BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Jurus Pertama


__ADS_3

Bayu masih menunggu, sudah beberapa menit terlewati tetapi kekasih hatinya tak kunjung menampakan diri. Pandangannya terus berfokus ke arah pintu, bersiap menyambut wanita pujaanya dengan senyum terbaiknya.


Tak berapa lama Putri melewati Pintu dan menuju Bayu.


Mata Bayu terbelalak berbinar, pandanganya fokus terpaku, bola matanya menjurus memandang Putri dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Jadi.?" Tanya Putri sambil menenteng sepatu sneaker putih.


Bayu masih dengan tatapan tanpa berkedipnya, bahkan mulutnya sampai sedikit menganga.


"Plakkkkk." Tamparan di pipi kanan Bayu dari tangan lembut Putri.


Sekelebat imajinasi Bayu bubar.


"Auuchhhh. Sakit Put." Ujar Bayu dengan mengusap pipi kanannya.


"Itu untuk kamu, karena telah memeluk wanita lain di depan mataku." Kata Putri dengan tegas.


Kemudian Putri menjatuhkan sepatunya dan tangan lembut gadis manis itu meraih pipi kiri Bayu.


"Emmmccchhh." Satu kecupan di bibir Bayu yang membuat kaget Pemuda gondrong itu.


Satu ciuman singkat.


"Hmmmmmhhhh, Itu ~" belum sempat Bayu menyelesaikan kata katanya.


"Itu untuk kamu, karena aku takut kehilangan kamu." Ucap Putri.


"Mmm apa ngak bisa lebih lama.?" Ujar Bayu yang mulai nakal.


"Hey kekasihku yang kurang peka.!! Aku belum sepenuhnya maafin kamu, emang kamu kira ngak sakit hati ini lihat pacar tersayangku peluk peluk wanita lain di depan mataku sendiri.!!!" Kata Putri dengan tegas.


Perasaan Bayu saat ini sungguh campur aduk, antara ingin tertawa atau bersikap serius meladeni perkataan Putri.


"Aku tau kamu kesini ingin merayu rayu aku agar tidak ngambek lagi kan.? Oke ayo kita lihat usahamu itu pemuda mesum." Kata Putri kemudian duduk memakai sepatunya.


Dengan senyum tipisnya Bayu berusaha untuk tidak tertawa.


"Bilang aja kamu kangen, pake acara marah marah gak jelas segala. Dasar pacar manja." Batin Bayu yang melihat Putri memakai sepatunya.


"Tapi jujur, kamu sangat cantik hari ini. Apa kamu sebenarnya mempersiapkan ini semua. Kalau aku bilang kamu cantik, pasti kamu bilang gombal lagi." Ujar Bayu dalam hati sambil memakai sepatunya juga.


Gadis manis itu berdiri di hadapan Bayu. Dengan mini dres hijau bermotif bunga dipadukan jaket denim beserta bawahan sepatu sneaker putih. Dan rambut hitam bergelombang meccy belah samping terurai hingga melewati bahu. Membuat jantung Bayu tak henti hentinya berdetak kencang saat memandang kekasihnya.


Pemuda gondrong dengan rambut terikat itu bangkit dari duduknya.


"Put, apa ciumannya ngak bisa di ulang lagi. Aku tadi belum siap.?" Ucap Bayu berusaha nakal lagi.


"Hetttsss.. ingat,!! anda sedang dalam masa percobaan, jadi jaga sikap anda ya!!!." Kata Putri dengan jari telunjuk yang menjulang tegas dan tatapan tajamnya.


Bayu mengangguk dengan senyum dan menahan tawa. Setelah itu, Bayu meraih helemnya kemudian mengenakanya, pemuda itu juga meraih helem Putri dan ingin membantu mengenakan helem Putri.


"Gak usah, aku bisa pakai sendiri.!!!" Ucap Putri ketus sambil merebut helem yang ada di tangan Bayu.


Bayu masih tersenyum melihat tingkah kekasihnya. Setelahya, Bayu menaiki motornya dan menyalakan mesin motor yang memecah keheningan malam.


"Ayo." Ucap Bayu.


Putri kemudian naik di boncengan Bayu dengan duduk menyamping.

__ADS_1


"kok duduk ~~~~." Belum sempat Bayu berkomentar.


"Sttttttt...... diem, cepet jalan kalau ngak aku turun lagi." Ujar Putri.


Bayu hanya mengangguk dengan ekspresi menahan tawanya.


kemudian.


Motor Bayu pun melaju. Jalanan depan kontrakan Putri sungguh sepi dan sunyi. Hanya ada bebrapa kendaraan yang berlalu lalang. Kedua insan yang sedang berdamai itu melaju dipayungi cahaya purnama dan berselimut bintang bintang.


Motor Bayu masuk jalan raya yang ramai. Keheninggan tadi seketika pecah dengan bising kendaraan. Sorot lampu jalan menambah kesan meriah Ibu Kota. Bayu dan Putri masih terdiam tanpa kata.


Tiba di suatu lampu merah.


"Kemana enaknya Put.?" Tanya Bayu.


"Terserah...." Jawab Putri singkat.


"Ke Mall.?" Tanya Bayu lagi.


"Terserah.!!!!" Kata Putri dengan nada tinggi.


Lampu kembali hijau. Motor Bayu kembali melaju.


"Kalau kata Ita, Putri ngak keluar kamar dari siang, mungkin dia kelaperan sekarang ?." Batin Bayu.


Bayu melajukan motornya menuju warung nasi bebek langganan Putri.


Beberapa menit kemudian.


Bayu dan Putri sampai di depan warung bebek purnama Mbak Zul.


