BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Bakat Terpendam


__ADS_3

Pasar rakyat itu mulai ramai pengunjung bersamaan dengan matahari yang mulai terbenam.


Selain stand Pak Arip ada juga stand bakso, soto, kebab, burger, jajanan ringan, hingga steak dan seafood pun ada bertempat di pinggir lapangan.


Dan penjual barang barang seperti pakaian, sepatu, tas, aksesoris HP, poster dan pernak pernik lainya berada di tengah lapangan.


Sedangkan di sisi lain lapangan ada berbagai macam permainan anak anak sepeti odong odong, persewaan kendaraan listrik untuk anak serta persewaan sepatu roda. Bahkan komedi putar, kincir dan berbagai game berhadiah boneka pun juga ada.


Malam pun jatuh. Pengunjung membeludak di sabtu malam ini.


"Mas mas," salah satu pelangan memanggil Bayu.


Ini bukan pelanggan pertama Bayu yang dia layani, sepertinya Bayu mulai terbiasa dengan peran barunya. Hanya dengan beberapa jam pengamatan dan arahan dari Adit.


"Iya Mas." Kata Bayu mendekati.


"Teh anget 2" ucap pelangan singkat.


"Oke, di tunggu sebentar." Kata Bayu.


Tidak ada waktu untung bersikap canggung. Adit juga sangat sabar dalam mengajari Bayu menghadapi pelanggan, hingga rasa peecaya diri Bayu tumbuh dengan alaminya.


Bayu bertugas membereskan piring dan gelas kotor serta membuat minum. Tugas yang biasanya di kerjakan Bu Nur.


Dengan adanya Bayu sekarang, Bu nur mungkin akan rehat membantu jualan malam Pak Arip. Dan lebih fokus menyiapkan bumbu dan kaldu di pagi hari saja.


Pak Arip tentu bertugas menerima dan memasak pesanan pelanggan.


Dan Adit menjadi asisten Pak Arip dan pengantar pesanan pelanggan.


Walau hanya berkecimpung di dunia bisnis PKL, struktur organisasi sederhana juga harus di jalankan agar bisnis tetap berjalan lancar.


Setelah Bayu mengantar pesanan pelangan dia dengan sigap menarik piring piring kotor. Setelah dirasa cukup menumpuk Bayu segera mencucinya.


Kecerdasan Bayu dan instingnya yang kuat membuat pekerjaan Adit lebih ringan. Bahkan Pak Arip tak perlu mengawasi Bayu ketika melakukan tugas tugasnya.


Sepertinya Bayu mempunyai jiwa seorang pedagang kuliner. Mungkin itu yang membuat dia tidak begitu serius menekuni pekerjaan sebagai Petani di Desa.


Bisa jadi dimasa depan Bayu bisa menjadi pengusaha kuliner sukses.


Siapa yang tahu?, Bagimanapun suatu hal yang besar juga dimulai dari hal hal kecil.


Beberapa jam kemudian. Ketika malam semakin larut.


Bayu menyelesaikan tugasnya dengan cepat, kemudian menghampiri Pak Arip dan Adit.


"Gimana,? Capek Yu." Tanya Pak Arip.


"Ngak Pak De." Jawab Bayu.


"Laper Yu.?" Tanya Adit.


"Ngak juga Dit, biasa aja." Jawab Bayu, walau sebenarnya perutnya sedikit keroncongan.


Pak Arip sedang memasak nasi goreng, aromanya sangat sedap. Bayu melihat nasi goreng itu dengan rasa lapar. Tanpa sadar Pak Arip memperharikan ponakanya itu.

__ADS_1


"Dit, beliin nasi padang 3 di stand Uda Reza." Kata Pak Arip sambil memberi uang seratus ribuan pada Adit.


"Okesippp" kata Adit.


"Eh ini nasi goreng 2 piring buat mbak mbak cantik baju merah sama krudung abu abu itu ya Yu. Kamu antar sekalian." Kata Adit pada Bayu sambil menunjuk lokasi pelanggan yang memesan hidangan itu.


Adit kemudian berlalu membeli makan malam untuk mereka.


"Gimana Yu,? Betah kerja sama Pak De." Kata Pak De pada Bayu.


"InsyaAllah Pak De." Kata Bayu.


"Ya gini Yu kerja sama Pak De. Semoga kamu betah dan mungkin kamu bisa buka stand sendiri nanti." Kata Pak De sambil mengaduk nasi goreng di wajan.


"Hehe, kayak ngak mungkin Pak De kalau Bayu buka stand sendiri" kata Bayu sedikit pesimis.


