BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Suasana Baru


__ADS_3

Di atas motor ojek.


Bayu merasa jalan di Surabaya sangat membingungkan, karena banyak persimpangan jalan dan masuk masuk Gang.


Tak berapa lama Bayu sampai pada alamat yang dituju.


Bayu turun dari motor.


"Sebentar ya Mas, saya tanya dulu benar apa tidak alamatnya.?" Kata Bayu


Tukang Ojek itu hanya mengangguk.


Kebetulan pintu rumah tidak ditutup.


"Permisi, Assalamualakum." Bayu mengucapkan Salam.


"Waalaikumsalam." Suara Laki Laki dari dalam rumah.


Seorang Laki Laki keluar dari dalam rumah.


"Woooo Bayu, ahirnya sampai juga kamu, gimana nyasar ngak.?" Kata Laki Laki itu.


"Ngak Pak De." Jawab Bayu sambil mencium tangan Pak De Arip.


Laki Laki itu adalah Paman Bayu, dalam bahasa Jawa dipanggil Pak Gede atau Pak De, karena Bayu adalah anak Pak Slamet yang notabene Adik Pak Arip.


"Ayo masuk masuk, wes jangan sungkan." Kata Pak De Arip.


"Bentar Pak De, mau bayar ojek dulu." Bayu berkata kemudian menuju Tukang Ojek tadi untuk membayar.


"Berapa Mas.?"tanya Bayu.


"Lima puluh ribu." Kata Tukang Ojek.


"Mahal sekali" dalam hati Bayu.


Ketika Bayu akan memberi uangnya ke Tukang Ojek.


"Berapa Mas.!!!! " Tanya Pak De Arip dengan pandangan tajam.


"Jangan macem macem kamu Mas, orang deket sini sana aja bisa 50.000." Imbuh Pak De Arip.


Kemudian Pak De memberikan uang 20.000 kepada Tukang Ojek itu. Sedangakan Bayu masih bingung dengan situasi ini.


Tukang Ojek itu kemudian pergi tanpa sepatah katapun.


"Lain kali hati hati Bayu, ada pepatah bilang ibu kota lebih kejam dari ibu tiri." Kata Pak De.

__ADS_1


"Kayaknya itu tadi bukan tukang ojek daerah sini. kalau tukang ojek sini Pak De kenal semua, dan gak bakal berani ngasi harga yang gak masuk akal apa lagi kalau nganter penumpang depan rumah ini." Imbuh Pak De Arip, sambil membawa masuk rumah barang bawaan Bayu.


"Cerita Bapak memang bener, Walau Pak Arip bukan preman lagi tapi sangarnya masih kelihatan" kata Bayu dalam hati.


"Dekkkk, dek." Teriak Pak De memanggil istrinya.


"Iya Mas." Terdengar suara Perempuan dari dalam rumah.


"Ehhhh Bayu sudah dateng," kata Istri Pak Arip bernama Bu De Nur.


"Iya Bu De." Kata Bayu sambil mencium tangan Istri Pak Arip itu.


"Kamu pasti capek, wes istirahat dulu di kamar. Tapi maaf Bayu adanya tempatnya ini." Kata Bu De.


Ahirnya Bayu diantar ke kamar, sebenarnya itu lebih mirip gudang karena banyak karung beras, mie kering serta botol botol beling kecap, tapi masih ada kasur kecil dan lemari kecil yang sengaja disiapkan mungkin untuk Bayu.


Rumah Pak Arip memang tidak terlalu besar. Hanya ada 3 kamar tapi 1 kamar untuk gudang, 1 ruang tamu atau bisa dibilang ruang keluarga, dapur yang lumayan luas mungkin bertujuan untuk tempat mempersiapkan bahan bahan dagangan. dan kamar mandi.


Serta lahan kosong disamping rumah dengan kandang ayam dan tempat untuk kepeperluan mencuci tanpa atap. Dan ada beberapa pohon pisang juga.


Disana juga terlihat gerobak, sepertinya untuk membawa dagangan ke lokasi stand.


Pak Arip Memiliki 1 putri yang masih duduk kelas satu SMP bernama Uswah tapi sepertinya dia sedang tidak dirumah.


"Wes kamu istirahat dulu, Bu De mau kepasar dulu sama Pak Demu. Kalau laper di atas meja makan ada makanan kalau haus atau mau minum apa di kulkas kamu cari sendiri aja, jangan sungkan" Kata Bu De.


