ubun ubun Putri, tapi secepat kilat Putri menghindarinya.
"Jangan ngambek terus donk Put, maaf kalau aku salah." Kata Bayu pada kekasihnya yang terlihat sangat dingin.
__ADS_1
Putri segera memakai helemnya.
"Ya." Jawab Putri singkat kemudian menarik tuas gas motornya dengan membawa perasaan emosi.
Bayu terus memperhatikan kekasihnya itu hingga menghilang saat melewati tikungan gang.
"Hadehhh, kok jadi kayak gini......." Batin Bayu sambil memijal keningnya pelan sedangkan tangan satunya bertolak pinggang.
"Marah Putri Yu,.?" Tanya Darman yang sudah berdiri di belakang Bayu.
"Haduhh, emboh lah Dar, ngak tau aku. Pusing." Ujar Bayu.
Darman berjalan kemudian duduk di salah satu kursi teras sembari menyalakan satu batang rokoknya. Sedangkan Bayu segera duduk di pembatas teras yang terbuat dari semen dengan tinggi sepinggang.
"Kamu juga yang cari penyakit, peluk Laras di depan dia. Umpama aku jadi Putri, sudah tak tampar bolak balik kamu di depan orang orang." Kata Darman sambil menikmati sebatang rokoknya.
"Yang peluk Laras Dar, aku juga kaget sampai ngak bisa apa apa." Ujar Bayu membela diri.
"Heleh pret opo.... kaget opo enak.?." Sindir Darman karena sahabatnya itu telah bermain hati.
Bayu hanya terdiam sambil melepas nafas panjangnya.
"Tapi, siapa sangka..... Laras ahirnya menikah dengan laki laki lain." Kata Darman yang menikmati angin semilir.
Sedangkan di dalam rumah sayup sayup terdengar percakapan. Tak begitu jelas apa yang dibicarakan keluarga Bayu dan keluarga Pak De Arip, yang pasti terdengar nama Bayu dan Putri disebut sebut.
"Yasudahlah, mungkin memang bukan jodohku Dar." Kata Bayu sedikit merenungi Laras yang telah menjadi milik orang lain.
"Ya sama kamu juga Dar. Kita dari SD sampai SMP Satu sekolah terus." Celetuk Bayu.
"Jadi inget pas kita SMP kelas 3 dulu. berantem sama gengnya anak kelas F gara gara belain Laras." Kata Darman.
"Seru juga kalau diinget inget lagi." Kata Bayu.
"Seru mbahmu kiper, kita babak belur Yu!!!." Ucap Darman sambil menikmati rokoknya.
"Ya wajar babak belur Dar, kita berdua lawan 5 orang, tapi ujung ujungnya kita menang kan." Bayu berkata dengan imajimasi yang terperangkap di masa lalu. Membayangkan, betapa dirinya dulu tak pernah takut apapun. Tapi kini dia takut akan kehilangan seseorang yang dia sayang.
"Yawes. paling tidak, kamu sekarang bisa fokus menjalin hubunganmu sama Putri. Aku yakin, selama ini kamu pacaran sama Putri pasti dengan membawa bayang bayang tentang Laras. Nih.... potong kupingku andai kata kataku barusan salah." Kata Darman dengan simpati yang sangat tinggi pada sahabat.
"Ya begitu wes Dar." Kata Bayu pasrah dengan keadaan.
"Kamu juga ke Surabaya sebenernya pengen cari Laras, tapi alasanmu aja bilang jenuh lah, pengen ngerantau lah. Kalau niat ngerantau kesana, ke Hongkong." Ujar Darman.
Bayu tertawa kecil di hadapan Darman. seakan dia malu, tidak berhasil membohongi sahabatnya dari Desa itu.
"Wes pokok e yang kamu omongin itu bener semua. Tapi, kalau aku ngak ke Surabaya, aku ngak bakalan ketemu sama Putri. Iya yo.??" Ujar Bayu.
"Setiap kejadian pasti ada sisi positif dan negatifnya. Buang negatifnya ambil sisi positifnya." Kata Darman sok bijak dengan asap rokok yang mengepul di tiupnya.
"Tumben kata katamu puitis banget." Ucap Bayu dengan ekspersi heran.
__ADS_1
"Mungkin gara gara abis makan enak di hotel tadi otakku langsung encer." Celetuk Darman.
Percakapan antara kedua sahabat yang lama tak bersenda gurau.
"Anugerah terindahku punya keluarga yang penyayang, sahabat yang loyal, serta kekasih yang setia. Jadi, nikmat mana lagi yang aku dustakan." Batin Bayu.
Di balik kebahagiaan Bayu, pemuda gondrong itu sebenarnya punya PR besar. Setelah ini Bayu harus memutar otaknya, bagaimna cara untuk meredam emosi kekasihnya itu.
...2 jam berlalu....
Setelah obrolan panjang dan hangat sambil melepas rindu antara kedua saudara yang lama berpisah, yaitu Pak Slamet dan Pak Arip. Bapak, Ibu, Raka dan Darman pamit meninggalkan rumah Pak De Arip.
Bayu berjalan di antara lorong gang menemani keluarga dan sahabatnya menuju mobil yang terparkir.
"Jaga diri baik baik ya yu. Jangan terlalu ngerepotin Pak Arip." Ujar Ibu Bayu.
"Iya Buk." Kata Bayu.
"Nanti aku kabarin Yu, kalau udah pasti tanggal nikahanku." Ujar Darman.
"Iya iya yang udah kebelet." Canda Bayu.
"Jangan lupa, Mbak Putri diajak." Imbuh Ibuk.
"Iya Buk, Pasti." Kata Bayu tegas.
Tak berapa lama mereka sampai di mobil yang terparkir di depan gang.
"Trimakasi Dar." kata Bayu sambil menyodorkan 3 lembar uang berwarna merah.
"Opo iki.? wes gak usah." Ucap Darman yang akan berjalan menuju pintu pengemudi.
"Buat bensin." Kata Bayu sambil memaksa.
"Ora usah Bayu. udah to, selow. kayak sama siapa aja." Ujar Darman yang terus menolak pemberian Bayu.
"Yawes, makasi ya Dar, sudah anter Bapak, Ibu sama Raka." Kata Bayu sambil memberikan salam tos pada sahabatnya itu.
"Ita Yu, suantai wes pokok e." Ucap Darman dengan menyambut salam tos Bayu.
kemudian Bayu menghampiri Raka yang sudah duduk di kursi penumpang.
"Jaga Ibuk sama Bapak ya Dek, kalau ada apa apa, kasi tau Darman biar Mas Darman nanti yang kabarin Mas di sini." Ucap Bayu pada Adik Laki Laki satu satunya itu.
"Iya Mas." Ucap Raka singkat.
"Nih, buat beli buku." Ucap Bayu sembari memberikan 5 Lembar uang berwarna merah pada Raka.
"trimakasih Mas." Jawab Raka dengan senyum girangnya.
Keluarga Bayu dan Darman sudah di dalam mobil dan menutup pintunya. Segera mobil Darman melaju meninggalkan Bayu. Dengan berat hati, Pemuda gondrong itu merelakan orang orang yang disayanginya itu pergi.
__ADS_1