"Bisa aja Yu, contohnya Pak Demu ini. Dulu kerjaan Pak De maling, judi, mabuk, tapi sekarang.? Pak De bisa kerja yang bener dan mencukup kebutuhan keluarga." Kata Pak De sambil plating nasi goreng.


2 piring nasi goreng siap di antar ke pelanggan.


Bayu mengantar nasi gorneg itu


"Permisi Mbak, nasi goreng 2." Kata Bayu sambil menyajikan 2 piring nasi goreng itu.


"Trimakasi Mas." Jawab salah satu pelangan.


Kemudian Bayu kembali ke tempat Pak Arip ketika Beliau sedang menambahkan arang di tungkunya.


Pak Arip tidak menggunakan gas dalam memasak. Tapi menggunakan bara arang. Hingga masakanya memiliki cita rasa khas.


"Apa Pak De.?" Bayu kembali bertanya.


"Yaitu CINTA." Kata Pak De singkat.


"Aduh, berat ini pembahasanya." Kata Bayu dalam hati.


"Iya, semenjak aku ketemu Nur, Bu Demu. Kehiduapan Pak Demu ini berubah. Kamu pasti akan mengalaminya juga nanti." Kata Pak De.


"Kamu masih muda, aku yakin kamu akan mendapat jodoh yang baik karena kamu juga pemuda yang baik Yu." Petuah Pak De pada Bayu.


Kemudian.


"Ayo makan dulu Yu." Kata Adit sambil membawa bungkusan nasi padang dan mengembalikan kembalian uang ke kotak uang.


"Makan dulu Yu, mumpung belum ada pelanggan lagi" kata Pak Arip.


"Iya Pak De." Jawab Bayu.


Kemudian Bayu dan Adit makan bersama di salah satu meja makan.


"Gimana Yu. capek kerja jadi PKL.?" Tanya Adit sambil makan.


"Ya capek Dit," Kata Bayu.


"Nanti kalau udah terbiasa ngak terlalu capek" kata Adit menyemangati Bayu.

__ADS_1


Dibalik sikapnya yang selengekan, Adit adalah orang yang serius dalam bekerja.


Malam yang panjang itu segera berahir. Pukul menunjukan pukul 10 malam, banyaj kios kios dan stand yang mulai tutup.


Lelah jelas terlihat dari raut wajah Bayu. Tapi ntah mengapa Dia seperti tak merasa terbebani dengan pekerjaanya.


"Trimakasi Mas, besok masih buka terus ya." Kata Pak Arip pada pelanggan terahirnya.


"Yoh Dit, Yu. Beres beres." Ucap Pak Arip.


"Mari pulang marilah pulang pulanglah kita bersama sama." Celoteh Adit sambil bernyanyi.


"Yoooo duluan broooo." Kata seseorang salah satu pemilik stand kuliner sebelah lewat di depan stand mereka.


"Okeeeeeee" teriak Adit pada mereka.


Pak Arip, Adit dan Bayu membereskan stand mereka.


Bagaimanapun mereka di sana hanya menumpang, walau dikenai retribusi kebersihan mereka juga wajib membersihkan lokasi setelah mereka jualan.


Tak berapa lama.


Adit dan Bayu mengembalikan gerobak jualan dan peralatan lain di penitipan gerobak.


Sedangkan Pak Arip duluan pulang dengan gerobak angkut yang ditarik motornya.


"Langsung pulang Yu.?." Tanya Adit.


"Iya Dit." Jawab Bayu singkat.


"Yasuda, kapan kapan aku ajak cari kopi abis jualan." Kata Adit.


"Sipp." Ucap Bayu.


Sepertinya dua pemuda itu sudah mulai akrab.


Setelah Adit dan Bayu mengambil motor, merekapun melaju menuju rumah Pak Arip.


Saat malam itu jalanan sedikit lenggang.


Gedung gedung pencakar langit mengesankan Bayu. Baru kali ini Pemuda desa itu bisa melihat suasana malam di Kota.


"tinggi tinggi ya bangunanya Dit.?" kata Bayu terheran heran.


"kamu belum pernah liat gedung gedung tinggi Yu.?" kata Adit lebih heran dengan pernyataan Bayu.


"belum Dit. selama ini aku di desa ngak pernah ke Kota besar seperti Surabaya." kata Bayu.


"yawes, kapan kapan aku ajak kamu jalan jalan ke Mall." ucap Adit.


"sippp." jawab Bayu singkat.


ternyata keluar dari zona nyaman tidak seburuk pikiran Bayu selama ini.


__ADS_1


__ADS_2