Kemudian.


Bayu merebahkan badanya, dia merasa sangat lelah. Hingga tanpa sadar ia tertidur.


Beberapa jam berlalu, dan hari muali gelap. Bayu membuka matanya. Dan langsung duduk karena sesikkt kaget.


"Aduh, jam berapa ini." Bayu berkata dalam hati sambil melihat sekelilingnya.


"Oiya aku lagi di rumah Pak De." Imbuh Bayu dalam hati.


Kemudain Bayu mengambil anduknya di dalam tas dan segera ke kamar mandi.


Selesai Bayu mandi.


"Ayo makan dulu Yu." Kata Bu De.


Bu De membawa nasi dan bungkusan beserta piring piring ke ruang keluarga dibantu oleh Uswah.


Sesampainya Bayu di ruang keluarga.


Terlihat Pak De yang sedang duduk ditikar sambil melihat TV.

__ADS_1


"Ayo Yu. Duduk sini kita makan." Kata Pak De.


"Ini dibeliin bebek sama Pak Demu, ini langgananya Pak De." Kata Bu De sambil menyiapkan piring untuk makan bersama.


Kemudian keluarga itu pun makan bersama.


Suasana kekeluargaan yang hampir sama seperti di Desa. Hanya tempat dan situasi yang membedakan.


"Kan aku kapan hari ditelfon sama Bapakmu Yu, katanya kamu pengen ke Surabaya." Pak De berkata sambil makan.


"Dan kamu katanya pengen cari kerja disini. Ya aku terus bilang sama Bapakmu. -Umpama Bayu kerja dulu sama aku gimana met.? Sambil cari cari di tempat lain- aku bilang gtu, terus Bapakmu bilang ya tergantung kamu," Pak De masih berkata.


"Terus gimana kamu Yu. Mau bantu bantu Pak De dulu.? Nanti sambik Pak De carikan kerjaan lain" ucap Pak De bertanya pada Bayu.


"Ya kalau saya yang ada aja Pak De, saya bantu bantu Pak De juga ngak masalah." Kata Bayu.


"yawes, nanti kalau kamu sudah pinter ngolah ngolahnya tak bukakin cabang." kata Pak De.


"eh. ngak usah Pak De, orang aku ngak pinter masak" kata Bayu sedikit kaget.


"ah ngak mungkin, keluarga kita itu pinter masak semua Bayu, Bapakmu itu juga pinter masak sebenernya, juma dia lebih fokus ke pertanian. resep mie jawa ini juga dari Kakekmu" kata Pak De.


"Mas, jangan dipaksa, siapa tau Bayu nanti dapet kerjaan mapan disini, apalagi kan Bayu masih muda, biar dia berusaha sesuai keinginannya dulu " kata Bu De.


"ijazah SMA bisa paa di kota besar seperti ini." kata Bayu dalam hati pesimis.


"ya kan semua tergantung Bayu, kalau dia mau siap tak modalin buat buka cabag. kalu ngak mau juga ngak papa." kata Pak De.


"ya aku coba dulu aj Pak De, siapa tau aku bisa sukses ikut jejak Pak De jadi pedagang sukses di kota besar" kata Bayu.


"amin," kata Bu De.


Sedangakan Pak De hanya tertawa kecil, karena usaha Pak De Arip juga belum pantas dibilng suksea tapi juga tidak membaik secara signifikan. karena semakin lama persaingan antar pedagang juga sangat ketat.


mereka masih dalam suasana makan bersama.


"udah punya cewek belum Bayu.?" kata Bu De tiba tiba nyeletuk.


Sekilas Bayu teringat Laras. dia baru sadar bahwa dia sekarang ada di kota yang sama dengan Laras.


Tujuan Bayu ke Surabaya selain untuk mencari pekerjaan sebenarnya juga untuk mencari keberadaan Laras. Bayu masih sangat penasaran, mengapa Laras gadis desa yang lugu, anggun dan apa adanya bisa sampai sepertu itu.


Bayu ingin mendengar penjelasan Laras yang ingin dikatakanya dahulu, tapi tak tersampaikan karena Bayu terlanjur terbakar amarah.


Bagaimanapun juga, hancurnya hubungan tanpa status yang mereka jalani sejak bertahun tahun yang lalu masih menyisakan setitik perasaan rindu.


__ADS_1


__ADS_2