
Rapat mereka tak berlangsung lama, karena rutinitas mereka harus dimulai kembali.
Kini yang tersisa hanya Bayu dan Putri yang sedang menyantap makan siang.
"Oiya, wisudamu kapan.?"
"Awal bulan depan."
"Kamu dateng kan pas wisudaku nanti.?" Imbuh Putri.
"Iya aku sempetin dateng." Ujar Bayu kemudian minum es tehnya.
"Harus.!!!!!" Sepertinya Putri sangat berharap Bayu datang.
"Iya iya."
"Nanti gantian. aku kenalin sama keluargaku."
Bayu menghentikan kunyahanya dan minum es tehnya lagi.
"Aku jadi takut Put.?"
"Takut,? Takut kenapa.?"
"Keluargamu ngak nerima aku." Bayu menghentikan makannya. Sepetinya rasa gelisah itu memusnahkan mafsu makan Bayu.
"Kalau dari ceritamu, Mbakmu PNS, Sedangkan Masmu akan mewarisi usaha toko material Ayahmu. Ayahmu sendiri juragan sawah. Jujur aku minder." Ujar Bayu yang benar benar hilang mood.
"Tenang aja, Kakak kakakku pasti nerima kamu. Kalau Ayah, ya walau orangnya memang sangat tegas, tapi beliau pasti bisa lihat ketulusan dalam hatimu." Tangan kiri Putri kemudian mengenggam jari jemari Bayu.
"Cieeeeeee pacaran......" teriak Farhan dan temannya di sebelah Putri.
"Heh bocah, kecil kecil ngomong pacaran.!!" Ujar Putri.
Bayu hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya.
"Layangannya ngak diterbangin Han.?" Tanya Bayu pada bocah di sebelahnya.
"Iya Mas bentar, ini kurang dikit lagi selesai satunya." Ucap Farhan sambil mengikat benang layangan.
"Kamu udah selesai.?" Tanya Bayu pada kekasihnya yang telah meletakkan alat makannya.
"Udah." Jawab Putri.
"Kok ngak di habisin.?" Tanya Bayu.
"Kamu juga ngak di habisin."
"Aku tiba tiba ngak nafsu makan."
Putri menatap Bayu tajam, "Semua akan baik baik aja Bayu. Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersama kamu."
"Trimakasi Put. Oiya, kalau seandainya aku berhenti bantu Pak Arip terus cari kerja yang lain, gimana menurutmu.?" Tanya Bayu.
"Kenapa gitu.? apa kamu ada masalah sama keluarganya Pak Arip.?"
"Bukan.. bukan.., aku hanya ingin cari kerja yang lebih mapan. Agar keluargamu nanti terkesan andai tanya aku kerja apa."
"Lebih baik jangan Bay, Pak Arip dan keluarganya sudah sangat baik sama kamu selama di sini. Lagian kakak kakakku tidak pernah memandang orang dari strata sosialnya kok." Kata Putri untuk menenangkan hati Bayu.
"Itu kakakmu, bagaimnaa dengan Ayahmu.?"
__ADS_1
"Eh Bay, udah jam segini, balik Yuk." Ucap Putri, seakan akan ingin mengahiri percakapan itu.
"Apa Putri berusaha mengalihkan pembicaraanku.? " Batin Bayu.
"Yawes, ntar aku bayar dulu." Kata Bayu sambil mengeluarkan dompetnya.
Bayu menuju ke arah Bu Tum, pemilik warung.
"Berapa Bu Tum.?" Tanya Bayu.
"Nasi dua teh dua ya Yu.?" Tanya Bu Tum balik.
"Tambah dua ayam sama kerupuk."
"Tambah ayam, kerupuk.... tiga puluh dua Yu."
"Ini Bu Tum." Ujar Bayu sambil memberikan uang lima puluh ribuan.
"Tunggu ya Yu." Bu Tum menerima uang Bayu dan mencari kembalian.
Bayu sejenak memandang ke arah kekasihnya yang sedang bercengkrama dengan Farhan dan teman temannya.
"Ini Yu kembaliannya." Kata Bu Tum yang menyodorkan uang kembalian.
"Trimakasi Bu Tum."
"Sama sama Mas Bayu."
Bayu kemudian berjalan kembali ke arah Putri.
"Yuk."
"Mbak Putri duluan ya." Pamit Putri pada bocah bocah yang sedang merapikan alat untuk membuat layangan.
"Oke." Jawab Farhan.
Kedua sejoli itupun berjalan menuju parkiran.
"Udah, jangan di pikirin." Ujar Putri yang melihat kekasihnya itu melamun.
