BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Di Desa


__ADS_3

Bus pun melaju kembali.


Suasana yang sungguh berbeda ketika Putri tidak di samping Bayu, pemuda itu hanya merenung sambil melihat keluar cendela.


Sekitar 1 jam kemudian.


"Nganjuk Terminal Nganjuk Nganjuk." Teriak kernet bus sebagai isyarat bus akan singgah di terminal Nganjuk.


Bayu segera beranjak dari tempat duduknya dan menenteng ranselnya untuk menuju pintu bus. terlihat beberapa penumpang lain juga akan turun.


Setelah bus memasuki terminal dan berhenti. Kernet membuka pintu bus dan Bayu pun segera turun dengan beberapa penumpang lainya.


Bayu pun segera dihampiri para tukang ojek dan tukang becak, tapi pemuda itu menolak sambil berlalu.


Cuaca panas dengan sedikit mendung.


Tujuan Bayu kali ini pinggir jalan raya tepat depan terminal, agar bila darman datang langsung melihat Bayu.


Tapi tak di sangka, ternyata Darman sudah menunggu di sana duluan.


Bayu menghampiri Darman yang melambaikan tangan ke arahnya.


"Gila...... beberapa bulan di kota penampilanmu udah berubah Yu. kulit udah ngak dekil lagi, rambut gondrong, weleh weleh....." Ucap Darman sambil memberikan salam tos pada sahabatnya itu.


"Berubah apanya Dar, masih gini gini aja." Kata Bayu merendah sambil memyambut salam tos dari Darman.


semenjak di kota Bayu memang jarang keluar siang, karena dia kerja saat petang datang.


"Gimana sehat kamu Dar.?" Tanya Bayu.


"Sehat Yu, Tambah subur malah." Ucap Darman.


"Ayo naik keburu hujan." Imbuh Darman sambil mempersilahkan Bayu naik ke motornya.


Setelah Bayu naik di goncengan Darman, mereka pun berangkat menuju Desa Sehat Mulia.


"Sibuk apa Dar sekarang.?" Tanya Bayu pada Darman yang sedang menyetir motor.


"Ya Biasa Yu, kalau abis panen padi pertama ya tanam padi lagi." Jawab Darman sambil memperhatikan jalanan.


"Lagi sibuk sibuknya dong kamu sekarang Dar.?" Tanya Bayu.


"Ya gitu wes Yu, tau sendiri kalau di Desa pas panen dan tanam semua orang pada sibuk." Jawab Darman.


"Ibukku sakit apa Dar.?" Tanya Bayu lagi.


"Mungkin kangen sama kamu Yu. Lagian kamu ngak pulang pulang, keasikan di Kota ya kamu, pasti seneng lihat cewek yang bening bening.?" Jawab Darman sambil berhenti di lampu merah.


"heleh..... Cewek aja pikiranmu. Ya pengenya sih sering pulang, tapi di Kota juga lagi sibuk sibuknya Dar. Jadi ngak enak sama Pak Deku kalau mau izin pulang kalau ngak ada kepentingan." Jawab Bayu sambil memperhatikan lampu lalu lintas.

__ADS_1


Selama perjalaman mereka terus mengobrol, dari hal hal yang serius hingga yang tak penting sekalipun.


Hingga mereka tiba di gerbang Desa. Sekilas bayu teringat kenangan kenangannya dengan Laras, tetapi Bayu berusaha untuk tidak memperdulikanya lagi.


Suasana Desa yang nyaman. Tidak ada bising suara kendaraan, sejauh mata memandang hanya ada lahan persawahan, pohon hijau dan gunung yang menjulang dari kejauhan.


Sepertinya keputusan Bayu untuk pulang memang tepat, karena dia juga ingin menyegarkan pikirannya.


Mereka tiba di depan rumah Bayu.


Bayu turun dari motor dengan membawa ranselnya.


"Makasi ya Dar." Ucap Bayu.


"Iya sama sama Yu. Ini pentol bakar titipanmu." Kata Darman sambil memberi bungkusan plastik berisi pentol bakar.


"Oiya, aku sendiri lupa e nitip pentol bakar." Kata Bayu.


"Yawes aku pulang dulu. Nanti aku kesini lagi." Ucap Darman.


"Sippp, makasi sekali lagi Dar." Kata Bayu.


Kemudian Darman berlalu dengan sepeda motornya.


Bayu akan memasuki rumah.


