
Setelah kesadarannya benar benar pulih, Bayu keluar dari kamarnya dengan anduk yang ditenteng di tangan kirinya.
Seperti biasa Bayu melewati dapur ketika akan ke kamar mandi di pagi hari, hanya sekedar untuk melihat sarapan apa yang dibuat Ibu pagi ini.
Setelah sampai dapur betapa kagetnya Bayu.
Terlihat sesosok gadis cantik yang benar benar dikenalnya, dengan rambut pendek terikat ke belakang, kaos putih yang longgar dan rok panjangnya.
"Laras.?" Bayu sontak memanggil namanya.
"Eh Bayu, udah bangun anak ganteng.?" Laras melontarkan candaan sambil duduk di kursi makan mengupas bawang merah.
"Kamu kok di sini.?, kamu Laras kan" tanya Bayu lagi seakan tak percaya.
"Iya iyalah aku Laras, masak Luna Maya. Ada perlu sebentar sama kamu." jawab Laras sambil fokus mengupas bawang.
"Perlu apa.?" Jawab Bayu sambil mendekati Laras
"Ichhhh mandi dulu, bauk. Nanti aku ceritaain" jawab Laras sambil mengibas ngibas tangannya di depan hidung.
"Oooh iya iya bentar ya" jawab Bayu.
Segera Bayu ke kamar mandi, dan mengelurakan jurus mandi cepat kilat.
Selama Bayu mandi terdengar sayub sayub obrolan Ibu dan Laras.
kemudian
Bayu selesai mandi dan segera ke kamar untuk menganti bajunya dan meuju ke dapur lagi.
"Mbak Laras sarapan dulu sebelum pulang.?" kata Ibu sambil menyiapkan nasi goreng.
"Ngak usah repot repot Buk, trima kasih. saya ngak lama kok." Laras berkata.
"Ngobrol di depan aja Ras" kata Bayu yang tiba tiba muncul dari ruang tengah.
Mereka berdua menuju ke kursi panjang dari anyaman bambu di depan rumah.
Krekkkkk.
Suara kursi yang mereka duduki, sudah reyot karena termakan usia.
"Ada perlu apa,?" Bayu bertanya pada Laras sambil melihatnya.
"Enak ya Yu pagi pagi di desa, sejuk, adem" laras menatap ke depan, terlihat kabut tipis dan pemandangan ladang serta pepohonan.
"Iya gini suasana pagi di desa Laras... terus kamu ada perlu apa.?" Bayu bertanya kembali.
"Ehh maaf, aku jarang jarang nikmati suasana sepeti ini di surabaya." Jawab Laras
"Oiya Yu, aku nanti sore mau balik ke Surabaya" imbuh Laras.
"Ngak lamaan aja di sini, kan Bapak Ibuk kamu masih kangen" jawab Bayu.
"Bapak Ibuk ku apa kamu yang kangen.?" Laras berkata sambil memandang bayu.
Jelas pipi bayu memerah oleh kata kata Laras yang membuatnya tersipu.
__ADS_1
"Yaaaa, anu, ngak mungkin aku ngak kangen."jawab Bayu malu malu.
"Hahahahaha, kamu memang lucu Bayu kalau lagi salting" Laras tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Terus kamu ada perlu apa,?" Tanya Bayu lagi sambil menahan rasa tersipunya.
"Tunggu tunggu, aku masih nahan ketawa" jawab Laras sambil senyum senyum.
"Huhhhh. Iya Bapak minta tolong kamu anterin aku ke terminal, soalnya Bapak ada perlu nanti sore, yaaa kalau kamu mau kalau ngak mau ya ngak papa," Laras berkata sambil memandang Bayu.
"Ya aku maulah, gila aja aku ngak mau." Bayu menjawab dengan semangat.
"Iya biasa aja jawabnya," kata Laras
"Yasuda nanti jam 3 sore ya, langsung ke rumah. Aku pamit dulu" imbuh Laras sambil beranjak dari duduknya.
"Ngak sarapan dulu." Kata Bayu sambil berdiri.
"Udah tadi di rumah aku sarapan, yawes aku pamit Ibukmu dulu." Laras berkata sambil memasuki rumah dan menuju dapur.
Tak berapa lama Laras keluar rumah bayu dan menaiki sepedanya.
"Yawes aku pulang dulu Yu, jangan lupa nanti sore." Laras berkata kemudian mengowes sepedanya.
