BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
IBU


__ADS_3

"Kamu gimana Le,? Betah di Surabaya ?" Tanya Ibu.


"Betah Buk, Pak Arip dan keluarganya juga baik sama Bayu, jadi Ibuk jangan khawatir." Jawab Bayu sambil memijat kaki Ibunya.


"Syukur kalau begitu, Ibuk juga yakin Pak Arip dan keluarganya akan memperlakukan kamu dengan sangat baik." Kata Ibu sambil makan dan memandang Bayu.


"Ngak kerasa kamu sudah dewasa Bayu, sudah mandiri sudah bisa memilih jalanmu sendiri. Semoga Ibu masih bisa lihat kamu menikahi seorang gadis pilihanmu nanti." Kata Ibu pada Bayu.


Bayu sedikit merenung dengan kata kata Ibu barusan. Seakan mengisyaratkan bila Ibu ingin segera punya menantu.


"Bayu pengen bahagiain Ibuk dan Bapak dulu. Lagian Bayu belum ada pikiran kesana Buk." Jawab Bayu sambil terus memijat kaki Ibunya.


"Tapi Ibu sudah tambah tua dan sering sakit sakitan, Ibu juma takut kalau ~~." Ibu tidak sempat menyelesaikan kata katanya karena Bayu memotong pembicaraan Ibu.


"Ibu jangan bicara seperti itu lagi. Bayu pasti akan bahagiain Ibuk dan Bapak. urusan jodoh biar Yang Di Atas yang ngatur Buk. " Kata Bayu dengan nada serius.


"Iya Le. Lagian anak Ibuk sekarang sudah dewasa, gagah, mandiri dan bertanggung jawab. Ibu yakin kamu pasti akan mendapat jodoh yang baik." Imbuh Ibu.


"Amin, doain aja Buk." Kata Bayu.


Sepertinya ada sedikit ketakutan di dalam diri Ibu Bayu, jikalau nanti tidak bisa melihat Bayu bahagia di atas altar pernikahan dengan gadis pilihanya.


"Udah, Ibuk jangan mikir yang aneh aneh seperti itu. Bayu pasti akan mencarikan mantu yang terbaik buat Ibuk." Kata Bayu pada Ibunya yang sudah mulai bicara ngelantur.


Ibu hanya tersenyum mendengar kata kata anak pertamanya itu. seakan pesan Ibu yang tak tersampaikan benar benar dipahami Bayu.


"Assalamualaikum" Suara Bapak terdengar dari ruangan tengah.


"Waalaikumsalam" Jawab Bayu dan Ibu di kamar.


Kemudian Bapak masuk ke kamar Ibu.


"Bayu, kapan sampai Le.?" Kata Bapak.


"Barusan Pak," Ucap Bayu sambil mencium tangan Bapaknya.


"Pasti kamu sengaja pulang karena denger Ibukmu sakit.?" Tanya Bapak.


"Iya Pak, dikabarin Darman aku." Jawab Bayu sambil melanjutkan memijat kaki ibunya.


"Padahal Ibumu udah wanti wanti, agar jangan sampai kamu tau. Katanya Biar kamu ngak khawatir." Kata Bapak.


"Ya ngak mungkin aku ngak kahawatir Pak. Ibu jangan seperti itu, Bayu jadi ngerasa salah udah ninggalin Bapak, Ibu dan Raka sampai Ibu sakit seperti ini." Kata Bayu.


"Ibu ngak papa Bayu, juma kecapekan aja. Bapakmu ini kalau ngomong kok mesti terang terangan." Kata Ibu yang sedikit kesal sama Bapak.


"Yawes, abis ini Bayu ngak ke Surabaya lagi. Bantu Bapak lagi aja sambil nemenin Ibu di rumah." Kata Bayu.

__ADS_1


Ibu menaruh mangkok baksonya yang sudah habis sepauh.


"Gara gara Bapak ini.!!!. Ibuk ngak papa Bayu, jangan gitu kasian Pak Arip, lagian Ibu nanti yang ngak enak sama Pak Arip, dikira Ibu yang ngak ngizinin kamu buat bantu bantu dia lagi." Kata Ibu sambil melirik ke arah Bapak.


Bapak yang merasa bersalah karena keceplosan, berusaha meyakinkan Bayu juga.


"Iya Yu, disini juga ada Raka. Kamu jangan khawatir, Ibumu juma kecapekan aja karena desa kita abis panen raya. Ya Bapak juga yang salah membiarkan Ibu kecapekan sampek sakit." Kata Bapak.


Bayu berfikir sejenak.


"Iya sudah, tapi kalau ada apa apa sama Bapak, Ibuk atau Raka tolong bilang ke Darman, biar Darman nanti yang sampaiin ke Bayu. Ya Pak, Buk.?" Tanya Bayu.