Bayu hanya terdenyum ke arah Putri.
"Apa aku buka warung sendiri aja ya.?" Ceteluk Bayu saat sampai di samping motor Putri.
"Hmmmm. Nah kalau itu ngomong aja sama Pak Arip, gimana baiknya." Kata Putri yang meraih helemnya.
"Aku sebenernya punya rencana. Andai sudah menikah sama kamu nanti, aku akan buka warung sendiri. Gak papa kan kita mulai usaha dari nol.?" Tanya Bayu sambil menenteng helemnya dan menatap Putri serius.
"Aku akan selalu di sampingmu Bayu, dan mendukungmu bila itu hal positif."
Bayu tak mampu berkata kata, hanya senyum yang ia lempar pada gadis manis hadapannya.
"Yuk." Ucap Putri.
Bayu tersadar dari lamunannya dan segera memakai helemnya.
Beberapa saat kemudian.
Di sebuah perempatan jalan dengan awan mendung memayungi mereka. Putri memeluk Bayu erat dari belakng, sedangkan Bayu fokus dengan lampu yang masih menyala merah.
"Apakah keluarga mu akan menerimaku Put.? Bagaimana bila aku tak diterima. Rasanya, aku tak akan mampu lagi bila harus mencari penganti sepertimu, bahkan aku tak pernah ingin membayangkan bila kamu tak lagi di sampingku. Semakin aku mencintaimu, semakin aku takut kehilanganmu, Putri." Bayu bermonolog dengan tangan kiri yang mengusap genggaman pelukan Putri.
__ADS_1
Sambil meluk Bayu. Putri mencubit perut Bayu pelan.
"Kenapa.?" Tanya Bayu.
"Ngelamun aja. Awas nabrak."
"Iya maaf."
Lampu kembali menyala hijau dan kedua sejoli itupun melaju.
...Sampai di rumah Pak Arip....
"Langsung pulang.?" Tanya Bayu yang berdiri di samping motor Putri.
"Terus, mau aku temenin tidur siang di kamar.?" Ujar Putri yang menaiki motornya dengan mesin menyala.
"Ngawor. Yasudah sana."
"Kamu usir aku.?" Putri berkata sambil melihat Bayu melepas helemnya.
"Hehe, aku sayang kamu.." Ucap Bayu.
"Aku juga sayang kamu, yaudah duluan ya."
Bayu mengangguk dengan senyumnya, "Hati hati."
Putri membalas senyum Bayu.
"Ngrengggg." Suara mesin motor Putri melaju, dengan Putri yang fokus memperhatikan jalanan gang.
Bayu masuk rumah dan menuju kamarnya. Di dapur terlihat Uswah sedang membantu Bu De Nur memasak bumbu kaldu untuk jualan nanti malam.
"Mbak Putri mana mas.?" Tanya Uswah.
"Udah Pulang e Dek, barusan." Ujar Bayu yang menghentikan langkahnya.
"Owalah." Terlihat raut wajah sedikit kecewa dari Uswah.
"Kenapa.?" Tanya Bayu balik.
"Ngak papa. Seneng aja ngobrol ngobrol sama Mbak Putri."
"Ya besok paling kesini lagi."
"Mas masuk kamar dulu ya." Imbuh Bayu.
Uswah hanya mengangguk sambil mengupas bawang merah.
Bayu langsung memasuki kamarnya, menutup pintu dan meletakkan helemnya di atas lemari. Seketika pemuda yang merasa bimbang itu merebahkan badannya di atas kasur.
"Akan seperti apa nanti." Batin Bayu sambil membayangkan momen saat bertemu keluarga Putri.
Masalah ini menjadi beban pikiran baru bagi Bayu. Setelah musnahnya semua bayang bayang tentang Laras yang sekian lama terus menghantui Bayu, kini kembali Bayu harus menghadapi beban pikiran yang lain.
"Menjadi dewasa ternyata ngak se asik itu." Gumam Bayu sambil memandang langit langit kamar.
"Aku pikir setelah aku lepas dari bayang bayang Laras, hidupku akan tenang dengan Putri di sampingku. Tapi....., apakah hingga aku dan Putri nanti menikah, akan muncul permasalahan permasalahan baru." Batin Bayu.
Bayu menutupi matanya dengan lengannya. Badanya terlihat bugar tapi pikiranya kusut bagai senar layangan dalam gulungan kaleng bekas. Kipas yang menyala, sedikit menyejukan di tengah gerahnya udara perkotaan, hingga membuat Pemuda yang terlihat bimbang itu tertidur pulas.
__ADS_1