BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Keluar Dari Zona Nyaman


__ADS_3

Hari berganti Bayu masih terbaring tak berdaya.


Hari ke 2, Bayu mengutarakan niatnya ingin ke Surabaya kepada Bapaknya, Beliau berkata akan menghubungi kakaknya Pak Arip Di Surabaya, mungkin Pak Arip bisa mencarikan pekerjaan untuk Bayu di sana.


Hari ke 3, Bayu mulai beranjak dari tempat tidurnya, berjalan dengan cara memegangi tembok tembok rumah karena kaki kirinya masih terasa sakit.


Hari ke 4, Darman kembali mengunjungi Bayu, dan ahirnya Darman mendapatkan kopi buatan Ibu Bayu yang pas rasanya tidak seperti buatan Raka kapan hari.


Hari ke 5, Bayu sudah bisa berjalan sendiri walau masih terpincang pincang.


Hari ke 6,


Di dapur ketika matahari mulai tenggelam.


"Kamu yakin mau ke Surabaya Le.?" Tanya Ibu pada bayu.


Ibu sedikit khawatir pada Bayu, karena Ibu tau walau anak pertamanya sudah berkepala 2 Bayu terkadang masih suka manja.


"Iya Buk, Bayu pengen cari suasana baru. Dan cari kerja yang mapan di Surabaya." Kata Bayu sambil minum teh hangat buatan Ibu.


"Iyawes, yang penting kamu jaga diri baik baik, dan jangan ngerepotin Pak De Arip di sana." Kata Ibu.


"Sebenarya Pak De Arip ada usaha warung mie jawa di Surabaya, mungkin kamu nanti bisa bantu bantu Pak De mu." imbuh Bayu.


Walau Ibu terasa berat melepas kepergian Bayu untuk kerja di Surabaya, tapi Ibu berusaha berlapang dada.


Hari ke 7, Bapak mengabarkan pada Bayu, selama Di Surabaya Bayu bisa tinggal di rumah kakaknya, Pak De Arip.


Bahkan kalau mau, Bayu bisa bantu bantu Pak De Arip untuk jualan Mie Jawa di stand daganganya.


Dan Bapak memberikan Bayu secarik kertas berisi alamat tempat tinggal Pak De Arip Di Surabaya.


Hari ke 8, Bayu sudah pulih dari luka di kaki kirinya. Tapi ada satu luka yang masih terasa sakit, Luka yang berasal dari rasa kecewa yang teramat dalam.


Hari ke 9, keberangkatan.


"Hati hati ya Le, jaga diri baik baik.?" Kata Ibu sambil memeluk anak pertamanya itu dan Bayu mencium tangan ibunya.


Kemudian Bayu mencium tangan Bapaknya "Iya, salam dari Bapak buat Pak Arip." Kata Bapak.


Raka terdiam.


Kemudian Raka mencium tangan Bayu.


"Lho kamu nangis Dek,?" Kata Bayu.


"Hiks. Ngak kok. Biasa aja."jawab Raka sambil mengusap air matanya.


"Wes jangan sedih, kamar Mas kan sekarang jadi kamar kamu. Terus celengan ayam di atas meja juga buat kamu, tolong d isi juga. kalau kepepet perlu apa kamu bisa pake uang celengan itu." Kata Bayu pada Raka.


"Jaga Bapak sama Ibu ya, jangan lupa bantu bantu Bapak di sawah juga, kan kamu sudah kelas 3 SMP sekarang" imbuh Bayu.


Raka hanya mengangguk.


Walau Bayu dan Raka sering berkelahi, tapi ikatan darah tetap tak merelakan mereka berpisah.

__ADS_1


Kemudian Bayu keluar rumah dengan tas ransel dan kardus yang dia tenteng.


"Buk saya nganter Bayu ke terminal dulu.?" Kata Darman.


"Iya Darman, ati ati di jalan." Kata Ibu.


Kemudian Darman mencium tangan Bapak dan Ibu Bayu.


"Assalamualaikum. Bayu berangkat." ucap Bayu


"Assalamualaikum" ucap Darman.


"Waalaikumsalam." Ibu dan Bapak menjawab salam.


Sedangkan Raka sudah masuk rumah.


Ahirnya dengan dibonceng Darman, Bayu berangkat menuju terminal.


Brummmmmm ngengggggggggg


Suara motor Darman melaju.


Ibu masih melihat Bayu sampi hilang terhalang pepohonan pinggir jalan Desa.


Diperjalanan.


Bayu hanya terdiam. Di lubuk hatinya masih menyimpan keraguan, apalagi ini pertama kali Bayu akan berpisah lama dengan keluarganya.