"Iya Le, lain kali Ibu bakal bilang kalau ada apa apa, wes kamu jangan punya pikiran aneh aneh lagi ya.?" Kata Ibu.


Kemudian Bayu menggenggam tangan Ibu sedangan Bapak menepuk punggung Bayu, ruangan itu menjadi penuh suka dengan senyum hangat sebuah keluarga. Hanya kurang Raka yang ntah dia kemana


Kemudian Bapak keluar kamar.


"Ibuk bener sudah enakan.?" Tanya Bayu.


"Sudah Bayu, masak Ibu ngak sembuh abis di jenguk anak pertama Ibu yang gagah ini." Kata Ibu dengan senyum.


Pemuda dengan rambut gondrong itu juga tersenyum.


"Obatnya jangan lupa diminum Buk." Kata Bayu sambil membukakan obat Ibunya.


"Ini Obat dari puskesmas tulisanya harus sampai habis Buk, jadi harus di habisin walau sudah enakan badanya" Kata Bayu menyiapkan obat Ibu.


Ibu hanya tersenyum. Lama Ibu tidak mendapat perhatian dari anak pertamanya itu. Lagian Ibu seperti merasa anak pertamanya sudah memiliki sikap dewasa semenjak merantau ke kota.


Kemudian Ibu meminum obat dari puskesmas itu.


"Ibuk istirahat ya, Bayu kebelakang dulu." Kata Bayu.


Ibu hanya mengangguk dan kembali rebahan.


Sedangakan Bayu membawa gelas dan mangkok sisa Ibu makan ke dapur.


Disana ada Raka yang sedang memasak mie instan.


"Makan apa kamu Dek.?" Tanya Bayu.


"Mie Mas." Jawab Raka.


Setelah Bayu menaruh mangkok dan gelas ke tempat cucian, dia kemudian duduk tak jauh dari Raka.


"Raka." Ucap Bayu.

__ADS_1


"Hmmmm" Jawab Raka sambil makan mie buatanya sendiri.


"Kalau Mas ngak ada, tolong jaga Bapak sama Ibuk. Jangan smpai Bapak atau Ibu sakit seperti ini." Kata Bayu pada adiknya.


"Iya Mas, tapi namanya musibah kan ngak ada yang tau." Kata Raka.


"Iya, lagian kamu kan mau masuk SMA, sudah gede, kurang kurangin mainya terus sering sering bantu Bapak atau Ibuk." Kata Bayu menasehati Raka.


"Iya Mas," Jawab Raka singkat.


Kemudian Bayu mengeluarkan 3 lembar uang 50 ribuan dari dompetnya.


"Ini Buat kamu, jangan di abis abisin buat jajan." Kata Bayu sambil meletakkan uang di depan Raka.


"Wehhhhhh makasi Mas...." kata Raka sambil mengambil uang itu.


"Tapi janji, bantu Bapak Ibu jangan main aja. Nanti kalau Mas pulang lagi kamu minta apa aja tak beliin." Kata Bayu.


"Iya Mas, janji wes." Kata Raka.


"Pentol bakar tadi mana.?" Tanya Bayu.


"Kan mas sendiri yang ngasi ke aku, ya tak makan abis." Kata Raka dengan polosnya.


"Sabar sabar." Kata Bayu dalam hati.


Sekesal kesalnya Bayu pada adiknya, dia tetap menyayanginya, karena saat Bayu tidak ada dirumah, siapa lagi yang akan menjaga Ibu dan Bapak kalau bukan Raka.


Bayu melihat lihat dapur.


"Gula mau abis, teh abis, Garam, kopi mau abis. Darman ada di rumah ngak ya, mau minta anter beliin sembako buat Ibu." Kata Bayu dalam hati.


Bayu mengeluarkan HPnya untuk menghubungi Darman, tapi HPnya tidak menangkap sinyal sama sekali. malahan terlihat ada satu panggilan dari Putri.


"Putri, ini panggilan yang tadi atau baru." Bayu berkata dalam hati penuh tanya.


Kemudian Bayu memasukan HPnya lagi ke kantong.


"Dek, nanti kalau Ibu nyariin Mas, bilang Mas ke rumah Darman." Kata Bayu pada adiknya.


"Oke bos." Jawab Raka singkat.


Kemudain Bayu mengeluarkan sepeda kumbang kesayanganya. Sepertinya sepeda itu telah di perbaiki dan di rawat dengan Baik.


Secara terahir Bayu menaiki sepeda itu saat insiden di hutan jati, ketika Bayu marah dan menabrak pohon sehingga sepeda itu rusak berat.


__ADS_1


__ADS_2