Pandangan Putri menyorot tajam ke arah Bayu. Mungkin gadis manis itu merasa senang, bahwa Bayu tau apa yang Putri inginkan.


"Ayok, makan dulu. Aku laper dari tadi siang belum makan." Ucap Bayu dengan kepura puraanya. Sebenarnya Bayu tidak lapar, dan sengaja mampir ke warung itu agar Putri bisa mengisi perutnya yang sedari siang belum mencerna apapun.


Bayu masuk ke warung sederhana itu di ikuti oleh Putri.


"Mbak Zul, nasi bebek dua ya. Makan sini." Ucap Bayu memesan.


"Eh Mas ganteng, Mbak Putri. Iya tunggu sebentar ya." Ucap Mbak Zul penjual nasi bebek sambil sibuk memperiapkan pesanan pelanggan lain.


Bayu dan Putri duduk bersebelahan di sebuah meja. warung sederhana itu terlihat lumayan ramai pelanggan, karena semua tempat duduknya hampir penuh.


"Kamu minum apa.?" Tanya Bayu pada Putri.


"Terserah." Jawab Putri singkat.


"Kalau sudah kena jawaban terserah, terpaksa aku harus putar otak." Batin Bayu dengan mengaruk kepalanya.


"Jeruk anget ya. Jangan minum es malem malem." Ujar Bayu.


"Hmm." Gumam Putri.


Bayu kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan segera memesan jeruk anget ke pelayan warung itu.


Kemudian.


Putri masih sibuk dengan HPnya sambil menunggu pesanan nasi bebeknya datang. Bayu sesekali memperhatikan Putri.

__ADS_1


"Mulai sekarang aku akan menyayangimu setulus tulusnya Put, dan akan aku musnahkan kenangan tentang Laras. Aku juga ngak akan bisa bila harus kehilangan kamu. Maaf ya, hari ini mungkin sikapku keterlaluan. Dan aku janji, ini terahir kalianya aku bikin kamu marah seperti ini." Ucap Bayu dalam hati sambil melirik wajah manis kekasihnya itu.


Tak berapa lama pesanan mereka pun datang.


"Ini Mbak Putri, Mas e, nasi bebeknya." Kata Mbak zul mengantar pesana Bayu dan Putri.


"Makasi Mbak Zul." Ucap Putri.


Setelah Putri menuangkan sambal di nasi bebeknya sampai seperti lava gunung berapi yang erupsi. Gadis manis itu kemudian mencuci tangan di sebuah kobokan bertadah mangkok plastik kecil.


"Jangan banyak banyak ya sambelnya, nanti sakit perut.!" Titah Bayu.


Putri menatap Bayu tajam dan terpaku. Seakan dia mengisyaratkan tidak akan makan bila dilarang pakai sambal yang banyak.


"Iya iya dimakan pelan pelan ya, nanti kalau kepedesan, bilang. Aku pesenin minuman lagi." Kata Bayu mengalah, daripada Putri tidak mau makan.


"Gini rasanya merayu wanita yang sedang ngambek, harus rajin rajin mengalah." Batin Bayu sambil menuangkan sedikit sambal di atas nasi bebeknya.


Kemudian mereka hening menikmati hidangan masing masing.


Bayu memperhatikan kekasihnya, sepertinya Putri benar benar kelaparan, hingga nasi bebek dalam piringnya hampir habis sedangkan Bayu baru habis sepatuh.


"Kalau masih laper, nambah aja." Ujar Bayu dengan niat bercanda.


"Emang boleh.?" Tanya Putri balik.


"Seriusan kamu mau nambah Put ?." Batin Bayu.


"Ya boleh lah. Asal di habisin ya." Jawab Bayu.


"MBAK ZUL, SATU LAGI.." Teriak Putri pada Mbak Zul yang masih membungkus pesanan pelanggan lain.


Bayu terkaget dengan tingkah Putri.


"Eh buset, beneran nambah." Batin Bayu dengan tatapan tajam ke arah kekasihnya.


"Kenapa liat liat. Gak boleh aku nambah.?" Tanya Putri dengan ketus.


"mmmmm boleh, boleh kok." Ucap Bayu dengan keheranan menatap Putri.


"Kenapa.? Ngak suka aku makan banyak. Paling kalau aku gendut kamu bakal nyari cewek lagi." Kata Putri sambil meminum jeruk hangatnya.


"Ngak mungkin kamu gendut, kan kamu cacingan." Ucap Bayu.


"Apa.? Coba bilang lagi.?" Kata Putri dengan tatapan tajam ke Bayu.


"Ngak ngak, becanda. Itu nasi bebeknya dateng." Kata Bayu yang memandang Mbak Zul datang membawa pesanan Putri.


"Makasi Mbak Zul." Ucap Putri ketika Mbak Zul menyajikan nasi bebek lagi di hadapannya.


"Sama sama Mbak Putri." Kata Mbak Zul kemudian berpaling dan menuju singasananya lagi.


Kembali Putri menuangkan sambalnya seperti lava yang tumpah di pucuk gunung berapi.


"Yasudah biarkan, setidaknya Putri ngak bilang terserah terserah lagi." Batin Bayu memperhatikan piring nasi bebek Putri yang berselimut sambal.


Sepertinya Bayu mulai paham cara meluluhkan Putri yang sedang ngambek. Dan Bayu juga merasa lega, karena emosi kekasihnya itu tidak berlangsung lama. Atau mungkin sebenarnya Putri sudah memaafkan Bayu, hanya saja gadis manis itu ingin melihat usaha Bayu untuk meluluhkan hatinya.


__ADS_1


__ADS_2