"Iya beres" jawab Bayu.
Bayu memandangi Laras hingga pepohonan pinggir jalan menyembunyikan sosoknya.
"Oiya, ke rumah **D**araman, pinjem motor" Bayu dalam hati.
Di perjalanan Bayu seakan berseri seri. Dia senang bertemu Laras. dari kata katanya dan penampilanya memang seperti Laras yang biasanya.
Bukan Laras yang kemarin yang terlihat sedih, seperti banyak pikiran dan emosian.
Sampainya di depan rumah Darman.
"Assalamualaikum, Darmannnnn..." Bayu salam sambil sedikit tergesa gesa menuju depan pintu rumah Darman.
"Waalaikumsalam." Jawab Wati adik Darman dari dalam rumah.
"Owalah Mas Bayu" imbuh Wati ketika melihat teman kakaknya itu di depan pintu.
"Masmu ada Wat.?" Bayu bertanya.
"Ada Mas masih tidur, mau di bangunin.?" Tanya Wati.
"Iya Wat, tolong bangunin. Penting!!. Bayu berkata.
"Iyawes tunggu Mas Bayu, tak bagunin dulu Mas Darmannya" Wati kemudian masuk ke dalam rumah.
Bayu kemudian duduk di kursi depan rumah.
Tak berapa lama.
"Apa to yu?. masih pagi kok udah namu aja" ucap Darman yang masih mengenakan selimut sarung keluar dari rumah.
"Pagi..?? Liat matahari tu udah tinggi" ucap Bayu sambil menujuk arah matahari.
__ADS_1
"Yawes yawes, ada perlu apa. Kata Wati penting tadi" Darman berkata sambil duduk.
"Aku pinjem motormu.." jawab Bayu singkat.
"Lho, beneran mau jalan jalan kamu sama Laras. kok berani ?" Ucap Darman sedikit penasaran.
"Jalan jalan apa Dar ?. Laras nanti sore balik ke Surabaya. Pak Kades minta tolong aku buat anterin Laras ke terminal, tadi pagi Laras ke rumah buat nyampaiin itu." Bayu berkata dengan semangat.
"Oowalahhh, iya mau kamu bawa sekarang motornya.?" Darman berkata.
Tiba tiba Wati datang.
"Mas kopinya." Wati datang dengan dua cangkir kopi.
"Makasi Wat" kata Bayu.
"Iya Mas." Jawab Wati singkat sambil menaruh dua cangkir kopi ke atas meja.
Kemudian Wati kembali ke dalam rumah.
"Iya sekarang kalau boleh, tak isiin bensin dulu" Bayu berkata pada Darman kemudian meniup kopinya.
" iya boleh, bensinya udah full juga wes tinggal bawa aja kamu" ucap Darman.
Sruppppp
Bayu menyeruput kopinya sedikit.
"Makasi Dar, kamu emang temenku yang terbaik sejagat raya," Bayu berkata sambil menaruh cangkir kopinya.
"Helehhh tai kucing, Laras tu gombalin jangan aku" jawab Darman kemudian merekapun tertawa bersama.
Kemudian, Bayu menitipkan sepedanya dan membawa motor darman ke rumah.
Waktu berjalan lambat bagi Bayu, seakan
jarum jam ingin dia dorong, tapi apa daya matahari berjalan dengan santainya.
Hari menjelang sore, Bayu bersiap akan mengantar Laras. dengan jumper hitam, Celana pensil dan sepatu kets yang iya kenakan, mungkin itulah penampilan terbaik pemuda yang sedang kasmaran itu selama ini.
Ngrengggg ngggegggg
Suara motor yang dinaiki Bayu meraung raung menuju rumah Pak Kades.
tak butuh waktu lama Bayu sampai di rumah Pak Kades.
"Assalamualaikum," Bayu salam di depan pintu rumah Pak Kades.
"Waalaikumsalam, eh Nak Bayu" jawab Pak Kades yang sedang duduk di ruang tamu dengan kertas kertas yang berserakan di atas meja.
"Masuk dulu Bayu, duduk dulu Laras masih siap siap." imbuh Pak Kades.
Bayu melepas sepatunya, masuk ke rumah dan duduk di kursi.
Bayu terlihat caggung dan sedikit gelisah. Bayu membayangkan seandainya dia saat ini sedang apel ke rumah Laras mungkin seperti inilah rasanya.
__ADS_1