Tapi sakit hati yang diderita Bayu meneguhkan niatnya. Dia tak mau hidup dalam bayang bayang masa lalu.


"Makasi ya Dar." Kata Bayu turun dari motor.


"Jangan dipikirkan Yu. Yang penting jaga dirimu baik baik, nanti kalau aku ada perlu ke Surabaya, pasti mampir ke tempatmu." Kata darman.


"Oiya ini, udah tak catetin nomer handphone ku. Seandainya kamu nanti beli HP di Surabaya, bisa langsung hubungi aku. Ya tapi di Desa kita kan ngak ada sinyal, kalau pas aku keluar Desa nanti tak telfon kamu." Imbuh Darman sambil memberikan secarik kertas.


"Oke Bos." Jawab Bayu.


Kemudian kedua sahabat itu bersalaman dan saling menepuk punggung.


Bus yang akan dinaiki Bayu tiba. Bayu bergegas memaukan kardusnya ke bagsi dan menaiki Bis itu.


"Jombang, mojokerto, krian, suarabaya yooooo, langsung langsung..." kata Kernet Bus


Dirasa tidak ada penumpang yang akan naik lagi Kernet mengisyaratkan Supir untuk berangkat.


"Ayo langsung." Teriak Kerne Bus.


Grungggggggg


Suara mesin bus dan bus pun melaju.


Beruntung bagi Bayu, bus lumayan sepi karena bukan ahir pekan atau awal pekan.


Bayu duduk di samping cendela, terlihat Darman sedang memberi isyarat jempol ke arah Bayu, Bayu membalas dengan isyarat jempol juga.

__ADS_1


Bus melaju meninggalkan terminal. Perjalanan panjang Bayu dimulai.


Tak berapa alam Bayu dihampiri kernet.


"Turun mana Mas.?" Tanya kernet.


"Terminal Surabaya," jawab Bayu sambil menyodorkan uang 20 ribuan.


Kemudian kernet memberikan tiket Bayu dan kembalian 5000.


Setelah itu.


Bayu memperhatikan keluar jendela bus.


Bayu merenung, apa keputusanya ini tepat atau hanya emosi sesaat.


Yang jelas Bayu tidak dapat kembali lagi, karena dia telah memilih jalanya, dan mau tidak mau Bayu harus menghadapi apapun halangan dan rintangan di depan nanti.


Rasa sakit yang disimpan Bayu dijadikanya motivasi. Untuk Bayu berusaha merubah nasibnya dengan caranya sendiri.


Kota demi kota dilewati, suasana Bus yang lumayan sepi telah padat dengan penumpang lain. Bahkan para penumpang banyak yang berdiri.


"Bungur bungur terahir terahir." Teriak kernet bus.


Sepertinya ini terminal terahir karena semua penumpang seperti siap untuk turun. Artinya Bayu sudah sampai di Surabaya.


Terlihat semua penumpang Bus turun. termasuk Bayu dan segera mengambil kardusnya dari dalam bagasi Bus.


"Semarang Semarang. Bali mas.? yoooo jakarta. ojek ojek ojek ojek. yang taxi." suara suara Calo bus dan Tukang Ojek menghampiri Bayu dan penumpang lainya.


Bayu ingat kata kata Darman. kalau sampai terminal jangan seperti orang kebingungan dan jangan berikan barang bawaan pada siapapun.


Bayu hanya fokus mencari angkot F tujuan wonokromo, daerah tempat Pak Arip tinggal.


Lama Bayu berputar putar ahirnya Bayu menemukan angkot itu dan pemuda yang terlihat lelah itu menaikinya.


Angkot masih ngetem dan Bayu mengunakan waktu itu untuk beristirahat sambil mencari udara segar.


Tapi ini perkotaan besar, udara sudah penuh polusi tidak sesegar saat di Desa, mau tak mau Bayu harus membiasakan.


Bayu rasanya sudah lelah tapi perjalanan belum berahir.


Tak berapa lama angkotpun berangkat.


"pangkalan ojek wonokromo Mas." Bayu berkata sok tau. dia hanya mengikuti arahan yang diterima Bapaknya.


Jalanan sangat macet, bahkan Bayu dibuat pusing dengan keadaan kota yang tak ada ruang lengang sama sekali.


Tak berapa lama Bayu diturunkan di pangkalan ojek, yang bahkan dia sendiri tak tau itu di mana.


setelah Bayu membayar angkot, pemuda desa itu menghampiri salah satu Tukang Ojek.


"maaf Mas, tau alamat ini.?" tanya Bayu.


"ooo, ya tau saya." kata Tukang Ojek.

__ADS_1


kemudian Bayu menaiki ojek itu. perjalanan belum berahir tapi Bayu terlihat sangat kelelahan.


__ADS_2