"Assalamualaikum," Bayu salam sambil membuka pintu.


Bayu memgecek di dapur tidak ada siapapun, di belakang rumah pun demikian.


Kemudian Bayu melihat ke dalam kamar Ibunya. Terlihat Ibu Bayu sedang tertidur dengan beberapa obat dan satu gelas teh di sampingnya.


Bayu sejenak melihat Ibunya. Tak diragukan lagi raut wajahnya terlihat sedih melihat Ibunya terbaring lemah di tempat tidur.


"Aku tinggal dulu aja. Biar Ibu istirahat dulu." Kata Bayu dalam hati.


Kemudian Bayu menuju kamar Raka.


Tak ada perubahan di sana, kecuali buku buku pelajaran Raka yang tertumpuk berantakan di atas meja belajarnya.


Bayu menaruh ranselnya dan mengambil anduk di lemari kemudian mandi.


Setelah Bayu selesai mandi dan menuju dapur. Dia melihat Raka di sana.


"Dari mana kamu Dek.?" Tanya Bayu.


"Lho, Mas Bayu, tak kira Bapak di kamar mandi tadi." Jawab Raka sambil menghampiri Bayu dan mencium tangannya.


"Kapan dateng Mas.?" Tanya Raka.

__ADS_1


"Barusan aja. Kamu dari mana,? Kok Ibuk di tinggal sendirian.?" Tanya Bayu lagi.


"Ini Mas, beliin Bakso Ibuk buat makan terus minum obat" Jawab Raka.


"Oooo, yawes biar Mas aja yang anter." Kata bayu sambil membawa nampan berisi satu mangkok Bakso dan air putih.


Sedangkan Raka menyalakan kompor gas untuk memasak air. Keluarga Bayu sudah tidak memakai kompor minyak lagi, karena setiap keluarga di Desa Sehat Mulia mendapat bantuan kompor gas dari pemerintah bagi yang belum memilikinya.


Sesampainya Bayu di kamar Ibu.


"Bayu, kapan kamu datang Le.?" Tanya Ibu yang sudah bangun dan bersandar di atas kasurnya.


Bayu meletakkan Bakso dan air putih di meja sebelah ranjang. Kemudian mencium tangan Ibunya.


"Barusan Buk. Ibu bagaimana.?... kita ke rumah sakit aja Buk ya, biar Ibuk cepet sehat." Ucap Bayu yang duduk di pinggir kasur Ibunya.


"Udah ngak usah Le, Ibuk udah ngak papa. Orang Ibuk juma kecapekan aja." Jawab Ibu.


"Lagian kamu kok tau Ibuk lagi sakit,?" Tanya Ibu.


"Dikasi tau Darman Buk." Jawab Bayu.


"Yasudah, di makan dulu Baksonya Buk, Bayu mau ngambil teh dulu." Ucap Bayu sambil membawa gelas teh Ibuk ke dapur.


Di dapur.


"Mas kok bisa tau ibuk sakit terus pulang.?" Tanya Raka sambil mematikan kompor.


"Ya kamu kan cerita sama Riski, terus Mas Darman bilang sama aku" Jawab Bayu.


"Ooooo. Iya, ngak Bawa oleh oleh mas.? Hehe." Tanya Raka.


"Itu pentol bakar buat kamu aja." Jawab Bayu.


"Kalau pentol bakar di sini juga ada mas." Ucap Raka sambil mengambil pentol bakar pemberian Darman.


"Ya emang beli di sini, Mas pulangnya mendadak, mana sempet Mas bawa oleh oleh." Jawab Bayu sambil membuatkan teh Ibunya.


Raka sudah tumbuh dewasa, karena sebentar lagi dia akan mendaftar sebagai murid SMA.


Setelah Bayu membuatkan teh, pemuda itu kembali ke kamar Ibunya.


Bayu menaruh teh di meja.


"Cepet sembuh ya Buk. Kalau Ibuk sakit Bayu jadi kepikiran." Ucap bayu.


"Ibuk ngak papa Bayu, juma kecapekan aja." Kata Ibu sambil makan lontong dan kuah Bakso.


Hati Bayu merasa sedih melihat Ibunya sakit seperti ini. Ada terbersit pemikiran kalau Bayu tidak ingin pergi ke surabaya lagi, karena Bayu tidak tega meninggalkan Ibunya lagi.

__ADS_1



__ADS_2